
Pagi hari, cahaya sang Pajar menerpa kulit wajah Cherryl yang mulus. Gadis itu mengerjapkan kedua matanya, ada perasaan takut saat dirinya hendak membuka mata. Ia takut jika pertemuannya bersama Clay hanya sebatas mimpi.
Ia meraba tempat tidur di sampingnya, tidak ada siapapun di sana. Cherryl membuka kedua mata dan menatap getir tempat tidur di sampingnya.
Suasana kamar hotel yang sepi membuat Cherryl semakin yakin, jika kejadian semalam memanglah bagian dari mimpi indahnya.
"Aku pikir semua ini kenyataan, ternyata cuman mimpi,"gumamnya tersenyum kecut.
Pintu kamar terbuka, Clay datang sembari membawa sarapan untuk istri tercintanya.
"Sayang, kamu belum bangun?" Sapa Clay, pada Cherryl yang masih terbaring di atas ranjang.
Gadis itu, membalikan tubuhnya cepat. melihat kedatangan Clay, ia langsung berlari ke arah suaminya dan memeluk pria tersebut dengan erat.
"Ada apa? Hem,"Clay menyambut pelukan istrinya.
"Kau dari mana?" Tanyanya manja.
"Ada tamu yang harus aku temui, karena kamu masih tidur jadi aku tidak membangunkan mu."
"Aku pikir kau pergi meninggalkanku lagi." Cherryl mendongakkan kepalanya, menatap wajah Clay yang semakin tampan.
Clay mendaratkan kecupan di kening istrinya." Aku tidak akan meninggalkan mu lagi, mulai hari ini dan seterusnya aku akan selalu berada di sampingmu." Pria dengan postur tubuh tinggi itu mendekap istrinya hangat.
"Apa sudah tidak sakit lagi?" Sambung Clay, ia melihat istrinya sudah bisa berlari ke arahnya tanpa meringis.
Rasa takut kehilangan untuk kedua kalinya. Membuat Cherryl lupa jika area sensitifnya masih terasa sakit, akibat serangan dari ular kasur semalam. Karena di ingatkan Clay, gadis itu langsung meringis kesakitan.
Clay menggendong Cherryl ke atas sofa, ia membaringkan tubuh istrinya di sana.
"Apa itu sangat sakit?" Tanya Clay khawatir.
Cherryl mengangguk pelan.
"Coba aku lihat." Clay menyentuh lutut Cherryl.
Mengingat kejadian semalam yang membuatnya sulit berjalan, gadis itu langsung merapatkan kakinya rapat-rapat.
"Tidak usah, yang ada nanti malah semakin sakit," tolaknya pada Clay.
"Hemm baiklah... Kamu mau sarapan apa?" Clay menarik trolley berisi banyak makanan ke dekat Cherryl.
"Aku mau sandwich," jawab Cherryl tersenyum manis pada sang Suami.
"Jangan menggodaku, hari ini jadwal kita padat. Apa kau mau seharian tinggal di kamar?" ucap Clay, sembari memotomg sandwich itu menjadi bagian kecil.
Cherryl mengerutkan dahinya. "Siapa yang menggodamu?"
"Itu barusan, kamu senyum seperti itu," tukas Clay.
"Astaga, aku hanya tersenyum." Cherryl mengulangi senyumannya.
"Tapi senyumu sangat menggoda, Sayang."
"Nih lihat, ini baru menggoda." Cherryl menjilat bibir atas lalu menggigit bibir bawahnya, sembari mengedipkan sebelah mata ke arah Clay.
"Hei, hentikan dari mana kau belajar seperti itu?"Clay membulatkan matanya sembari tersenyum. Saat melihat istrinya yang begitu menggoda.
Gadis itu terkekeh, melihat reaksi suaminya yang terkejut akan tingkahnya.
"Apa kau ingin melihat yang lebih dari itu?" Cherryl Kembali memancing hasrat suaminya.
"Tunjukan, tapi resiko tanggung sendiri. Ya," Clay menantang istrinya sambil menyeringai.
Mendengar ucapan Clay, tiba-tiba nyali Cherryl jadi ciut, ia tahu arah pembicaraan suaminya kemana. Mengingat bagian bawahnya masih terasa perih, dia tidak mau ambil resiko.
Ia mengambil garpu yang ada di tangan Clay, lalu menyuapkan sandwich itu ke dalam mulut.
"Kenapa, malah makan? Bukankah kau mau menunjukkan bakatmu?"
"Aku tidak punya tenaga untuk melakukan itu, sebaiknya kita makan saja. Ini buka mulutmu," jawab Cherryl. Ia mengasongkan sandwich tersebut ke hadapan Clay.
"Kita mau kemana?" Tanya Cherryl penasaran, saat suaminya mengatakan mereka akan pergi.
"Ke suatu tempat, yang telah kita lewatkan beberapa tahun lalu,"ujar Clay, sembari menyuapi istrinya.
"Tempat apa?" Cherryl kembali bertanya, dengan mulut yang penuh makanan.
"Heuh, menyebalkan." Cherryl melipat kedua tangan di dada, sembari memalingkan wajahnya dari Clay.
Clay tersenyum melihat sifat istrinya yang tidak berubah, mudah marah dan cepat kesal seperti dulu.
"Ayo mandi, sebentar lagi Erick akan menjemput kita," titahnya pada Cherryl.
"Berdua?"
"Aku sudah mandi, tapi jika kau ingin mandi bersama. Aku bisa mandi lagi."
"E-eh, tidak usah aku mandi sendiri saja," Cherryl menggelengkan kepalanya cepat.
"Kau yakin? Tapi sepertinya aku juga merasa panas... Sebaiknya ayo kita mandi bersama." Clay bangkit dari duduknya dan membuka kancing kemeja yang di kenakannya.
Gadis itu kembali menelan ludahnya kasar, ketika melihat roti sobek terpampang nyata di depan mata.
Clay menggendong istrinya ke kamar mandi, dan memasukannya ke dalam bathtub. Ia melepaskan handuk kimono yang di kenakan oleh Cherryl. Dan mulai membantu istrinya menggosok punggung.
"Clay, kamu niat bantu aku mandi nggak sih?" Kata Cherryl ketus.
"Ya niatlah, emangnya kenapa?"
"Tapi tangan kamu kemana-mana."
Clay tersenyum. "Sayang, ini itu treatment agar dada kamu bagus dan makin kencang," kilah Clay, m*re*mas kedua bukit kembar milik istrinya dari belakang.
Bulu kuduk Cherryl kembali meremang, Tangan itu kini mulai memutar-mutar kedua lolipop mini berwarna merah muda. Sentuhan Clay lambat laun merambat ke area sensitifnya sehingga gadis itu pun kembali di buat melayang.
Dua jam kemudian, setelah bertarung di atas ranjang. Kedua sejoli itu memutuskan untuk tetap tinggal di hotel, dan memundurkan rencananya untuk pergi ke luar menjadi besok.
Clay memainkan jari-jari Cherryl yang lentik, sembari mendekap istrinya yang berada di atas dada bidangnya.
"Jadi, selama ini kamu pergi kemana?" Lirih Cherryl, ia penasaran kemana perginya Clay saat itu.
"Aku terdampar di sebuah pulau kecil, yang jaraknya jauh dengan kota Edelweis. Saat itu aku pikir, aku sudah mati ternyata Tuhan masih melindungiku."
Flashback on.
Lima tahun yang lalu, tragedi sungai Kenanga.
Setelah tubuhnya terombang ambing arus sungai, Selama beberapa hari. Akhirnya Clay terdampar di tepi pulau kecil yang ada di sungai Ceratophyllum.
Jarak sungai Ceratophyllum dan Kenanga sangatlah jauh, butuh waktu sampai bermil-mil untuk bisa ke sungai sana. Tempat terpencil yang tidak banyak di ketahui oleh orang-orang.
Clay yang saat itu tidak sadarkan diri, tersangkut di akar pohon besar dekat bibir sungai. Seorang kakek tua yang kala itu tengah memancing tanpa sengaja melihat Clay sedang mengambang, mengetahui pemuda tersebut masih hidup kakek tua itu langsung membawa Clay ke rumahnya yang ada di tengah hutan.
"Ya ampun, kasihan sekali nasib mu nak." Kakek tua itu susah payah mengangkat tubuh Clay ke atas perahu kayu miliknya.
Mengandalkan sebuah terpal ber ukuran sedang, kakek itu menyeret tubuh Clay ke rumahnya.
"Rosa!" Teriak sang Kakek, memanggil putrinya yang sedang memasak di dapur.
Wanita berusia 28 tahun itu, berlari menghampiri ayahnya. Senyum manis menghiasi wajah Rosa ia berpikir jika sang Ayah Pulang membawa ikan besar namun, senyumannya langsung menghilang ketika dirinya melihat seorang pemuda tengah terbaring di atas terpal ayahnya.
"Ayah, dia siapa?" Rosa mengerutkan keningnya.
"Ayah juga tidak tahu, tadi ayah menemukannya di pinggir sungai. Dia pasti terseret arus dan tersangkut di akar pohon, karena dia masih hidup jadi ayah membawanya pulang," jelasnya pada sang Putri.
"Cepat bantu ayah, bawa dia ke dalam. Dia pasti kedinginan," titahnya pada Rosa.
Wanita itu, membantu mengangkat pemuda tersebut kedalam rumah. Membaringkannya di atas ranjang yang terbuat dari bambu.
Pria berusia 60 tahun itu, menyeka tubuh Clay dan menggantikan pakaian pemuda tersebut dengan baju miliknya.
Rosa terus memperhatikan pemuda itu, setelah wajahnya bersih dari lumpur. Gadis itu langsung terperangah dengan ketampanan yang di miliki oleh pria yang baru saja di tolong oleh ayahnya.
.
.
.
Bersambung...