
Cuaca di pagi hari ini, cukup menusuk ke dalam tulang. Semalam hujan turun dengan lebat membasahi separuh bumi, Cherryl yang baru bangun menggeliatkan tubuhnya. Jika saja hari ini tidak ada ujian mungkin, dirinya bisa lebih lama lagi untuk bermalas-malasan.
"Ryl, kamu udah bangun?" Teriak Clay, dari luar kamar.
"Hemm... Aku mandi dulu," sahut Cherryl, dengan mata yang terpejam ia berjalan menuju kamar mandi.
Karena berjalan dengan mata tertutup, membuat kening cherryl membentur dinding dan menyisakan luka lebam di dahinya.
Dugh....
"Aw... Siapa sih yang nyimpen tembok di sini!" Gerutu cherryl, sambil memukul dinding tersebut.
Dua puluh menit kemudian, Cherryl sudah siap dengan seragamnya juga sweater tebal, yang menghangatkan tubuhnya
Cherryl berlari melewati tangga, karena gadis itu ceroboh. Kakinya sampai terpeleset, jika tidak tertahan oleh Clay mungkin dirinya sudah jatuh menggelinding ke bawah.
"Pelan-pelan, kalau turun. Jangan sampai berlari seperti itu, bagaimana jika kau sampai jatuh," gerutu Clay, memarahi istrinya.
Cherryl tersenyum memamerkan deretan giginya,
"Maaf," jawab Cherryl singkat.
"Hemm... Ya udah ayo turun," ajak Clay, sambil menggenggam tangan Cherryl.
"Oh, iya makasih ya buat ponselnya. Aku suka."
"Iya, maaf karena aku baru menggantinya. Aku hanya tidak ingin orang itu mengirim hal-hal aneh padamu."
"Tidak apa-apa, aku mengerti," ujar Cherryl
Kini mereka duduk di depan meja makan, sebuah sup hangat yang masih mengepul begitu menggoda di mata Cherryl. Udara dingin seperti ini memang cocok sarapan dengan yang hangat dan berkuah, Cherryl dengan lahap menyantap sarapannya, entah supnya yang enak atau Cherryl yang rakus. Sampai-sampai gadis itu meminta tambah pada bi Arum.
"Pelan-pelan makannya, nanti kamu bisa tersedak. Cher," tegur Clay, ia melihat Cherryl makan dengan tergesa.
"Habis ini enak, jadi aku ketagihan," ujar Cherryl terkekeh, ia menyibakan poninya. Membuat luka lebam itu terlihat.
"Sayang, dahimu kenapa?" Clay menghampiri istrinya dan menyentuh dahi Cherryl.
"Oh, ini tadi kejedot dinding di kamar," jawab Cherryl santai.
"Itu pasti sakit... Bi tolong ambilkan kotak obat," titah Clay pada bi Arum. Ia tampak khawatir.
"Nggak usah, ini cuman lebam biasa kok. Ayo kita berangkat nanti kesiangan."
"Tapi lukamu."
"Sudahlah, aku udah nggak sabar pengen ketemu Aulya... udah lama aku nggak ngobrol sama dia," seru Cherryl menarik tangan Clay.
"Hari ini kita naik mobil aja ya, jalanan licin."
"Hemm, lagian aku kapok kalau naik motor sama kamu," Cherryl tersenyum begitu manis pada Clay
"Astaga Cherryl semalam kau habis makan apa?" pekik Clay.
"Emangnya kenapa? aku nggak makan apa-apa," Cherryl mengerutkan keningnya.
"Tapi kamu gemesin banget hari ini," Clay mencubit kedua pipi chuby cherryl dengan gemas membuat pipi gadis itu memerah.
***
SMA HARAPAN BANGSA
Sepanjang perjalanan menuju sekolah, Clay terus menggenggam tangan istrinya. Sesekali Clay menggoda Cherryl dengan rayuan andalannya yang membuat hidung gadis itu menjadi kembang kempis.
Mobil memasuki, halaman sekolah sebelum turun kedua remaja yang sedang di mabuk cinta itu masih saja betah di dalam mobil.
"Berikan tanganmu," pinta Cherryl
"Tanganku? Untuk apa?"
"Berikan saja," Cherryl menarik paksa tangan suaminya, lalu ia mengeluarkan sebuah pena dalam tas. Ia menuliskan sebuah semangat di telapak tangan Clay, pria itu tersenyum melihat tulisan istrinya. Seolah tak mau kalah Clay juga menuliskan kata-kata yang sama hanya saja berbeda dalam satu kata.
"Turunlah, nanti aku menyusul," titah Clay, ia masih belum ingin jika orang-orang mengetahui hubungan dirinya dengan Cherryl.
"Baiklah, aku duluan. Bye suami," Cherryl terkekeh merasa geli sendiri dengan apa yang di ucapkan olehnya.
"Bye istri," timpal Clay.
Cherryl berjalan sambil menahan senyumnya, kebahagiaan tengah menyelimuti gadis berambut panjang tersebut.
Dari kejauhan Austin memandang Cherryl, hasratnya ingin menghampirinya untuk meluruskan kesalah pahaman yang telah terjadi. Tapi ia melihat keadaan gadis itu sedang terlihat cerah belum lagi hari ini akan ada ujian ia tidak ingin jika dirinya menghampiri Cherryl mood gadis itu akan hancur dan ujiannya menjadi berantakan, jadi ia memutuskan untuk menghindar terlebih dulu dari gadis itu sampai ujian sekolah selesai.
Di dalam kelas, Cherryl terus menatap telapak tangannya sambil tersenyum sendiri. Aulya yang baru saja datang langsung mengerutkan dahinya, ia heran sudah lama Cherryl tidak masuk sekolah dan kini saat kembali ke sekolah lagi sahabatnya malah terlihat seperti orang yang tidak waras.
"Hayoh loh! Lagi mikirin apa?" Aulya mengejutkan Cherryl, sampai gadis itu terperanjat.
"Ish, rese banget sih lo. Gue sampe kaget."
"Sorry..... sorry, lagian lo baru juga masuk udah mesem-mesem sendiri," sindir Aulya.
"Mikirin apa sih?"sambung Aulya.
"Kepo banget sih, lo besti," ucap Cherryl sambil mengipaskan tangannya di hadapan Aulya.
"His, enak aja semalem gue abis belajar. Mana mungkin gue bikin contekan."
"Tumben lo, mau belajar biasanya nunggu gue mikir dulu," cibir Aulya
"Emangnya lo, mau terus-terusan di contekin sama gue. Gue rajin salah gue males salah kenapa sih lo," Cherryl merajuk pada Aulya.
"Unch.... cup cup. Jangan ngambek dong bestie, gue cuman bercanda."
"Sama gue juga bercanda, ha ha ha," timpal Cherryl tertawa kencang.
"Eh, btw itu apaan sih? Kepo deh gue," Aulya menarik tangan Cherryl dan melihat tulisan yang ada di telapak tangan sahabatnya.
"Semangat ujiannya, istri.... Gila!! Gue nggak tau ini lebay atau bucin Cher," cibir Aulya.
"Hem.. bilang aja lo iri, wle," Cherryl menjulurkan lidahnya meledek Aulya.
"Cie istri... Hahaha apa kan yang gue bilang, Lo pasti bakal bucin parah sama dia."
"Iya deh iya, cenayang," Cherryl kembali meledeki Aulya sambil terkekeh.
Kedua gadis itu saling meledek satu sama lain, sambil terkekeh. Sementara itu di kelas sebelah, Clay sama halnya dengan Cherryl ia terus menatap telapak tangannya sambil tersenyum. Bedanya ketika Erick datang Clay langsung menyembunyikan tangannya dan memasang wajah datar seperti biasanya.
Bell berdering, semua siswa dan siswi kini telah masuk ruang kelasnya masing-masing. Dengan wajah tegang mereka duduk dengan rapih dan hening.
Seorang guru pengawas masuk ke dalam kelas dan membagikan lembar soal dan lembar jawaban pada semua murid, ruangan kelas begitu hening dan tentram hanya ada suara gesekan dari kertas yang di bulak balik oleh siswa.
Cherryl yang semalam sudah belajar dengan suaminya tampak khusyuk mengisi jawaban dari soal yang di berikan.
Kriiinggg.....
"Anak-anak waktu telah habis, silahkan kumpulkan lembar Jawaban kalian di meja ibu," seru guru tersebut.
Satu persatu, murid itu mulai mengumpulkan lembar jawaban dan soal yang telah di isi. Wajah mereka tampak tenang setelah mengisi soal tersebut, berbeda dengan awal masuk. Semuanya terlihat tegang dan kusut.
Cherryl dan Aulya berjalan ke kantin, mereka memesan makanan dan jus untuk mengisi perutnya yang kosong. Baru satu mata pelajaran tapi kepala Cherryl sudah tercium bau hangus.
Ting.. pesan masuk ke ponsel Cherryl
[Kau sudah makan?] Pesan dari Clay.
[Belum, aku sedang memesan,] jawab Cherryl.
[Makan yang banyak, biar pipimu semakin berisi / emot tertawa]
Ting...
[Aku tidak mau, jika pipiku semakin berisi aku akan terlihat jelek.]
Ting...
[Kau tidak akan pernah jelek, di mataku kau akan selalu terlihat cantik / emot cium]
[Hem... Dasar gombal / emot bogem]
Ting...
[Aduh.. sakit tau, kau harus bertanggung jawab hidungku berdarah / emot menangis]
[His, lebay banget / emot roll eye]
[Biarin lebay, tapi kamu cintakan sama aku."
Ting..
[ Aku mau makan dulu, bye]
Pesanpun berakhir, tanpa Cherryl sadari sejak dari tadi Aulya terus menatapnya dengan serius.
"Apa sih Al, liatnya gitu banget,"
"Nggak apa-apa, gue ikut seneng. Liat lo bahagia sama dia semoga selamanya lo terus bisa senyum kayak gini ya Cher," tutur Aulya.
"Hemm.... Thanks ya Al."
Kedua gadis itu, kini saling berpelukan. Lalu mereka melanjutkan makan siangnya sambil menggibahi cowok-cowok ganteng yang berasal dari negeri ginseng.
Hari berjalan dengan cepat, tak terasa ujian di hari pertama telah berhasil di lalui Cherryl dengan lancar. Semenjak dirinya kembali ke sekolah tak ada satupun murid yang berani bertanya atau membahas masalah mengenai dirinya yang di kurung di gudang, semuanya sudah di beri tahu oleh Austin untuk tidak membahas hal itu di hadapan Cherryl guru itu takut jika permasalahan tersebut dapat menyebabkan Cherryl trauma.
Saat akan pulang, seorang murid perempuan menghampiri Cherryl dan mengasongkan sebuah surat ke tangan Cherryl. Surat itu berisi permintaan maaf, saat cherryl bertanya dari siapa surat itu? Murid itu hanya mengangkat kedua bahunya lalu pergi meninggalkan Cherryl dan Aulya yang sedang membereskan isi tasnya.
Kedua gadis itu saling menatap, tak ingin ambil pusing Cherryl meremas surat tersebut dan membuangnya ke tempat sampah. Merekapun keluar dari kelas sambil tertawa riang, sampai di depan gerbang karena jemputan Cherryl sudah tiba mereka pun berpisah.
Cherryl melambaikan tangannya pada Aulya, padahal besok juga bakal bertemu lagi tapi mereka selalu saja seperti itu seolah-olah esok tak akan berjumpa lagi.
.
.
.
Bersambung...