
Setelah malam tiba, Evan benar-benar mengundang perias untuk mempercantik Amanda dan sedang duduk menunggu Amanda selesai didandani.
Mata Evan melebar, ketika melihat Amanda keluar dengan gaun ungunya dia terlihat sangat menawan, apa lagi make up dengan gaya soft yang ia pakai membuat semuanya terlihat cantik secara alami.
Evan menahan napas, saat semuanya telah pergi kini Evan berdiri dan melangkah mendekat ke arah Amanda.
"Aku pikir kau boleh juga."
Amanda sedikit tersipu mendengar nada pujian dari Evan.
"Tapi sayang, kau lebih cocok menjadi pembantu."
Dan pujian tadi rasanya langsung dihempaskan begitu saja.
***
Sepanjang perjalanan Amanda hanya diam membisu, Evan yang terus berkata bahwa nanti selama makan malam berlangsung, Amanda harus mengingat betul setiap detail naskah yang tadi ia baca.
Hingga pada akhirnya mobil Evan berhenti, ia menatap ke arah rumah itu dengan terbelalak kaget. Rumah ini berdiri kokoh dengan tiga lantai, pilar-pilar yang menjulang tinggi ke atas sudah menjelaskan betapa mewah dan kayanya keluarga ini.
Amanda tampak memandang ke arah dirinya sendiri, sesekali ia menghela napas, memikirkan apakah dia pantas untuk masuk ke dalam rumah itu dan memperkenalkan diri.
"Astaga ... kau cantik sekali."
Tapi keraguan itu seakan sirna saat Melina datang dari arah pintu dan langsung memeluk Amanda erat-erat.
"Oh, hai menantuku." Begitu juga Roberto yang langsung menyambut Amanda dengan senyuman yang paling lebar dan segera merangkul pinggang isterinya itu ke dekapannya. "Astaga, ternyata memang benar apa yang dikatakan oleh isteriku. Kau memang betul-betul cantik."
"Ayah, jangan berlebihan."
Evan hanya melenguh dan menatap ke arah kedua orang tuanya itu. Ia kemudian menarik paksa Amanda untuk segera masuk ke dalam rumah dan segera makan, lalu menyelesaikan semuanya. Evan hanya ingin segera pergi dari sini dan menghentikan kepalsuan ini.
"Hei, kenapa buru-buru?" Protes Mama angkatnya itu.
"Sayang, mari masuk ..." Amanda sedikit tertegun saat orang yang bernama Melina itu sudah menarik lengannya. Genggamannya terlalu lembut ... hingga membuat Amanda sedikit teringat dengan sosok orang tuanya dulu. Juga dengan rangkulan yang sangat manis itu entah kenapa membuat Amanda merasakan kasih yang sudah sangat lama ia rasakan.
"Emm, ba-baik."
"Jangan terlalu kaku, Amanda. Anggap saja kami sebagai orang tuamu sendiri." Celetuk Roberto dan sekali lagi menghangatkan hati Amanda.
Ya Tuhan ... Amanda tidak pernah membayangkan kalau keluarga ini terlalu baik. Bahkan hati Amanda sangat tersentuh dengan perlakuan orang tua dari Evan. Apa lagi saat Amanda melihat senyuman Melina, ia seperti teringat akan senyuman dari almarhumah Mamanya dulu.
Mereka kemudian berkumpul ke ruang keluarga. Mereka duduk melingkar dan Amanda masih kikuk dengan semua ini. Tapi untung saja, sekali lagi ada senyuman dan genggaman tangan Melina yang kemudian menenangkan hati Amanda.
"Sayang, tidak apa-apa ... jangan terlalu tegang."
"Emm, i-iya Tante."
"Panggil aku Mama."
"Apa-apaan ini?" Evan mulai protes tapi langsung dijitak oleh Roberto.
"Ayo lah, aku hanya ingin ada anak yang memanggilku Mama. Setelah kau tidak pernah memanggilku Mama selama ini, aku ingin menantuku memanggilku dengan sebutan Mama."
"Hei!"
"Lihat kan, sayang ...? Evan selalu menganggapku orang asing padahal aku sudah menjadi Mamanya. Bahkan sampai sekarang dia memanggilku dengan sebutan 'Hei'." Melina memasang wajah sedih dan tiba-tiba langsung menyentuh hati Amanda di hati yang terdalam.
"Emm, iya. Baik Mama."
Melina langsung bersorai sorai, spontan ia langsung memeluk Amanda erat-erat seperti tidak ingin dilepaskan.
"Terima kasih, sayang ... aku janji akan menjadi Mama mertuamu yang sangat baik."
Evan hanya melenguh lagi saat melihat drama ini sekali lagi, tapi tidak dengan Roberto, ia juga merasa sangat senang ketika melihat isterinya tertawa dengan sangat sumringah.
"Ya, ya, ya. Mari kita makan agar cepat selesai dan aku boleh pergi."
"Tidak sebelum kau menjelaskan tentang semuanya." Roberto tiba-tiba melotot tajam.
"Apa lagi, Ayah? Bahkan aku sudah menepati janjiku untuk membawakanmu menantu."
"Tapi kenapa kemarin kau bilang bahwa kau tidak akan menikahi ..." ucapan Roberto terhenti, ia melirik ke arah Amanda karena takut jika ia mengungkapkan semua ucapan Evan dia akan sakit hati.
Dan sepertinya Evan paham akan apa yang akan dikatakan oleh Ayahnya itu. "Ya ya ya. Kemarin aku hanya ingin mencari alasan. Aku sudah janji akan menikah tapi tidak dalam waktu dekat. Tapi ketika Ayah memaksaku, aku juga terpaksa melakukannya."
"Evan!" Teriak Roberto dan Melina secara bersamaan.
Roberto dan Melina juga menatap ke arah Amanda jika ucapan Evan akan membuatnya sakit hati, tapi ternyata tidak ... Melina malah mendapati Amanda yang hanya tersenyum kemudian menunduk.
Tanpa sadar Roberto juga melihat bahwa sebenarnya Amanda juga gugup dengan meremas kedua tangannya. Sudah cukup membuat Roberto mengerti bahwa ada yang tidak beres dengan ini semua ...
"Emm, ya ya. Baik lah." Roberto kemudian menyuruh para pembantu untuk membawakan mereka makanan.
Evan menyelesaikan makanan itu dengan cepat, sementara Amanda belum selesai makanannya, tiba-tiba Evan sudah menarik tangan Amanda.
"Sudah kan? Ayo kita pulang."
"Dasar anak kurang ajar. Belum ada setengah jam kau di sini."
"Tapi makananku sudah habis."
"Tapi Amanda belum." Protes Roberto. "Tunggu sampai dia selesai makan."
Evan menyangga wajahnya dengan kedua tangannya menanti Amanda. Tapi di balik itu, sepertinya Melina tahu kalau Amanda sedikit gelisah ketika ditatap oleh Evan sampai seperti itu.
"Sayang, apa kau ingin main dulu? Aku punya kebun bunga. Apa kau ingin melihat?"
"Hey!" Evan protes lagi.
"Ya, sepertinya Amanda masih ingin di sini. Kau bisa menyelesaikan makananmu dan ikut Mamamu, sayang. Kau tahu, mungkin bicara dengan sesama wanita membuatnya bahagia. Dan ... sepertinya akan lebih bagus jika kau sedikit lebih lama di sini."
Astaga ... Amanda lagi-lagi tersanjung dengan perlakuan Roberto. Andai saja dia mendapatkan laki-laki yang terus memikirkan kebahagiaan isterinya.
Evan ingin protes, tapi lagi-lagi Roberto menjitak kepalanya.
***
Pada akhirnya Amanda berada di sini, bersama dengan Melina dia sibuk di waktu malam dengan kebun bunganya.
"Cantik sekali ..."
"Benar kan? Iya kan?" Mata Melina berbinar-binar. "Ah, hanya kau yang memuji bunga ini cantik. Suamiku mana mau ke sini dan melihat semua kerja kerasku."
Amanda terkekeh. "Mungkin karena beliau laki-laki jadi kurang berminat ..."
"Ya kau benar, Amanda." Tiba-tiba Melina menyerahkan pot bunga kecil lalu menyerahkan pada Amanda. "Ini untukmu, rawat sebaik mungkin di tempat tinggalmu bersama Evan."
"Eh?" Amanda menggigit ujung bawah bibirnya sendiri. "Boleh kah?"
"Tentu saja. Aku kan Mamamu."
Amanda tersenyum, dan itu menghangatkan Melina. Tiba-tiba Melina duduk di samping Amanda dan menatapnya dalam-dalam.
"Kau bahagia bersama dengan Evan?"
Amanda mengernyit. Dia menelan salivanya pasrah. Tapi kemudian mengingat-ingat tentang naskah yang kemarin selesai ia baca.
"Emm, ya saya bahagia."
Melina mengernyit ia mulai mengorek informasi lagi, sementara Amanda kembali menjawabnya dengan semua hafalan yang sudah ia hafalkan betul-betul sesuai perintah Evan.
Hingga semua berlanjut hampir tengah malam, Evan yang tidak sabaran akhirnya nekat masuk ke kebun itu dan memergoki Amanda dan Melina tengah tertawa bersama di kebun.
"Wah wah wah. Gosip apa yang kalian bicarakan hingga kalian lupa waktu."
"Eh?" Amanda langsung berdiri dengan tegap. Astaga! Dia memang lupa waktu.
"Ma-maaf."
"Ayo pulang!" Tiba-tiba Evan sudah menarik Amanda dan memaksanya untuk segera pulang.
"Evan, jangan kasar-kasar dengan calon isterimu."
Tidak ada jawaban, dan Evan langsung menarik paksa Amanda untuk segera keluar.
Melina langsung berlari ke arah Roberto dan menatapnya lekat-lekat.
"Jadi, bagaimana ...? Apa kau sudah mengorek informasi tentangnya?"
"Sepertinya dari semua jawaban yang ia lontarkan, Evan sudah mengaturnya ..."
Roberto melenguh.
"Aku jadi khawatir dengan gadis itu ... aku sedikit mencurigai sesuatu."
Roberto kemudian merangkul isterinya. "Ya, aku pun juga merasakannya. Kalau begitu aku harus kirim anak buahku untuk mencari tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi."
***
SURPRISE!!!! AKHIRNYA KONTRAKKU DITERIMA GAIS ... ALHAMDULILLAH