Wedding Secrets

Wedding Secrets
Hanyut.



Jleb...


Pisau belati menembus dada papi Gerald.


"K-kau," suara papi Gerald terbata menahan rasa sakit di dadanya.


"Kau bilang aku jahat? kau salah besar tuan. Harusnya kau berterimakasih padaku karena aku telah membantu mempertemukanmu dengan mendiang istrimu yang tercinta ha ha ha," wanita itu mendorong belatinya agar menancap lebih dalam lagi.


Papi Gerald jatuh berlutut di hadapan Helen sembari memegang dadanya.


"K-kau gila Helen... Kau tidak pantas di sebut manusia!"


Helen berjongkok di hadapan papi Gerald, " Cih, lalu apa kau pantas di sebut manusia juga? Tidak tuan... Kau lebih jahat dariku, kau membunuh tiga orang yang begitu penting dalam hidupku. Sementara aku hanya membunuh istri dan putramu."


"Atau mungkin sebentar lagi kau juga akan ikut mati, jadi kita seimbang," Helen kembali berdiri dan mengangkat sebelah tangan. Memberi syarat pada anak buahnya yang berada di atas bukit untuk menembak tali yang mengikat Clay.


Dor!


Dua peluru melesat dengan cepat ke arah Clay. Membuat Cherryl begitu syock saat melihat suaminya jatuh ke dasar sungai.


"Clay!" Teriak Cherryl histeris.


Gadis itu berlari ke arah jembatan, tanpa berpikir panjang ia ikut menceburkan diri ke dasar sungai dan berusaha menyelamatkan suaminya.


"Cherryl!"


Mama Dewi jatuh pingsan melihat aksi putrinya yang nekat, sekertaris Rendi yang baru saja sampai di tempat kejadian juga terlihat syock melihat kejadian yang ada di hadapannya semuanya berlangsung dengan cepat.


Ia berlari dan melihat ke bawah sungai, tidak ada tanda-tanda kemunculan dari Cherryl dan juga Clay. Sekertaris Rendi terlihat khawatir ia pun memutuskan untuk meloncat dan menyelamatkan kedua majikannya tapi Austin menahannya.


"Lepaskan aku, aku harus menyelamatkan tuan muda Clay dan nona Cherryl," pria itu mendorong tubuh Austin.


"Tuan, ayahnya Clay lebih membutuhkan anda dia harus segera di bawa ke rumah sakit... Mengenai Clay dan Cherryl serahkan padaku," ucap Austin yang tak kalah khawatir dari sekertaris Rendi.


Sekertaris Rendi melihat ke arah papi Gerald yang sudah tergeletak bersimbah darah, lalu ia menoleh ke arah sungai. Ingin ia menyelamatkan semuanya tapi mustahil bagi dirinya bisa melakukan semuanya.


Ia pun menyerahkan urusan Clay dan Cherryl pada Austin, sementara dirinya bergegas membawa papi Gerald menuju rumah sakit.


.


.


.


.


" Aku menginginkan mu Cherryl."


" Lihat matamu jauh lebih terang di banding bintang-bintang itu."


"Ayo kita lalui ini bersama, aku yakin setelah masalah ini selesai kita akan bahagia."


"Dasar kurcaci bodoh."


"Berikan aku ciuman, di sini , di sini dan di sini,"


"Aku tidak akan mengijinkanmu mati, selama kau berada di sisiku akan aku pastikan dirimu tetap aman."


Byur....


"Clay!" Teriak Cherryl yang akhirnya sadar setelah beberapa hari mengalami koma.


"Sayang, akhirnya kamu sadar. Mama kahwatir sama kamu," ucap Mama Dewi terisak.


"Clay mana Ma? Dimana Clay," desak Cherryl pada sangMama.


"Aku nggak bisa tenang, sebelum aku tau kondisi Clay," Cherryl melepas jarum infus sembarang. Ia turun dari ranjangnya dan berlari menuju pintu.


"Sayang kamu harus tenang, kita semua sedang berusaha mencari keberadaan Clay," celetuk Mama Dewi. Membuat langkah kaki gadis itu terhenti.


Cherryl seketika terdiam menatap nanar daun pintu yang ada di hadapannya, "Apa maksud Mama mencari keberadaan Clay?"


Tidak ada jawaban dari sangmama, mama Dewi hanya menatapnya penuh kesedihan.


"Jawab aku Ma, apa maksud Mama mencari keberadaan Clay? Clay selamatkan Ma? Dia nggak kenapa-kenapa kan?" Cherryl terus mencecar ibunya dengan banyak pertanyaan.


Mama Dewi bergeming, keringat dingin membasahi dahinya. Apa yang harus Mama katakan pada putrinya, ia tak sanggup melihat Cherryl kembali bersedih jika tahu bahwa Clay telah hilang terbawa arus sungai.


"Ma, kenapa Mama diem aja? Jawab aku ma!" Cherryl menatap wajah sangibu dengan melas berharap Mama dewi memberitahu yang sebenarnya.


Ceklek...


Pintu ruangan terbuka.


"Kamu sudah sadar nak, Alhamdulillah," papa Cestaro memeluk putrinya penuh haru. Beliau merasa bersyukur karena Tuhan telah mengabulkan doanya agar Cherryl bisa kembali sadar.


"Pa, dimana Clay? Dia baik-baik ajakan pah?" Cheryl kembali melontarkan pertanyaan yang sama, membuat papa Cestaro melepas pelukannya.


Papa Cestaro menatap ke arah istrinya, sebuah gelengan kepala di isyaratkan oleh Mama Dewi. Tapi Cherryl terus saja mendesak sembari menangis, papa Cestaro kembali memeluk putrinya untuk menenangkan dan seketika tangisnya terhenti. Gadis itu mundur beberapa langkah dari ayahnya.


"Nggak! Nggak mungkin... Mama sama papa bohongkan? Aku yang udah nyelamatin Clay, mana mungkin dia bisa hanyut," Cherryl tersenyum getir pada kedua orangtuanya.


"Sayang kamu harus tenang, kita semua sedang berusaha mencari keberadaan suami kamu... Kami juga berharap Clay di temukan dalam keadaan selamat," ujar papa Cestaro.


"Nggak.... Nggak mungkin, nggak mungkin!" Tangis gadis itu pecah. Tubuhnya merosot dan memeluk kedua lututnya Cherryl benar-benar tak bisa menerima semua kenyataan ini.


Satu Minggu yang lalu dirinya selalu menunggu kabar dari Clay yang hilang tanpa kabar, berharap sangsuami bisa kembali pulang. Namun apa yang di harapkan gadis itu tak sesuai dengan apa yang terjadi, ia harus menyaksikan suaminya terjatuh ke sungai dalam keadaan tak berdaya.


Penyesalan dan rasa bersalah menyeruak dalam diri Cherryl, dirinya tak bisa menyelamatkan Clayton bahkan tempo lalu ia sempat menuduh suaminya berpaling pada wanita lain. Namun pada kenyataan selama Clay menghilang pemuda itu justru sedang bertarung nyawa untuk melawan wanita jahat yang sudah membunuh ibu mertua dan juga berusaha untuk melindunginya beserta ayah dan adiknya.


Gadis itu terus histeris dan melempar semua barang yang ada di hadapannya, kedua orang tua Cherryl pun sampai kewalahan saat menenangkan putri semata wayang mereka yang sedang di rundung kesedihan. Karena Cherryl tak bisa di kendalikan terpaksa dokter menyuntikan obat penenang pada Cherryl. Setelah dokter itu memberi obat penenang gadis itu pun tertidur.


***


Beberapa hari yang lalu, saat Cherryl ikut terjun ke dalam sungai untuk menyelamatkan Clay.


Sungai yang terlihat begitu tenang, indah dan memanjakan mata. Siapa sangka di dalamnya memiliki arus yang begitu deras dan kuat.


Cherryl yang tidak banyak memiliki keahlian berenang, nekat menceburkan diri ke dalam sungai tersebut. Kedua matanya berusaha mencari keberadaan Clay.


"Clay, aku mohon bertahanlah," batin Cherryl. Ia berusha menahan derasnya arus yang terus menyeret tubuh mungilnya.


Manik matanya berhasil menangkap sosok suaminya, ia melepaskan tali yang mengikat tubuh Clay dan menarik tangan suaminya untuk di bawa ke atas namun pria yang ada di hadapannya malah mendorong tubuh Cherryl.


Gadis itu tak patah semangat ia kembali menghampiri Clayton, pemuda itu membuka kedua mata dan menatap istrinya seraya mengatakan jika ia sangat mencintai Cherryl dan meminta gadis itu untuk tetap hidup.


Cherryl mengecup bibir Clay, untuk memberi napas buatan lagi-lagi Clay mendorongnya jauh. Gadis itu menatap nanar pada sangsuami dan menggelengkan kepalanya seakan mengatakan jika dirinya tidak ingin kehilangan Clay.


Arus sungai semakin deras, membuat keduanya terpisah jauh dan Cherryl yang kehabisan napas dan tenaga tak bisa berenang lagi dalam hitungan detik gadis itu pun mulai tak sadarkan diri.


Flashback off.


.


.


.


Bersambung...