Wedding Secrets

Wedding Secrets
Melamar.



Hari ini adalah ujian terakhir, yang di adakan di sekolah SMA Harapan Bangsa. Kelas yang awalnya ramai karena semua murid sedang mengobrol, dan bergurau. Kini menjadi hening ketika seorang pengawas mulai masuk ke dalam kelas.


Kali ini bagian Austin yang piket mengawasi kelas Cherryl, setelah semua murid berdoa. Austin langsung membagikan kertas ujian secara estafet, kecuali milik Cherryl. Guru itu memberikan kertas tersebut secara langsung lengkap dengan sebuah coklat berbentuk hati yang di tutup oleh kertas lembar jawaban.


Austin melontarkan senyumannya pada gadis yang masih menatap coklat tersebut.


"Semangat ya, ini ujian terakhir," ungkap Austin dengan suara kecil karena takut di dengar oleh murid lain.


Gadis itu hanya tersenyum tipis sembari berterimakasih, setelah Austin meninggalkan mejanya ia berpura-pura menjatuhkan pulpen ke dekat bangku Aulya lalu ia memasukan coklat itu ke dalam tas sahabatnya, Aulya yang melihat Cherryl memasukan sesuatu ke tasnya bertanya dengan isyarat dan Cherryl hanya melotot sembari menyimpan jarinya di bibir.


Beberapa menit telah berlalu dan Cherryl mulai terlihat kesulitan dalam mengerjakan soal ujiannya, ia mencoba memanggil Aulya tapi gadis itu sedang serius jadi tak bisa mendengar Cherryl yang memanggilnya secara berbisik.


Sementara Austin yang sejak dari tadi memperhatikan Cherryl, hanya tersenyum saat gadis itu mulai terlihat panik. Ia kembali menghampiri Cherryl dan bertanya soal mana yang membuatnya terlihat begitu frustasi.


"Apa kamu kesusahan mengisi soal itu?" Tanya Austin.


"Tidak pak," jawab Cherryl yang langsung berpura-pura membaca soal.


"Yang mana yang susah? Biar saya bantu."


"Nggak usah pak, saya bisa sendiri," tegas Cherryl ia langsung menggeser kursinya agar menjauh dari Austin.


"Baiklah, kalau kamu bisa mengerjakannya," Austin kembali ke kursinya, sambil tersenyum getir saat Cherryl menjawabnya dengan ketus.


Enam puluh menit telah berlalu, semuanya telah mengumpulkan lembar soal dan jawaban secara bersamaan. Begitu juga dengan Cherryl setelah melempar Aulya dengan kertas kecil, akhirnya ia bisa menyontek darinya dan mengumpulkan tugasnya tepat waktu.


"Cherryl," Austin memanggil muridnya yang akan pergi keluar kelas.


"Ya pak," sahut Cherryl gugup.


"Cher, gue duluan ya," timpal Aulya yang pergi meninggalkan Cherryl bersama pak Austin.


"Hari ini kamu mau langsung pulang, atau ada acara?"


"Kayaknya sih, langsung pulang. Emang kenapa pak?"


"Mau nggak kalau kita nonton lagi?" Ajak Austin.


Seketika, bayangan ketika dirinya tidak bisa tidur karena di ajak nonton film horor oleh gurunya tempo lalu melintas dalam benaknya, gadis itu langsung menggelengkan kepalanya cepat.


"Ng-ngak deh pak, saya mau istirahat," tolak Cherryl, rupanya menonton horor meninggalkan trauma tersendiri baginya.


"Kenapa? Kalau kita jalan-jalan ke moll, kamu mau nggak?"


"Aduh, gimana ya pak. Saya capek pulang sekolah pengen istirahat."


"Emm... Ya udah kapan-kapan lagi aja cherr," Austin mengangguk-aggukan kepalanya kecewa.


"Maaf ya pak, saya permisi dulu," gadis itu langsung berlari begitu saja meninggalkan gurunya, padahal dulu ia sangat menantikan momen dimana gurunya mengajak jalan-jalan. Tapi entah kenapa ia merasa jika sekarang dekat-dekat dengan Austin malah membuatnya risih.


"Eh.. tunggu Cher!" Austin mengusap tengkuk lehernya, ketika melihat Cherryl pergi darinya.


"Kenapa ya, dia selalu menghindar dari gue? Clay bilang dia suka dan cinta sama gue, tapi dia kayak ngehindar dari gue? Padahal gue udah minta maaf sama perbuatan yang nggak gue lakuin," keluh Austin mengusap wajahnya kasar.


"Si Aulya kemana sih? Di cari-cari kok nggak ada," gumam Cherryl yang sedang berjalan mencari Aulya, tanpa sengaja ia berpapasan dengan Clay tapi pria itu terlihat lebih dingin dari biasanya. Pria itu bahkan seolah-olah tak melihat istrinya yang ada di hadapannya.


Cherryl menatap suaminya, yang seakan-akan tidak melihat keberadaan dirinya.


"Sembunyikan identitas sih boleh, tapi nggak gini juga kali. Gue berasa jadi hantu yang nggak keliatan sama sekali," gerutu Cherryl. Ia kembali mencari sahabatnya ke ruang perpustakaan.


"Ya ampun, si Aulya kemana sih? Gue cari di perpustakaan nggak ada juga. Mana hp gue ketinggalan di kelas lagi," gumam Cherryl.


Ia kembali ke kelas untuk mengambil ponselnya, begitu ia sampai di dekat bangku tempatnya belajar. Cherryl melihat sebungkus coklat tergeletak di atas meja tempatnya duduk, lengkap dengan sepucuk surat yang terselip di bawah coklat tersebut.


Cherryl melihat ke sekelilingnya, tidak ada siapapun di dalam kelas. Ia mengambil surat itu dan membacanya.


"Coba lihat ke arah jendela," isi surat tersebut, karena penasaran iapun memalingkan wajahnya ke arah jendela. Cherryl mengerutkan dahinya ketika melihat semua teman kelasnya berdiri di depan jendela sembari memegang kertas bertuliskan " Cherryl maafkan pak Austin."


"Mereka ngapain! kok pada megang kertas gitu?" gumam batin Cherryl bingung.


Tak berselang lama pak Austin masuk ke dalam kelas, pria itu menghampiri Cherryl sambil tersenyum lalu bersimpuh di hadapan Cherryl.


"Eh, ya ampun pak bangun. Bapak ngapain sih," ucap Cherryl panik, saat melihat gurunya berjongkok di hadapannya.


"Cher, saya tau ini mungkin terlalu lebay atau terlalu kuno bagi kamu yang selalu menyukai hal modern. Tapi ini satu-satunya cara agar kamu benar-benar memaafkan saya, saya mohon maafkan saya Cher," ungkap pak Austin.


"Sayakan, udah maafin bapak tadi. Kenapa bapak ngelakuin ini?" cetus Cherryl, ia terlihat begitu risih dengan perbuatan gurunya di hadapan teman-temannya.


"Tapi saya rasa, kamu belum memaafkan saya dengan sungguh-sungguh. Saya lihat kamu selalu menghindar dari saya."


"E-eu, aduh pak udah deh jangan kayak gini kan malu di liatin orang lain. Bangun pak."


"Saya tidak akan bangun sebelum kamu benar-benar memaafkan saya Cher," lirih pak Austin


"Pak, ya ampun kalau pacar bapak tau. Bapak kayak gini ke cewek lain dia pasti marah," cetus Cherryl


"Pacar?" Austin mengulangi ucapan Cherryl.


"Dia adik saya Cher, bukan pacar saya."


"Masa sih?" Cherryl menatap tak percaya.


"Iyah, kalau saya punya pacar untuk apa saya melakukan ini sama kamu? saya nggak mungkin nyakitin hati pacar saya sendiri," Jelas Austin.


Gadis itu hanya mengangguk pelan sembari membulatkan bibirnya seperti huruf o


"Apa kamu cemburu kalau saya jalan sama perempuan lain?" Goda Austin pada Cherryl.


"Saya cemburu? Haha ngapain saya cemburu.. saya kan bukan siapa-siapanya bapak, saya nggak ada hak buat cemburuin bapak yang jalan sama cewek lain," ujar Cherryl, Iyah sih kalau kemarin-kemarin ia sempat cemburu tapi setelah hatinya terbuka untuk Clay ia jadi tidak merasakan apapun lagi pada gurunya itu.


"Benarkah? Kalau begitu biar kamu bisa cemburu ke saya.. bagaimana kalau kamu saya lamar hari ini?" Celoteh Austin, membuat gadis itu terhenyak saat melihat Austin mengeluarkan sebuah cincin dari dalam saku kemejanya.


"Cherryl Divya Cestaro, mau kah kamu jadi pendamping saya?" Ucap Austin, menyodorkan cincin berlian ke hadapan Cherryl.


Gadis itu begitu terkejut dengan ajakan gurunya, jika saja dirinya masih sendiri mungkin ia akan dengan cepat menerima lamaran itu. Sayang kini ia telah menjadi milik orang lain, dan hatinya kini telah terpaut pada sosok pria yang selalu ada di sampingnya. Cherryl hanya diam menatap cincin tersebut, lidahnya terasa begitu keluh untuk menolak lamaran gurunya itu.


Sementara di luar kelas teman-teman Cherryl yang baper melihat adegan romantis di depannya, semuanya bersorak dan melontarkan kata terima pada Cherryl yang sedang mematung di hadapan Austin.


Aulya yang saat itu baru keluar dari ruang guru berpapasan dengan Clay juga Erick yang hendak naik ke kelas atas.


"Al di kelas Lo lagi pada ngapain sih? Berisik banget," protes Erick.


"Ya mana gue tahu, gue baru keluar dari ruang guru," jawab Aulya mendelik. Ia mendengarkan suara yang ribut-ribut itu dengan seksama.


"Eh, iya kok gue denger mereka kayak teriak terima-terima gitu. Eh Ayo liat," tanpa sadar Aulya menarik tangan Erick.


"Ekhem," Erick berdeham, salah tingkah.


"Eh, sorry Rick. Gue nggak sengaja," seru Aulya yang ikut salah tingkah. Sedangkan Clay hanya tersenyum kecut melihat kedua orang yang ada di hadapannya.


"Clay, ayo kita lihat. Kayaknya sih ada yang lagi mau nembak ceweknya," Erick mengajak Clay yang terlihat malas.


"Nggak deh, gue males," sahut Clay ketus.


"Nggak asik lo," cibir Erick ia menarik tangan Aulya dan meninggalkan Clay yang hendak pergi ke perpustakaan, namun langkahnya terhenti. Ia jadi penasaran siapa yang sedang menyatakan cintanya itu.


Ia memutar tubuhnya dan berjalan menuju kelas atas, karena banyaknya kerumunan murid lain yang sedang menyaksikan drama romantis itu. Clay menyerobot begitu saja, seketika matanya melotot hampir saja bola mata itu loncat dari tempatnya ketika ia melihat Austin sedang mengungkapkan cinta pada istrinya.


Wajah Clay yang sejuk langsung berubah menjadi merah padam, kedua tangannya mengepal. Tanpa berpikir panjang ia langsung masuk ke dalam kelas membuat Cherryl terhenyak dengan kedatangan Clay yang tiba-tiba, begitu juga dengan teman-teman Cherryl yang tadi semangat meminta Cherryl untuk menerima Austin begitu melihat ketegangan di dalam kelas mereka langsung diam penuh tanya.


Erick dan Aulya ikut ke dalam kelas, karena takut jika guru dan murid itu terlibat perkelahian, Clay menatap Austin penuh amarah.


"Rick gue, pinjem mobil Lo!" Pinta Clay, dengan tatapan masih tertuju pada Austin.


Erick melemparkan kunci mobilnya ke arah Clay, tanpa melihat ke arah Cherryl pria itu langsung menarik lengan istrinya dengan keras dan membawanya pergi dari sekolah. Ia tidak peduli dengan ujiannya yang terkahir, saat ini api cemburu sedang melalapnya habis-habisan. Takut terjadi sesuatu dengan Cherryl Austin hendak mengejar Clay tapi Erick dan Aulya mencegahnya.


"Eh, bapak mau kemana?" Cegah Aulya.


"Saya mau ngejar Cherryl, saya khawatir Clay melakukan sesuatu pada Cherryl."


"Bapak tenang aja, Clay orangnya baik kok dia nggak akan nyakitin Cherryl," timpal Erick yang menyenderkan sikunya di bahu Austin. Ia melihat ke arah Erick setelah mendapat tatapan dari gurunya dengan cepat Erick menurunkan tangannya sambil tersenyum.


"Saya mau nolong Cherryl, kenapa kalian melarang saya!" Geram Austin.


"Bapak ngapain, nolong Cherryl orang dia nggak kenapa-kenapa," celoteh Aulya santai.


"Apa kalian nggak liat, tadi Clay narik Cherryl kenceng banget."


"Ooh itu mah paling juga sebentar, nanti juga di rumah mereka baikan lagi. Lagian Clay nggak mungkinkan nyakitin istrinya sendiri," celetuk Aulya, yang langsung membungkam mulutnya karena keceplosan.


Erick yang mendengar Aulya, mengatakan itu langsung memelototinya sementara Austin menatap kaget pada Aulya.


"Apa yang kamu katakan? Istri?" Tanya Austin bingung.


"I-itu pak maksudnya si Aulya, is-istirahat udah kelar waktunya masuk pak," sahut Erick menyikut lengan Aulya.


"Ahahaha, iya itu maksud saya. Jam istirahat habis," Aulya terlihat gugup, sembail meliuk-liukan bibirnya yang ember.


"Kalian sembunyiin sesuatu dari saya?" Desak Austin pada kedua muridnya.


Keduanya kompak menggelengkan kepalanya. Beruntung seorang pengawas masuk ke dalam kelas dan menyapa Austin membuat Erick dan Aulya bisa bernapas lega, karena Austin dengan cepat keluar dari kelas itu.


.


.


.


Bersambung.