VIRGIN NOT FOR SALE

VIRGIN NOT FOR SALE
MENGGELIAT



Perempuan ini semakin menggeliat kepanasan, ia sudah meracau tidak jelas dan ia tampak seperti ...


"Beryl, kenapa dia?!"


Beryl tercengang, ia pernah melihat perempuan yang mempunyai gejala sama persis seperti dia.


"Jangan-jangan apa ...?"


"Coba sentuh dia, Evan! Aku ingin meyakinkan tentang sesuatu hal?!"


"Meyakinkan tentang apa?!"


"Sentuh saja dia!" Tiba-tiba Beryl memekik dengan sangat keras.


Dan benar saja ... saat Evan menyentuh tangannya, perempuan ini menggelinjang dan mulai melengkungkan tubuhnya. Ia semakin memekik keras, dan sepertinya dia memang membutuhkan sentuhan ...!


"Evan, sepertinya benar dugaanku ..."


"Hey! Jangan berbelit-belit! Apa yang kau tahu? Apa yang terjadi dengan perempuan ini?"


"Kau tidak tahu? Dia menunjukkan gejala kalau ...?"


"Apa dia sedang ayan?"


Plak!


"Dasar bodoh! Selama ini kau menggoda wanita tapi hanya masalah seperti ini kau tidak tahu?!"


"Katakan dengan jelas! Dia itu kenapa?! Apa aku perlu membawanya ke rumah sakit?"


"Kau gila! Kalau kau membawanya ke rumah sakit itu artinya kau bunuh diri! Mereka pasti akan menuduhmu kalau kau yang memberinya obat."


"Kenapa kau terus mengumpat? Bicara lah! Aku sama sekali tidak mengerti!"


Tiba-tiba Beryl membisikkan sesuatu kepada Evan. Dan seketika itu juga mata Evan melotot tajam.


"Apa?!"


Beryl mengangguk cepat.


"Obat perangs ...?" Kata-katanya tertahan. Bahkan Evan tercekat, ia mundur ke arah belakang sekaligus menatap ke arah perempuan itu yang masih menggeliat tidak berdaya di bawah lantai.


"Lalu, apa yang harus aku lakukan?! Menduri dia?!"


"Eh?"


Beryl juga terlihat kacau. Dua orang laki-laki ini kebingungan dengan apa yang harus mereka lakukan.


"Sebentar, aku akan meminta pertolongan. Tunggu aku."


"Hey! Kenapa kau pergi meninggalkan aku?" Teriak Evan yang melihat bahwa Beryl sudah pergi meninggalkan dirinya.


"Astaga ..."


Beberapa pertanyaan mulai muncul di kepalanya saat ini.


Kenapa perempuan ini mengonsumsi obat itu?


Siapa yang memaksanya?


Kenapa dia sampai berani lari-lari tergopoh-gopoh ke atas panggung, dan membiarkan orang berspekulasi aneh-aneh tentangnya?!


Dan siapa sebenarnya perempuan ini ...?!


Tanpa sadar Evan melangkah datang, tanpa sengaja ia menyentuh bagian paha gadis itu tapi perempuan ini malah mencengkeram erat tangannya.


Evan gelagapan, sorot mata itu tampak sangat putus asa.


"Tolong ... tolong aku ..."


Air mata itu terus tumpah, ia semakin menggeliat dan mencakar seluruh tangan Evan hingga ia kesakitan.


Ketika tangan Evan yang lain tidak sengaja menyentuh tangannya, Amanda semakin kepanasan ...! Dia butuh! Amanda sangat butuh!


Dan kenapa Evan menjadi sangat tidak tega ...?


Tiba-tiba saja Evan langsung menggendong perempuan ini agar naik ke atas ranjang, tapi semua sentuhan itu semakin membuat Amanda depresi sekaligus frustrasi.


"Jangan ... sentuh aku ..."


Amanda meronta-ronta, tapi entah lah, pikiran dan bahasa tubuhnya sangat bertolak belakang, Amanda mengatakan kalau ia tidak ingin disentuh tapi ia terus mencengkeram erat Evan dan menarik Evan seperti membutuhkan Evan untuk terus menyentuhnya.


Amanda menarik paksa Evan hingga pada akhirnya Evan berada tepat di atasnya. Mukanya terlihat putus asa, ia merintih, ia kesakitan, hingga Evan sedikit terpengaruh akan wajah cantik itu lalu tiba-tiba tanpa sadar Evan malah menyium bagian lehernya.


Amanda memekik keras, sementara Evan langsung menarik diri.


"Sial! Apa yang baru saja aku lakukan?!"


"Teruskan, terus kan ... aku mohon ...!"


Sungguh. Ketika Evan langsung menarik tubuhnya perempuan ini malah menarik tangannya, membawa Evan untuk jatuh ke atas ranjang dan kini posisi mereka sama seperti sedia kala. Evan berada di atas dan Amanda berada di bawah.


Amanda terus menggeliat, sepertinya dia memang benar-benar putus asa ...! Rasa sakitnya mereda ketika Evan menyentuh tubuhnya, dan satu-satunya hal yang diinginkan Amanda adalah sebuah sentuhan ...!


Amanda menggigit ujung bawah bibirnya sendiri ketika mencoba untuk menahannya, dan ketika Evan melihat itu semua, rasanya ... ia juga ingin menggigit bibir ranum itu.


Sial!


Evan juga tidak bisa menahan diri!


"Apa aku memang harus menyentuhmu? Apa aku memang harus menidurimu?!"


Tanpa sadar, Evan mulai membuka pakaian perempuan asing yang ada di depannya ini.


***