VIRGIN NOT FOR SALE

VIRGIN NOT FOR SALE
SEORANG PEMBANTU



Pastikan rumah sudah rapi!


Oh ya, jangan lupa bersihkan toilet!


Pastikan bajuku kau seterika!


Aku ingin makan tahu isi wortel, ayam dan mie sepanjang dua senti meter!


Oh ya, aku sedang diet! Masak beras merah!


Aku juga ingin telur dadar! Pastikan setengah matang!


Iriskan aku apel juga! Ingat harus berbentuk persegi dengan lebar tiga senti meter.


"Ha ha ha." Evan tertawa terbahak-bahak saat mengirimkan pesan itu kepada Amanda. Entah lah, mengerjai Amanda seakan-akan sudah menjadi kegemaran serta hobinya saat ini.


"Evan kau sedang tidak waras?" Suara dari Beryl memecah lamunan Evan yang sedang tersenyum-senyum seperti orang gila. Evan tengah memandangi ponselnya sambil berbaring di sofa ruangannya ketika melakukan itu.


"Beryl? Kenapa aku tidak dengar kau datang?"


"Ya ya ya. Wajar saja, kau sedang berbunga-bunga mengirimi pesan calon isterimu."


"Hah? Berbunga-bunga?! Apa maksudmu?"


"Sudah terbaca dengan mudah."


"Jangan bicara sembarangan."


"Tapi sepertinya kau terhibur dengan perempuan itu." Ejek Beryl dengan mengernyitkan dahi.


"Bicara apa kau ini?!" Evan tampak tak suka hingga membuat Beryl terkekeh. "Jadi, kapan tepatnya pernikahanmu diselenggarakan? Aku dengar Ayahmu sudah membuat pernikahan super megah hingga membuatku tadi menahan napas."


"Apa ...?!"


"Aku melihat beberapa vendor pernikahan keluar masuk ruangan Ayahmu."


"Heh?!"


Astaga. Evan memijat kepalanya sendiri. Ayahnya pasti sudah melakukan hal macam-macam! Dan walau pun Evan menolaknya mentah-mentah, Ayahnya pasti akan tetap melakukannya.


"Sial!"


***


Ya Tuhan ... apa dia sengaja mengerjaiku?


Amanda terus berkutat. Untung saja ada pasar di dekat sini sehingga dia hanya perlu berjalan untuk membeli bahan. Kemarin Evan sudah memberi kelonggaran padanya, dia boleh ke mana saja, asal ada pengawal yang ada di sampingnya karena mungkin saja Amanda bisa kabur. Membuat Amanda kembali mencaci Evan di dalam hati.


Amanda telah selesai memasak beras merah, tetapi saat ia ingin memasak mie ... astaga! Amanda bahkan menggunakan penggaris untuk mengukurnya!


Amanda mulai sebal. Ia yakin ia sedang dikerjai. Bahkan mengiris apel pun ia juga menggunakan penggaris sama seperti memperlakukan mie.


Amanda mengucir rambutnya, segera melakukan secepat mungkin karena Evan mengatakan akan segera datang.


"Sial! Aku pasti akan membalasmu!" Pekik Amanda.


Sementara itu, Evan tengah memencet tombol lift untuk segera naik ke atas. Entah lah, tiba-tiba saja ia ingin segera pulang padahal biasanya Evan sering pulang terlambat.


Begitu pintu dibuka dan Evan masuk ke dalam apartemen, hal yang ia tuju pertama kali malah ke arah dapur. Evan tersenyum, ternyata benar apa yang ia pikirkan ... gadis itu kelabakan di dalam dapur menuruti selera makannya.


Bukannya segera datang, tapi tiba-tiba Evan malah berdiri di sini. Memerhatikan Amanda yang kelimpungan seorang diri dan tanpa sadar Evan ikut tersenyum.


Evan lihat raut muka gadis itu ...


Evan pikir, Amanda terlihat lebih cantik saat mengenakan gaun, tapi ternyata ia salah ... Amanda terlihat jauh lebih cantik dan seksi saat ia berada di dalam dapur untuk memasak.


Rambut yang dikucir kuda, raut mukanya yang tampak serius serta setelan baju biasa itu entah kenapa malah membuat Evan sedikit terpesona.


Astaga!


Apa yang aku pikirkan!


Buru-buru ia menggelengkan kepala.


"Sadar lah, Evan. Dia hanya pembantu!" Ucapnya pada diri sendiri.


"T-tuan ..." tiba-tiba terdengar sebuah suara. Amanda ternyata memergoki Evan sedang berdiri di sana dan tengah mengamati dirinya.


"Anda sudah pulang? Kebetulan makanan sudah siap."


"Emm, eh ya." Evan bahkan sudah salah tingkah.


***