Wedding Secrets

Wedding Secrets
Landing



Satu minggu kemudian, seperti biasa di pagi hari gadis itu akan tergesa karena terlambat bangun. Ia sampai pontang panting saat memakai sepatu heelsnya.


Drrttt...drrttt...


Ponsel Cherryl berdering, satu panggilan dari nomor yang tak di kenal.


"Hallo," sapa Cherryl, sembari menggerek kopernya.


"Hallo, ini siapa ya?" Cherryl kembali menyapa, dan bertanya tapi tidak ada jawaban dari penelpon tersebut.


Tuttt...


Panggilan terputus.


"Ish, dasar orang iseng... Ini taxi pada kemana lagi udah tau, gue telat mereka malah menghilang," gerutu Cherryl, sembari mengedarkan pandangannya mencari taxi yang lewat.


Drrttt... Drrttt..


Ponsel Cherryl kembali berdering, satu panggilan dari nomor yang sama. Gadis itu mengangkatnya, hasilnya tetap sama tidak ada suara apapun dari penelpon tersebut.


"Astaga ini orang kenapa sih? Iseng banget," omelnya kesal.


Ponsel Cherryl kembali berdering, kali ini ia mengabaikan panggilan tersebut sampai panggilan itu berakhir. Namun semakin Cherryl mengabaikan, ponselnya semakin tak berhenti berdering.


Merasa terganggu, akhirnya Cherryl mengangkat ponselnya dengan kesal. Tanpa melihat siapa yang menelpon gadis itu langsung mengomel begitu saja.


"Yak...!! Berisik tau gak sih lo. Lo nggak punya kerjaan apa? Iseng banget sih jadi orang, Lo nggak tau apa kalau gue lagi buru-buru mau kerja! Hah," cerocos Cherryl memarahi si penelpon.


"Cherryl!" Teriak pria di sebrang telpon, suaranya yang keras membuat gendang telinga Cherryl hampir pecah.


"Eh, bapak. Hehe, maaf pak saya kira tadi orang iseng." Cherryl menggaruk lehernya yang tidak gatal, rupanya yang sejak dari tadi menelponnya adalah atasan Cherryl.


"Kamu masih dimana? Jam segini masih belum datang juga! Sebentar lagi kita mau take-off...15 menit lagi kamu belum sampai aku akan memecatmu!"


Tuuut..


Panggilan terputus secara sepihak.


"Halo... Pak? Pak... Astaga," Cherryl mer*emas ponselnya.


"Pak buruan, ngebut ya saya udah telat," titahnya pada supir taxi.


***


Phoenix air line.


Sembari melihat jam tangan, Cherryl berlari mengejar waktu. Saking terburu-buru ia sampai menabrak seseorang.


"Ah, maaf tuan saya tidak sengaja." Cherryl membungkukan tubuhnya.


Pria dengan pakaian serba hitam dan topi serta masker itu, tak menjawab permintaan maaf Cherryl. Begitu gadis itu akan pergi pria tersebut memegang tangannya.


"Maaf tuan, bisakah anda melepaskan tangan saya?" Pinta Cherryl yang merasa risih karena tangannya di sentuh orang asing.


Pria itu menyodorkan tiket pesawatnya pada Cherryl.


"Oh, anda mau naik pesawat ini? Kebetulan kita satu pesawat. Mari saya tunjukan," Cherryl menuntun penumpang tadi menuju pesawatnya.


"Em, tuan bisakah anda melepaskan tangan saya?" Pinta Cherryl, pada calon penumpang tadi yang masih memegang lengannya.


Pria itupun langsung melepaskannya dan mengikuti Cherryl dari belakang.


"Telat lagi, lo?" Tanya seorang teman yang sudah menyambutnya di dalam kabin.


"Hemm, gue lupa nyalain alarm," jawab Cherryl menyimpan kopernya.


"Ryl, dia siapa?" Tanya Gladies, memiringkan kepalanya. Melihat orang yang ada di belakang Cherryl.


Cherryl menoleh ke belakang, dan terkejut saat mendapati pria tadi terus mengikuti dirinya. "Astaga, ini orang kenapa sih? Kok ngikutin gue," gumam batin Cherryl heran.


"Bentar, gue anterin dia dulu ke kursi penumpang," ujar Cherryl. Kembali menuntun laki-laki tadi.


"Silahkan tuan, ini tempat duduk anda."


Penumpang itu duduk, tanpa mengenakan sabuk pengaman. Cherryl menarik napasnya dalam lalu, membantu memasang sabuk pengaman pada pria tersebut.


"Mimpi apa gue semalam, bisa ketemu sama penumpang seperti ini," dengus batin Cherryl, sembari tersenyum.


"Selesai, selamat menikmati perjalanan anda tuan,"pamit Cherryl, kembali pada tugasnya semula.


Baru sepuluh menit gadis itu kembali ke kabin lain, pria aneh itu sudah menekan tombol pemanggil awak pesawat lagi.


Cherryl kembali menghampirinya, dan mengajukan pertanyaan. Lagi-lagi pria bertopi hitam yang nyaris tak menunjukan wajahnya itu hanya diam.


"Ini orang bisu dan tuli atau gimana ya? Gue ajak ngomong dari tadi malah diem Mulu," Cherryl terus menggerutu dalam batinnya.


"Maaf tuan, ada yang bisa saya bantu?" Cherryl mengulang pertanyaan lagi.


Pria itu mengasongkan secarik kertas bertuliskan. "Berikan aku selimbut," pada Cherryl.


Tanpa banyak bicara Ia pun menuruti ke inginan penumpang misterius tersebut dan mengambilkan apa yang di inginkan olehnya.


"Ini selimbut yang anda minta tuan." Cherryl mengasongkan selimut tersebut ke hadapan penumpang tadi.


Pria itu mengibaskan tangannya, mengisyaratkan jika dirinya tidak suka dengan selimbut yang di bawa oleh Cherryl.


Entah selimut keberapa yang telah di bawa oleh Cherryl, pria itu terus saja menolak. Gadis dengan seragam pinknya membalikan tubuh dan kembali membawa selimut yang lain. Kali ini pria tersebut menerimanya dengan senang hati.


"Arrghh.... Dasar laki-laki gila! Ini kan selimut yang pertama gue bawa tadi," teriak batin Cherryl. Wajahnya memerah karena menahan amarah.


"Kau tidak boleh marah, bukankah kau sudah di sumpah akan melayani penumpang pesawat dengan senang hati."


Ia mer*emas kertas tersebut, lalu membukukan tubuhnya sembari tersenyum penuh keterpaksaan.


Pria tadi mengibaskan tangannya kembali, seraya mengusir Cherryl dari hadapannya. Cherryl pun pamit dan berlalu menghampiri Gladies.


"Iiihh... Kesel banget gue!" Gerutu Cherryl saat memasuki dapur yang ada di dalam kabin pesawat.


"Dateng-dateng langsung marah, kenapa lo?" Tanya Gladies, sembari menyiapkan camilan kecil untuk penumpang.


"Itu, penumpang yang tadi ngikutin gue. Dia minta selimut ke gue, gue udah bulak balik sampai kaki gue pegel buat bawa tuh selimbut... eh ujung-ujungnya dia malah milih selimbut yang tadi pertama gue bawa," dengusnya geram.


"Sabar namanya juga penumpang, gak semuanya punya watak yang sama," ucap Gladies menguatkan Cherryl.


Tak berselang lama, suara bel untuk memanggil pramugari kembali berbunyi.


"Hais, sekarang apa lagi! Dies lo aja gih gue udah bener-bener pegel nih."


"Hemm, oke tapi kalau pesawat landing nanti lo teraktir gue ya." Gladies menaik turunkan kedua alisnya sambil tersenyum.


"Iya gampang, sana buruan samperin."


"Iya bawel." Gladiespun pergi meninggalkan Cherryl.


Baru saja dirinya akan duduk, Gladies sudah kembali dan menyuruhnya untuk melayani penumpang yang tadi.


"Kok udah balik lagi?" Cherryl mengerutkan dahinya.


"Dia nggak mau di layanin sama gue, dia maunya sama lo," jelas Gladies, mengerucutkan bibirnya.


"Pria aneh itu?"


Gladies mengangguk.


"Astaga! Itu orang kenapa sih? Iseng banget... Dia sengaja mau ngerjain gue atau gimana sih?" Cherryl menaikan nada bicaranya satu oktaf.


"Sttt, kecilin suara lo. Lo mau senior pada denger teriakan Lo," tegur Gladies menutup mulut Cherryl.


Cherryl melepaskan tangan Gladies dari mulutnya, dengan kesal ia merapihkan penampilannya lalu menghampiri penumpang yang telah membuat darahnya naik.


Empat jam berada di udara, terus melayani penumpang aneh yang tak berhenti mengerjainya. Membuat Cherryl merasa ingin terjun dari pesawat sekarang juga.


Jika dirinya tidak memikirkan keselamatan penumpang lain, mungkin ia sudah menendang pria itu ke luar dari pesawat.


Ini memang jalan pilihan Cherryl, menjadi seorang pramugari memanglah tidak mudah. Selain beresiko tinggi dalam penerbangan, ia juga harus tetap melayani penumpang dengan baik dan ramah. Meskipun menyimpan banyak kesal pada pengguna jasa transportasi udara, seorang pramugari harus tetap profesional agar tidak merugikan banyak pihak.


***


Pesawat akhirnya landing, dengan selamat dan mulus.


Salah seorang pramugari senior memberi arahan pada semua penumpang agar berhati-hati saat menuruni tangga pesawat.


Sebuah senyum bahagia, terukir di sudut bibir Cherryl saat dirinya melihat jika pria itu telah turun dari dalam pesawat.


"Cherryl," panggil salah seorang senior.


"Iya, ada apa kak?"


"Ini surat tugas kamu, pak manajer menyuruh kamu untuk menemui seseorang di hotel teratai, yang ada di kota ini." Senior itu memberikan surat tugasnya pada Cherryl.


"Kok, mendadak mbak?" Cherryl menatap surat tersebut.


"Mana saya tahu, pokonya kamu harus temui orang itu dan minta tanda tangannya. Jika kamu tidak bisa mendapatkan tanda tangan itu jangan harap kamu masih bisa bekerja di Phoenix air line!"


"Tapi mbak, apa harus sekarang ini juga?"


"Tentu saja, saya yakin kamu bisa melakukan tugas kecil seperti ini," Ujar senior.


"Haish, kenapa dadakan banget sih... Gue kan belum ngadain persiapan apapun, lagian tanda tangan apaan sih? Gue kerja jadi pramugari kenapa mesti ngejar-ngejar tanda tangan orang? Bukannya itu kerjaan sekertaris," gerutu batin Cherryl.


"Yeh, malah bengong ayo sana pergi. Bawa koper kamu, udah ada supir yang udah nunggu kamu di parkiran."


Cherryl menarik napasnya panjang, ia pun menggerek kopernya keluar dari pesawat dengan kesal. Sebab seniornya seolah-olah mengusir dirinya dari rumah keduanya.


"Supir? Mereka nyiapin supir juga buat gue? Acara dadakan tapi mereka sempetnya ngasih gue supir... Tunggu! Mereka nggak sengaja ngebuang gue di sinikan?" Cherryl terus bertanya dalam hatinya, banyak yang tidak ia mengerti mengapa ia di biarkan sendirian di kota besar seperti ini.


Jika tanda tangan itu penting, bukankah seharusnya ada senior yang mendampingi Cherryl? Seketika pikiran buruk akan seniornya yang menipu Cherryl terlintas dalam benak gadis tersebut. Ia ingin kembali ke pesawat tapi sayang pesawat itu sudah take-off beberapa menit yang lalu.


Ia mencoba menghubungi Gladies, tapi ia lupa jika Gladies selalu mematikan ponselnya di kala pesawat sudah berada di atas awan.


Dan pada akhirnya, Cherryl hanya bisa menatap pesawat tempat kerjanya yang sudah mulai terbang menjauh. Dengan perasaan sedih.


.


.


.


Bersambung....