Wedding Secrets

Wedding Secrets
flashback bagian 3: Awan putih



"Ekhem... Kau sedang menguping," Kevin berdeham mengejutkan Rosa.


"T-tidak,"jawab Rosa gugup. Ia terlihat seperti baru ketahuan mencuri.


"Lalu, apa yang sedang kau lakukan di sini? Jika tidak sedang menguping," cecar kevin


"A-aku," gadis itu gugup lalu pergi ke dalam rumah.


Kevin menatap tak suka pada gadis itu, gerak geriknya terlalu mencurigakan baginya.


Dokter muda itu menghampiri Grace dan Kakek Darmo yang masih mengobrol di bawah pohon rindang, pria itu memasangkan mantel ke bahu Grace.


Grace menatap ke arah Kevin, senyuman manis dari sang dokter membuat jantung Grace berdebar.


"Terimakasih," ucap Grace pada Kevin. Pria itu hanya mengangguk kecil.


"Jadi, kapan kita akan membawa Tuan Muda pulang?" Tanya Kevin pada Grace.


"Apa kondisinya, sudah memungkinkan untuk di bawa pulang?" Grace balik bertanya pada Kevin.


"Kondisi Tuan sudah stabil, kita bisa membawanya hari ini." Pungkas Kevin.


"Sebentar lagi gelap, apa tidak sebaiknya kalian kembali besok saja... Arus sungai Ceratophyllum di jam-jam malam sangat bahaya," saran kakek Darmo.


Wajahnya terlihat sedih, saat ia mendengar orang-orang itu akan membawa Jiang pulang. Meskipun dirinya dan Jiang belum kenal terlalu lama tapi, Jiang sudah kakek Darmo anggap seperti anak sendiri.


Sikap Jiang yang rajin membantu dan tak banyak bicara membuat kakek Darmo sayang pada Jiang dan merasa tak rela jika pemuda itu pergi dari rumahnya, akan tetapi kakek juga tak dapat menghalangi orang-orang itu ia juga sadar jika di setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan.


Namun di sisi lain ia juga memikirkan perasaan putrinya, gadis itu pasti akan sangat sedih jika tahu pria yang di sukainya akan kembali ke tempat asalnya.


"Kakek tidak usah khawatir, kami sudah menyiapkan helikopter untuk membawa Tuan Clay pulang," tutur Grace.


Kakek Darmo sangat tercengang, ia jadi berpikir seberapa kayanya Jiang? Sampai mereka akan mendatangkan helikopter ke hutan ini.


"Kalau memang itu keputusan kalian, kakek tidak bisa mencegah lagi," pungkas kakek Darmo menganggukkan kepalanya kecil.


Grace masuk ke dalam rumah untuk melihat Clay, ia terkejut dengan tingkah Rosa yang sedang menyentuh tubuh bosnya.


"Hei! Apa yang kau lakukan?" Sentak Grace mendorong Rosa menjauh dari Clay.


"A-aku hanya membantunya untuk membersihkan diri," jawab Rosa tertunduk.


Garce menatap tajam ke arah Rosa."Jangan pernah berani menyentuh Tuan Muda lagi! Kau paham?"


Gadis itu mengangguk kemudian pergi meninggalkan Grace dan juga Clay di kamarnya.


Gadis itu melemparkan wadah berisi air di hadapan ayahnya, ia terlihat sangat kesal.


"Putri ayah kenapa? Datang-datang langsung marah-marah," ujar kakek Darmo yang sedang membenahi alat pancingnya.


"Rosa sebel deh Yah sama perempuan itu," dengus Rosa, menghentakan kakinya.


"Nona Grace?"


Rosa mengangguk.


"Ada apa dengannya?"


"Aku kan lagi ngelap Jiang, tiba-tiba dia datang dorong aku terus dia marah katanya aku nggak boleh nyentuh Jiang lagi," omelnya pada kek Darmo.


"Rosa, wajar jika Nona Grace marah. Apa kau tahu? Jiang itu bukan orang sembarangan seperti kita... Nona Grace hanya ketakutan jika Jiang kenapa-kenapa."


"Maksud ayah?"


"Ayah juga tidak mengerti tapi yang pasti Jiang adalah orang penting di kota, jadi kamu harap maklumi sikap Nona Grace," kek Darmo mengusap kepala putrinya.


"Jadi Jiang itu orang kaya? Wah hebat... Kalau aku bisa dapetin Jiang aku pasti akan pindah ke kota dan hidup enak di sana," gumam batin Rosa, seringai muncul di sudut bibir gadis itu.


***


Malam hari, Clay masih belum sadarkan diri. Tapi Grace sudah menyiapkan helikopter untuk membawa Clay kembali ke kota Edelweis.


Dengan bantuan tim medis yang lain, Kevin mulai menaikan Clay ke atas helikopter. Grace pulang lebih dulu sementara Kevin dan yang lain memutuskan untuk pulang besok dengan Speedboatnya.


Rosa menatap sedih kepergian Jiang, belum sempat ia menyatakan cintanya pada pemuda itu, tapi orang-orang tersebut sudah membawanya pergi.


***


Mansion Primrose.


Di ruangan penuh fasilitas canggih, Clay masih terbaring lemah akibat obat bius yang di berikan oleh Kevin pasca operasi. Grace dan salah satu orang kepercayaannya dengan setia menunggu pemuda itu sampai siuman.


Keesokan harinya, Clay mulai siuman. Grace dengan cepat memanggil dokter kepercayaan keluarga Dhanuendra yang di tugaskan untuk memantau kesehatan Clay.


Dokter itu memeriksa keadaan Clay dengan teliti.


"Siapa kau?" Tanya Clay, tak mengenali dokter Reza.


"Tuan, ini saya Reza," jawab sang Dokter


"Reza? Reza siapa? Kalian siapa? Aku di mana?" Tanya Clay bingung, ia melihat ruangan di sekitarnya.


"Mana kakek Darmo? Di mana kakek Darmo!" Teriak Clay mencari keberadaan orang yang telah menolongnya.


"Tuan tenanglah dulu, sekarang anda sudah di rumah,"ujar Grace.


"Rumah siapa? Aku mau pulang... Aku mau ke rumah kakek Darmo." Clay turun dari ranjangnya dan melepaskan jarum infus dengan sembarang.


Namun kakinya yang sakit setelah operasi membuatnya terjatuh, dokter Reza dan bodyguard membantu Clay kembali ke atas ranjang. Demi kenyamanan Clay dokter Reza terpaksa menyuntikan obat bius padanya.


Dokter Reza menggelengkan kepalanya, lalu menatap ke arah Grace.


"Kenapa Om?"


"Clay mengalami amnesia, dan kita tidak tahu kapan dia akan kembali pulih."


"Kakek Darmo sebelumnya mengatakan itu padaku, apa ada cara untuk mengembalikan ingatan Tuan Clay dengan cepat? Sebab kita tidak bisa menjalankan rencana jika Tuan tidak mengingat siapa dirinya."


"Kita coba saja secara perlahan, mulai dari anggota keluarganya."


Grace menganggukan kepalanya, setuju dengan saran omnya itu.


Sore hari, Clay duduk di atas ranjangnya menatap kosong ke arah jendela. Jendela polos yang menampilkan pemandangan awan putih dan langit yang biru, seketika awan-awan itu berubah menjadi wajah seorang gadis.


Ya, gadis yang tempo hari ia lihat di atas air. Perlahan awan itu berubah menjadi sepasang kekasih yang sedang berdansa dengan mesra di atas langit yang biru.


Sebuah senyum terukir di sudut bibir Clay."Siapakah gadis itu? Kenapa wajahnya selalu muncul dalam benakku?" Gumam Clay penasaran.


Ia membuka laci yang ada di samping tempat tidurnya, kebetulan di sana ada kertas dan juga pulpen. Clay mulai melukis wajah tersebut, paras cantik yang selalu mengganggu pikirannya.


"Cantik," pujinya pada lukisan buatannya.


"Kenapa rasanya tidak asing? Wajah ini seperti familiar dalam hidupku."Clay menatap lukisan tersebut, kepalanya mulai terasa sakit lagi.


Grace masuk ke kamar clay dengan membawa album photo keluarga di tangannya.


"Tuan, anda kenapa?" Grace menghampiri Clay yang sedang meringis.


"Kepalaku rasanya sakit sekali," ringis Clay menyentuh kepalanya.


Grace melihat kertas yang ada di samping Clay, ia mengambil dan melihatnya.


"Ini kan Nona Cherryl, apa tuan muda sudah pulih?" Gumam batin Grace.


"Apa kau mengenal gadis itu?" Tanya Clay, sembari menahan rasa sakit.


Wanita itu membuka album photo, ia menunjuk ke arah Poto pengantin wanita yang sedang berdiri di samping Clay.


"Apa maksud tuan, wanita ini?"


"Kenapa dia memakai baju pengantin? Dan apakah ini aku?" Clay mengerutkan keningnya tidak mengerti maksud dari Poto itu apa.


"Tuan, ini adalah Nona Cherryl istri anda." Grace mengenalkan satu per satu anggota keluarga Clay.


"Apa! Istri... Jadi Jiang sudah menikah," bisik Rosa di balik pintu kamar Clay.


Sebelum dokter Kevin pulang, ia memeriksa kondisi kakek Darmo terlebih dulu karena hasil pemeriksaan darah kakek tinggi jadi Kevin membawanya ke mansion untuk pemeriksaan lebih lanjut lagi dan kebetulan juga karena Clay terus memanggil nama kakek Darmo jadi Grace mengijinkan dokter muda itu untuk membawa kakek Darmo beserta putrinya.


Rosa mengikuti Grace dari belakang secara diam-diam, niat hati mengejutkan pria yang di cintainya yang ada malah Rosa sendiri yang di buat terkejut oleh pernyataan Grace.


.


.


.


Bersambung.