Wedding Secrets

Wedding Secrets
bermain sebentar



"Aulya!" Suara pak Austin memanggil, gadis berambut pendek yang sedang berjalan menuju tempat parkir.


"Mampus gue, pak Austin pasti bakal introgasi gue," gadis itu berjalan dengan cepat mengabaikan panggilan gurunya.


"Al, gue nebeng ya. Mobil gue di bawa si Clay," Erick menahan lengan Aulya yang lewat di depannya.


"Aduh buru-buru gue, lagian jalan pulang kita beda jalur," tolak Aulya yang bergegas pergi.


"Nggak apa-apa lah, anterin dulu gue ke rumah si clay yah... lo kan baik," Erick mengedipkan sebelah matanya.


"Aulya!" Austin kembali memanggil muridnya, Aulya melirik ke arah Austin yang hendak menghampirinya. Gadis itu tampak panik lalu membuka pintu mobilnya dan menyuruh Erick untuk cepat masuk ke dalam mobilnya.


"Lo kenapa sih Al?" Tanya Erick, yang ikut panik.


"Lo nggak liat tuh pak Austin ngejar-ngejar gue, dia pasti bakal nanya-nanya soal hubungan Cherryl sama si Clay," ujar Aulya yang kini menyalakan mesin mobilnya.


Austin mendekati mobil Aulya dan mengetuk-ngetuk kaca mobil muridnya, tapi pemilik mobil itu malah pergi meninggalkannya begitu saja.


"Sial! Dasar murid tidak sopan!" Decak Austin kesal, " Sepertinya aku harus cari tahu sendiri apa hubungan Cherryl dan si Clay?" Gumam Austin, ia menendangkan kakinya ke udara.


Setelah mobil Aulya menjauh dari sekolah, dan ia memastikan jika gurunya tak mengejar. Gadis itu bisa bernapas lega, gara- gara mulut embernya ia jadi repot sendiri menghadapi gurunya yang ingin tahu apa hubungan di antara Cherryl dan Clay.


"Mangkanya kalau punya mulut itu di jaga, jangan ember jadi ribetkan," Erick mencibir gadis yang ada di belakang kemudi.


Aulia menepikan mobilnya, karena kesal pada pria yang ada di sampingnya. Pria itu terus saja menyudutkan dirinya, atas kesalahan yang tanpa sengaja ia perbuat. Erick menatap heran pada Aulya. Rumah Clay masih jauh tapi gadis itu sudah menghentikan mobilnya.


"Turun lo!" Sentak Aulya.


"Lah, kan rumah si Clay masih jauh Al," protes Erick.


"Gue nggak peduli! Sana naik taxi," Aulya mengusir Erick dari dalam mobilnya.


"Tanggung Al bentar lagi nyampe," Erick memelas.


"Bodo amat, buruan turun!" Aulya terus memaksa Erick agar turun dari mobilnya


Erick mematung di dalam mobil Aulya, gadis itu terlihat gemas pada Erick yang malah diam saja saat di suruh turun, karena tidak sabar Aulyapun turun dari mobilnya lalu membuka pintu mobil sebelah Erick.


"Turun nggak! Atau gue teriak begal ni," Aulya memberi ancaman pada Erick.


Karena takut dengan ancaman Aulya, Erick terpaksa turun dari mobilnya sambil mendengus sebal.


"Dasar rese lo," umpat Erick ke hadapan Aulya.


"Bodo amat!"


Brak..


Aulya membanting pintu mobilnya, lalu pergi meninggalkan Erick di pinggir jalan.


"Haiis, sial banget sih. Niat cari gratisan malah ngeluarin ongkos... Lagian tuan Presdir pake acara nggak bawa motor, dia yang emosi gue yang susah," Erick terus saja menggerutu sambil menunggu taxi yang lewat di hadapannya.


****


Kediaman Armando.


Seorang pria dengan pakaian serba hitam masuk ke ruangan wanita bercadar. Wanita itu sedang duduk diatas sofa sambil membuka album photo masa lalunya.


"Ada kabar apa?" Ucap wanita bercadar, pria itu belum mengatakan apapun. Tapi wanita itu seolah tau jika dirinya membawa kabar penting untuknya.


"Nyonya Valerie telah kembali ke sini, nyonya," ungkap pria tersebut.


Wanita bercadar itu menutup photo album yang di pegangnya, "Apa dia kembali bersama keluarganya?"


"Tidak nyonya, dia sendirian mengunjungi putranya."


Wanita bercadar itu menyeringai, "Bagus, mari kita bermain dengannya sebentar," gumam wanita bercadar itu.


Ia mengarahkan pria itu agar tetap mengawasi rumah putra dari orang yang telah membuatnya sengsara. Setelah mendapat arahan dari wanita bercadar, pria itu pergi meninggalkan kediaman Armando untuk melaksanakan misinya.


***


Malam hari di kediaman Dhanuendra.


Mamy Val, berada di ruang tv ia sedang menelpon suaminya yang berada jauh di sana. Clay yang baru saja keluar dari kamarnya langsung turun dan menghampiri ibunya yang ada di ruang keluarga.


"Biasalah, adik kamu di ajak kesini nggak mau.. giliran Mamy ke sini udah di buru-buru suruh pulang," Mamy Val menjelaskan pada Clay.


"Sini Mam, biar Clay yang telpon Nara. Biar Mamy bisa di sini lebih lama lagi," pinta Clay.


"Nggak usah Clay, lagian papi juga minta Mamy buat buru-buru pulang. Soalnya papi juga mau ada kerjaan ke luar negeri."


"Terus Mamy besok mau pulang gitu? baru juga satu hari Mam," protes Clay, ia kecewa karena ibunya baru saja datang sudah mau kembali lagi ke negara bloody Lily city.


"Maaf ya sayang, Mamy nggak bisa lama di sini... Sebagai gantinya, gimana kalau kalian yang main ke rumah Mamy sekalian kalian honeymoon," ujar Mamy Val.


"Honeymoon?"


"Iyah, kamu sama Cherryl pasti pengenkan honeymoon... Di sana banyak spot bagus buat honeymoon di jamin istri kamu bakal betah," Usul Mamy Val.


Clay tampak berpikir, ada benarnya juga kata ibunya ia tidak bisa terus-terusan diam di rumah bersama istrinya. Cherryl juga pasti ingin jalan-jalan ke luar negeri, lagi pula selama mereka di rumah Clay selalu gagal saat ingin bercinta dengan Cherryl. Kenapa ia tidak mencoba usulan dari ibunya siapa tau saat honeymoon ia bisa merasakan sesuatu yang selama ini selalu ia pendam tanpa gangguan apapun.


"Hemm... Boleh deh Mam, nanti kalau Clay sama Cherryl udah lulus Clay kabarin Mamy kalau kita mau ke sana," tutur Clay.


"Bener ya, nanti Mamy urus semuanya... Oh iya mana Cherryl? Dari habis makan malem Mamy nggak liat dia," sambung Mamy Val.


"Dia udah tidur, katanya sih capek. Padahal cuman ngerjain satu soal doang tapi kayak yang habis ngerjain berpuluh-puluh soal," gerutu Clay, iya terlihat begitu sebal pada Cherryl. Gadis itu seperti mempermainkannya, dia yang menggoda dia juga yang menolak ketika Clay menginginkannya.


Mamy Val menganggukkan kepalanya tanpa banyak bicara, anak dan ibu itu menghabiskan malamnya dengan banyak bercerita. Ketika malam semakin larut dan Mamy Val juga sudah terlihat mengantuk, wanita paruh baya itu meninggalkan Clay yang masih ingin berada di ruang keluarga lebih lama lagi.


Clay mengusap wajahnya kesal, kepalanya terasa sangat pusing karena sesuatu yang tidak jadi tersalurkan. Clay memutuskan kembali ke kamarnya begitu ia lewat kamar Cherryl, ia berhenti sejenak. Dan masuk ke dalam kamar istrinya yang sudah tertidur sejak tadi.


Pria itu menyenderkan tubuhnya di ambang pintu, sambil melipat kedua tangan di dada. Clay tersenyum kecut ketika melihat punggung Cherryl yang tertutup oleh selimut.


"Cih, sampai kapan kau akan menolakku? Dasar menyebalkan. Kau yang sudah membangunkan juniorku, kau sendiri yang menolaknya... Kau benar-benar menyiksaku Cherryl!" Decak batin Clay, yang geram dengan sifat istrinya yang selalu memberinya harapan palsu.


***


Keesokan harinya, Mamy Val sudah siap untuk berangkat menuju bandara. Clay sudah banyak menawarkan agar ibunya mau di antar olehnya, tapi wanita cantik itu tetap teguh ingin pergi sendiri dengan taxi online, tidak hanya Clay. Cherryl juga sudah memaksa agar ibu mertuanya menuruti kata-kata suaminya yang ingin mengantar sampai bandara, wanita itu malah tetap menolak.


Clay menarik napasnya dalam, dengan berat hati ia membiarkan ibunya pergi sendiri bersama taxi online menuju bandara. Entah kenapa hati Clay merasa tidak enak ketika Mamy Val yang terus-terusan menolaknya yang ingin mengantarkannya pulang.


"Mam, Mamy yakin nggak mau di antar sama Clay dan Cherryl ke bandara?" Clay berusaha membujuk ibunya lagi.


"Clay, kamu bawel banget sih. Kan Mamy udah bilang Mamy mau berangkat sendiri," jelas Mamy Val, wajah Mamy Val pagi ini tampak berseri-seri dan jauh lebih cantik dari biasanya.


"Bukan bawel Mam, maksud Clay itu baik. Aku pengen Anter Mamy sampai bandara, Clay takut Mamy kenapa-kenapa," timpal Clay, wajahnya terlihat begitu resah.


"Iyah Mam, kita Anter Mamy aja ya," sela Cherryl, gadis itu terus memegangi lengan Mamy Val.


"Nggak usah Cherryl, bentar lagi taxi Mamy Dateng," Mamy melepaskan tangan Cherryl yang sejak tadi memegangnya


"Nah itu, taxi Mamy udah Dateng. Mamy pulang dulu ya sayang, jaga diri kalian baik-baik," Mamy Val memeluk dan mencium putra juga menantunya, lalu ia masuk ke dalam taxi online sembari melambaikan tangannya.


Mobil telah hilang di balik gerbang yang menjulang tinggi, baru saja kaki Clay akan melangkah masuk ke dalam rumah.


Tiba-tiba suara ledakan terdengar begitu keras membuat semua orang yang tinggal di perumahan melati terkejut dan berbondong-bondong datang ke asal suara ledakan untuk melihat apa yang terjadi.


Clay yang sudah merasakan firasat buruk tentang ibunya, langsung berlari ke arah sumber suara dengan tubuh yang bergetar. Pria itu terus berdoa pada tuhan semoga apa yang ia takutkan saat ini tidak terjadi.


Semua orang terlihat berkerumun, mengelilingi tempat dimana terdapat sebuah mobil yang hancur terbakar akibat bom yang sengaja di tempel di bawah mobil tersebut.


Bau daging terpanggang dan bau anyir dari darah, ikut menyelimuti tempat kejadian.


Clay dan Cherryl menyelusup ke arah kerumunan, kaki Clay seketika terasa lemas dan manik matanya tak dapat lagi menahan bulir bening yang tertampung dalam matanya.


Clay jatuh berlutut menatap tak percaya, saat melihat potongan daging berserakan telah bercampur dengan puing-puing mobil yang hancur.


Ia berharap semoga apa yang di lihatnya ini salah, tapi fakta mengatakan jika di lihat dari plat nomor mobil yang tidak terbakar itu memang benar, bahwa mobil tersebut adalah taxi online yang di tumpangi oleh ibunya beberapa menit yang lalu.


.


.


.


Bersambung...