
Clay menarik napasnya panjang, rasa kecewa muncul dari raut wajahnya. Di saat dirinya hendak merasakan kehangatan sang istri, selalu ada saja gangguan yang membuatnya harus mengurungkan niat untuk menjamah istrinya. padahal semenjak dirinya menikah dengan Cherryl, ia belum pernah merasakan malam pertama seperti pengantin yang lain.
"Maafkan aku, sayang. Ada kerjaan yang harus di selesaikan," ucap Clay lesu.
"Tidak apa-apa, pekerjaan lebih penting, kita bisa melakukannya nanti," ujar Cherryl tersenyum bahagia. Akhirnya ia bisa lepas dari cengkaraman suaminya, ia bukan tak ingin melayani suaminya hanya saja ia masih belum siap untuk melakukan hubungan suami-istri dengan sang suami.
"Kalau begitu, aku tidur duluan ya," pamit Cherryl.
Clay menarik tangan Cherryl lagi, berat bagi Clay jika harus berpisah dengan istrinya. Padahal mereka satu rumah bahkan jika ia ingin dirinya bisa saja tidur di kamar Cherryl secara diam-diam.
Emuah...
Cherryl mengecup pipi Clay.
"Sebelah sini belum," Clay menempelkan telunjuknya di kening. Cherryl memberikan kecupan lagi di kening suaminya, begitu juga seterusnya, Clay menunjuk semua bagian wajah. Dan gadis itu menuruti keinginan Clay, lalu pergi meninggalkan suaminya yang mulai membuka laptop untuk mengurusi pekerjaan yang di kirim oleh nona Grace.
***
Kediaman Armando.
Hujan gemericik, membasahi wajah wanita bercadar yang sengaja mendongakkan wajahnya ke arah langit. Wanita itu tampak menikmati tetesan air hujan yang menyentuh kulit wajahnya, sisa luka bakar di bagian pipinya terlihat begitu mengerikan saat wanita itu membuka cadar yang menutupi sebagian wajahnya. Dokter sudah menganjurkan agar dirinya melakukan operasi plastik, tapi wanita itu selalu menolak dengan alasan agar ia bisa tetap mengingat kejadian yang hampir membuatnya mati terbakar.
"Nyonya, ini sudah malam. Hujan juga sedikit lebat sebaiknya nyonya masuk.. saya takut nyonya jatuh sakit," seru suster, suster itu menghampiri wanita tersebut dengan payung di tangannya.
"Biarkan aku merasakan hujan ini, sebelum aku menghadapi ajalku," seloroh wanita tersebut.
"Jangan putus harapan nyonya, saya yakin anda akan sembuh."
Wanita itu menyeringai, "Untuk apa aku sembuh? Tidak ada lagi orang yang memperdulikan aku, bahkan sekarang aku adalah buronan polisi.
"Orang-orang yang aku cintai kini telah pergi meninggalkan kan aku sendiri, suamiku tewas karena memperebutkan wanita lain dengan pria bi4d4b itu, ayahku juga tewas di tangan nya, bahkan calon putraku yang belum lahir ke dunia juga tewas oleh pria brengsek itu. Dan sekarang putri angkatku juga tewas di tangan putranya," lirih wanita itu, bulir bening mulai menetes dan bercampur dengan air hujan yang membasahi pipinya.
Kesedihan dan penderitaan, tampak jelas tergambar di wajah wanita tersebut. Bertahun-tahun dirinya terus bertahan dalam pesakitan yang terus menggerogoti tubuhnya, niatnya membalas dendam terhadap orang yang sudah membuat keluarganya hancur membuat wanita itu mampu bertahan sampai sekarang. Walau terkadang rasa putus asa selalu menghampirinya.
Wanita itu tertawa keras seperti orang yang kehilangan akalnya, setelah tertawa wanita itu kembali menangis tersedu lalu tertawa kembali, ada perasaan takut di wajah suster tersebut. Ingin dia keluar dari pekerjaannya tapi bayaran yang di berikan oleh wanita bercadar itu tiga kali lipat lebih besar dari pada bekerja di rumah sakit, tempat asal suster itu bekerja. Tidak ingin kehilangan kesempatan emas ia mencoba menguatkan diri untuk berada di sisi wanita tersebut, meskipun banyak hal berat yang mesti ia lewati di kala mood wanita itu sedang buruk.
"Nyonya, lalu bagaimana dengan gadis yang kita temui tadi di rumah sakit?" Tanya suster bernama Eni itu. "Bukankah, gadis itu tidak ada sangkut pautnya dengan keluarga Dhanuendra? aku lihat juga gadis itu baik dan polos," sambung suster Eni.
"Dia adalah menantu Dhanuendra, siapapun yang berhubungan dengan keluarga itu. Aku akan menghancurkannya satu persatu, walaupun gadis itu tidak terikat darah dengan pria bi4d4b itu tetap saja dia harus mati." Wanita itu menggeratkan giginya yang mulai menghitam.
"Dia harus merasakan, bagaimana sakitnya di tinggalkan oleh orang yang di cintainya secara bersamaan," gumam wanita tersebut.
Suster itu hanya mengangguk, sebenarnya ia merasa kasihan dengan keluarga yang akan menjadi sasaran balas dendam wanita itu. Karena tak ingin ikut campur suster Eni hanya menyimak, dan menjadikan semua ini rahasia yang akan ia bawa sampai mati.
Setelah puas berada di bawah guyuran hujan, wanita itu akhirnya masuk ke dalam rumah yang menyerupai sebuah castle dengan cat serba hitam.
"Untuk saat ini akan aku biarkan, kalian bersenang-senang. Setelah tiba waktunya aku akan menghabisi kalian, seperti kalian menghabisi keluargaku secara keji!" Gumam batin wanita tersebut, sembari menyeringai.
***
Kring.....
Dering alarm dari ponsel Clay terdengar begitu nyaring, gadis itu mengerjapkan matanya dan merasakan sesuatu yang berat melingkar di pinggangnya. Cherryl membuka matanya lebar-lebar di lihatnya Clay tengah tertidur sembari memeluk dirinya membuat gadis itu terkejut.
"Astaga, sejak kapan dia tidur di sini?" Cherryl memeriksa satu persatu pakaiannya, semuanya masih lengkap dan berada di tempatnya.
"Aku tidak akan, melakukan itu tanpa ijin darimu," gumam Clay dengan mata yang masih tertutup. Ternyata pergerakan istrinya membuat Clay tersadar.
"Kamu ngapain tidur di sini?"
"Sayang, buka matamu yang lebar. Kau ada di kamarku seharusnya aku yang bertanya seperti itu," bukannya bangun, Clay malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Hah?," Cherryl menyebarkan pandangannya, "perasaan semalam aku tidur di kamarku sendiri, kenapa bangun aku jadi di sini?" Cherryl terlihat bingung, bagaimana bisa dirinya tiba-tiba berada di kamar suaminya.
"Kau tidak ingat, semalam kau tidur sambil berjalan ke mari," jelas Clay.
"Astaga, kebiasaanku masih belum hilang juga," Cherryl menepuk jidatnya.
"Tidurlah, lagi. Ini masih malam."
Cherryl melihat jam yang ada di dinding, matanya membulat sempurna saat melihat jam sudah menunjukkan pukul delapan lebih.
"Ya ampun, masih malam apanya ini sudah siang Clay!" teriak Cherryl dengan tergesa ia turun dari ranjang dan berlari menuju kamar mandi.
Clay, yang biasanya tak pernah terlambat. Untuk pertama kalinya ia bangun kesiangan mungkin karena semalam mendekap istrinya membuat remaja itu nyaman dan enggan untuk bangun.
Sepuluh menit kemudian, sepasang suami istri itu berlarian menuju mobil. Hari ini adalah hari terakhir ujian sekolah, jangan sampai mereka gagal ujian hanya karena terlambat datang ke sekolah.
"Loh tuan, nona. Sarapannya," seru bi Arum yang melihat mereka melewati meja makan begitu saja.
"Sudah telat bi," jawab Clay dan Cherryl serempak. Mereka saling melempar pandangan kemudian masuk ke dalam mobil.
"Telat apanya sih, ini baru juga jam setengah 7," cetus bi Arum melihat jam tangannya.
"Ayo pak cepetan ngebut," titah Clay.
Supir itu mengiyakan permintaan majikannya, tanpa banyak bicara. Mobil melesat dengan cepat, Cherryl mengeluarkan ponselnya dan melihat jam yang ada di benda pipih tersebut, ia memicingkan mata menatap tak percaya pada benda yang sedang ia pegang.
"Ish, sial," desis Cherryl.
"Kasar sekali," Clay, menegur istrinya yang berkata kasar.
Cherryl menyodorkan ponselnya, ke arah Clay. Tanpa sadar pria itu juga melontarkan kata-kata kasar dan umpatan dalam bahasa asing, membuat Cherryl melotot.
"Aish, ****.... Maaf sayang keceplosan," Clay mencubit pipi istrinya pelan.
"Pak, kenapa bapak nggak bilang sih kalau baru setengah 7?" protes Clay
"Kan tuan nggak nanya, jadi saya nggak ngasih tau," jawab pak supir polos.
"Astaga," Clay menggelengkan kepalanya.
"Lagian jam udah mati, kenapa nggak ganti sih," cetus Cherryl
"Mana aku tau, kalau jamnya mati."
Setelah menempuh jarak waktu satu jam, akhirnya mobil sampai di pelataran sekolah. Karena jam ujian di mulai pukul setengah sembilan, jadi belum banyak murid yang datang ke sekolah.
Mumpung masih sepi, Clay mengajak Cherryl untuk ke kantin. Kebetulan di kantin tidak ada orang jadi mereka bisa leluasa sarapan berdua di meja yang sama.
"Tumben nih, neng Cherryl sama den Clay akur. Biasanya berantem Mulu," sindir pemilik kantin
"Capek Bu, kalau berantem Mulu," timpal Clay datar.
"Oh capek, apa jangan-jangan kalian pacaran ya hehehe. Kan kata orang tua jaman dulu kalau keseringan berantem itu tandanya jodoh."
"Terus kalau saya berantem sama nenek ibu, apa saya juga jodoh nenek ibu?" pungkas Clay, membuat ibu kantin itu mendelik lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
Cherryl terkekeh, mendengar lelucon garing dari suaminya. Karena waktu yang semakin siang dan murid-murid juga sudah terdengar berdatangan mereka dengan cepat menghabiskan sarapannya.
"Sayang, aku pergi duluan ya," bisik Clay pada Cherryl.
Gadis itu mengangguk, sebelum pergi Clay mencubit pipi Cherryl terlebih dulu sambil tersenyum gemas.
"Udah sana, ntar banyak yang liat loh."
"Iya bawel, semangat ujiannya sayang."
"Hemm."
Tak lama setelah kepergian Clay, pak Austin yang kebetulan datang ke kantin melihat Cherryl sedang duduk sendirian sambil menghabiskan teh hangat yang di pesanya.
Pak Austin menghampiri Cherryl, seketika ekepresi bahagia Cherryl berubah menjadi masam saat melihat kedatangan pak Austin di hadapannya.
"Sendirian aja nih," sapa pak Austin basa basi.
Cherryl mendelik, dan bergegas untuk segera pergi. Rasa kesalnya pada Austin masih menggebu dalam hati Cherryl, bayangan saat dirinya di kurung di gudang akibat pesan dari pak Austin terlintas kembali di benak Cherryl.
"Cherr, tunggu," pak Austin menarik tangan Cherryl, tapi dengan cepat gadis itu menepis tangan gurunya yang dulu sangat ia sukai.
"Aku sibuk!" dengus Cherryl.
"Cher, tunggu sebentar aja. Cuman lima menit."
"Oke, cuman lima menit nggak lebih."
"Aku merindukanmu Cher."
"Ck, minta waktu lima menit cuman mau ngomong itu! Nggak penting banget sih," Cherryl berdecak kesal.
"Cherryl tunggu! sebenarnya aku mau minta maaf atas kejadian kemarin. Aku berani bersumpah kalau aku tidak mengirim pesan itu padamu."
"Waktu habis, saya permisi ke kelas dulu." Pamit Cherryl, tanpa memberi respon apapun pada gurunya. Saat akan melangkahkan kaki tiba-tiba pak Austin menarik Cherryl dalam pelukannya.
Set...
Cherryl terbelalak, dengan aksi nekad gurunya yang memeluk dirinya di area sekolah, ia mendorong tubuh pak Austin tapi tenaga Austin lebih kuat dari Cherryl sehingga dorongannya tak membuat pria itu menjauh darinya.
"Eh lepasin pak, kita di sekolah," Cherryl berusaha melepaskan diri.
"Aku akan melepaskanmu, jika kamu memaafkan ku," lirih Austin.
"Astaga. Pak, jangan seperti anak kecil. Bagaimana jika ada yang lihat," protes Cherryl ia masih berusaha melepaskan diri, tapi Austin malah mendekapnya semakin dalam.
"Maafkan, aku. Cher gara-gara aku kamu jadi menderita, tapi percayalah padaku bukan aku yang mengirim pesan itu."
"Iya, iya pak saya percaya tapi lepaskan dulu. Malu."
"Apa kau memaafkan ku?" Austin menatap manik mata Cherryl.
"Iya, aku maafin bapak. Tapi lepaskan kita ada di sekolah bagaimana jika murid dan guru-guru melihat," protes Cherryl, gadis itu mengerucutkan bibirnya kesal.
"Maaf, kalau lagi cemberut kamu gemesin deh."
"Ish, apaan sih," Cherryl mengerlingkan manik matanya.
"Tuhkan, kamu belum maafin aku."
"Astaga pak, iya saya maapin bapak. Puas! Udah ah saya mau ke kelas," Cherryl pergi meninggalkan Austin yang sedang tersenyum menatap kepergiannya.
Sementara itu, Erick yang tadi akan ke kantin mengurungkan niatnya saat melihat Cherryl berpelukan dengan gurunya. Alhasil dia hanya mengintip di balik pintu, lalu pergi ke kelasnya untuk melapor pada Clay atas apa yang di lihatnya barusan.
Dengan napas yang tersenggal, Erick menghampiri Clay.
"Lo, kenapa ngos-ngosan gitu?"
"Gawat, Clay. Gue punya berita penting," Erick berusaha mengatur napasnya.
"Apa?"
"Tadi gue mau ke kantin, terus liat istri Lo lagi pelukan sama pak Austin," cetus Erick.
"Salah liat kali, Lo," timpal Clay datar, ia tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Erick. Ia sudah melihat jika istrinya mulai mencintai dirinya mana mungkin istrinya berpelukan dengan pria lain bahkan pria itu yang sudah membuat Cherryl terkurung di gudang.
"Kalau nggak, percaya Lo liat aja sendiri," Erick mengeluarkan ponselnya dan menunjukan beberapa potret ketika Cherryl berada dalam pelukan pak Austin.
"Kurang ajar," Clay, mengepalkan kedua tanganya wajahnya yang datar kini berubah menjadi geram.
.
.
.
Bersambung.