
Mohon untuk skip, khusus area 18 tahun ke atas, bijaklah dalam membaca. Terimakasih.
Di ruang makan, Clay, Mama Dewi dan Cherryl sedang menikmati makan malamnya. Tidak ada yang berbicara di antara mereka, suasana ruang makan begitu hening tanpa ada suara apapun. Bahkan suara gesekan sendok dan garpupun nyaris tak terdengar.
Mama Dewi, memperhatikan putri dan menantunya yang sejak tadi hanya terdiam. Untuk mencairkan suasana akhirnya Mama Dewi membuka obrolan
"Clay, bagaimana dengan rencana kuliahmu?"
"Sudah di urus semua sama mamy di jauh hari, rencananya Clay dan Cherryl akan kuliah di universitas yang sama," jawab Clay, sembari memasukan satu suapan terakhir makan malamnya ke dalam mulut.
"Satu universitas lagi," protes Cherryl, terkejut.
Clay melirik Cherryl sekilas.
"Aku nggak mau ah, bosen. Sekarang satu sekolah masa harus satu universitas juga."
"Ya.. nggak apa-apa, justru itu bagus kamu jadi ada yang jagain," seru Mama Dewi.
"Yang milih mamy, bukan aku kalau tetep mau protes kamu ngomong aja sama mamy. Biar nggak dapet jatah skincare lagi," pungkas Clay, membungkam mulut Cherryl. Jika mengenai skincare atau fashion yang bersangkutan dengan mamy Val, Cherryl akan diam tak berani menjawab lagi.
"His, ngancem nya nggak seru," ucap Cherryl ketus. Ia mengerucutkan bibirnya yang ranum.
"Syukur deh kalau mamy kamu sudah mengurusnya, Mama jadi nggak pusing lagi buat mikirin universitas mana yang bagus untuk kalian. Tadi siang Mama nanya Cherryl, tapi dia jawabnya cuman terserah terus bikin Mama tambah pusing," keluh Mama Dewi pada Clay.
Clay hanya tersenyum tipis, mendengar keluhan sangmertua mengenai istrinya.
Makan malam pun mulai terasa hangat, ketiganya mengobrol sambil bergurau. Setelah perut ketiganya sudah merasa kenyang dan Mama Dewi juga sudah mulai mengantuk, Mama Dewi pamit untuk beristirahat begitu juga dengan Cherryl yang mengikuti ibunya dari belakang seperti anak kecil.
Karena clay, juga merasa kesepian iapun beranjak menuju kamarnya untuk beristirahat.
Pukul sebelas malam, Clay masih sibuk dengan bukunya. Ia membaca buku di depan balkon sambil menikmati angin malam yang sejuk, seketika perhatiannya teralihkan oleh suara pintu kamar yang tiba-tiba terbuka.
Ia melihat istrinya dengan lesu berjalan, menuju ranjangnya.
"Tumben, kamu masuk ke sini?" Sindir Clay, tanpa menoleh pada orang yang di ajak bicara.
"Mama, maksa aku buat tidur di sini," ujar Cherryl cemberut.
Gadis itu melihat ke arah Clay, kemudian menghampirinya.
"Baca apa sih? Serius banget," Cherryl mengintip buku Clay dari atas.
"Kepo!"
"His, nyesel aku nanya," gadis itu mendelik, kemudian berjalan menuju balkon untuk melihat bintang yang bertaburan di langit malam yang gelap.
"Malamnya indah banget ya, banyak bintang bertaburan," cetus Cherryl sembari mengedarkan pandangannya ke arah langit yang terbentang luas.
"Biasa aja," jawab Clay datar. Ia menghampiri Cherryl dan berdiri di samping istrinya.
"Kamu tau? Ada hal yang lebih indah di banding malam ini," sambung Clay.
"Apa itu?"
"Kamu."
"Hah?"
"Iya hal yang paling indah di dunia ini,yaitu kamu. Keindahan mu mengalahkan segalanya yang ada di bumi ini," tutur Clay, ia menggoda istrinya. Sampai membuat wajah gadis itu merah merona karena malu.
Bugh..
Cherryl memukul dada kotak Clay.
"Dasar gombal."
"Ish, hentikan kau membuat hidungku hampir terbang."
Clay terkekeh melihat wajah istrinya yang menahan malu.
"Aku pikir, es balok seperti mu tidak bisa tertawa," cibir Cherryl, karena baru kali ini ia melihat pria yang ada di hadapannya tertawa lepas. Biasanya Clay hanya mengeluarkan senyuman yang menakutkan.
"Siapa yang kau sebut es balok?"
"Tentu saja kau, siapa lagi."
"Aku bukan es balok, kau tau ini adalah gaya cool," seru Clay membela diri.
"Heuh, cool apanya. Mana ada cool seperti itu, kau itu es balok yang menyebalkan."
"Biar es balok begini, banyak perempuan yang mengejarku. Harusnya kau bersyukur menikah denganku, banyak gadis di luaran sana yang ingin jadi pacarku tapi aku lebih memilih mu untuk menjadi istriku."
"Hem, iya deh si paling laku di kalangan cewek," Cherryl kembali menatap langit berwarna hitam pekat itu.
Suasana kembali hening, hanya ada suara jangkrik dan tarikan napas dari keduanya yang terdengar. Cherryl membalikan posisinya kini ia menatap Clay yang sedang menatap jauh ke depan.
"Clay," lirih Cherryl.
Pria itu menatap istrinya, menunggu Cherryl mengatakan sesuatu.
"Thanks, ya. Udah mau nolongin aku kemarin, aku nggak tau gimana jadinya kalau kamu nggak Dateng. Mungkin aku udah mati ketakutan di dalam gudang," Cherryl terlihat begitu gugup.
Clay menarik pinggang ramping Cherryl ke dekapannya, membuat gadis itu terhenyak.
"Jangan pernah katakan hal buruk di depanku, kau tidak akan mati jika aku tidak mengijinkan mu. Kau akan selalu hidup bersamaku Cher," Clay mendekap Cherryl dengan erat, seolah ia tak ingin kehilangannya lagi.
"Tetaplah di sampingku, sampai kapanpun. Aku berjanji akan selalu melindungimu dan akan aku pastikan kejadian kemarin tidak akan terulang kembali." Sambung Clay.
"Kenapa kau baik padaku? Clay. Padahal aku sudah menyakitimu dengan perkataan ku jika aku mencintai-," Clay menaruh jarinya di bibir ranum Cherryl. Ia tidak ingin mendengar kata-kata itu lagi dari mulut istrinya.
"Jangan katakan hal itu lagi, itu membuat dada ku menjadi sesak. Malam ini hanya ada kita berdua di sini, aku mohon jangan bawa nama pria lain lagi saat di hadapanku,
. Kau adalah milikku dan akan selalu jadi milikku, " tutur Clay. Pria itu menatap sendu istrinya. Cherryl terdiam ia jadi merasa bersalah, jika mengingat malam dimana dirinya resmi menjadi istri dari pria yang sangat ia benci itu. Ia sempat mengatakan jika pria yang di cintainya adalah Austin bukan pria lain.
Cherryl mendongakan kepala, menatap wajah suaminya yang tampan. Kedua manik mata mereka saling bertemu, keduanya saling menatap dalam. Suasana malam yang hening membuat Clay merasakan sesuatu yang bergejolak dalam dirinya.
Ia mendekatkan wajahnya ke hadapan Cherryl, gadis itu langsung menutup kedua matanya begitu wajah tampan itu berada sangat dekat dengannya.
Cup..
Kecupan singkat itu kembali terjadi, karena merasa tidak puas Clay kembali meletakan bibirnya pada bibir ranum Cherryl. Kali ini Clay tak hanya mengecup ia mencoba untuk menelusuri bibir istrinya, tanpa paksaan Cherryl membuka bibirnya membiarkan lidah Clay menari bersama di dalam mulutnya.
Tautan itu berlangsung cukup lama, terdengar deru napas dari keduanya yang mengguruh, Clay melepaskan tautan bibirnya memberikan kesempatan pada istrinya untuk bernapas. Setelah itu ia kembali ******* habis bibir ranum yang terasa sangat manis itu, tak hanya bibir yang beraktivitas kedua tangan Clay juga ikut bergerilya menyusuri dua bukit kembar milik Cherryl yang tempo hari ia Katai rata itu.
Cherryl menggeliatkan tubuhnya, karena merasakan sensasi geli dari sentuhan Clay. Melihat istrinya yang menggeliat membuat hasrat Clay semakin menggebu dan membangun sesuatu milik Clay yang ada di bawah sana.
Ia tak melepaskan tautan bibirnya sambil berjalan, pria itu membawa istrinya ke atas ranjang. Setelah puas bermain dalam mulut istrinya kini bibir Clay mulai turun menyusuri leher jenjang Cherryl dan perlahan jari-jarinya telah berhasil membuka seluruh kancing piama yang di kenakan oleh Cherryl.
.
.
.
Bersambung.
Baru akan menikmati, malam pengantin yang terlewat. Dalam sekejap kaca jendela kamar Clay tiba-tiba pecah.