
"Lalu, apa yang terjadi saat itu?" Tanya Cherryl, yang menumpu dagunya dengan tangan.
"Entahlah, saat aku membuka mata aku sudah di rumah sakit. Nona Grace bilang kalau aku koma dalam waktu cukup lama," jawab Clay menarik napasnya dalam.
"Setelah siuman, kenapa kau tak langsung pulang menemui ku? Kau tau kan aku sangat kehilangan mu." Cherryl mengerucutkan bibirnya.
"Aku ingin sekali menemui mu tapi, pekerjaan yang menuntut ku untuk tidak bertemu dengan mu lebih dulu. Selain itu juga aku harus mengejar pendidikan s1 di luar negeri. Setelah semuanya selesai aku pulang ke kota Edelweis, dan kau malah pergi."
"Aku pergi demi masa depanku, karena aku pikir kau benar-benar mati. Semenjak banyak kejadian buruk yang menimpa, aku rasa aku memang harus pergi dari sana demi menjaga mental ku agar tetap waras." Jelas Cherryl wajahnya seketika langsung murung jika mengingat masa lalunya yang mengerikan.
Clay memeluk istrinya, dan membelai rambut Cherryl mesra. "Maafkan aku, telah membuatmu trauma dengan semua kejadian ini dan maafkan aku juga karena tidak berada di sampingmu di saat hari-hari terberat ketika kamu kehilangan Mama dan Papa." Clay mengecup kening istrinya hangat, begitu juga Cherryl yang memeluk suaminya dengan erat.
"Bisakah kita tidak kembali lagi ke kota Edelweis?" Lirih Cherryl menatap suaminya sendu.
"Tentu saja, kita akan membuka lembaran baru di kota yang lain. Yang bisa membuatmu bahagia dan melupakan semua kenangan buruk di masa lalu." Ujar Clay tersenyum pada istrinya.
"Kita akan pergi kemana?"
"Di kota yang hanya ada ketenangan dan kedamaian."
"Dimana itu? Lalu bagaimana dengan papi dan Nara?"
"Mereka masih betah berada di kota Marigold, aku tidak bisa memaksa mereka ikut bersama kita. Sebab perusahaan papi sedang berkembang pesat di sana."
"Pekerjaan mu bagaimana? Dan pekerjaan ku?"
"Aku sudah menyuruh Erick mengurus surat pengunduran diri untuk mu, dan pekerjaanku itu hal mudah aku bisa memindahkannya. Asal aku bisa selalu di dekatmu, tidak apa-apakan kalau kamu berhenti bekerja?"
"Tidak masalah, aku juga ingin meluangkan waktu untuk mu. Merajut kenangan yang telah kita lewati beberapa tahun yang lalu," Cherryl menyenderkan kepalanya di dada bidang Clay.
"Terimakasih Sayang, kau sudah mau melepaskan pekerjaanmu demi aku." Clay mengecup kening istrinya singkat.
***
Pagi hari, keduanya sudah bersiap untuk meninggalkan hotel teratai. Rencananya mereka akan pulang ke apartemen milik Cherryl untuk membereskan semua barang-barang yang tertinggal di sana.
Tapi, sebelum itu mereka memutuskan untuk mampir terlebih dahulu ke salah satu restoran untuk menyantap sarapan pagi.
"Sayang, aku ke toilet dulu sebentar," ujar Clay menyentuh pundak istrinya.
Cherryl mengangguk, lalu menatap jalan raya dari balik kaca bening tempatnya duduk. Rasa bahagia tengah menyelimuti hati Cherryl sehingga wajahnya tampak begitu berseri-seri, sesekali ia terlihat mengulum senyumnya jika mengingat pertemuannya bersama Clay yang terkesan tidak jelas.
"Permisi Nona," ucap seorang pelayan yang menata makanan di depan Cherryl.
"Terimakasih," seru Cherryl pada pelayan tersebut.
"Clay, kemana sih ke toilet ko nggak balik-balik," keluh Cherryl yang merasa mulai bosan.
Sementara itu dari kejauhan, sepasang pria dan wanita tampak memperhatikan Cherryl. Keduanya saling berbisik, untuk meyakinkan mereka pun menghampiri Cherryl yang tengah duduk sendiri.
"Ekhem ... Kamu Cherryl kan? Si anak aneh yang suka halusinasi punya suami," celoteh Kaylie teman kuliah Cherryl.
"Iya, kamu Kaylie kan? Kamu sedang apa di sini?" Ucap Cherryl tersenyum ramah.
Wanita itu melingkarkan tangannya di lengan pria yang ada di sampingnya. "Kami sedang berbulan madu, dan kau apa yang kau lakukan di sini?" Kaylie memamerkan kemesraannya di hadapan Cherryl.
Kaylie melihat pada meja Cherryl, di sana tersedia dua porsi makanan dan juga dua gelas minuman. "Kau ke sini tidak sendirian kan? Jangan bilang halusinasi mu sewaktu kuliah masih belum sembuh," ledek kaylie meremehkan teman kuliahnya.
"Tidak, aku kesini dengan suamiku," sahut Cherryl.
"Benarkah, lalu di mana suamimu? Aku tidak melihatnya sejak dari tadi." Kaylie menyebarkan pandangannya ke seluruh restoran.
"Dia sedang ke toilet," jawab Cherryl singkat.
"Begitu, baiklah aku akan menunggu. Kau tidak keberatan kan Honey," tanya Kaylie pada suaminya. "Aku penasaran pada temanku, dia benar memiliki suami atau halusinasinya semakin parah," ejek Kaylie sembari tertawa.
"It's okay, Baby," jawab si pria dengan santai.
Mendengar ucapan temannya itu, dia hanya tersenyum. Sebab Cherryl sudah tau watak Kaylie yang selalu membully nya saat mereka masih kuliah.
"Silahkan duduk." Cherryl mempersilahkan kedua temannya itu duduk bersamanya.
Sambil menunggu kedatangan Clay, Kaylie banyak membicarakan soal dirinya dan sang Suami, dengan bangganya dia membicarakan bisnis suaminya yang sukses.
Begitu juga si pria yang terlihat besar kepala, ketika istrinya banyak memujinya di hadapan wanita yang terlihat biasa saja. Cherryl hanya tersenyum menanggapi ucapan temannya itu, bahkan ia juga tetap diam ketika makanannya di makan oleh Kaylie dan suaminya.
Selain suka membully, Kaylie juga sombong, bermulut besar dan tidak tahu diri. Buktinya saja ia berani menyentuh makanan yang bukan miliknya tanpa ijin, sementara mulutnya terus saja membicarakan harta kekayaan yang dimiliki oleh suaminya.
Setengah jam kemudian, Kaylie dan suaminya sudah terlihat kenyang. Bukan hanya makanan yang ada di meja saja yang dia makan melainkan ia juga memesan beberapa menu baru pada pelayan.
"Ah, aku kenyang sekali," desah Kaylie sambil bersendawa. "Oops ... Sorry," kekeh Kaylie masih dengan tatapan meledek.
"Saya rasa yang perlu ke psikiater bukan istriku, tapi anda Nona," sela Clay. Ia berjalan dengan gayanya yang keren menghampiri Cherryl dan merangkul bahunya.
"Eh gila, nih cowok ganteng banget," gumam batin Kaylie yang tak mengedipkan matanya.
"Sayang, maaf aku lama tadi ada client penting menelpon," Clay tersenyum hangat pada istrinya.
"Tidak apa-apa, aku tahu kau sibuk," balas Cherryl menyentuh tangan Clay.
"A-apa sa-sayang," ucap Kaylie terbata-bata.
"Ah, iya Kaylie kenalkan ini suamiku Clayton ... Emm sayang ini Kaylie dan suaminya teman kuliahku dulu." Cherryl memperkenalkan satu sama lainnya.
"Aku tidak percaya, k-kau pasti orang sewaan dia kan," elak Kaylie tak percaya pada Cherryl.
Cherryl di kenal sebagai gadis yang aneh di kampusnya jangankan pria, teman perempuan saja tidak mau dekat dengan Cherryl. Sebab semasa kuliah gadis itu selalu berbicara dengan bangku kosong di sampingnya dan Cherryl mendapatkan julukan dari teman-temannya yaitu 'Hallucination girl.' gadis itu tidak keberatan karena dengan cara ini ia bisa tahu mana teman yang tulus dan mana yang hanya modus.
"Ini surat nikah saya dan Cherryl." Clay menujukan dua buah buku berwarna merah dan hijau pada Kaylie, di sana tertera tanggal pernikahan mereka jika di hitung usia pernikahan Cherryl dan pria tampan itu sudah menginjak usia lima tahun.
"Astaga, jadi sewaktu kuliah dia memang benar-benar sudah menikah ... tapi, kenapa dia selalu berbicara sendiri." Kaylie terus membuka mulutnya masih tidak percaya.
Clay mengambil kembali buku nikah mereka lalu, membawa Cherryl untuk pergi dari restoran tersebut. Tapi, sebelum itu seorang pelayan menghampiri Clay dan menyodorkan sebuah bill dengan tagihan yang fantastis.
"Maaf, kami tidak mau membayarnya karena kami tidak memakannya. Sebaiknya anda berikan bill ini pada mereka." Clay menujuk pada Kaylie dan pasangannya.
Pelayan itupun menghampiri Kaylie. Wajah mereka langsung berubah pucat saat melihat tagihan yang begitu besar, perasaan mereka hanya makan beberapa menu kenapa sampai semahal ini? Pikir Kaylie dan suaminya.
Mereka hendak protes pada Cherryl dan suaminya tapi dua orang bodyguard dengan seragam hitam menghalau mereka. Alhasil keduanya hanya bisa pasrah membayar tagihan dengan total seharga motor matic.
Suami Kaylie tampak kesal dan marah pada istrinya, sebab uang tabungan yang selama ini ia simpan untuk membeli mobil harus terkuras dalam hitungan jam. Keduanya terlibat percekcokan di dalam restoran membuat semua pelanggan yang ada di sana menoleh ke arah mereka.
Kaylie yang merasa malu di bentak sang Suami di hadapan banyak orang langsung pergi meninggalkan suaminya begitu saja.
***
Di dalam mobil, Clay terus mendekap istrinya. Pria itu selalu menempel pada Cherryl seperti prangko, meskipun Cherryl selalu berusaha melepaskan diri karena sesak Clay tetap tak melepaskannya.
"Saat orang-orang membully mu, kenapa kau tak membalasnya?"
"Untuk apa aku membalas mereka, kalau aku membalasnya bukankah aku sama jahatnya seperti mereka."
Clay menyunggingkan sudut bibirnya, lalu mengacak-acak rambut Cherryl, "Aku bangga padamu, sekarang kau sudah bisa berpikir dewasa."
"Ihh, Clay kenapa rambutku di acak-acak. Perlu waktu tau untuk menata rambut agar terlihat bagus seperti ini," protes Cherryl cemberut.
"Maaf, maaf. Nanti aku antar kamu ke salon deh," bujuk Clay.
"Nggak mau," dengus Cherryl kesal.
"Cie marah." Clay mencolek dagu istrinya.
Cherryl melipat kedua tangannya di dada dan memalingkan wajahnya dari Clay.
"Kalau kamu marah, makin gemes deh ... Nanti malam pakai baju itu ya," bisik Clay di telinga istrinya.
Cherryl yang takut ucapan suaminya di dengar supir, langsung memukul bahu Clay membuat pria yang ada di sampingnya terkekeh.
"Sayang aku boleh tanya nggak?" Clay kembali memecah keheningan dalam mobil.
"Apa?" jawab Cherryl datar.
"Kamu semakin dewasa, tubuhmu juga semakin berisi tapi kenapa tinggi mu masih sama saja seperti dulu," ucap Clay kembali meledek istrinya.
"Kata siapa, aku jauh lebih tinggi dari sebelumnya tinggi badanku sekarang naik lima centi tau." Cherryl mengacungkan telapak tangannya.
"Hanya lima centi?" Clay tertawa terbahak-bahak saat mendengar perkembangan istrinya, selama lima tahun tidak berjumpa Cherryl hanya tumbuh selama lima centi saja, apa dalam satu tahun istrinya meninggi sebanyak satu centi pikir Clay sembari terus tertawa.
Cherryl yang melihat suaminya tertawa lepas seperti itu tidak merasa marah, ia justru merasa senang karena bisa mendengar suara tawa Clay yang selama beberapa tahun telah menghilang.
Wanita itu menatap wajah suaminya yang sudah merah, ia berharap semoga dirinya dan Clay bisa bersama untuk selamanya.
.
.
.
Bersambung.