
Kakek Darmo memeluk batu nisan putri semata wayangnya, bulir bening terus mengalir dengan deras dari sudut matanya yang keriput.
Pria sepuh itu tak bisa menyangka, jika putrinya akan pergi secepat ini meninggalkan dirinya sendirian. Clay telah menjelaskan semuanya pada kakek Darmo, jika Rosa adalah antek-antek dari orang yang telah membunuh ayahnya Nona Grace.
Pada awalnya kakek Darmo terlihat marah dan tidak mempercayai Clay tapi, pemuda itu dengan sabar menjelaskan semuanya dari awal sampai akhir.
"Awalnya saya juga tidak menaruh curiga pada Mbak Rosa, karena ini adalah pertama kalinya saya bertemu dengan Kakek dan Mbak Rosa di tambah lagi saya hilang ingatan jadi saya tidak memikirkan apapun ... tapi, saat itu saya melihat Mbak Rosa keluar dari rumah di tengah malam. Saya mengikuti kemana Mbak Rosa pergi, dan situ saya lihat dia bertemu dengan seseorang yang mencurigakan. Saya melihat orang itu memberikan sesuatu pada Mbak Rosa, karena saya penasaran saya mencoba mengorek siapa orang tersebut. Di saat dia lengah saya masuk ke kamarnya, dan itu sangat mengejutkan banyak bukti surat yang di terima oleh Rosa dan itu berasal dari orang yang saya cari yaitu suster Eni," jelas Clay pada Kakek Darmo
"Entah ini sebuah kebetulan, atau sudah takdir tuhan saya di pertemukan dengan orang yang selama ini saya cari. Saya pikir setelah mendapat petunjuk semuanya akan berakhir dengan mudah akan tetapi, semuanya sama saja Mbak Rosa memilih mati dari pada harus membuka rahasia siapa dan di mana tempat tinggal Mr.Z." Clay menarik napasnya dalam, pria berkulit putih itu tampak lelah dengan semua masalah yang sedang ia hadapi. Masalah berat yang entah sampai kapan semuanya akan berakhir.
Kakek Darmo menganggukan kepalanya pelan, sepertinya pria tua itu mulai mengerti perasaan Clay. Ia menepuk bahu pemuda itu, menguatkannya dan meminta maaf atas segala kekacauan yang telah di perbuat oleh putrinya.
*****
Kota X
Seorang wanita cantik, sexy dan bohay terlihat sedang berlari kencang di ikuti oleh rombongan pria gagah di belakangnya.
Wanita itu menyuruh anak buahnya untuk berpencar, agar memudahkan mereka menangkap tikus yang selama ini dia cari.
Kekacauan pun terjadi ketika orang yang di kejarnya masuk ke salah satu pasar tradisional, orang itu melemparkan apapun yang ada di hadapannya ke arah orang-orang yang mengejarnya.
Terdengar keluhan dan protes dari para pedagang yang jualannya hancur akibat aksi kejar-kejaran tersebut. Sampai di ujung jalan wanita dengan Hoodie hitam terlihat bingung sebab jalan yang ia tempuh adalah jalan buntu, orang-orang dengan tubuh kekar itu tampak menyeringai mendapati tikus liar tersebut tengah ketakutan.
Atas perintah Miss Nina, para bodyguard itu langsung menangkap tikus tersebut dan membawanya ke markas yang sudah di siapkan.
Miss Nina memberi kabar pada Clay, jika suster Eni sudah berhasil di tangkap. Tanpa menunggu hari esok, Clay bersama dua orang kepercayaannya segera terbang menuju kota X dengan jet pribadinya.
***
Markas Ghost Orchid kota X.
Suster Eni tampak berontak saat tangan dan kakinya di ikat pada kursi, ia terus berusaha untuk berteriak tapi mulutnya tertutup oleh lakban.
Clay, menghampiri suster Eni. Ia mendekatkan wajahnya pada wanita tersebut dan melepaskan lakban yang menutup mulutnya dengan kencang, membuat suster Eni meringis merasakan perih di bibirnya.
"Katakan di mana Mr.Z?"
"Aku tidak tahu," ketus suster Eni memalingkan wajahnya dari Clay.
"Kau yakin? Apa kau ingin aku melakukan sesuatu pada keluargamu?" Ancam Clay.
"Silahkan saja, jika terjadi sesuatu pada keluargaku aku akan membunuhmu."
Clay tersenyum kecut."Siapapun yang menyembunyikan pembunuh itu, aku akan menghabisi keluarganya dengan cara yang sama seperti pembunuh itu lakukan pada ibuku dan ayahnya Grace. Ibuku mati karena bom dan ayahnya Grace mati karena terbakar, apa aku harus melakukan hal yang sama juga pada ibu dan suamimu? aku akan menyuruh anak buahku menculik ibumu dan menyimpannya di dalam mobil lalu akan aku nyalakan bom dan membiarkan mu menyaksikan tubuh ibumu hancur berserakan di tanah."Clay menancapkan belati itu pada pegang kayu yang jaraknya begitu dekat dengan tangan suster Eni.
"Mengenai suamimu aku akan menyerahkannya pada Grace, tidak ada yang tahu apa yang akan di lakukan Grace tapi, yang pasti kau tidak akan pernah bertemu lagi dengannya selamanya!" Clay menyeringai, wajahnya yang sejuk kini berubah seperti seorang psikopat.
Suster Eni menelan ludahnya kasar, saat belati itu menyentuh pipinya yang mulus. Keringat dingin mulai membasahi dahi wanita tersebut. Ketakutan tampak jelas dari sorot mata Eni.
Bagaikan buah simalakama, suster Eni kini tengah di rundung rasa dilema. Ingin memberi tahu keberadaan Mr.Z tapi ia tahu resikonya sangat besar pria itu pasti akan mengejar dirinya dan keluarga kemana pun mereka pergi, begitu juga dengan Clay jika dirinya tak memberi tahu keselamatan keluarganya juga pasti akan terancam.
Clay terus mendesak suster Eni agar wanita itu mau berbicara, setelah menghabiskan waktu berjam-jam dengan berbagai macam negosiasi akhirnya Suster Eni memberi tahukan keberadaan pria itu.
"Aku sudah menyuruh anak buahku untuk membawa keluargamu ke tempat aman tapi, jika kau berbohong kau akan tau akibatnya!"
Clay pergi meninggalkan markas tersebut, dengan stelan jaket kulit berwarna hitam dan celana jeans lengkap dengan sepatu boot juga helmnya pria itu bersiap pergi menuju markas besar milik Mr.Z seorang diri.
Ia menyalakan mesin motornya, dan memacu kecepatan di atas rata-rata. Perlu waktu lama untuk bisa mendatangi markas besar sebab selain jaraknya yang jauh Medan yang harus di lalui juga cukup berat.
Pria itu harus melewati pegunungan yang jalannya di penuhi oleh bebatuan besar, beruntung ia membawa motor trail sehingga dengan mudah dirinya bisa melewati jalan berbatu tersebut.
Setelah melewati banyak rintangan. Dari kejauhan ia melihat sebuah mansion mewah berada di tengah laut, Clay mengerutkan keningnya dia tampak berpikir keras bagaimana caranya untuk bisa sampai kesana? Tidak ada kapal atau apapun yang bisa ia pakai untuk menyebrang ke mansion mewah itu.
Tak lama dari itu, suara deru helikopter terdengar di atas kepala Clay. Sebuah tangga pun di turunkan untuk memudahkan Clay naik ke atas helikopter.
"Nona Grace ... Apa yang kau lakukan?" Ucap Clay terkejut karena pilot helikopter itu adalah sekertarisnya.
"Tapi ini sangat berbahaya, Nona."
"Meskipun berbahaya saya tidak perduli, yang terpenting saya bisa membalaskan dendam ayah saya, Tuan," pungkas Grace.
Dengan keteguhan hati yang begitu kuat.
****
Helikopter sudah berada di atas mansion milik Mr.Z, para penjaga yang di lengkapi senjata tampak berlalu lalang sepertinya kedatangan Clay sudah di ketahui oleh pria misterius itu sebab mansion itu di jaga sangat ketat.
Helikopter itu terlihat berputar-putar di atas langit mansion, membuat para penjaga curiga dan mulai menembak ke arah helikopter yang di tumpangi Clay dan Grace.
Mendapat serangan dari pihak musuh, Clay langsung membalasnya pria itu mengeluarkan sebuah granat dan melemparkannya ke arah mansion.
Beberapa penjaga tampak terjungkal akibat serangan dari Clay, para penjaga itu kembali menyerang helikopter Clay tanpa henti. Grace yang mengendalikan benda terbang itu terlihat begitu lihai, sudah berkali-kali ia berhasil menghindar dari serangan para penjaga mansion milik Mr.Z.
Pertarungan sengit yang di lakukan Clay dan Nona Grace dalam melawan anak buah Mr.Z sudah terlihat seperti adegan laga di televisi, kepulan asap terlihat jelas dari pesisir pantai membuat orang-orang di sekitar menyaksikan peperangan itu dengan santai.
Peperangan itu berlangsung selama dua jam, Clay yang tak henti terus menyerang penjaga mansion akhirnya berhasil melumpuhkan semuanya.
Dari kejauhan, Clay melihat seseorang dengan mantel hitam menaiki jet ski. Orang itu pergi ke arah pantai, Clay yang mengira itu adalah Mr.Z langsung memerintahkan Grace untuk mengejar jet ski tersebut.
Dari atas, Clay mencoba menembaki pria dengan mantel tapi tembakannya selalu meleset. Pria itu telah menepi ke pantai dan mengambil motor milik orang lain untuk melarikan diri.
Clay tak menyerah ia pun, menaiki motornya dan mengejar pria tersebut. Keduanya saling memacu kecepatan seperti pembalap yang sedang mengejar garis pinish.
Sesekali pria bermantel itu menembaki motor Clay, begitu juga dengan Clay yang tak mau kalah ia ikut menembak ke arah motor itu. Satu peluru milik Clay telah bersarang di ban motornya membuat pria tersebut terjatuh cukup jauh.
Clay turun dari motor, dan mengarahkan pistol ke pria bermantel. Pria yang seumuran dengan ayahnya itu menatap Clay tajam lalu tersenyum kecut seolah meremehkan kemampuan Clay.
"Katakan kenapa kau membantu Helena dari kebakaran itu? Dan kenapa kau menjadikan seorang security sebagai pengganti Helena?" Tanya Clay, pada pria di hadapannya.
"Cih, dasar bocah tengil. Apa ayahmu sudah tak sehebat dulu lagi sampai mengirim bocah seperti mu padaku," decak Mr.Z.
"Tidak usah membahas yang lain, jika kau masih sayang pada nyawamu cepat jawab pertanyaanku?" Clay mengetatkan giginya.
Mr. Z tertawa sembari berusaha untuk berdiri, "kau ingin tahu apa alasannya? Baiklah aku akan menjawab semuanya. Ayahmu sudah menghancurkan bisnis haramku yang sudah aku bangun bersama ayahnya Helena, sikapnya yang sok jadi pahlawan membuatku rugi ratusan milyar. Aku bangkrut dan keluarga ku hancur mereka pergi meninggalkanku sendirian ... Aku dendam pada ayahmu, aku marah padanya karena selain menghancurkan Bisnisku dia juga menghancurkan keluargaku. Aku sudah berupaya membalas dendam tapi, kekuatan ayahmu sangat besar sehingga aku gagal untuk membalas dendam ... Sampai aku mendengar kabar jika Helena terjebak dalam kebakaran gedung tua itu, aku pikir aku bisa memanfaatkannya jadi aku menolongnya dan menukar mayat itu dengan seorang security. Helena dan aku punya dendam yang sama tapi, sayang wanita itu terlalu bodoh sehingga ia tewas di tangan ayahmu sebelum menghancurkan seluruh keluarga mu."
Sembari menjelaskan, tangan pria itu mengambil sesuatu dari belakang tubuhnya dan di detik berikutnya lelaki dengan mantel hitam yang terbuat dari kulit domba itu menodongkan pistol ke arah Clay.
Keduanya saling beradu tatapan tajam, dengan tangan yang sama-sama menodongkan pistol ke arah kepala masing-masing.
(gambar hanya pemanis, sumber google)
"Bukankah seharusnya bisnis haram itu di hancurkan, kenapa kau mesti marah dan membunuh orang yang tak bersalah?mengenai keluargamu yang hancur itu bukan salah ayahku, tapi keluarga mu sendiri yang tak tulus mencintai dirimu," Ujar Clay yang perlahan mulai menarik pelatuk pistolnya.
"Kau hanyalah bocah kecil, yang tidak akan tahu dengan permasalahan yang aku alami. Sebaiknya kau pergi selagi aku baik hati padamu."
"Kau menyuruh aku pergi, dan membiarkan pembunuh seperti mu hidup? Cih jangan harap itu terjadi. Kau harus mati sekarang juga."
Sebelum Clay melepaskan pelatuk pistolnya, ternyata ia kalah cepat rupanya pria mantel itu telah menyiapkan seorang penembak yang bersembunyi di semak-semak. Penembak itu berhasil membuat Clay terjatuh dengan luka cukup parah di bagian dadanya, Grace yang melihat kejadian itu langsung mengangkat senjatanya dan menembaki Mr. Z secara membabi buta.
Penembak suruhan Mr.X itu hendak membalas tapi, Kevin jauh lebih cepat dari penembak tersebut sehingga penembak itupun tewas di tangan Kevin.
flashback off
.
.
.
Bersambung....