
"Bolehkan, gue nginep di rumah Lo Clay?"
"Emangnya, di rumah lo kenapa?"
Erick menarik napasnya dalam,
"Biasa nyokap gue berantem lagi sama bokap, gue udah pusing dengernya Jadi males buat balik ke rumah."
Clay tak mengiyakan permintaan sahabatnya itu, ia terdiam merasa bingung. Cherryl juga pasti tidak mengijinkan jika Erick tinggal bersama mereka, jika ia mengijinkan sahabatnya tinggal di rumah. Bukankah sama saja dengan ia membongkar rahasia pernikahannya dengan Cherryl.
Sebenarnya Clay, bukan tidak ingin memberitahukan rahasia ini pada sahabatnya tapi ia rasa semakin sedikit orang yang tahu tentang pernikahannya, semakin aman rahasia itu tersimpan.
"Ehm... oke boleh aja sih, kapan lo ke rumah gue?"
"Besok aja, gue nggak bawa baju hari ini."
Clay, mengangguk ia sedikit lega karena Erick akan menginap besok, jadi ia bisa berbicara terlebih dulu dengan istrinya.
Meskipun tidak akur, sebagai sepasang suami istri tetap saja jika ada sesuatu di antara mereka, mereka harus bermusyawarah lebih dulu.
Bel istirahat berdering,
"Cherr, gue ke toilet dulu ya.Kebelet," gadis itu tersenyum memamerkan gigi gingsulnya.
"Lo duluan aja ya." sambung Aulya.
"Iya," jawab Cherryl singkat.
Ketika sahabatnya itu pergi, Cherryl menyingsingkan lengan bajunya kulitnya terasa perih akibat semalam terus di pukul oleh Miss Nina.
"Ish, sialan tangan gue sampe lebam gini. Berani sekali dia mukul gue," ringis Cherryl, ia kembali menutupi luka lebamnya takut jika ada yang melihat.
Karena Aulya, menyuruhnya untuk duluan ia pun pergi lebih dulu ke kantin, di tambah perutnya yang sejak tadi sudah tidak kuat menahan lapar karena ia melewatkan sarapannya. Saat dirinya berada di ambang pintu kantin tiba-tiba saja seseorang mendorong tubuhnya, membuat punggungnya terbentur mengenai pintu rolling door.
BRAKK..
Punggung Cherryl membentur rolling door kantin dengan keras.
"Tiara! apa-apaan sih lo!" Cherryl mengusap punggungnya yang sakit.
"Ngapain lo, bareng sama cowok gue!"
"Cowok lo?" Cherryl tersenyum kecut mendengar pengakuan dari Tiara yang mengatakan jika suaminya adalah pacar dari Tiara.
"Ngapain lo senyum-senyum!"
"Kalau emang, dia cowok lo! ya lo tanya aja sama dia kenapa bisa bareng sama gue!" dengus Cherryl, mengerlingkan matanya.
"Dasar ganjen, lo!" dengan cepat Tiara menarik rambut Cherryl sampai gadis itu meringis.
Tak ingin kalah, Cherryl menarik balik rambut Tiara. Perseteruan pun tak terelakkan, semua murid yang ada di kantin bukannya melerai, mereka malah bersorak bahkan ada yang menjadikan mereka bahan taruhan.
Seorang murid, yang melihat pertengkaran Cherryl dan Tiara. Ia langsung memanggil pak Austin dan juga Clay.
Mendengar istrinya, terlibat perkelahian dengan tergesa ia berlari ke kantin.
"Cherryl," gumam Clay ia bergegas memisahkan istrinya dan Tiara. Begitu juga dengan pak Austin ia ikut melerai pertikaian kedua muridnya.
"Hentikan! stop!!" teriak pak Austin.
Clay, memegangi lengan istrinya. Agar tidak kembali berkelahi.
Sementara Tiara, yang melihat Clay menyentuh Cherryl hatinya semakin terbakar ia mengepalkan kedua tangannya penuh amarah.
"Kalian berdua ikut saya ke kantor," titah pak Austin pada, Cherryl dan Tiara.
Darah segar mengalir dari sudut bibir Cherryl, entah apa yang di lakukan Tiara karena kejadiannya begitu cepat membuat Cherryl merasa seperti mimpi saat mendapat bogem dari Tiara.
"Bibirmu berdarah, Cher," ucap Clay panik.
"Lepasin! semua ini gara-gara lo!" Cherryl menepis tangan Clay saat akan menyentuh bibirnya yang terluka.
"Cherr, lo nggak apa-apa?" Aulya terlihat khawatir pada sahabatnya, terlihat beberapa bekas cakaran pada wajah dan leher Cherryl.
Gadis itu menggelengkan kepala, kemudian pergi bersama Aulya meninggalkan Clay, yang masih mematung.
****
Ruang BP.
Pak Austin menceramahi kedua muridnya yang sudah bertengkar di sekolah, kedua murid itu tertunduk dan diam saat mendapati ceramah yang panjang dari pak Austin.
"Tiara! kamu itu wakil ketua OSIS yang harus memberi contoh pada siswa lain, kenapa kamu malah bertengkar!"
"Maaf, pak. Dia duluan yang menyerang saya, jadi saya lawan," jawab Tiara ia mulai playing victim.
"Apa? Lo jangan fitnah ya, jelas-jelas Lo yang duluan dorong gue terus narik rambut gue!" timpal Cherryl, yang tidak terima dengan tuduhan Tiara.
"Emang bener kok pak, saya bahkan berani bersumpah kalau Cherryl yang duluan nyerang saya."
"Bohong, pak itu fitnah."
BRAK..
Setelah satu jam mereka berada di ruang BP, Cherryl dan Tiara akhirnya berdamai. Ya mereka damai hanya di hadapan gurunya jika di luar entahlah hanya mereka yang tahu, apa yang akan mereka lakukan setelah ini.
Tiara keluar lebih dulu dari ruangan tersebut ketika Cherryl hendak berjalan, punggungnya terasa sakit sampai membuat ia kembali meringis.
"Ah, ssstt."
"Kamu kenapa Cher?" tanya pak Austin.
"Nggak apa-apa pak," jawab Cherryl masih meringis ia berusaha untuk kembali berdiri tapi punggungnya benar-benar terasa begitu sakit.
"Ayo ikut saya ke UKS."
"Tidak, usah pak. Ada Aulya kok di depan."
"Udah, jangan nolak bibir sama pipi kamu juga luka biar sekalian di obatin," pak Austin terus memaksa Cherryl.
Di ikuti oleh Aulya, pak Austin membawa Cherryl menuju ruang UKS. Dengan pelan ia membantu mengobati luka-luka Cherryl, sampai tak sengaja kedua manik mata mereka saling bertemu dan saling bertukar tatapan.
Sementara itu, Clay yang sudah membawa kotak obat di tanganya hanya berdiam diri saat melihat istrinya sedang saling bertukar pandang dengan gurunya.
Ia membalikan tubuhnya, lalu membuang kotak obat itu ke tempat sampah. Dengan hati yang bergejolak ia kembali ke kelasnya dan menghampiri Tiara yang sedang bercanda dengan teman sebangkunya.
"Ikut gue sekarang!" Clay menarik paksa tangan Tiara, ia membawa gadis yang sudah berani menyentuh istrinya itu ke belakang sekolah dekat gudang.
"Ish apa sih, Clay. Sakit tau!"
"Gue peringatin ya, sama lo. Jangan pernah lo sentuh Cherryl lagi, sampai gue liat lo nyakitin dia meskipun sahelai rambutnya gue nggak bakal segan buat bales perbuatan lo!" wajah Clay tampak begitu marah pada gadis yang ada di hadapannya.
"Kok, lo malah belain dia sih. Emangnya lo ada hubungan apa sama dia?"
"Apapun, hubungan gue sama dia lo nggak berhak ikut campur!" Clay pergi meninggalkan Tiara sendirian di belakang sekolah.
"Cih, awas aja lo Cherryl. Gue nggak akan lepasin lo begitu aja," seringai menakutkan muncul di sudut bibir Tiara.
Entah apa yang akan ia lakukan pada Cherryl, sepertinya rasa cintanya pada Clay telah membuat api cemburu dalam diri Tiara berkobar.
***
Kembali ke ruang UKS, tempat dimana kedua mahkluk berbeda gender masih saling bertatapan.
Aulya yang berada di tengah-tengah mereka merasa canggung, karena harus menyaksikan moment seperti ini di hadapannya.
"Ekhem, ekhem," Aulya berdeham, membangunkan kedua orang yang ada di hadapannya.
"Eh, maaf," Austin jadi salah tingkah, begitu juga dengan Cherryl yang wajahnya berubah menjadi merah merona.
"Sudah selesai pak?" tanya Aulya pada pak Austin, yang terlihat gugup.
"Sudah, kalian boleh ke kelas sekarang."
"Kalau begitu, kami pamit ya pak," ucap Aulya sambil tersenyum, penuh arti.
"Terimakasih pak, sudah mengobati saya," timpal Cherryl.
Mereka pergi meninggalkan, ruangan uks tersebut dan kembali ke kelas.
Niat untuk mengisi perut, malah jadi ribut alhasil perut Cherryl jadi kelaparan. Belum lagi tadi pagi dirinya tidak sarapan karena sebal pada suaminya, jadi sekarang dia tidak bisa fokus pada pelajaran.
"Sakit, Cher?"
"Gue laper"
"Tunggu di sini ya, gue mau ke toilet," bisik Aulya. pada Cherryl
"Ish, lo kerjaannya ke toilet Mulu."
"Udah, diem aja jangan berisik," Aulya mengacungkan tangannya, dan ijin ke toilet pada guru killer tersebut.
Setelah mendapat ijin, ia keluar dan berjalan menuju kantin. Tapi belum sampai ia ke kantin Clay sudah menghalangi langkahnya.
"Berikan ini pada Cherryl," titah Clay, ia mengasongkan sekotak sandwich dan susu strawberry ke arah Aulya.
"Eh, tumben lo baik?" sindir Aulya pada Clay.
"Nggak usah banyak nanya, udah kasihin aja. Gue denger guru IPS gak akan masuk suruh dia buat makan ini pas pelajaran kosong," ketus Clay kemudian pergi, meninggalkan Aulya.
Ia sengaja membawa bekal itu untuk Cherryl, karena tadi ia lihat Cherryl tidak sarapan saat di rumah.
Aulya, menatap punggung Clay. yang kini sudah menghilang dari pandangan, gadis itu terus mengerutkan keningnya penuh tanya. Kok tumben es batu itu baik? perhatian lagi ucap batin Aulya, kemudian ia kembali ke kelas dengan mengendap-endap.
.
.
.
.
Bersambung.