Wedding Secrets

Wedding Secrets
patah hati anak laki-laki



Bagai di sambar petir di siang bolong, begitulah yang saat ini di rasakan oleh Clay. Baru beberapa menit yang lalu ia melihat senyuman dari wajah cantik sang mamy, kini ia harus melihat ibunya meninggal dalam kondisi tubuh yang berhamburan.


Hatinya terkoyak tak bersisa, tubuhnya lemas bahkan kakinya sudah tak sanggup lagi untuk berdiri saat melihat petugas forensik memunguti satu persatu bagian tubuh sang ibu yang terpisah.


Untuk kedua kalinya, pria itu harus kehilangan sosok ibu yang sangat di cintai. Jika beberapa tahun lalu ia masih bisa merasakan kehangatan ketika ibunya kembali, tapi kali ini untuk selamanya ia tidak akan pernah merasakan pelukan hangat dari sangibu. Jangankan pelukan, untuk melihat senyumannya saja Clay tidak akan pernah bisa.


Patah hati? tentu saja, hati anak mana yang tak patah. Jika kehilangan sosok wanita yang sudah melahirkan dan membesarkannya selama ini, itu akan menjadi patah hati terberat bagi seorang anak laki-laki yang kehilangan cinta pertamanya dalam keluarga.


Bulir beningnya terus berderai membasahi wajah tampan Clay, Cherryl yang sejak tadi ada di samping Clay juga terlihat begitu syok melihat kejadian yang begitu naas menimpa ibu mertuanya.


Kakinya pun ikut bergetar, bahkan gadis itu nyaris kehilangan ke sadaran. Tapi gadis itu melihat ke arah Clay yang sedang berlutut menatap kosong mobil yang terbakar, iapun dengan cepat memeluk suaminya karena saat ini Clay membutuhkan seseorang untuk menguatkannya.


"Ryl.. katakan jika itu bukan Mamy," lirih Clay dengan bibir yang bergetar.


Gadis itu tak bisa berkata apapun, ia hanya bisa menangis sambil memeluk suaminya.


"Katakan Ryl, i-itu orang lainkan..... I-itu bukan Mamy... Aku pasti sedang bermimpi, benarkan Ryl, aku hanya bermimpi. Mamy sedang tidurkan di rumah.... Mamy baik-baik ajakan Ryl," Clay melepaskan pelukan istrinya, ia menangkup wajah Cherryl berharap istrinya mengatakan jika ia sedang bermimpi.


"Ryl, katakan padaku jangan hanya menangis... Ini semua nggak benerkan?" Clay terus mendesak istrinya agar berbicara. Tapi lidah Cherryl terasa begitu kaku untuk mengatakan jika dirinya sedang tidak bermimpi dan jasad itu adalah ibu mertuanya, ibu dari suami yang ada di hadapannya.


Gadis itu tak berani menatap wajah clay yang sedang di rundung kesedihan yang teramat sangat menyesakan dadanya, sampai pada akhirnya pria itu jatuh pingsan di hadapan Cherryl.


"Clay!" Teriak Cherryl saat melihat suaminya tumbang, para pengawal yang bekerja di kediamannya dengan cepat membawa Clay ke rumah sakit.


***


Bougenville hospital.


Mamah Dewi dan papa Cestaro berlari menghampiri putrinya yang sedang duduk sembari terisak di depan ruangan tempat Clay di rawat, begitu ia melihat kedua orangtuanya datang Cherryl langsung memeluk ibunya.


"Sayang apa yang terjadi?" Mama Dewi memeluk putrinya erat, wanita itu terlihat begitu khawatir.


"A-aku nggak tau Mah, kejadiannya begitu cepat. Hiks, suara ledakan begitu keras. Saat kami mendatangi tempat itu semuanya telah hancur, mobil yang di tumpangi oleh Mamy Val tiba-tiba meledak mah hiks," Cherryl menjelaskan terbata-bata.


"Astaghfirullahaladzim, lalu dimana Clay?" Mama Dewi menyentuh dadanya ia begitu terkejut mendengar berita mengenai besannya, karena saat Cherryl menelponnya putrinya hanya mengatakan jika Clay masuk rumah sakit.


"Clay, di dalam. Tadi dia pingsan hatinya pasti begitu terluka melihat ibunya mengalami kejadian yang naas mah," gadis itu masih menangis di pelukan ibunya.


"Kamu tenang ya, kita tunggu dokter," papa Cestaro mengusap punggung putrinya, agar sedikit lebih tenang.


Tak berselang lama, setelah mendapat kabar jika istrinya tewas akibat bom dalam mobil, papi Gerald, Queenara dan sekertaris Rendi langsung terbang menggunakan jet pribadinya menuju kota Edelweis.


Setelah menempuh waktu selama 7 jam, akhirnya papi Gerald sampai di rumah sakit tempat istrinya di autopsi.


Pria paruh baya itu berlari menghampiri petugas forensik, sambil menggenggam tangan putrinya dengan erat. Berharap ia mendengar kabar baik tentang istrinya namun kenyataan mengatakan jika istrinya telah meninggal.


"Ini semua salah Nara Pi, andai saja Nara tak menyuruh Mamy untuk cepat pulang.. mungkin Mamy masih hidup, hiks," gadis belia itu menangis menyalahkan dirinya sendiri.


"Tidak sayang, ini semua sudah menjadi takdir tuhan ini bukan salahmu."


"Nggak Pi, Nara yang menyuruh Mamy agar cepat pulang. Padahal Mamy bilang kalau Mamy Mau menginap di rumah kak Clay selama satu Minggu, karena keegoisan Nara Mamy jadi meninggalkan kita semua," tangis gadis itu pecah dalam pelukan sangayah yang sama-sama merasakan kehilangan istri tercinta.


Berat baginya untuk menerima kenyataan, jika kini istrinya telah pergi untuk kedua kalinya. Namun pria itu berusaha tegar dan menerima takdir tuhan yang telah di gariskan untuknya, ia punya dua orang anak yang sedang butuh kekuatan darinya untuk menghadapi kenyataan ini.


***


Cherryl masuk ke ruangan tempat dimana Clay sedang di rawat tadi, ia melihat suaminya sedang terbaring sembari menatap kosong ke arah jendela yang menampilkan pemandangan dahan pohon yang bergoyang karena tertiup oleh angin.


"Seandainya, aku tetap memaksa Mamy agar mau di antar... Mungkin kejadian ini tidak pernah terjadi," lirih Clay, yang pandangannya tak lepas dari jendela tersebut.


Gadis itu menggenggam tangan Clay, "Bukan salahmu Clay, ini semua sudah takdir.. tidak ada yang tahu akan rencana Tuhan Clay," tutur Cherryl menguatkan suaminya.


"Kenapa harus secepat ini Mamy meninggalkanku Ryl?" Pria itu kembali terisak.


"Kamu yang sabar ya, tuhan lebih menyayangi Mamy meskipun Mamy pergi dalam keadaan seperti ini," Cherryl memeluk Clay dengan hangat.


"Aku anak yang tidak berguna, aku bukan anak yang baik untuk Mamy."


"Tidak Clay, kau telah berhasil menjadi anak yang berbakti untuk kedua orang tuamu. Kau telah berhasil membanggakan kedua orang tuamu Clay, jangan menyalahkan dirimu sendiri Mamy pasti akan sedih jika kau terus menyalahkan dirimu," Cherryl mengusap punggung suaminya.


"Maafkan aku Ryl, hari ini aku begitu lemah tak seharusnya aku memperlihatkan air mataku di hadapanmu."


Cherryl melepas pelukannya, lalu kembali menggenggam tangan pria yang sedang rapuh itu.


"Menangislah jika itu bisa membuatmu baik,Clay. Kita sebagai manusia biasa juga mempunyai sisi lemah jangan karena kau seorang pria jadi kau tidak pantas untuk menangis, kau bisa menangis sepuasnya sampai kau merasa baik. Tapi aku mohon jangan terlalu larut dalam kesedihan Clay hatiku sakit saat melihat priaku yang kuat terlalu lama tenggelam dalam kesedihan," ungkap Cherryl menyeka air mata di wajah tampan suaminya.


"Terimakasih kau sudah berada di sampingku, dan menguatkan aku Cher," Clay kembali memeluk Cherryl dan menangis dalam dekapan istrinya.


.


.


.


Bersambung..


aku ikut menangis Clay😭