
"Hentikan! Berani kau memukulnya aku akan membunuhmu!" ancam wanita bercadar pada bodyguard gondrong, perempuan itu berjalan dengan kedua kakinya.
Clay terkejut saat melihat wanita bercadar itu, bukankah itu ibunya Tiara? Dia bisa berjalan dan bicara? Jadi selama ini yang meneror keluargaku dan yang membunuh Mamy adalah ibunya Tiara. Pemuda itu menatap tak percaya pada wanita yang kini duduk di sebuah kursi yang sudah di siapkan oleh bodyguard tadi.
"Kau!" Ucap Clay dengan dada yang menggebu-gebu.
"Kenapa? Kau terkejut," ujar wanita bercadar sembari tersenyum licik.
"Bukankah kau bisu dan tuli, kenapa kau-," Clay menggantung ucapannya dan mengerutkan dahinya, ia jadi teringat jika wanita yang ada di Poto waktu lalu ia temukan di ruang rahasia papi Gerald, dari sudut mata keduanya terlihat sangat mirip.
"Hahaha, sepertinya acting ku cukup bagus sampai bisa mengelabui banyak orang," wanita itu tertawa merasa puas karena telah berhasil menipu banyak orang dengan berpura-pura lumpuh.
Clay menatap tajam wanita tersebut, oh jadi ini wanita yang bernama Helen itu. Ia tidak menyangka jika pembunuh dan peneror itu adalah orang yang familiar, pantas saja dia tahu banyak hal mengenai dirinya ternyata penjahat itu adalah ibu dari temannya sendiri.
"Kenapa kau membunuh ibuku? Kenapa kau tak membunuhku saja?" Ucap Clay yang tak melepaskan tatapan tajamnya.
"Bukan tidak, tapi belum. Aku harus membunuh ayahmu terlebih dulu setelah ayahmu mati... Berikutnya kau dan adikmu lalu..."
Wanita itu bangkit dari duduknya, dan berjalan kehadapan Clay kemudian wanita itu berbisik.
"Istrimu," bisik Helen menyeringai.
"Tidak! Berani kau menyentuh keluargaku lagi aku akan membunuhmu!" Teriak Clay, matanya memerah ia berusaha melepaskan ikatan di tubuhnya namun hasilnya sia-sia tubuhnya terlalu lemah untuk bisa membuka ikatan kencang tersebut.
"Hahaha lihatlah dirimu, membuka ikatan tali saja tidak bisa tapi kau ingin membunuhku," cibir Helen menertawakan Clay yang sedang lemah.
"Dasar wanita bia*dab, wanita ib*lis aku tidak akan mengampunimu!" Clay kembali berteriak geram pada wanita yang ada di hadapannya.
"Ssttt, tenanglah nak. Jangan membuang tenaga simpan tenagamu untuk nanti menangisi jasad ayahmu."
"Kau wanita iblis! Apa salah keluargaku? Sampai kau melakukan hal ini hah! Kau membunuh orang yang tak berdosa dan menyakiti orang-orang yang tidak tahu apapun tentang masalahmu."
"Apa salah keluargamu? Apa kau tidak tahu nak, ibu mu tercinta sudah merebut suamiku dan ayahmu sudah merenggut nyawa ayahku, suami bahkan calon putraku yang belum terlahir ke dunia....apa itu yang kau sebut dengan orang tanpa dosa?"
"Bukan ibuku yang merebut suamimu, tapi kau yang sudah merebut suami ibuku terlebih dahulu! Kau yang sudah menghancurkan kebahagiaan ibuku!"
"Kau tak hanya merenggut kebahagiaan ibuku, tapi ayahmu juga yang sudah membunuh mendiang kakekku! Kau yang bersalah nyonya Helen dan kau pantas mendapatkan semua kepedihan ini.... Seharusnya kau berkaca diri bukan menuntut balas dendam seperti ini," Clay terus mencecar wanita itu tanpa henti.
Wanita itu menutup kedua telinganya merasa frustasi dengan pernyataan pemuda yang ada di hadapannya.
"Diam!!!!" Teriak Helen, suaranya sampai terdengar ke luar gudang, dan para bodyguard yang mendengar teriakan Helen langsung menghampirinya, mereka bersiap menghajar Clay tapi wanita itu melarangnya.
"Kenapa? Kau tak terima dengan semua kenyataan ini... Kau ingin membunuhku? silahkan bunuh aku tapi jangan pernah kau menyentuh ayah, adik dan juga istriku!" Clay menantang wanita itu.
"Dasar anak kurang ajar!"
Plak...
Wanita itu menampar wajah Clay, berharap tawanannya termakan ucapannya namun kenyataannya Clay sudah mengetahui semua tentang masalalu dirinya dengan keluarga pemuda tersebut.
"Haha, apa kau pikir aku tidak tahu tentang masalahmu dengan keluargaku... Sebelum ibuku meninggal dia sudah menceritakan semuanya, aku tidak akan termakan oleh hasutanmu," Clay tertawa cukup keras membuat wanita dengan mental lemah seperti Helen tertegun.
Wanita itu terlihat kesal, niatnya membuat putra dari musuhnya terkena mental akan tetapi malah sebaliknya Helen sendirilah yang terkena mental oleh semua ucapan Clay.
"Dasar kau bocah menyebalkan! Seharusnya aku membiarkanmu mati dari awal," wanita itu mengacungkan pistol tepat di kepala Clay.
"Heuh, silahkan bunuh saja aku sekarang tapi akan aku pastikan sebelum aku mati kaulah yang akan mati lebih dulu."
Emosi Helen sudah berada di atas ubun-ubun, ketika ia hendak menarik pelatuk pistol salah seorang penjaga keamanan berlari ke arah Helen dan memberitahunya jika pertahanan mansion telah berhasil di robohkan oleh sekertaris tuan Gerald.
Helen yang mendengar kabar itu langsung memberi perintah pada semua anak buahnya untuk membawa putra musuhnya ke arah hulu sungai dan sesegera mungkin meninggalkan mansion.
Brak...
Sekertaris Rendi menendang pintu gudang dan mencari keberadaan tuan mudanya.
"Cari ke setiap sudut ruangan yang ada di sini," titah sekertaris Rendi pada anak buahnya.
"Sekertaris Rendi, sepertinya mereka berhasil melarikan diri," ucap salah seorang anak buahnya yang melihat pintu belakang terbuka.
"Sial!.... Tarik kembali semua pasukan, aku yakin mereka baru keluar dari mansion ini."
"Baik sekertaris," pria bertubuh kekar itu memanggil semua bawahannya untuk mengejar pemilik mansion ke arah yang telah di tunjukan oleh sekertaris Rendi.
Sekertaris Rendi kembali mengejar Helen dan para bawahannya, namun sayang saat di pertengahan hutan ia kehilangan jejak wanita tersebut.
"Baik," jawab bodyguard serentak.
Di saat Sekertaris Rendi sedang sibuk mencari keberadaan Helen dan putra bosnya, di sisi lain papi Gerald, Queenara dan Cherryl sedang terlihat panik ketika mendapatkan sebuah pesan yang membuat mata mereka nyaris meloncat dari tempatnya.
Papi Gerald terlibat perdebatan dengan Nara yang keukeuh ingin ikut menyelamatkan kakaknya, sementara papi Gerald khawatir jika itu hanya jebakan yang dapat membahayakan nyawa putrinya.
Dan terpaksa papi Gerald mengurung Nara di ruangan rahasianya yang tidak dapat di ketahui oleh siapun, kecuali Clay.
Begitu juga dengan Cherryl setelah mendapat pesan mengerikan, ia langsung memakai jaket dan menyambar kunci mobil yang ada di atas nakas ruang tamu.
"Ryl kamu mau kemana?" Tanya Mama Dewi, melihat putrinya pergi dengan tergesa.
Gadis itu mengabaikan panggilan ibunya, dan melesatkan mobilnya dengan kencang.
Mama Dewi yang khawatir langsung memanggil papa Cestaro untuk mengikuti Cherryl.
"Clay bertahanlah aku akan menyelamatkanmu," gumam Cherryl yang menyetir mobil dengan kecepatan tinggi.
****
Sungai kenanga.
Di sebuah jembatan Clay tampak tergantung hanya dengan seutas tali yang hampir putus sekali saja tali itu terkena gesekan Clay bisa langsung tercebur ke dalam sungai tersebut, luka-lukanya kembali mengeluarkan darah segar setelah mendapatkan penyiksaan dari anak buah Helen saat dirinya hendak melarikan diri.
"Pemandangan sungai kenanga lebih indah bukan, jika di lihat dari atas," ucap Helen pada Clay yang sedang tak berdaya di atas jembatan.
"Air yang begitu jernih berwarna biru, dengan arus cukup kuat membuat siapapun yang hanyut ke dalamnya tak akan bisa selamat...apa kau ingin mencobanya tuan muda?" sebuah senyum licik muncul di sudut bibir Helen.
" Baiklah, jika kau memang ingin mencoba seberapa dalamnya sungai ini aku akan mengabulkan tapi sebelum itu... Aku akan membiarkanmu menyaksikan kematian dari orang-orang yang kau cintai dulu," wanita itu tertawa sangat keras, dan Clay hanya bisa pasrah dengan keadaan saat ini.
"Maafkan aku Mom, aku telah gagal menjadi anak yang berbakti dan aku gagal melindungi papi dan Nara," lirih batin Clay, sekujur tubuhnya telah mati rasa. Bahkan penglihatannya sudah mulai kabur dan pendengarannya pun sudah tak dapat berfungsi lagi.
"Clay!" Teriak papi Gerald yang berlari ke arah putranya yang sedang mengantung tak berdaya.
"Diam di tempat atau anak buahku akan menembak tali yang mengikat putramu sampai putus," ancam Helen. Matanya melotot saat melihat kedatangan musuhnya.
"Sudah aku duga ternyata memang kau yang sudah membunuh istriku, dasar kau wanita berhati iblis!" Umpat papi Gerald.
"Wanita berhati iblis hahaha," wanita itu tertawa lalu menatap tajam pria yang sedang berdiri dengan gagah di hadapannya.
"Jika aku berhati iblis lalu apa yang pantas untuk menyebutmu... Kau pria berhati malaikat karena sudah membantu banyak orang dengan membunuh ayahku begitu, cih,"
"Aku kehilangan orang yang sangat aku cintai dalam hidupku, dan kau juga harus merasakan apa yang aku rasakan saat ini, tuan Gerald," wanita itu menggertakan giginya.
"Kau gila Helen! Seharusnya kau itu sadar siapa yang telah memulai konflik terlebih dahulu, ayahmu itu orang yang jahat dia juga telah membunuh ayahku dan ratusan orang-orang yang tak bersalah dan dia pantas mendapatkan hukuman mati seperti itu," timpal papi Gerald.
"Tidak! Ayahku tak sejahat itu! Ayahku telah di jebak olehmu hanya karena kau menginginkan kedudukan di negara ini kau sampai memfitnah ayahku membunuh banyak orang... Apa kau tahu ayahmu mati karena ulahnya sendiri bukan karena ayahku!" Manik mata Helen berubah menjadi merah, emosinya mulai menguasai diri Helena.
" Untuk apa aku mefitnah ayahmu hanya karena sebuah kekuasaan? Justru ayahmu yang melakukan hal kotor seperti itu, hanya karena sebuah kritikan yang menyudutkannya ayahmu sampai tega membunuh seorang ayah yang harus menghidupi ketiga anaknya... Hanya karena kekuasaan, ayahmu sampai menculik seorang ibu yang berani melaporkan usaha ilegalnya... Dan hanya karena kekuasaan dia membunuh ratusan karyawannya yang berani memprotes soal upah yang kecil... Apa kau tahu betapa menyedihkannya keluarga mereka karena ulah ayahmu?"
"Apa kau tahu? Setiap malam anak-anak dari korban kekejaman ayahmu itu menangis karena kelaparan bahkan mereka sampai menghabiskan waktunya untuk mencari keberadaan orang tuanya yang telah meninggal, mereka menggantungkan hidupnya pada ayah ibu mereka dan hanya karena mereka menuntut hak, dalam hitungan detik ayahmu tega membunuh orang yang telah membantu menjalankan bisnis haramnya!"
"Harusnya kau sadar Helen, ayahmu itu orang yang keji dan apa kau tahu? Karena ulah ayahmu yang membunuh ayahku ibuku juga tewas dalam keadaan mengenaskan...dan sebelum ibuku tewas, ayahmu datang lebih dulu ke rumahku dan meminta untuk menikah dengannya. Karena ibuku menolak dia sampai tega merenggut nyawa wanita yang saat itu sedang mengandung," lirih Gerald bayangan tentang ibunya yang sedang terkapar dengan leher nyaris putus di ruang tamu kembali terlintas.
"Dan mengenai suami juga putramu yang meninggal, itu bukan salahku atau salah Valerie itu sudah jelas karena ulah kalian sendiri. Seandainya kalian bisa hidup damai tanpa menganggu keluargaku mungkin kalian akan hidup bahagia, jadi aku mohon lupakan semuanya hentikan pembalasan dendam ini Helena lepaskan putraku jika kau melepaskan putraku aku berjanji tidak akan memasukan mu ke dalam penjara," papi Gerald perlahan berjalan menuju arah Helen, yang sedang termenung.
Wanita itu kembali memikirkan ucapan yang di utarakan oleh musuhnya, mungkin memang benar selama ini dirinya yang salah. Jika saja saat itu ia menuruti ucapan mendiang sangayah untuk pergi dari kota Edelweis saat ini ia akan hidup bahagia bersama keluarga kecilnya.
Tapi rasa sakit hati karena kehilangan suami dan putranya secara bersamaan, membuat Helen merasa menjadi korban kekejian Gerald. Sehingga ia memutuskan untuk menuntut dendam pada keluarga Dhanuendra.
Namun sayang api dendam terlanjur membara di hati Helen, sehingga ia tetap membulatkan tekadnya untuk menghabisi keluarga Dhanuendra. Begitu papi Gerald berada tepat di hadapannya wanita itu mengeluarkan belati dari balik punggungnya dan menancapkan belati itu di dada papi Gerald.
Tak lama dari itu, suara letusan dari senjata api turut terdengar saling bersahutan dan memakan banyak korban.
.
.
.
Bersambung...