
Pria itu berjongkok di hadapan istrinya yang sedang terbaring, perlahan ia mengusap pipi Cherryl yang basah.
"Bangunlah, katakan padaku apa yang membuatmu menangis?"
Gadis itu tak merespon pertanyaan suaminya, ia terus menutup kedua matanya. Ia juga bingung apa yang mesti ia katakan pada Clay, tidak mungkin juga ia mengatakan jika dirinya sakit hati melihat Austin bersama wanita lain. Sama saja dengan dirinya menggali kuburannya sendiri.
"Baiklah, jika tidak ingin bercerita. Aku akan pergi," ujar Clay. Karena istrinya terus diam lama-lama berdiam diri di kamar itu hanya membuat dirinya kepanasan apalagi ia melihat Cherryl mengenakan piama yang begitu tipis. Ia pun memutuskan untuk keluar dari kamar tersebut.
Cherryl mengintip Clay, dari sudut matanya. Ia melihat pakaian suaminya begitu formal karena penasaran iapun bangun dan bertanya habis dari mana dia memakai stelan jas seperti itu.
"Clay, kamu dari mana?"
Pria itu membalikan lagi tubuhnya, dan menghampiri Cherryl.
"Dari kantor, kenapa?"
"Kantor? Ngapain?" Cherryl mengerutkan dahinya.
"Ada client yang ingin bertemu denganku. Jadi aku menemuinya," jawab Clay. Ia melonggarkan dasi dan membuka beberapa kancing kemejanya membuat gadis yang sedang duduk di atas ranjang jadi merinding.
"Kenapa mereka ingin bertemu denganmu?" Cherryl kembali melontarkan pertanyaan, sambil menelan ludahnya saat melihat dada Clay yang sedikit terbuka.
"Oh ya.. aku lupa, tidak memberi tahu padamu. Jika aku sekarang sudah menjabat sebagai CEO di kantor papi, jadi untuk kedepannya aku pasti akan sibuk."
"CEO?" Cherryl terkejut dengan apa yang di katakan oleh suaminya barusan.
"Iya, aku harap kau bisa merahasiakan ini dari anak-anak di sekolah."
"Kenapa? Bukankah itu hal yang bagus mereka pasti bangga punya teman seperti mu, masih muda tapi sudah menjabat sebagai CEO di perusahaan."
"Aku bukan tukang pamer seperti mu," sindir Clay pada Cherryl dengan nada mencibir,
"Aku lebih nyaman dengan identitas ku sebagai murid biasa, di situ aku bisa tau mana teman yang benar-benar tulus dan mana teman yang hanya memanfaatkan ku saja," sambung Clay.
Gadis itu, hanya mengangguk mendengar penjelasan dari suaminya.
"Sekarang katakan, kenapa kamu menangis?" Clay mengulang pertanyaannya yang awal.
"A-aku... Aku hanya merindukan Mama," jawab Cherryl mengasal. Memang benar ia merindukan ibunya, tapi yang di tangisi bukanlah Mama Dewi.
Clay menarik napasnya dalam, ia menghampiri Cherryl dan memeluknya. Kali ini Cherryl tak menolak pelukan dari suaminya, gadis itu kembali merasakan jantung yang berdegup kencang ketika Clay memeluknya.
"Jangan menangis lagi, besok aku akan menelpon Mama untuk datang ke sini," Clay mengusap punggung istrinya agar Cherryl bisa sedikit tenang namun bukan ketenangan yang di rasakan oleh gadis itu saat Clay mengusapkan jari-jari di punggungnya gadis itu merasa mulai meremang.
Clay melepaskan pelukannya, ia menyentuh luka bekas cakaran Tiara di wajah Cherryl.
"Apa ini sakit?"
"Tidak, itu hanya luka kecil," Cherryl memundurkan wajahnya, karena mulai terasa panas dingin ketika di sentuh Clay.
"Maaf, ini semua salahku. Karena aku, wajahmu jadi terluka," lirih Clay, terlihat sebuah penyesalan dari wajahnya.
"Tak apa, semuanya sudah terjadi. Dia hanya cemburu saat melihat pria yang di cintainya berboncengan dengan wanita lain," ujar Cherryl, yang sedikit mencurahkan isi hatinya yang sekarang sedang cemburu juga pada Austin.
"Kenapa kamu nggak terima saja dia?Tiara kan cantik, dia juga wakil OSIS di sekolah. Sepertinya dia sangat mencintaimu juga," cetus Cherryl.
"Tidurlah, ini sudah malam," titah Clay, ia enggan membahas Tiara yang sama sekali tidak membuatnya tertarik sedikitpun.
Mendengar jawaban ketus dari Clay, Cherryl hanya menjawab singkat.
"Hemm."
Cup.
Tanpa aba-aba Clay, mendaratkan kecupan singkat di kening Cherryl membuat gadis itu langsung mematung di atas tempat tidurnya. Karena tidak ada lagi yang mau di bicarakan Clay meninggalkan kamar istrinya sambil tersenyum tipis.
***
Pagi hari, Cherryl sudah terlihat rapih. Efek kecupan singkat dari suami membuat gadis itu tak bisa tidur semalaman, jadi pagi ini bi Arum dan Miss Nina tidak perlu repot menggedor pintu kamar Cherryl.
Ia duduk di meja makan, menikmati sarapan paginya yang di siapkan oleh bi Arum. Cherryl sedang enak menikmati sarapannya Miss Nina malah datang menganggu ketenangan hatinya.
Plak...
Tongkat kayu berhasil menciptakan lukisan merah di tangan, Cherryl.
"Aw..." Cherryl mengusap tangannya yang terasa perih dan panas, ia menatap tajam pada Miss Nina yang telah memukul lengannya.
"Sarapan yang benar, cara anda menggunakan peralatan makan itu salah nona," tegur Miss Nina ketus.
"Berani sekali kau menyakiti majikanmu sendiri Nina!" Sentak bi Arum yang juga ikut terkejut saat melihat Miss Nina dengan ringan, memukul lengan istri majikannya.
"Jangan ikut campur ya bi, saya sedang mengajarkan nona muda. Bagaimana caranya menggunakan peralatan makan dengan benar."
"Tapi tidak seperti itu caranya, Nina."
"Ada apa ini?" Sahut Clay, yang baru saja turun. Pagi-pagi ia sudah menyaksikan keributan di rumahnya.
"Anu tuan-," ucapan bi Arum terhenti karena Miss Nina menginjak kaki bi Arum agar menutup mulutnya. Untuk tidak mengadu.
Clay melirik pada istrinya, manik matanya terlihat berkaca-kaca. Ia juga melihat Cherryl sedang memegangi lengannya.
Ia menghampiri istrinya, dan menarik lengan Cherryl. Matanya langsung melotot ketika melihat tangan istrinya yang merah bekas pukulan.
"Siapa yang melakukan ini?" Tanya Clay, tanpa melihat kedua asisten rumah tangganya.
Kedua orang itu tertunduk, tak ada yang menjawab pertanyaan Clay.
"Aku tanya! siapa yang melakukan ini!" Teriak Clay membuat Cherryl dan kedua asisten rumah tangganya terhenyak.
Untuk pertama kalinya mereka melihat amarah dari seorang Clayton Alexander Dhanuendra,pria dingin yang tidak banyak bicara itu terlihat sangat marah saat melihat istrinya terluka.
Clay, menepis tangan Miss Nina yang menyentuh kakinya. Ia ingin memecat wanita itu sekarang juga tapi istrinya mencegah karena Cherryl merasa kasihan pada Miss Nina yang harus membiayai ibunya yang sedang sakit.
Beberapa saat kemudian, setelah kepergian Clay. Miss Nina mendapatkan sebuah telpon terdengar suara wanita di balik telpon itu memaki dirinya dengan kasar.
"Dasar bodoh! Tidak berguna! Tidak bisakah kau mengerjakan pekerjaan mu dengan benar!"
"M-maafkan saya nyonya, saya hanya memberikannya sedikit pelajaran."
"Tindakanmu terlalu gegabah Nina! Jika sampai misimu gagal, aku tidak segan untuk membunuh ibumu yang sedang terbaring di rumah sakit!"
"Tidak nyonya... Saya mohon jangan sentuh ibu saya. Saya berjanji akan lebih berhati-hati lagi."
"Aku beri kau satu kesempatan. Sekali lagi kau membuat kesalahan, jangan harap besok kau bisa melihat ibumu lagi!"
Tuuuttttt.....
Panggilan terputus secara sepihak.
"Sial," desis Miss Nina. Ia meremas rambutnya dengan frustasi.
*****
SMA HARAPAN BANGSA.
Aulya, terus memperhatikan wajah Cerryl yang berseri-seri. Sejak datang ke sekolah Cherryl tak berhenti mengingat kecupan yang di layangkan oleh suaminya, sepertinya kecupan itu begitu terkesan untuk Cherryl.
"Sepertinya ada yang habis... Ekhem ni," sindir Aulya.
"Al, gue rasa otak lu bener-bener udah kotor deh."
"Hahaha... Ya habisnya gue perhatiin dari tadi lu senyum-senyum terus, jangan bilang lo mulai jatuh cinta sama si esbatu itu," seru Aulya.
"Ish, mana mungkin sampai kapanpun gue nggak bakal jatuh cinta sama cowok rese kayak dia."
"Hati-hati loh cherr, entar lo malah bucin sama dia. Lo inget nggak? dulu gue pernah bilang ntar lu jodoh sama dia, buktinya sekarang kenyataankan. Jangan sampe ucapan gue terjadi lagi ntar lo bucin parah sama dia," tutur Aulya terkekeh.
"Sorry ya, nggak akan pernah," Cherryl memutar bola matanya ke sembarang arah, " Oh iya gue lagi sebel deh sama Miss Nina," sambungnya wajah gadis itu langsung berubah menjadi masam ketika mengingat wanita yang sudah berani memukulnya.
"Miss Nina? Siapa dia?"
"Itu.. guru yang sengaja di datengin buat ngajarin gue katanya biar gue jadi wanita yang berkelas cih. Emangnya sekarang gue nggak berkelas gitu," gerutu Cherryl kesal.
"Coba, sini gue perhatiin," Aulya membulak balikan tubuh Cherryl. Ia menatap sahabatnya dari atas sampai bawah.
"Hemm.... Menurut gue lo udah sempurna. Cuman sayang Lo suka ngomel," celoteh Aulya.
"Sialan lo," umpat Cherryl kesal.
"Emangnya kenapa Sama.. siapa tadi?"
"Miss Nina," ketus Cherryl.
Aulya mengangguk.
"Nih Lo liat," Cherryl membukakan lengan bajunya. Ia memperlihatkan beberapa luka lebam yang ada di tangannya.
"Astaga Cher! Ini kenapa?" Aulya terkejut, saat melihat luka-luka lebam di tangan sahabatnya.
Cherryl menarik napasnya panjang.
"Setiap gue bikin kesalahan dia pasti langsung mukul gue, pake tongkat kayu yang selalu dia bawa-bawa. Mana mukulnya keras lagi," ujar Cherryl, ia bercerita dengan geram.
"Terus suam...eh maksud gue dia tau kalau si Miss Nina itu kasar sama lo?"
"Tau, tadi dia mau pecat tuh cewek tapi nenek lampir itu mohon-mohon sama dia buat nggak di pecat. Ngomongnya sih kalau dia di pecat dia nggak bisa obatin lagi ibunya yang lagi di rumah sakit, karena gue kasian sama dia jadi gue minta sama Clay buat nggak mecat Miss Nina."
"Ya ampun Cher, gue baru tau hati lo sebaik malaikat. Udah di sakitin lo masih aja maafin orang jahat itu," Aulya memuji kebaikan sahabatnya tersebut.
Karena beberapa hari lagi akan di adakan ujian, jadi hari ini dan beberapa hari kedepan kelas dua belas di bebaskan dari pelajaran. Sebenarnya bukan di bebaskan melainkan untuk mempelajari kembali materi yang sudah berikan oleh guru-guru mereka selama satu tahun jadi Cherryl dan Aulya bebas mengobrol.
***
Jam istirahat, pak Austin sedang mengobrol dengan salah satu muridnya. Kebetulan Cherryl lewat di depannya, ia menatap heran pada Cherryl biasanya gadis itu akan menyapanya. Tumben sekali hari ini dia melewati dirinya begitu saja.
Bahkan pesan WhatsApp nya, dari semalam tidak ia baca. Pak Austin pun memanggil Cherryl tapi gadis itu hanya meliliriknya sekilas lalu pergi.
"Eh, ada apa dengannya?" Gumam Austin sembari mengerutkan dahi.
***
Ruangan pak Austin.
Atas perintah pak Austin, Tiara sedang sibuk merapikan buku-buku tugas. Ia memperhatikan gurunya yang sedang duduk, wajahnya terlihat sangat gusar. Tanpa mengucapkan sepatah kata, pak Austin pergi meninggalkan ruangan itu.
Tiara melihat ponsel milik pak Austin yang tergeletak di atas nakas, sambil melihat situasi ia berjalan ke arah meja tersebut dan mengambil ponsel milik gurunya.
Ia menyalakan ponsel itu, sebuah kebetulan yang memudahkan Tiara melancarkan aksinya. Ia mencari kontak Cherryl dan mengetik sebuah pesan singkat setelah terkirim, Tiara langsung menghapus nya agar tidak di ketahui oleh pemilik ponsel tersebut.
Ting....
Cherryl mengecek ponselnya, sebuah pesan dari pak Austin yang membuat Cherryl bertanya-tanya.
.
.
.
Bersambung...