Wedding Secrets

Wedding Secrets
mengakhiri semuanya.



Para kemanan yang sedang berjaga di depan pintu dengan sigap mendobrak pintu kamar, setelah mendengar suara tembakan yang berasal dari kamar Miss Nina.


Mereka semua masuk untuk melindungi tuan mudanya para keamanan itu berpikir jika majikannya yang telah tertembak, namun saat mereka di dalam para keamanan itu malah di kejutkan oleh Miss Nina yang sudah tergeletak di lantai dengan luka tembak yang bersarang di dadanya.


"Tuan, anda baik-baik saja?" Tanya salah seorang kemanan.


"Bereskan mayat, wanita s*ialan itu! Buang dia ke sungai, biarkan alam yang membuatnya membusuk," Titah Clay yang meninggalkan kamar tersebut.


Clay mengeluarkan ponselnya, dan menelpon Erik juga Austin. Ia meminta agar kedua pria itu menemui dirinya di sebuah cafe.


***


Anggrek cafe.


Clay menatap tajam pada Austin, dirinya yang meminta agar gurunya itu datang menemuinya tapi entah kenapa rasa tidak sukanya terus saja memenuhi hatinya.


"Ada apa kamu meminta saya kemari?" Tanya Austin ia sebal dengan anak murid yang ada di hadapannya karena menatapnya seperti seorang musuh.


"Apa bapak benar mencintai Cherryl?" Clay mengajukan pertanyaan yang membuat Erick menatapnya heran.


"Tentu saja, kenapa kamu menanyakan hal itu? Memangnya apa hubungan kamu dengan Cherryl?" Jawab Austin terus terang.


Sakit sih tapi Clay berusaha menahannya, tujuannya menemui Austin adalah untuk meminta bantuan bukan untuk berkelahi, "Buktikan jika memang bapak, mencintai istri saya," seloroh Clay membuat guru muda itu tercengang dengan ucapannya.


"Istri? Apa maksud kamu?" Austin mengerutkan dahinya.


Clay tersenyum kecut melihat reaksi Austin yang sangat terkejut pada pernyataannya,


"Sebulan yang lalu kami berdua telah di jodohkan oleh kedua orang tua kami, kami sempat menolak tapi pernikahan itu tetap di lakukan. Awalnya kami tidak saling suka tapi akhir-akhir ini aku mulai mencintainya begitu juga dengan Cherryl yang mulai jatuh cinta padaku," jelas Clay sengaja mengompori gurunya.


"Hentikan!" Sentak Austin tak terima dengan apa yang di ucapkan muridnya, "Kalian belum cukup umur, dan pernikahan kalian tidak sah di mata negara," sambung Austin.


"Ck, usiaku 17 tahun, memang tidak sah di mata negara tapi sah di mata agama," decak Clay pada Austin.


Austin bangkit dari duduknya dan menarik kerah baju Clay, jika saja Erik tak melerai mungkin wajah tampan Clay sudah terkena bogem mentah dari gurunya.


Clay menarik napasnya panjang, "Maaf sudah membuat anda emosi," ucap Clay sembari merapikan bajunya.


"Aku mengundang bapak ke sini, bukan untuk beradu kekuatan. Aku hanya ingin meminta bantuan," sambung Clay.


Guru itu memutar manik matanya ke sembarang arah, tumben sekali anak didiknya yang satu ini meminta bantuan dirinya, biasanya Clay selalu mengerjakan apapun sendirian.


"Saya tau bapak bingung, saya sedang ada dalam masalah besar. Sekarang Cherryl sedang berada di rumah sakit, dia terjatuh dan sampai sekarang masih belum sadarkan diri-,"


Brak...


Austin menggebrak meja dan memotong ucapan muridnya, membuat seluruh pelanggan cafe melirik ke arahnya.


"Apa! Cherryl di rumah sakit?" Kemarahan mulai menyeruak dalam dirinya saat mendengar kabar jika gadis yang di cintainya terluka.


"Pak sabar dulu, kita dengarkan dulu penjelasan Clay," Erick menahan gurunya yang termakan oleh emosi.


"Hufftt," Austin menghembuskan napasnya kasar.


"Ck, emosian sekali pria itu. Aku tidak yakin dia pria kalem seperti yang di katakan oleh Cherryl," decak batin Clay, Austin memang gurunya Clay, tapi pemuda itu adalah tipe orang yang tak suka memperhatikan orang lain jadi dia tidak tahu sama sekali bagaimana ke pribadian gurunya itu.


"Lanjutkan," dengus Austin, meminta Clay meneruskan pembicaraannya.


"Seseorang telah mendorong Cherryl dari atas tangga, membuatnya koma karena pendarahan di kepalanya," lirih Clay.


"Aku harus pergi untuk mencari orang yang telah membunuh ibuku juga yang sudah membuat Cherryl dan adiku celaka. selama aku pergi bisakah bapak menjaganya," Clay menatap Austin penuh harap.


"Tolong jaga dia sebaik mungkin, buat dia bahagia jangan biarkan dia menangis... Jika aku tidak kembali katakan padanya, jika aku yang menyuruh bapak untuk menggantikan posisiku di sampingnya," kesedihan terlihat jelas dari raut wajah Clay,


Berat baginya untuk melepaskan orang yang begitu ia cintai, cukup ibunya saja yang pergi meninggalkan Clay untuk selamanya,ia tidak ingin lagi kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidupnya.


Jalan satu-satunya agar Cerryl tetap selamat yaitu menitipkannya pada Austin, ia yakin jika Austin bisa menjaga istrinya dengan baik dan membuat gadis itu bahagia.


"Ck, kau bilang kau mencintainya tapi kau malah mau meninggalkan nya," cibir Austin.


"Aku mencintainya, mangkanya aku menitipkannya padamu aku tidak ingin orang yang sangat berarti dalam hidupku kembali terluka karena ulahku," rahang Clay kembali mengeras.


"Clay, Lo yakin mau nyari pembunuh itu?" Sela Erick di tengah perdebatan kedua orang yang menyukai gadis yang sama tersebut.


Clay mengangguk pelan, "Gue harus segera mengakhiri masalah ini dan gue butuh bantuan Lo,"


"Clay ini Maslah berat, kamu nggak akan bisa ngadepin semuanya sendirian. Kamu serahkan aja semuanya sama polisi," timpal Austin.


"Nggak bisa pak, orang itu sangat licik. Aku harus menangkapnya dengan tanganku sendiri, aku menyimpan banyak harapan padamu tolong jaga Cherryl sebaik mungkin."


Clay terus menjelaskan semua pada gurunya, Austin tampak berpikir untuk mencerna semua permasalahan yang di hadapi oleh muridnya itu. Setelah berpikir dengan jernih Austin mulai menerima kenyataan jika Clay dan Cherryl sudah menikah ia juga menyetujui permintaan muridnya untuk menjaga Cherryl dengan baik.


" Baiklah, aku akan menjaganya sesuai keinginanmu dan aku juga harap kau bisa segera kembali dalam ke adaan selamat, bukankah kau sangat mencintai Cherryl tetap jaga dirimu untuk orang-orang yang kau cintai. Cherryl akan merasa sangat sedih jika tau kau terluka," ujar Austin dengan ekspresi yang sendu.


"Terimakasih pak, akan aku pastikan aku kembali dengan selamat," ucap Clay, hatinya kini sedikit tenang karena Austin mau membantunya.


Clay dan Erik berpamitan pada gurunya, mereka pergi menuju kediaman orang tuanya yang terdahulu.


Kedua pemuda itu, tampak serius saat membicarakan rencana mereka untuk mendatangi kediaman si pembunuh.


Erick awalnya terlihat ragu saat mendengar rencana sahabatnya, tapi melihat sahabatnya yang begitu membutuhkannya Erick merubah pikiran menjadi yakin Jika mereka berdua bisa menghadapinya bersama.


Sebelum mereka melakukan tugasnya, Clay kembali ke rumah sakit untuk melihat keadaan istri juga adiknya yang masih mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit Bougenville.


Saat Clay masuk ke dalam ruangan Cherryl , ia langsung di sambut oleh tatapan tajam dari kedua mertuanya. Mereka terlihat marah dan tak terima dengan kondisi putrinya yang sedang terbaring di atas brangkar dengan kedua mata masih terpejam.


"Mah... Pah," ucap Clay menelan ludahnya kasar.


"Ngapain kamu kesini!" Dengus Mama Dewi, dengan mata yang sembab karena menangisi putrinya yang masih belum sadarkan diri.


"Gara-gara kamu putri saya jadi celaka... Saya menyesal sudah memaksa putri saya menikah dengan kamu... Kamu memang pembawa sial!" Hardik Mama Dewi pada Clay yang baru saja sampai.


Pemuda itu tertunduk, rasa bersalah kembali memenuhi dadanya.


"Ya, semua ini memang salah Clay mah... Maafkan Clay yang tidak bisa menjaga Cherryl dengan baik," ucap Clay. Ia tak berani menatap sorot mata ibu mertuanya yang sedang berapi-api.


"Maaf, kamu bilang maaf.... Memangnya dengan kata maaf kamu bisa mengembalikan keadaan putri saya seperti semula! Enak banget kamu cuman ngucapin maaf," Mama Dewi terus mencecar menantunya.


"Mah, udah ma ini di rumah sakit. Kita bisa bicarakan semuanya baik-baik," sahut papa Cestaro menenangkan istrinya.


"Nggak bisa pah, putri kita sedang mempertaruhkan nyawanya.... Mana bisa ini di bicarakan secara baik-baik, pokonya Mama nggak mau tahu kamu harus bertanggung jawab atas semua ini!" timpal Mama Dewi yang terus mengacungkan jari telunjuknya ke hadapan Clay.


"Maaf nyonya Dewi, ini bukan kesalahan Clay tapi ini kesalahan saya. Saya yang sudah membuat Cherryl ikut terseret ke dalam masalah saya," seru papi Gerald membela putranya.


"Saya tidak perduli mau salah siapa! Tapi yang pasti saya menyesal telah menerima perjodohan ini! Sebaiknya kalian pergi dari sini jangan temui anak saya lagi!" Mama Dewi mengusir besan juga menantunya keluar dari ruangan tersebut.


"Mah.... Tunggu dulu ma, Clay harus bicara sama Cherryl sebentar."


"Pergi dari sini! Saya nggak mau melihat muka kalian lagi!"


Brak...


Mama Dewi menutup pintu ruangan putrinya, Clay mengusap wajahnya kasar ia sangat kesal pada dirinya sendiri seandainya waktu bisa terulang ia tidak akan meminta waktu selama satu Minggu pada sang papi.


Andai dirinya tahu, jika orang yang akan mencelakai Cherryl ada di rumahnya. Mungkin semenjak papi Gerald menyuruhnya untuk bercerai ia kan langsung menurutinya.


"Maafkan papi Clay, sudah membuat semuanya berantakan," papi Gerald menepuk bahu putranya.


"Tidak Pi, ini bukan salah papi.... Ini semua gara-gara pembunuh itu, dia yang sudah membuat keluarga kita hancur. Aku harus segera menemukan pembunuh itu," Clay pergi meninggalkan ayahnya.


"Clay, tunggu! Kamu nggak bisa bertindak sendirian wanita itu sangat licik, Papi dan sekertaris Rendi saja sampai sekarang belum bisa menemukan pembunuh itu dimana.... Apa lagi kamu yang belum berpengalaman," ucap papi gerald menahan langkah putranya.


"Papi meragukanku?" Tanya Clay dengan raut wajah yang kecewa.


"Bukan tidak percaya.... Papi tidak ingin kamu kenapa-kenapa Clay," tutur papi Gerald.


"Pi.. sampai kapan kita harus menunggu pembunuh itu keluar! Apa papi akan menunggu aku dan Nara mati baru papi bergerak cepat... Kita sudah kehilangan Mamy, bahkan nyaris kehilangan Nara dan Cherryl.... Lalu siapa lagi yang papi tunggu untuk menjadi sasaran wanita itu? Pokonya aku akan menangkap pembunuh itu, aku akan mengakhiri semuanya sekarang," ujar Clay, untuk pertama kalinya ia membangkang pada pria yang ada di hadapannya.


Clay pergi meninggalkan rumah sakit, dan papi Gerald terlihat begitu khawatir karena putranya terus saja bersikeras untuk bergerak sendirian.


Pria itu terlihat bingung, dia ingin membantu putranya tapi ia juga harus menjaga putri dan menantunya semenjak ada penyusup di rumahnya papi Gerald sudah tak percaya lagi pada siapun.


Ia hanya mampu mendoakan agar putranya tetap dalam keadaan baik-baik saja dan bisa menemukan pembunuh itu dengan cepat.


.


.


Bersambung.