Wedding Secrets

Wedding Secrets
permohonan



Suatu malam, seorang gadis cantik berada di sebuah taman hiburan. Gadis itu terlihat bingung ia menyebarkan pandangannya ke seluruh wahana dan orang-orang yang tampak begitu asing baginya.


Suasana yang ramai dengan lampu kerlap kerlip menyala di sana sini, membuat gadis itu seketika terlena akan keindahan yang di tampilkan oleh taman hiburan bertemakan fantasi tersebut.


Sesosok badut berbentuk panda begitu menggemaskan membuat manik mata gadis itu tertuju padanya, ia melangkahkan kakinya dan mendekati badut tersebut.


Sebuah senyum menghiasi wajah cantiknya, ketika badut itu mengajaknya bermain mengelilingi taman hiburan tersebut. Badut itu memperlakukan sang gadis dengan sangat baik, ia membelikan permen gulali untuknya lalu mengajaknya kembali berjalan-jalan.


Gadis itu terkekeh saat melihat kepala sangbadut tak bisa masuk ke dalam bianglala yang akan mereka naiki, meskipun dengan susah payah akhirnya badut itu berhasil memasukan kepalanya kedalam bianglala berbetuk sangkar burung tersebut.


Gadis itu terlihat sangat menikmati pemandangan pasar malam dari ketinggian. Malam yang kian larut dan taman hiburanpun mulai berangsur sepi karena para pengunjung satu persatu membubarkan diri untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.


Setelah taman hiburan itu tutup, gadis dan badut itu memutuskan untuk duduk di sebuah bukit yang menampilkan pemandangan cahaya lampu dari kota yang terlihat seperti bintang yang bertaburan di atas langit juga pemandangan bulan sabit yang ikut melengkapi ke indahan malam.



"Lihat bintang itu, cahayanya lebih terang di banding bintang yang lain," ujar sanggadis sembari menunjuk ke arah bintang.


Badut itu mengangguk sambil menatap wajah gadis tersebut.


"Eh lihat-lihat ada bintang jatuh, ayo kirim permohonan," pekiknya dengan manik mata yang berbinar gadis itu langsung menempelkan kedua tangannya dan mulai menutup mata mengucapkan harapan dalam hatinya.


"Apa yang kau minta pada bintang jatuh itu?" Tanya seorang pria yang sejak dari tadi bersembunyi di balik kostum panda tersebut.


"Aku ingin hidup bahagia bersama pria yang aku cintai," ucapnya yang masih menatap gemerlapnya bintang malam.


"Kalau kau?" Tanya gadis itu sembari menoleh ke arah panda.


"Aku meminta agar Tuhan mengabulkan semua keinginan mu," jawab sangpanda.


Gadis itu tersenyum, dan menatap sendu pada badut tersebut. Ia penasaran siapa sosok pria yang ada di balik kostum panda itu?


"Apa kau tidak punya harapan sendiri?"


Badut itu menggelengkan kepalanya,"harapanku sudah berada di hadapanku, kenapa aku harus memohon lagi," ujar sangbadut membuat gadis itu tersipu malu.


Tidak ada pembicaraan lagi di antara mereka berdua, mereka terus menatap indahnya langit malam. Gadis itu menyenderkan kepalanya di bahu sangbadut sembari kembali bercerita.


Keduanya terlihat begitu akrab, sampai mereka lupa jika keduanya baru bertemu tadi sore.


***


Bougenville hospital.


Sudah dua hari Cherryl mengalami koma, efek penggumpalan darah di otaknya. Mama Dewi yang selalu berada di samping putrinya tak henti-hentinya memanjatkan doa pada tuhan agar putrinya segera pulih dan melewati masa kritisnya.


Mama Dewi menatap sendu wajah putrinya yang pucat, sebuah senyum tiba-tiba terlukis dari sudut bibir putrinya. Tak hanya senyuman jari-jari Cherryl juga memperlihatkan sebuah gerakan kecil, membuat Mama Dewi langsung memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Cherryl.


Dokter datang dengan cepat dan memeriksa Cherryl dengan teliti.


"Alhamdulillah, pasien sudah melewati masa kritisnya," ucap dokter.


Gadis itu perlahan membuka kedua matanya, dan melihat area di sekitarnya.


"Clay," lirih Cherryl, manik matanya terus berputar mencari keberadaan suaminya.


"Sayang, ini Mama. Syukurlah kamu akhirnya sadar juga," seru Mama Dewi menghampiri putrinya.


"Mah.... Apa yang terjadi? Dan dimana Clay?" Tanyanya dengan suara serak.


"Kamu jatuh dari tangga, dan kamu mengalami koma selama dua hari sayang," jelas Mama Dewi pada putrinya.


"Koma," Cherryl menyentuh kepalanya yang terasa sakit ketika bayangan dirinya terjatuh dari tangga terlintas.


"Nona Cherryl jangan banyak berpikir dulu ya, sebaiknya anda istirahat agar cepat pulih," dokter itu memberikan saran. Setelah pemeriksaan telah selesai di lakukan dokter itu undur diri karena ada pasien lain yang harus di tangani.


Setelah kepergian dokter, Cherryl kembali menanyakan keberadaan suaminya. Tapi Mama Dewi enggan menjawab pertanyaan putrinya mengenai keberadaan menantunya yang entah dimana.


Sebab sejak Mama Dewi mengusirnya tempo hari sampai sekarang Clay tak menunjukan batang hidungnya bahkan menelpon saja tidak, yang selalu datang menjenguknya hanyalah papi Gerald bersama putri bungsunya yang kini sudah membaik.


"Mama nggak sembunyiin sesuatukan dari aku?" Tanya Cherryl penuh selidik.


"Apa yang mesti Mama sembunyiin dari kamu? Mama emang nggak tau dimana keberadaan suami kamu," ketus Mama Dewi sembari mengambil mangkuk berisi bubur.


"Ini makan dulu, terus minum obat biar kamu cepet pulih," sambung Mama Dewi menyodorkan satu sendok bubur ke hadapan putrinya.


"Aku nggak mau makan sebelum Mama ngasih tau aku dimana Clay,"gadis itu mengerucutkan bibirnya.


Saat ibu dan anak itu terlibat perdebatan kecil, seseorang membuka pintu ruang rawat Cherryl.


"Selamat siang Tante, Cherryl kamu sudah sadar?" Austin dengan cepat menghampiri Cherryl.


"Pak Austin, kok bapak tau saya di sini?" Tanya Cherryl raut wajahnya terlihat khawatir ia takut jika Clay akan salah paham saat melihat kehadiran Austin yang datang menjenguknya.


"Pak Austin, sejak kemarin nemenin kamu terus loh Ryl," cetus Mama Dewi sembari tersenyum pada Austin.


"Oh, iya Cher saya seneng bisa liat kamu udah sadar, saya khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi sama kamu jadi saya minta sama Mama kamu buat ngijinin saya nemenin kamu disini," ucap Austin tersenyum.


"Pak Austin nemenin gue dari kemarin, terus dimana Clay? Apa dia masih nggak mau ngomong sama gue? Sebenarnya apa salah gue sampai Clay nggak mau ngomong dan jengukin gue? Apa cewek itu lebih penting di Banding gue ya?" gumam batin Cherryl


Gadis itu larut dalam pikirannya sendiri.


"Kamu makan ya, biar saya suapin.... Sini Tante biar saya suapin Cherryl," pinta Austin pada Mama Dewi.


"Aku nggak laper, aku mau istirahat," ketus Cherryl yang langsung memejamkan kedua matanya dan mengabaikan kebaikan gurunya.


Austin tersenyum getir melihat Cherryl yang mengabaikan dirinya, gadis itu telah banyak berubah. Mungkin benar yang di katakan oleh Clay jika gadis itu sudah jatuh cinta pada suaminya dan menutup hatinya untuk pria lain, Mama Dewi yang mengerti perasaan Austin menepuk bahunya lembut meminta agar Austin memaklumi Cherryl yang baru siuman dari komanya.


****


Sementara di sebuah mansion besar yang ada di tengah hutan, wanita bercadar sedang menatap layar laptop sembari tersenyum licik saat melihat dua pemuda yang begitu berani mendatangi kediamannya tanpa pengawalan.


"Bagus, mangsa telah masuk ke dalam perangkap," gumam wanita bercadar tersebut.


Ia langsung memerintahkan seluruh anak buahnya untuk menangkap kedua pemuda itu.


.


.


.


.


Dor....


"Clay!!!"


.


.


.


Bersambung.