
Di dalam mobil Cherryl memeluk adik iparnya, keduanya begitu ketakutan saat mendengar papi Gerald memerintahkan pada semua anak buahnya untuk mengawal mereka ke dalam mobil.
Sementara Clay, masih berusaha untuk menghampiri ayahnya yang masih ada di luar sedang berbicara dengan seseorang di balik sambungan telpon.
"Tuan muda, tolong kerja samanya. Silahkan anda kembali ke dalam mobil untuk keselamatan anda," sekertaris Rendi menghalangi Clay yang hendak keluar dari penjagaan.
"Om sebenarnya ada apa ini? Kenapa papi terlihat panik?" Seru Clay.
"Masuklah tuan, jika sudah berada di rumah papi akan menjelaskannya pada anda."
Kedua pria itu terlibat perdebatan, setelah papi Gerald menyelesaikan panggilan telponnya. Ia menghampiri Clay dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil semuanya terdiam, tidak ada yang berani membuka suara karena suasana semakin menegang setelah kedua pria yang merupakan ayah dan anak itu beradu argument.
Mobil telah sampai di pelataran rumah kediaman Clay dan Cherryl, tampak bi Arum dan Miss Nina berada di depan rumah untuk menyambut kedatangan majikannya yang baru pulang dari pemakaman.
"Nara, kamu istirahat di kamar aku aja ya," ucap Cherryl merangkul bahu adik iparnya.
Gadis belia yang masih di rundung rasa sedih itu hanya mengangguk, mengiyakan permintaan kakak iparnya.
"Bibi bantu non," seru bi Arum, menghampiri Cherryl.
"Eh, nggak usah bi. Bibi tolong bawain air aja ke kamar aku ya," jawab Cherryl pada bi Arum.
Kepala pelayan itu mengangguk dan bergegas menuju dapur, dan Cherryl berjalan menuju kamarnya bersama Nara.
Sedangkan Miss Nina, ia masih berdiri mematung menatap pria yang baru saja menyandang status duda karena di tinggal mati oleh sangistri.
Sekertaris Rendi yang memiliki insting tajam, menatap Sinis pada Miss Nina membuat wanita itu tertunduk karena malu dengan tatapan sekertaris Rendi yang mematikan.
Papi Gerald dan Clay masuk ke dalam ruang kerja, untuk membicarakan semua masalah yang terjadi dan sekertaris Rendi sebelum mengikuti kedua majikannya ia pergi ke ruang ke amanan terlebih dulu dan memerintahkan pada salah seorang penjaga untuk terus mengawasi wanita yang bernama Miss Nina, ia curiga dengan gerak gerik wanita itu yang mencurigakan.
***
Ruang kerja.
Clay mengepalkan kedua tangannya ia tidak menyangka dengan keputusan sangayah yang meminta dirinya untuk menceraikan istrinya di usia pernikahan yang masih seumur jagung.
"Aku nggak mau Pi! Bukankah kalian yang memaksa ku untuk menikahi Cherryl kenapa sekarang papi menyuruhku untuk menceraikannya?" Sentak Clay pada papinya.
"Clay papi terpaksa melakukan ini, papi juga nggak mau menghancurkan pernikahan kalian... Tapi ini demi kebaikanmu dan Cherryl," sahut papi Gerald.
"Demi kebaikanku dan Cherryl? Apanya yang demi kebaikanku pih! Aku sangat mencintai Cherryl aku nggak mau kehilangan dia!"
"Papi tau Clay, tapi ini hanya sementara. Papi nggak mau kalau harus menyeret Cherryl kedalam bahaya," cetus papi Gerald mengusap wajahnya kasar.
"Apa maksud papi?" Clay menatap ayahnya dengan tatapan penuh tanya.
"Clay papi mohon, sekali lagi ini saja papi minta agar kamu dengarkan permintaan papi," papi Gerald menatap sendu putranya.
"Aku nggak mau menceraikan Cherryl, tanpa alasan yang jelas Pi," tolak Clay.
Papi Gerald menarik napasnya dalam, ia menyuruh putranya untuk duduk dan mendengarkan penjelasan darinya.
Butuh waktu lama bagi papi gerald untuk menceritakan semuanya.
Setelah papi Gerald menjelaskan masalahnya dari A sampai Z, Clay terdiam baru beberapa jam yang lalu dirinya kehilangan sang ibu. Kini ia juga harus rela melepaskan Cherryl yang baru satu bulan ini menjadi istrinya.
Clay menundukan wajahnya, menatap kosong pada lantai yang sedang ia pijak,
"Beri Clay waktu satu Minggu Pi," lirih Clay mengusap wajahnya.
"Maafkan papi Clay, semua ini kesalahan papi di masa lalu... Gara-gara papi kalian jadi harus kena imbasnya."
Sebuah penyesalan tergambar jelas di raut wajah papi Gerald, namun mau bagaimana lagi nasi sudah menjadi bubur dan waktu yang telah berlalu tak bisa di putar kembali, satu-satunya jalan saat ini hanyalah menyelesaikan akar dari permasalahan ini dan demi melindungi Cherryl papi Gerald harus mengorbankan pernikahan putranya.
"Tidak apa-apa Pi, Clay mengerti." Pungkas Clay singkat, napasnya terasa begitu sesak saat ia harus membuat sebuah keputusan yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.
"Papi janji setelah papi berhasil menangkap wanita itu, papi akan meminta Cherryl agar mau kembali bersamamu," papi Gerald menepuk bahu putranya sembari menatap nanar wajah Clay yang di rundung rasa sedih.
Clay keluar dari ruang kerjanya seorang diri, karena papi Gerald harus membicarakan hal penting dengan sekertarisnya.
Langkah kaki Clay terasa begitu berat, ia menaiki satu persatu anak tangga dengan gontai. Langkahnya terhenti ketika ia melewati kamar istrinya, pria itu menatap getir pintu kamar yang tiba-tiba terbuka.
"Clay," sahut Cherryl ia terkejut saat melihat suaminya yang berdiri tanpa ekpresi di depan pintu kamarnya.
Pria itu menggelengkan kepalanya, kemudian pergi meninggalkan Cherryl begitu saja membuat Cherryl mengerutkan keningnya.
***
Malam hari,
Cherryl membujuk adik iparnya agar mau makan, karena sejak pulang dari pemakaman gadis itu belum memakan apa-apa. Gadis itu terus saja menolak apapun yang di tawarkan oleh Cherryl.
"Nara, makan dulu ya sedikit aja," Cherryl menyodorkan sendok ke hadapan mulut adik iparnya tapi gadis itu malah menepis tangan Cherryl sampai sendok itu terlempar.
Cherryl menatap nanar sendok itu, ia menarik napasnya panjang berusaha sabar menghadapi sipat adik iparnya yang masih belum menerima kepergian ibunya.
"Ya udah, kamu mau apa? biar nanti kak Cherryl bawain," gadis itu merapihkan rambut adik iparnya yang sedang duduk memeluk lututnya di atas ranjang.
"Aku nggak laper, aku cuman mau Mamy," cetus Nara, bulir bening kembali membasahi pipinya yang tirus.
Cherryl memeluk Nara dengan penuh kehangatan, dan memberikan ketenangan pada Nara "Kamu yang sabar ya, kamu harus ikhlas membiarkan Mamy pergi."
"Semua ini salah aku kak, aku yang udah buat Mamy meninggal," tangis Nara kembali pecah mengingat dirinya yang merengek meminta sangibu untuk segara kembali ke kota bloody Lily.
"Nggak Nara, ini bukan salah kamu. Udah ya kamu jangan salahin diri kamu lagi," Cherryl mengusap air mata Nara.
"Kamu sayangkan sama Mamy?" Sambung Cherryl menangkup wajah Nara.
Gadis itu mengangguk, sambil sesenggukan.
"Kalau kamu sayang sama Mamy, kamu nggak boleh terus sedih seperti ini. Kalau Mamy liat kamu nangis nanti Mamy juga ikutan sedih," ujar Cherryl mengusap tangan adik iparnya.
"Aku nggak mau liat Mamy sedih kak, aku mau liat Mamy bahagia."
"Kalau kamu mau lihat Mamy bahagia, kamu jangan sedih lagi ya.. kamu harus iklaskan Mamy dan kembali tersenyum biar Mamy juga bahagia di syurga sana."
Nara mengangguk dan mencoba mengangkat sudut bibirnya untuk tersenyum, kemudian gadis itu memeluk Cherryl dan mengucapkan terimakasih karena sudah menguatkan dirinya.
"Terimakasih ya kak, kalau nggak ada kak Cherryl aku nggak tau mesti apa," ucap Nara mengusap air matanya sendiri.
"Udah ya, jangan nangis lagi... Liat tuh mata kamu jadi sembab," Cherryl mengusap pipi adik iparnya lembut.
"Kalau gitu kita turun buat makan malam bersama ya," ajak Cherryl pada Nara.
Kedua gadis itu mulai beranjak dari ranjang, untuk turun menuju ruang makan.
Di sana sudah ada papi Gerald dan sekertaris Rendi yang menunggu kedua gadis dan juga Clay untuk makan malam.
"Akhirnya kalian turun juga, ayo duduk papi udah laper," sambut papi Gerald yang berusaha tersenyum di hadapan putri juga menantunya.
Ada perasaan bersalah dalam diri papi Gerald saat menatap wajah cantik Cherryl yang tak mengetahui apapun mengenai permasalahannya, andai saja dirinya tahu jika wanita itu akan balas dendam pada keluarganya mungkin ia dan istrinya akan mengabaikan surat wasiat dari mendiang kakeknya yang meminta menjodohkan Clay dengan Cherryl.
"Pi! Kok bengong?" Nara membuyarkan lamunan papi Gerald.
"Eh, nggak apa-apa. Papi cuman kagum sama kak Cherryl yang cantik," puji papi Gerald, membuat wajah gadis itu menjadi merah.
"Oh ya, Cherryl dimana suami kamu?" Sambung papi Gerald.
"Sepertinya masih di atas, sebentar Cherryl panggilin," gadis itu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar Clay.
Cherryl mengetuk pintu kamar suaminya berkali-kali, tapi Clay tak kunjung membuka pintu kamarnya.
Pria itu sengaja tak membuka pintu kamarnya, ia takut jika melihat istrinya hatinya semakin berat untuk melepaskan istri yang sangat ia cintai.
Clay duduk merenung di atas sofa kamar, ia jadi teringat akan ucapan Cherryl ketika pulang dari pemakaman Tiara. Gadis itu mengatakan semenjak menikah dengan dirinya gadis itu jadi mengalami hal-hal buruk.
"Kau memang benar Ryl, gara-gara aku hidupmu jadi dalam bahaya....maafkan aku Ryl, dulu aku mengelak jika pernikahan kita tidak ada sangkut pautnya dengan peneroran ini ternyata aku salah, pernikahan kita memang membawamu kedalam petaka besar," lirih Clay, ia menundukan kepalanya ia tidak menyangka jika semuanya akan berakhir menjadi seperti ini.
.
.
.
Bersambung..