
Gadis itu tersentak, saat melihat orang yang ada di hadapannya. Rupanya pria itu adalah orang yang sama saat ia temui di pesawat.
"Cih, seharusnya aku tahu jika orang itu adalah dia," decak batin Cherryl sebal.
Masih dengan masker dan topi yang menutupi wajahnya, pria itu kembali mengulangi tawarannya pada Cherryl.
"Jadilah istriku, maka aku akan memberikan tanda tangan itu," pintanya dengan enteng.
"Maaf, tuan tapi saya sudah menikah." Cherryl mengacungkan tangannya dan memamerkan cincin pernikahan berhias berlian yang di berikan oleh Clay.
"Bukankah, suamimu sudah lama meninggal," celotehnya. Membuat gadis itu tertegun.
"Kenapa dia bisa tahu jika suamiku sudah meninggal?" Cherryl menatap pria itu lekat, wajahnya yang tak terlihat membuat Cherryl semakin penasaran dengan sosok pria misterius itu.
"Suamiku, masih hidup," tukas Cherryl, dengan bibir bergetar.
"Buktikan,"tantangnya pada Cherryl.
"D-dia sedang bekerja di luar negeri," gadis itu berdalih mencari alasan.
"Ayolah, sekarang jaman modern apa kau tidak punya ponsel untuk menghubunginya?" Pria itu terus mendesak Cherryl agar menelpon suaminya.
Cherryl menelan ludahnya kasar, ia semakin tertegun, dengan permintaan orang aneh itu. Mau menelpon teman pria tapi ia tidak punya nomor laki-laki di ponselnya. Sebenarnya ada tapi itu nomor manajernya, masa iya dirinya harus menelpon manajernya yang sudah beristri. Gumamnya bingung.
"Aku menunggu," seru pria bermasker.
Gadis itu menghela napas panjang, mau tidak mau ia harus menelpon manajer gendut tersebut, yang sudah membuatnya kerepotan. Karena tugas konyol, ia harus berhadapan dengan pria gila itu.
Jantung Cherryl berdegup kencang, saat panggilan mulai terhubung.
"Hallo Sayang, kamu di kantorkan?" Sapa Cherryl, sembari berdoa dalam hati berharap manajernya bisa di ajak kerja sama.
"Hallo! Siapa ini? Berani sekali kau memanggil suamiku dengan sebutan sayang! Dasar perempuan gat—," panggilan sengaja di putus oleh Cherryl. Wajahnya langsung berubah menjadi merah.
Pria itu dan Albert menahan tawanya ketika, mendengar omelan dari istri yang di telpon oleh Cherryl.
"Rupanya kau simpanan pria beristri, Nona," cibirnya membuat Cherryl geram.
"Jaga mulut anda ya, tuan!" Dengus Cherryl, tak terima dengan perkataan pria tersebut.
"Kenapa kau marah? Bukankah sudah jelas, buktinya barusan kau di marahi oleh istri pria itu," cibirnya merendahkan Cherryl.
Cherryl terdiam menahan air matanya yang nyaris jatuh.
"Sudahlah, lupakan suamimu yang lemah itu toh dia sekarang sudah menjadi tanah. Sebaiknya kau menikah denganku dan akan aku jadikan kau ratu," pria itu terus merayu Cherryl, mengiming-iminginya dengan kekayaan yang berlimpah.
Gadis itu tersenyum kecut, mendengar pria itu memamerkan harta kekayaannya.
"Anda harus tahu tuan, suamiku tidak lemah. Dia rela menaruhkan nyawa demi melindungi keluarganya. Dan satu lagi suamiku jauh lebih kaya di bandingkan dirimu jadi aku tidak akan tergoda oleh hartamu yang tidak seberapa itu... Meskipun suamiku sudah menyatu dengan tanah tapi bagiku dia tetap hidup dalam hatiku," tuturnya. Sembari menyeka air matanya yang jatuh.
"Asal Anda tahu juga tuan. Cinta itu bukan tentang seberapa banyak uang yang anda miliki,melainkan seberapa banyak pengorbanan yang bisa anda berikan pada pasangan hidup anda," sambung Cherryl.
Pria itu bertepuk tangan menanggapi penuturan Cherryl mengenai sebuah cinta. Ia bangkit dari duduknya dan menghampiri gadis yang sedang menahan emosinya.
"Aku sangat tersentuh, dengan kata-kata mutiara anda Nona Cherryl. Membuatku semakin jatuh cinta padamu," bisiknya di telinga Cherryl.
Gadis itu mengepalkan tangannya, ingin rasanya ia memberi bogem pada pria itu tapi Albert menahannya.
"Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau tahu jika suamiku telah meninggal?" Pertanyaan itu akhirnya terlontar dari mulut Cherryl.
"Jangankan suamimu meninggal, pria yang kau sukai menikah dengan sahabat mu saja aku tahu," selorohnya kembali duduk di kursi.
Gadis itu langsung menatapnya tajam, sepertinya batas kesabaran Cherryl sudah habis. Ia melemparkan berkas itu kehadapan pria tersebut.
Orang itu hanya diam, begitu Cherryl pergi ia melontarkan sebuah perkataan yang membuat langkah gadis itu terhenti.
"Dasar wanita sok jual mahal, suami sudah mati konyol saja tetap di harapkan. Apa kau pikir dengan menangisi pengecut itu, dia akan kembali hidup!" Teriaknya, sengaja.
"Jangan pernah mengatai suamiku pengecut!" Teriak Cherryl, kali ini ia benar-benar tak bisa menahan emosinya lagi.
"Dia pria baik, yang pernah aku temui... Sekali lagi kau menghinanya akan aku robek mulut kotormu itu!" Cherryl mengacung telunjuknya ke arah pria tersebut.
"Clayton Alexander Dhanuendra,pengecut besar," pria itu terus memancing amarah Cherryl.
"Nona, hentikan anda akan kehilangan pekerjaan jika seperti ini." Albert berusaha menahan Cherryl tapi gadis itu telah di kuasai oleh emosi. Sampai Albert kewalahan menahan tubuh mungil Cherryl yang terus berontak.
"Aku tidak peduli lagi dengan pekerjaan ini! Siapapun yang berani menghina suamiku, akan aku pastikan dia mendapatkan pelajaran yang setimpal."
"Memangnya apa kelebihan suamimu itu hah? sampai kau tak mau membuka hati lagi pada pria lain." Pria itu kembali melontarkan pertanyaan tanpa ada rasa takut sedikitpun.
"Memangnya apa pedulimu? Aku mau membuka hati atau tidak itu bukan urusanmu... Aku mau menangisinya sampai kapanpun juga kau tak berhak ikut campur! Mulai detik ini juga aku peringatkan, jangan pernah muncul lagi di hadapanku! Sekali lagi aku dengar kau menghina suamiku. Aku akan membunuhmu!" Gadis itu masih menatap tajam pada pria tadi dengan dada yang naik turun akibat meluapkan emosinya.
"Pak, katakan pada manajer Frans. Aku tidak mau meneruskan pekerjaan ini lagi, meskipun dia memecatku aku tidak peduli," ucapnya sembari memutar tubuhnya hendak pergi dari ruangan VVIP itu.
"Cherryl!"
Suara khas dari pria yang selama ini di rindukan Cherryl membuat gadis itu kembali menghentikan langkahnya.
"Aku pasti salah dengar," gadis itu menggelengkan kepalanya. Mungkin efek kerinduannya pada sangSuami yang mengakibatkan dirinya berhalusinasi.
"Jika aku yang melarang mu, menangis lagi. Apa kau akan marah juga padaku?" Ucapnya kembali.
Cherryl membulatkan matanya, sepertinya ia memang tidak sedang berhalusinasi. Suara itu terdengar begitu jelas tepat di belakangnya, dengan ragu iapun memutar tubuh dan melihat siapa yang sedang berbicara di belakangnya.
Gadis yang kini menginjak usia dua puluh tiga tahun itu, tak percaya pada apa yang di lihatnya sekarang.
Wajah tampan dengan rahang yang tegas, postur tubuh kian tinggi dan berisi berbalut stelan jas berwarna Navy. Berhasil membuat gadis itu tak berkedip.
"C-clay," lirih Cherryl terbata.
Clay menghampiri Cherryl, meletakkan tangan sangIstri di pipinya.
"Ya, Sayang ini aku. Suamimu," jawab Clay tersenyum penuh haru.
"Kau masih hidup?" Cherryl menatap wajah Clay secara seksama.
Clay mengangguk, menempelkan keningnya pada dahi cherryl.
"Iya sayang, aku masih hidup... Berkat doa-doa darimu akhirnya aku bisa selamat."
"A-aku tidak sedang bermimpikan?"
"Tidak, Sayang. Kau tidak bermimpi, aku benar-benar kembali untukmu."
Seketika tangis Cherryl pecah, saat Clay memeluknya erat. Tangis bahagia, haru dan tangis kerinduan kini bercampur menjadi satu.
Sulit di percaya oleh Cherryl, suami yang telah di klaim meninggal oleh semua orang. Kini benar-benar berada di hadapannya.
Ia memeluk Clay begitu erat, melampiaskan rasa rindunya setelah sekian lama tidak berjumpa.
"Kau kemana saja? Aku sudah mencarimu kemana-mana, tapi tak menemukan mu." Clay menangkup wajah istrinya, dan menyeka air mata yang mengalir di kedua pipi Cherryl.
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, padamu. Kemana saja kau selama ini?" Cherryl bertanya sembari terisak.
"Ceritanya panjang, tapi aku bersyukur akhirnya bisa menemukanmu di sini Ryl. Dan aku senang ternyata kau masih menganggapku hidup, terimakasih juga karena telah setia menantiku," Clay mengecup kening Cherryl dengan mesra.
Membuat Albert dan pria bertopi itu berdeham, melihat kemesraan yang ada di hadapannya.
"Tunggu... Jangan bilang mereka berdua adalah suruhanmu?"
"Sayang, semakin kau dewasa ternyata kau semakin pintar," puji Clay pada istrinya.
"Dia pak Albert, supir kepercayaanku... Dan dia, apa kau masih mengenalnya?"
Pria bertopi itu membuka identitasnya, Cherryl yang mengenal sosok itu kembali membulatkan mata.
"Erick!" Seru Cherryl, ia tak menyangka akan bertemu lagi bersama sahabat suaminya itu, terakhir kali ia bertemu dengan Erick di rumah sakit. Sebelum orang tuanya membawa dia ke luar negeri untuk proses penyembuhan.
.
.
.
Bersambung..