Wedding Secrets

Wedding Secrets
flashback bagian 2 pergi ke kota



"Rosa apa yang kau lakukan di situ?" Sergah kek Darmo, menarik lengan putrinya agar menjauh dari sisi jurang.


"J-jiang, Yah." Ucap Rosa terbata, matanya berkaca-kaca ekpresinya terlihat sangat ketakutan.


"Apa yang terjadi pada jiang?"


Gadis berambut panjang itu, menunjuk ke arah jurang sambil bergetar. Kakek Darmo yang melihat Jiang berada di dasar jurang ikut terkejut, bagaimana bisa pemuda itu sampai terjatuh ke sana?.


"Tunggu!" Flashback terjeda karena Cherryl.


"Clay kenapa nasibmu dari awal selalu terjatuh? Kemarin ke sungai sekarang ke jurang apa di cerita selanjutnya kau juga akan terjatuh lagi?" Sela Cherryl di tengah cerita suaminya.


"Sayang, apa kau tidak ingat... Kau juga dari awal cerita sampai sekarang selalu pingsan dan koma,"timpal Clay, sembari mengeringkan rambut istrinya.


"Itukan bukan kemauanku," dengus Cherryl sebal.


"Hemm, baiklah wanita memang tidak pernah mau kalah... Kau masih mau mendengar ceritaku atau tidak?"


"Ya sudah, lanjutkan ceritanya." Gadis itu tersenyum pada suaminya yang terpantul dari bayangan cermin.


***


"Apa yang terjadi? Kenapa Jiang bisa jatuh?" Tanya kek Darmo panik.


"Tadi dia mengejar burung. Aku tidak tahu lagi apa yang terjadi tiba-tiba Jiang berteriak dan saat Rosa cari, dia sudah terjatuh," Rosa menjelaskan dengan bibir bergetar.


Kakek Darmo terlihat berpikir, bagaimana caranya mengeluarkan pemuda itu dari dasar jurang jika tidak cepat di angkat Kake Darmo takut ada hewan buas yang memangsanya.


Setelah berpikir cukup lama, kek Darmo meminta Rosa untuk mencari akar yang tumbuh di atas pohon. Akar itu terbilang kuat untuk di jadikan tali dan mengangkat tubuh Jiang ke atas.


Hari semakin gelap, kek Darmo masih berusaha turun ke dasar jurang untuk menyelamatkan pemuda tersebut.


Meskipun sulit untuk mengevakuasi Jiang, dengan alat seadanya dan tenaga yang terbilang lemah, semua berkat ijin Tuhan Jiang bisa di selamatkan.


Luka di tubuh Jiang kembali menganga dan bertambah, kek Darmo yang tak memiliki banyak obat-obatan modern hanya mengandalkan dedaunan herbal untuk mengobati luka Jiang agar tidak inveksi.


Hari ke hari, lukanya malah semakin parah dan tubuh Jiang juga kini demam tinggi. Kek Darmo dan Rosa terlihat bingung, apa yang mesti mereka lakukan? Jarak kota dari pulau yang mereka tempati sangatlah jauh, tidak mungkin juga mereka membawa orang sakit menggunakan sampan kecil yang hanya muat untuk dua orang.


Kek Darmo terus berpikir, melihat keadaan Jiang yang semakin mengkhawatirkan ia pun memutuskan untuk pergi ke kota sendirian mencari bantuan untuk membawa Jiang ke rumah sakit.


Namun saat kek Darmo akan melepaskan tali yang mengikat sampannya di dermaga, ia melihat dua buah kapal Speedboat menghampirinya orang-orang dengan pakaian serba hitam dan senjata api di tangan turun dari kapal tersebut.


Tiga orang dengan postur tubuh tinggi dan besar menodongkan pistol ke arah kek Darmo. Pria dengan wajah penuh keriput itu terlihat ketakutan, ia mengangkat kedua tangannya ke atas sampai seorang gadis cantik menghampirinya.


Gadis itu memerintahkan pada tiga orang tersebut untuk menurunkan senjata, ketiganya pun patuh pada wanita yang merupakan ketua kelompok dari orang-orang itu.


"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" Tanya gadis itu dengan nada tegas.


"I-ini tempat tinggal saya Nona," jawab kakek Darmo gugup.


Wanita itu mengerutkan dahinya, dan melihat ke sekeliling sungai tersebut hanya ada hutan yang di kelilingi oleh sungai yang terbentang luas.


"Bagaimana bisa kau tinggal di tempat terpencil ini? Sebaiknya kau jujur apa yang kau lakukan di sini?"


"Saya berkata jujur Nona, saya memang tinggal di sini... Tolong lepaskan saya, saya harus ke kota untuk mencari dokter." kakek Darmo memelas pada gadis yang terus menatapnya curiga.


"Dokter? Untuk apa?"


Kakek Darmo terdiam, jika ia mengatakan Jiang sedang sakit ia takut orang-orang itu akan mencelakai pemuda itu dan mengobrak Abrik tempat tinggalnya.


"Kau sedang menyembunyikan sesuatu? Cepat katakan sebelum aku menyuruh anak buah ku untuk menembak kepalamu!" Bentak sang Gadis pada kek Darmo.


"Nona Grace, lihat sinyal GPS tuan muda kembali muncul dan jaraknya sangat dekat," sela seorang bodyguard yang memegang laptop.


"Sudah aku duga, Tuan Muda pasti ada di sekitar sini" ucapnya pada salah seorang bodyguard


"Cepat katakan di mana kau menyembunyikan Tuan Muda?" Grace kembali mengajukan pertanyaan pada kakek tua tersebut.


"Nona Grace, sepertinya kakek tua itu tidak tahu apa-apa. Mungkin dia bukan orang jahat,"bisik salah seorang bodyguard.


Grace memindai kakek Darmo dari ujung kepala hingga ujung kakinya, ia mengeluarkan selembar Poto dan menunjukkannya pada pria tua yang masih terlihat ketakutan.


"Apa kau pernah melihat pria ini?"


Kakek Darmo mengambil Poto tersebut dan melihatnya secara seksama.


"Inikan Jiang,"gumam batin kek Darmo.


"Kalian siapa? Kenapa mencari pemuda ini?" Kakek Darmo memberanikan diri untuk bertanya.


"Tidak usah banyak bertanya, cepat katakan apa kau melihatnya atau tidak?" Ketus Grace tidak sabar.


"D-dia ada di rumah saya, tapi kondisinya sangat kritis bisakah kalian memanggil seorang dokter," pinta kek Darmo memohon.


"Saya dokter kek, bisa tolong tunjukkan di mana rumah anda," seru seorang pria dengan stelan jas putih ala dokter.


Setelah pemuda yang mengaku dokter itu menunjukkan identitasnya, kek Darmo langsung membawanya ke rumah dan menunjukan ke adaan Jiang.


"Astaga Tuan Muda!" Pekik Grace, terkejut dengan kondisi atasannya yang mengkhawatirkan.


"Kevin cepat periksa Tuan Muda," titah Grace pada dokter muda itu.


Dokter Kevin langsung memeriksa keadaan Jiang, tubuhnya demam dan luka-lukanya sedikit terinfeksi.


Rosa melingkarkan tangan di lengan ayahnya, sembari menatap satu per satu orang-orang yang ada di rumahnya. Dengan teknik pengobatan jaman dulu, Kevin berusaha mengoperasi kaki Jiang. Sebab kondisinya yang semakin menurun tidak memungkinkan untuk mereka membawa Clay ke rumah sakit yang ada di kota.


Beruntung, Kevin membawa perlengkapan lengkapnya sehingga ia tidak terlalu kesulitan dalam mencari alat-alat medis.


"Bisa berikan aku satu wadah air," pinta Kevin pada wanita yang terus menempel pada ayahnya.


Rosa menganggukan kepalanya cepat, ia berlari ke arah sumur dan membawa satu baskom air pada Kevin.


Semua orang terlihat tegang saat menyaksikan Kevin menyobek, menggunting dan menjahit luka-luka yang di derita oleh Clay.


Operasi berjalan selama dua jam, semuanya mulai bisa bernafas lega ketika Kevin mengatakan kondisi Clay sudah kembali normal.


"Kek, sebelumnya saya minta maaf karena sudah bersikap kasar pada Kakek dan saya ingin mengucapkan banyak terimakasih karena sudah menyelamatkan bos saya," tutur Grace.


"Tidak apa-apa saya mengerti kalian khawatir pada keadaan Jiang," Ujar kek Darmo sembari terkekeh.


"Jiang?"


"Maksud saya Tuan Muda, saat pertama kali menemukannya dia tidak mengingat siapa dirinya jadi saya memberinya nama Jiang," jawab kek Darmo.


"Oh... Namanya Clayton Alexander Dhanuendra pimpinan perusahaan Sunshine group, sudah lama kami mencarinya kami mengikuti jejak GPS yang tersemat di kemejanya dan itu mengarah kesini... Saya pikir kakek orang suruhan musuh kami jadi saat melihat kakek saya jadi langsung siaga," Grace menjelaskan semuanya pada kek Darmo.


"Musuh? Kenapa kalian bisa punya musuh?"


"Ada hal yang tidak bisa kami ceritakan, tapi sekali lagi saya ucapkan banyak terimakasih saya berjanji setelah pulang ke kota saya akan memberikan imbalan besar pada kakek."


"Tidak usah Nona, saya menolong Tuan Muda dengan ikhlas bukankah sesama manusia kita harus saling tolong menolong. Anggap saja saya perantara yang dikirim oleh tuhan untuk menolong tuan muda."


Keduanya banyak mengobrol, tanpa mereka sadari seseorang tengah menguping pembicaraan mereka di balik semak-semak.


.


.


.


.


Bersambung.