VIRGIN NOT FOR SALE

VIRGIN NOT FOR SALE
PENGARUH OBAT



Amanda tertunduk, tatapannya sudah hampir kabur. Ketika ia melihat ke segala arah hanya sebuah kabut berwarna putih hingga ia harus mengerjap-erjapkan matanya berulang kali.


Amanda mendesis kesakitan, tubuhnya menggigil tidak karuan. Tubuhnya terasa sangat panas, jantungnya berdegup dengan sangat keras seirama dengan derus napasnya yang berpacu dengan sangat kencang.


"Ya Tuhan ... aku kenapa ...?"


Efek obat itu nyatanya mulai membuatnya kesakitan. Tidak ia perdulikan lagi semua orang yang kini memberondonginya dengan pertanyaan, telinganya bahkan hampir kehilangan fungsinya saat ia menggigit ujung bawah bibirnya sendiri ketika ia mulai merasakan sesuatu yang bergejolak hingga ia tiba-tiba mencengkeram erat baju seseorang.


"Kau ...?! Katakan dengan jelas apa yang kau rencanakan ...?" Pekik Evan tepat di telinganya.


Sungguh. Amanda juga ingin pergi tapi sepertinya ia sudah tidak mampu lagi untuk menahannya.


"Kau ...? Kenapa kau menarik kemejaku?!"


Evan bahkan semakin kebingungan dengan apa yang sebenarnya perempuan ini lakukan. Ia melepas tangan itu dengan paksa dan maju satu langkah.


Sungguh. Ia harus menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada semua orang termasuk ayahnya. Ia harus mengatakan bahwa ia juga bahkan tidak mengenal perempuan ini sebelum mereka mulai menduga hal-hal yang tidak masuk akal itu.


"Maaf, sebenarnya ada sesuatu hal yang perlu saya luruskan sekarang juga ..." Evan memulai, tapi baru saja ia akan melanjutkan kata-katanya tiba-tiba perempuan yang satu langkah berada di belakangnya terhuyung.


Amanda sudah tidak mampu lagi menopang beban tubuhnya sendiri. Rasa sakitnya tidak tertahankan, ia jatuh ke arah depan hingga laki-laki itu spontan menangkap tubuhnya dengan gerakan cepat.


"Apa ini ...?"


"Kenapa perempuan itu?"


Adalah suara dan pekikan dari banyak orang yang terlihat begitu panik, tidak terkecuali dengan Roberto yang malah langsung ikut menolong perempuan itu hingga ia langsung memaksa Evan untuk segera menolong perempuan ini.


"Kenapa dengan menantuku, nak?"


"Eh?"


"Cepat bawa menantuku ke rumah sakit?!"


Menantu apanya?!


Evan terbengong ketika ayahnya mulai panik.


Bahkan dirinya sama sekali belum menjelaskan tentang apa-apa?!


"Evan, cepat bawa dia sekarang ke rumah sakit!" Bahkan Mama tirinya itu juga ikut panik, mereka semua tampak berjongkok dan duduk dan menyaksikan sendiri Amanda yang terjatuh dan terus merintih kesakitan.


"Untuk urusan perusahaan dan wartawan biar ayah yang urus. Kamu ... bawa segera menanti ayah agar dia dapat segera diberi pengobatan."


Astaga! Situasi macam apa ini?!


Ini jebakan! Evan jelas dijebak!


"Evan ..." Ayahnya menatap Evan yang malah terbengong seperti itu.


"T-tolong aku ..." hingga pada akhirnya Amanda mendesiskan kata itu.


Situasi malah semakin tambah panik dan Evan seperti dijebak untuk tidak dapat berbuat apa-apa.


Hingga pada akhirnya Evan menyerah, terpaksa ia segera menggendong perempuan asing ini untuk segera keluar dari ruangan. Sementara Beryl, langsung ikut mengekor di belakang Evan untuk mengikutinya.


***


Di dalam perjalanan, alih-alih Evan segera membawa perempuan ini ke rumah sakit, tapi ia malah membawanya ke kamar hotel hingga membuat Beryl menaikkan kedua alisnya.


"Kau bodoh?! Kenapa kau malah membawanya ke kamar?"


"Sial! Kau yang bodoh! Perempuan ini hanya pura-pura! Dia sengaja menjebak ku!" Evan langsung melemparkan perempuan itu ke atas ranjang, membuat perempuan itu semakin mendesis kesakitan.


"Aku tidak perduli! Aku harus bertanya padanya kenapa ia menjebakku sampai seperti itu?!"


Evan menatap dengan bengis Amanda yang ada di atas ranjang, sementara Beryl hanya berkacak pinggang. Dalam hatinya ia juga meragukan perempuan ini, mungkin saja benar apa yang dikatakan oleh Evan kalau dia sedang dijebak.


"Hey! Kau! Bangun!" Evan menepuk-nepuk pipi Amanda tapi Amanda malah meringkuk mendesis kesakitan.


"Sakit ..."


"Jangan pura-pura lagi! Jelaskan padaku apa yang sebenarnya kamu inginkan!"


Berulang kali Evan menggoyang-goyangkan bahunya tapi Amanda sama sekali tidak merespon sama sekali, bahkan Amanda ketika mendapatkan sentuhan itu, ia malah tampak meringis semakin kesakitan.


"Jangan ... jangan sentuh aku ...!"


Mata Evan terbelalak kaget. "Apa?! Setelah apa yang kau lakukan tapi kau ...!"


"Bangun!"


"Bangun sekarang juga atau aku bisa melakukan hal kasar lainnya!" Evan menarik paksa tubuh Amanda dan menyeretnya agar bangun, mendorong paksa dan menghempaskannya ke atas lantai.


"Dasar perempuan sialan?! Berani-beraninya kau memelukku di depan umum! Siapa kau! Aku tidak mengenalmu sama sekali!"


Tapi Amanda hanya mengerjap-erjap, ia sudah tidak tahan ...


"Panas ... panas ... panas ... tolong aku ..."


"Kau! Mau sampai kapan kau akan ber acting?!"


Baru saja Evan akan menarik tangannya lagi, tapi Beryl segera menahannya. Beryl melihat bahwa perempuan itu memang tampak seperti orang yang kesakitan.


"Evan, hentikan ..."


"Aku harus memberinya pelajaran ..."


"Lihat dulu mukanya! Lihat! Dia ... sepertinya dia tidak bohong ... dia memang benar-benar kesakitan ..."


Dan ketika Evan melihat ke arah wajah dan tubuhnya, mata Evan melebar.


"Panas ... panas ... tubuhku panas ... haus ..." Amanda mulai meracau tidak jelas, di atas lantai ia tampak menggeliat dan Beryl dan Evan saling tatap ketika melihat akan hal itu.


"Hey, apa yang terjadi ...?"


Tubuh Amanda sudah basah oleh keringat, napasnya naik turun, tangannya bergetar dengan sangat hebat, ia meracau tidak jelas sekaligus ia terus menggeliat tiada henti.


"Panas ..."


"Evan, dia ...?"


Dan benar saja, ketika Evan tidak sengaja menyentuh tubuhnya lagi, Amanda semakin kesakitan dan tubuhnya bereaksi dengan terus menggeliat seperti orang yang sangat kelaparan.


Ya ... lapar ... ingin disentuh!


"Beryl, apa yang terjadi?"


Beryl terhenyak kaget ...


Perempuan ini ... jangan-jangan ...!


***


Ditunggu vote dan komen jika suka ... :)