
“Cepat katakan, apa yang terjadi pada istriku, Vin!” sentak Clay, sembari menarik kerah baju milik sahabatnya.
“Clay, kendalikan dirimu,” ucap papi Gerald menahan putranya yang sudah siap untuk memukul Kevin.
Clay, mendorong Kevin agar menjauh darinya. Ia pun menghela napasnya dalam agar bisa kembali berpikir dengan jernih.
“Kevin, katakan apa yang terjadi pada Cherryl?” tanya Papi Gerald.
“Sebaiknya, biar Tuan muda saja yang melihat bagaimana kondisi Nona Cherryl sekarang,” ujar Kevin yang menyuruh Clay untuk masuk ke dalam kamar.
Sebelum masuk, Clay memberikan ancaman terlebih dahulu pada Kevin jika terjadi sesuatu pada istrinya ia akan memastikan jika Kevin juga akan mengalami hal yang sama dengan istrinya.
Clay masuk ke ruangan kamar itu. Di sana ia melihat istrinya tengah duduk menyandar pada sandaran ranjang. Ia menghampiri Cherryl lalu, mengusap wajahnya yang terlihat begitu pucat.
“Apa, masih pusing?” tanya Clay dengan lembut.
Cherryl mengangguk pelan.
“Dokter Reza, apa yang terjadi pada istriku? Kenapa dia bisa pingsan seperti ini?” tanya Clay, pada dokter Reza yang sedang berdiri di samping Cherryl dengan tatapan sendu.
“Dokter, tolong jawab aku jangan hanya diam saja! Apa yang sebenarnya terjadi?” desak Clay, ia terlihat begitu kesal sebab sejak dari tadi ia bertanya tapi, tak kunjung mendapatkan jawaban.
“Tuan, apa anda yakin ingin tahu apa yang membuat Nona Cherryl jatuh pingsan?” tanya Dokter Reza ragu.
“Cepat katakan, atau aku akan memecatmu!” teriak Clay, geram.
“Baiklah, jika anda memaksa. S-sebenarnya yang membuat Nona Cherryl pingsan itu adalah–,” terpotong oleh ucapan Clay yang sudah tidak sabar mendengar pernyataan darinya.
“Adalah apa? Cepat katakan dengan jelas!”
“Astaga, Tidak bisakah kau berhenti berteriak dan dengarkan apa yang akan dikatakan oleh dokter Reza!” Cherryl tak kalah berteriak, memarahi suaminya yang terus berbicara dengan volume yang begitu keras membuat telinganya terasa sakit.
“Sayang, kau berteriak padaku,” Clay mengerutkan keningnya tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
“Berhenti bicara, dan dengarkan dokter Reza. Jika tidak malam ini kau tidur di luar,” ancam Cherryl kesal.
“Baiklah, baiklah. Dokter Reza silahkan lanjutkan.” Clay duduk di samping Cherryl sembari meraih tangan istrinya.
“Selamat, Tuan. Anda akan menjadi seorang ayah.” Ungkap dokter Reza tersenyum.
“Jadi seorang ayah? Astaga sayang kamu hamil?” tanya Clay dengan mata yang berbinar.
Cherryl kembali mengangguk, sembari tersenyum.
“Kenapa kau tak mengatakan nya dari tadi, ah ya ampun ini seperti mimpi terima kasih sayang terima kasih. Kau telah memberikan hadiah terindah dalam hidupku.” Clay memeluk istrinya, ia tidak menyangka jika sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang ayah.
“Dokter Reza, katakan pada Grace agar dia mengumumkan kehamilan istriku pada semua tamu dan perintahkan juga pada Erick untuk memberikan sebagian hartaku pada orang-orang yang tidak mampu,” titah Clay, ia tak hentinya terus mengucap syukur atas karunia yang diberikan oleh tuhan padanya.
Dokter Reza mengangguk, ia pun menyampaikan perintah dari Clay pada Grace dan Erick. Dia juga tidak lupa memberitahukan kabar gembira ini pada Papi Gerald juga Queennara.
Mendengar berita bahagia ini, papi Gerald sampai meneteskan air matanya. Rasanya ia masih tidak percaya baru kemarin ia melihat putranya lahir, dan sekarang putranya akan menjadi seorang Ayah.
Papi Gerald jadi teringat pada mendiang istri dan kedua besannya. Jika saja mereka masih hidup, mereka pasti akan menyambut kabar ini dengan penuh suka cita.
.
.
.
***
Hari hari telah berlalu, bulan ke bulan juga telah dilewati oleh sepasang suami istri yang kini sedang menyiapkan kelahiran calon buah hati pertama mereka yang tinggal menghitung hari.
Usia kehamilan Cherryl kini sudah memasuki bulan kesembilan, dokter kandungan mereka mengatakan jika Cherryl akan melahirkan kurang lebih dari tiga hari kedepan.
Selama Cherryl mengandung, Clay kini berubah menjadi suami yang siaga dan juga posesif. Bahkan dari awal kehamilan, Clay sudah memutuskan untuk bekerja dari rumah. Meskipun, Cherryl selalu meyakinkan dirinya baik-baik saja Clay tetap teguh dengan pendiriannya yang ingin menjaga Cherryl dan calon buah hatinya dengan baik.
Tak hanya mengurusi pekerjaan kantor saja, selama Clay berada di rumah dia juga yang melakukan segala pekerjaan rumah. Dari mulai memasak, mencuci, mengepel dan urusan rumah tangga yang lain ia kerjakan sendiri dengan senang hati, dia tidak memperbolehkan istrinya melakukan hal yang berat. Bahkan untuk ke kamar mandi saja Clay akan menemani Cherryl.
Meskipun, Cherryl sering protes pada sikap Clay yang berlebihan. Akan tetapi, Clay selalu menjawabnya dengan jawaban jika ia ingin melakukan yang terbaik untuk istri juga calon bayinya.
Awalnya Cherryl selalu merasa risih dengan sikap Clay yang posesif dan terbilang lebay tapi, seiring berjalannya waktu ia mulai terbiasa dengan sikap Clay yang berlebihan seperti ini.
Hingga tiba pada waktunya, ketika Cherryl sedang berjalan-jalan sore di sebuah taman bersama Clay. Ia mulai merasakan sesuatu yang aneh pada perutnya.
.
.
.
***
Rosella Hospital.
Di depan ruangan bersalin, Clay terlihat sangat cemas. Ia terus berjalan kesana kemari, sembari memanjatkan doa memohon keselamatan untuk istri juga calon buah hatinya pada sang kuasa.
"Clay, duduklah. Papi pusing liat kamu mondar mandir kayak setrikaan seperti itu," protes Papi Gerald.
"Clay khawatir sama Cherryl, Pi."
"Kamu tenang ya, Cherryl sudah ditangani oleh tim dokter yang ahli. Sebaiknya kamu duduk sambil berdoa." Papi Gerald mengusap bahu Clay agar lebih tenang.
Dan tak berselang lama, suara tangisan bayi yang berasal dari ruangan bersalin terdengar begitu nyaring membuat para pria yang sedang menunggu di luar mengucapkan syukur dan terlihat lebih tenang.
"Selamat Tuan, anak anda laki-laki," seru dokter yang mempersilahkan Clay untuk melihat putranya yang baru saja lahir.
Begitu Clay masuk ke dalam ruangan bersalin, ia langsung disambut oleh senyum manis istrinya yang sedang menggendong buah cinta mereka. Wajah Cherryl terlihat begitu pucat, dan keningnya dibanjiri oleh keringat.
Namun, meskipun begitu gadis itu masih terlihat cantik di mata Clay. Ia menghampiri istrinya dan mengecup kening sang istri kemudian menggendong putra mereka yang masih dibungkus oleh sehelai kain.
"Terimakasih, kau telah melahirkan malaikat tampan ini ke dunia meskipun, aku tahu perjuanganmu tidak mudah. Tapi, kau terus berusaha agar putra kita lahir secara normal," ucap Clay kembali mengecup kening sang istri dan tanpa terasa air mata kebahagiaan mulai menetes dari sudut mata Clay.
"Sudah tugasku, sebagai seorang ibu memberikan yang terbaik untuk anaknya ,Clay. Dan aku bahagia bisa merasakan apa yang dirasakan oleh mendiang Mama dan juga mendiang Mamy Val beberapa puluh tahun yang lalu ketika mereka melahirkan ku dan kamu."
"Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi, karena aku rasa kata terima kasih saja tidak cukup untuk mengganti setiap cucuran keringat yang telah kau keluarkan. Tapi, yang pasti aku semakin mencintaimu Ryl," ungkap Clay kembali memeluk sang istri.
"Lihat dia tampan sekali dia mirip denganmu, Clay," puji Cherryl menyentuh pipi kecil sang putra.
"Kau benar, dan lihat bibirnya. Seperti bibirmu," ujar Clay terkekeh.
"Kau, akan memberi nama dia apa?"
"Bagaimana kalau, Calandra Alexander Dhanuendra?"
"Itu bagus, aku menyukainya." pungkas Cherryl yang tak henti mengembangkan senyum kebahagiaan di sudut bibirnya.
Begitu banyak kisah yang dialami oleh keduanya, berawal dari perjodohan yang tak diinginkan. Pembalasan dendam di masa lalu yang membuat Cherryl dan Clay terpisah selama bertahun-tahun.
Bahkan tak hanya disitu saja, disaat dia berusaha untuk bangkit dari keterpurukannya banyak cobaan yang menerjang. Kepergian kedua orang tuanya yang menghadap sang pencipta, bullying dari teman kuliah sampai penghianatan dari sahabatnya sendiri.
Namun dibalik itu semua, berkat kesabaran Cherryl yang setia menanti cinta sejatinya kembali. Pada akhirnya Clay dan Cherryl bisa bersatu lagi, merajut kisah cinta yang sempat tertunda akibat perpisahan. Dan kini kehadiran Calandra buah hati mereka kian melengkapi kisah hidup keduanya, membuat kebahagiaan Clay dan Cherryl semakin terasa sempurna.
.
.
.
.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Tidak ada hikmah yang bisa diambil dari novel ini, begitu banyak kekurangan dan ketidak jelasan yang terkandung dalam novel ini. Akan tetapi saya sebagai penulis mengucapkan banyak terima kasih pada kalian yang telah menyempatkan untuk membaca novel 'Weeding secret's' sampai pada akhir episode ini.
Saya juga ucapkan terimakasih, pada kak Nana penulis dari novel 'Pelangi untuk Lily' berkat kak Nana yang selalu memberi saya semangat saya bisa menyelesaikan novel ini yang pada awalnya tidak ingin saya selesaikan karena kehabisan ide.
Saya juga ucapkan terima kasih pada kak Rarisma, reader yang selalu memberikan like pada karya saya meskipun novel ini sempat terhenti tapi, beliau masih setia memberikan dukungan pada novel ini ketika kembali update. Untuk sementara saya hanya bisa mengucapkan terima kasih terlebih dahulu, insyaallah di next novel saya akan memberikan sedikit GA untuk pembaca setia.
Dan terimakasih juga untuk orang-orang yang mau membantu dan mendukung saya dalam belajar menulis, semoga kedepannya saya bisa membuat karya yang lebih baik lagi. Terimakasih juga untuk admin NT sudah mau membantu saya.
Tidak lupa juga untuk unnie Silvi, karena sudah mengijinkan saya menggunakan foto weddingnya untuk dijadikan cover 💜.
Terimakasih semuanya, dan mohon maaf jika ada hal-hal yang membuat kalian tersinggung. Salam hangat dari author Zia Lin, sampai ketemu lagi di next novel ya 👋👋💜💜💜💜.
TAMAT.