
Di saat semua mahkluk bumi sedang menikmati keheningan malam, dalam tidurnya. Berbeda dengan kediaman Dhanuendra, semua penghuni rumah kediaman Dhanuendra tampak ketar ketir atas teror yang menimpa sang pemilik rumah.
Semua penjaga telah di kerahkan untuk mencari orang yang telah, melemparkan batu ke arah jendela kamarnya.
Cherryl memeluk ibunya dengan tubuh yang bergetar, begitu juga dengan mama Dewi wajahnya di penuhi dengan rasa khawatir. Papa Cestaro yang datang karena di telpon oleh Mama Dewi, ikut menyelidiki siapa yang sudah menyerang kediaman menantunya itu.
Clay menatap kertas yang di pakai untuk membungkus batu tadi, kertas itu bertuliskan ancaman dengan tinta berwarna merah darah Clay meremas geram kertas itu.
Ia terus bertanya siapa yang telah melakukan semua ini, karena selama ini ia tidak pernah merasa punya musuh. Ia sempat berpikir jika orang itu adalah gurunya tapi ia menepis pikiran itu, untuk apa pak Austin menerornya? Jika gurunya ingin balas dendam karena telah di pukul olehnya, ia rasa gurunya bukan tipe orang yang pendendam.
"Tiara! Ini pasti perbuatannya," gumam batin Clay, yang tiba-tiba pikirannya mengarah pada gadis yang selalu mengejarnya.
Jika memang Tiara, bukankah berarti gadis itu sudah melakukan tindakan yang sangat keterlaluan? hanya karena Clay selalu menolaknya ia sampai melakukan teror seperti ini membuat seisi rumahnya menjadi panik.
"Clay, sebaiknya kamu tanyakan hal ini sama papi kamu. Papa khawatir jika papi kamu punya musuh, dan mereka mengarah ke kamu sebagai pembalasan dendamnya," seru papa Cestaro, khawatir.
"Clay, coba tanyakan papi pah."
Papa Cestaro menganggukan kepalanya, ia memperhatikan menantunya yang sedang menelpon besannya. Terdengar ke khawatiran dari kedua orang tua Clay. Mereka juga mengatakan jika mereka tidak punya musuh, karena takut terjadi hal yang tak di inginkan menimpa Clay dan Cherryl. Kedua orang tua Clay memutuskan untuk kembali ke kota edelweis dan menyelidiki teror tersebut.
Sambungan telpon telah berakhir, demi keselamatan anak dan menantunya. Papa Cestaro membawa Clay dan Cherryl ke kediamannya.
Teror tak hanya berhenti di rumah itu saja, Bahkan saat perjalanan menuju kediaman Cestaro mobil papa di hadang oleh sekelompok orang dengan senjata tajam di tangan mereka. Beruntung Clay membawa penjaga rahasia yang jumlahnya lebih besar dari pada komplotan penjahat itu , sehingga mereka bisa dengan selamat sampai di kediaman Cestaro.
Karena pekerjaan papi Gerald yang belum bisa di tinggal jadi beliau memerintahkan sekertaris Rendi untuk langsung terbang ke kota edelweis malam itu juga guna menyelidiki semua teror yang menimpa putranya.
Tak butuh waktu lama, karena keahlian sekertaris Rendi yang selalu sat set dan anak buahnya tersebar dimana-mana meskipun dirinya masih dalam perjalanan tapi ia sudah berhasil mengantongi beberapa informasi dari para penjahat tersebut, tanpa menunggu besok ia langsung mengirim pesan pada bosnya.
***
Kediaman Cestaro.
Kediaman Cestaro telah di jaga ketat oleh orang-orangnya Clay, dan juga orang-orang suruhan dari sekertaris Rendi. Orang-orang itu tampak siaga menjaga rumah tersebut.
Karena Mama Dewi begitu khawatir dengan ke adaan saat ini membuat darah tinggi Mama Dewi kumat, dan beliau harus segera istirahat begitu juga dengan papa Cestaro yang harus menemani istrinya yang sedang sakit jadi mereka tak bisa menemani anak dan menantunya di dalam kamar.
Sementara di dalam kamar, Cherryl masih syock dengan kejadian kaca jendela yang pecah. Suara pecahan kaca yang keras terus terngiang-ngiang di telinga gadis cantik itu. Clay memeluk erat istrinya berusaha menenangkan Cherryl yang masih ketakutan.
"Tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja. Papi dan om Rendi sedang menyelidiki semuanya jangan menangis lagi ya," Clay menyeka pipi Cherryl yang basah karena bulir bening yang terus jatuh melewati kedua pipinya.
"Aku takut Clay, kenapa orang itu meneror kita?" Lirih Cherryl sambil terisak.
"Entahlah, aku masih belum paham. Tidurlah jangan di pikirkan lagi percayakan pada om Rendi aku yakin, om Rendi dapat memecahkan semuanya."
"Jangan pergi, aku takut."
"Tidak, aku tidak akan pergi. Aku akan menemanimu, sekarang tidur lah," Clay mengecup pucuk kepala istrinya.
Sembari mengusap rambut Cherryl pikirannya terus saja berputar, memikirkan siapa dalang di balik semua ini?
****
Keesokan paginya,
Cherryl masih terlelap dalam dekapan Clay. Begitu juga dengan Clay ia masih setia mendekap istrinya sepanjang malam.
Tok..tok..tok.
Bi Arum, mengetuk pintu kamar majikannya. Karena bi Arum begitu setia pada keluarga Dhanuendra jadi beliau memutuskan untuk ikut ke kediaman Cestaro dan melayani majikannya di sana, sementara Miss Nina lebih memilih tinggal di kediaman Dhanuendra dengan alasan ingin menangkap pelaku peneroran.
Mama Dewi melihat, bi Arum yang sedang berdiri di depan kamar putrinya. Mama Dewi menghampiri kepala pelayan tersebut dan menyapanya.
"Bi Arum, sedang apa di sini?"
"Selamat pagi nyonya, saya mau membangunkan tuan dan nona. Untuk berangkat ke sekolah."
"Tidak usah bi, lagian sekolahnya lagi persiapan buat ujian biarkan aja mereka beristirahat. Kasian semalam mereka tidur larut banget," pungkas Mama Dewi.
Karena Mama Dewi melarang bi Arum untuk membangunkan tuan mudanya, dengan sopan bi Arum menganggukan kepalanya lalu pergi menuju dapur untuk membantu mbok Jum.
***
SMA Harapan Bangsa.
Tiara menelusuri setiap sudut sekolah, ia mencari keberadaan Clay. Ia telah mencarinya kemana-mana tapi yang di cari tak kunjung menunjukan batang hidungnya.
"Rick, lo liat si clay nggak? Gue cari-cari kok nggak ada ya?" Tanya Tiara dengan senyum yang merekah.
"Apa?"
"Lo jawab jujur, pasti lo kan yang udah ngurung si Cherryl di gudang?" Erick menatap manik mata Tiara penuh selidik.
"Ha ha ha, lo ngomong apa sih Rick? Mana mungkin gue ngurung dia di gudang," jawab Tiara, sambil tertawa untuk menutupi rasa gugupnya.
Sett..
Erick menarik tangan Tiara, ia mencengkeramnya erat membuat gadis itu meringis, "Lo mau jujur atau gue patahin, tangan lo sekarang juga!"
"Ish, lo kenapa sih Rick? Lepasin," pinta Tiara meronta.
"Jawab pertanyaan gue, Tiara!"
"Gue mesti jawab apa? Orang gue nggak ngelakuin itu, si Cherryl di kurung di gudang aja gue nggak tau!" Tiara mengelak, tuduhan Erick.
"Gue, nggak percaya. Lo mau jujur atau gue patahin nih tangan!" Erick kembali mengancam, meskipun Tiara terus berkata tidak tapi batin Erick mengatakan jika Tiara sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Erick memang menyukai Tiara tapi ia merasa tindakan gadis itu sudah melebihi batas, apalagi orang yang Tiara kurung adalah istri dari sahabatnya jadi ia berhak untuk melaporkan gadis itu ke polisi.
"Lepasin, atau gue teriak!" Tiara tak kalah mengancam balik Erick.
"Teriak aja, biar semua orang denger kalau lo yang udah ngurung Cherryl di gudang, dan gue bakal laporin lo ke polisi," Erick menantang Tiara yang masih berusaha melepaskan tangannya.
Mendengar Erick yang akan melaporkan dirinya ke polisi, Tiara jadi panik spontan ia menendang kaki Erick kencang membuat pria itu mengaduh.
Ketika tangannya terlepas dari genggaman Erick dengan cepat Tiara kabur meninggalkan sekolah.
****
Taman bunga Dahlia.
Dengan napas yang tersengal, Tiara duduk di atas bangku taman. Ia meminum sebotol air mineral untuk melepaskan dahaganya akibat berlari dari kejaran Erick.
"Sial! Bagaimana bisa si Erick tahu kalau gue yang udah ngurung si Cherryl di gudang!" Tiara mendengus kesal.
Drrtt drrtt...
Sebuah pesan masuk ke ponsel Tiara.
"Lari secepat mungkin, polisi sedang mencarimu. Aku sudah mentransfer sejumlah uang ke rekeningmu, kaburlah ke tempat yang jauh," sebuah pesan yang di kirim oleh seseorang ke ponselnya.
Keringat dingin mulai mengucur dari dahi Tiara, ia Menelan ludahnya dengan susah payah ketika membaca pesan tersebut. Perasaan dirinya telah melakukan semuanya dengan bersih tapi kenapa jejaknya bisa tercium oleh orang-orang.
"Kurang ajar! gue kira si Erick cuman ngancem doang, ternyata dia serius dengan ucapannya. Gue harus buru-buru pergi dari sini,"
Tiara mengecek rekeningnya, transferan cukup besar sudah masuk ke dalam tabungannya. Dengan cepat dia memindahkan semua uang-uang itu ke rekening pribadinya yang sengaja ia sembunyikan tanpa sepengetahuan siapapun.
Tanpa membuang banyak waktu, ia segera pergi menuju bandara. Niat hati dirinya pergi ke luar negeri untuk menghindari kejaran polis namun takdir berkata lain saat dalam perjalanan menuju bandara sebuah truck besar menghantam taxi yang di tumpangi oleh dirinya. Membuat Tiara dan supir taxi itu tewas secara tragis.
Di TKP polisi sedang menyelidiki motif kecelakaan tersebut, namun polisi mengatakan jika kecelakaan ini murni karena kelalaian yang di sebabkan oleh supir truk yang mengantuk.
Clay dan Erick saling menatap satu sama lain, mereka merasa ada hal janggal di balik kecelakaan Tiara yang tiba-tiba.
***
Taman makam marigold.
Semua teman sekelas Tiara ikut mengantarkan jenazah Tiara ke tempat peristirahatannya yang terakhir, semua terlihat khusyuk memanjatkan doa untuk Tiara. Agar gadis malang itu mendapatkan tempat yang terbaik di sisi Tuhan.
Setelah acara pemakaman selesai, satu persatu teman-teman Tiara meninggalkan pemakaman. Yang tersisa kini hanya Clay, Cherryl dan Erik, mereka menatap pada wanita paruh baya yang mengenakan kursi roda. Wanita itu terus menatap sendu pusara mendiang Putri angkatnya.
"Tante, kita turut berduka cita atas meninggalnya Tiara. Dia orang baik, saya yakin Tiara mendapatkan tempat yang paling indah di sisi Tuhan, Tante yang sabar ya," ucap Clay, menguatkan wanita itu.
"Kalau begitu kami pamit pulang dulu ya Tante," pamit Clay, wanita itu hanya mengangguk pelan setelah mendapat tepukan dari seorang suster yang selalu mendampinginya.
Setelah melihat ketiga orang itu pergi, wanita itu menyeringai di balik cadar yang menutupi sebagian wajahnya yang buruk.
"Maafkan, aku putriku sayang. Ibu terpaksa melakukan hal ini, karena ibu tau kemanapun kamu pergi keluarga Dhanuendra pasti akan menemukanmu...jika ibu melepaskan mu begitu saja, perjuangan ku untuk balas dendam akan berakhir dengan sia-sia," gumam wanita itu, sembari mengusap air mata palsunya yang menetes.
.
.
.
Bersambung.