VIRGIN NOT FOR SALE

VIRGIN NOT FOR SALE
PERTEMUAN PERTAMA



"Tunggu kau!" Perintah para pengawal saat mengejar Amanda di seluruh hotel. Amanda tengah berlari, ia terengah-engah. Ia pergi ke mana pun tapi ia tidak dapat berpikir dengan jernih ke mana dia harus pergi.


Amanda pergi ke mana saja, asalkan ia bisa segera bebas dari tempat ini. Ia sudah dikepung, membuat ia tidak bisa lari ke mana pun yang ia inginkan.


Matanya mulai berkabut, tubuhnya semakin panas oleh sesuatu hal yang tidak bisa ia mengerti sama sekali. Napasnya naik turun, ia harus mencari pertolongan.


"To ... long." Tapi sialnya, ia tidak menemukan satu orang pun, mungkin karena laki-laki itu membawanya ke kamar presiden suit dan meminta agar dia diberi ruang agar tidak ada orang yang menganggunya.


"Astaga, aku harus lari ke mana ...?"


Penglihatan Amanda semakin buram, bahkan ketika ia menatap ke sekeliling ruangan, ia harus mengerjapkan matanya dulu.


"Dasar perempuan tidak tahu diri! Kemari kau!"


Amanda semakin terhimpit, ia harus segera mencari pertolongan. Hingga pada akhirnya ia melihat ke arah sebuah ruang yang sepertinya lumayan ramai. Mungkin Amanda harus segera ke sana. Mungkin ... mereka dapat membantu Amanda.


"Ke mari kau!"


Secepat kilat Amanda langsung berlari menuju pintu itu, membuka ruangan yang tadi sedikit terbuka hingga kini terbuka sangat lebar.


Amanda berlari memasuki ballroom hotel, semua orang tampak terpana, membuka mata lebar-lebar ketika melihat Amanda yang tengah berlari bahkan menyusuri karpet merah.


***


Sementara Evan masih belum menyadari bahwa pintu ballroom dibuka lebar oleh seseorang perempuan. Ketika ia menatap ke arah Beryl dengan tatapan ingin meninju mukanya sekarang juga.


"Maafkan aku, Evan ... aku harus bicara seperti ini agar para wartawan berhenti mengejarmu ..."


"Jadi anda sudah memiliki kekasih ...?"


"Ya, tentu saja. Untuk itu jangan membuat gosip murahan lagi seperti tadi ...!"


Beryl! Apa yang kau katakan?!


"Saking cintanya tuan Evan pada perempuan ini, bahkan tuan Evan tidak pernah tergoda dengan para perempuan yang tadi ada di layar yang berusaha menggoda tuan Evan."


"He ...?" Evan semakin ingin memanggang Beryl hidup-hidup.


"Lalu, apa anda akan menikahinya?"


"Tentu saja."


Evan semakin tersudut oleh ucapan para reporter itu. Sementara kata-kata Beryl membuat Evan semakin murka oleh kebohongan yang ia ciptakan.


"Maafkan aku Evan, kalau tidak seperti ini mereka akan terus menyudutkanmu ... kalau aku tidak berbohong seperti ini, mereka akan terus menerus menganggapmu sebagai pemain wanita ..." Gumam Beryl di dalam hati.


"Kalau begitu siapa perempuan itu ...? Siapa yang beruntung mendapatkan laki-laki seperti anda?"


"Maaf, tapi tuan Evan ..."


"Sepertinya anda terlalu banyak bicara, kami mengerti posisi anda sebagai sekretaris tuan Evan, tapi kami ingin mendengar tuan Evan memberi klarifikasi."


"..."


"Emm, ya." Evan menghela napas panjang. "Perempuan yang sangat spesial."


Sial! Aku dijebak!


Kenapa aku bisa bicara seperti ini?!


"Bisa kah anda memperkenalkan calon isteri anda?"


"Emm, eh? Tidak, jangan. Calon isteriku sangat pemalu dan ..."


Tiba-tiba terdengar langkahan kaki yang terburu-buru, suaranya berderap dengan sangat cepat hingga beberapa orang langsung menoleh ke arah belakang.


Amanda semakin ketakutan, orang-orang itu berusaha ingin menangkap Amanda. Ia sudah tidak mempunyai pilihan lain ...! Ia berlari kencang menyusuri karpet merah itu, berusaha mencari pertolongan kepada para orang-orang yang ada di dalam ruangan yang saat ini sedang menatapnya.


Evan dan Beryl yang melihat keributan itu tampak mengerutkan keningnya saat menatap perempuan muda dengan gaun berwarna merah itu tampak berlarian, hingga sampai pada akhirnya ia malah naik ke atas panggung dan kini sejajar dengan Beryl yang ada di sini.


"S-siapa kau ...?" Ucapnya lebih mirip seperti desisan yang hanya didengar oleh Beryl.


Evan ikut kaget ketika perempuan itu malah berada di atas panggung dan berdiri di depan para hadirin yang diundang di acara ini. Membuat Evan segera turun dari podium dan niatnya ingin menyuruh perempuan itu untuk turun dengan segera.


Sementara Amanda semakin terlihat gugup, ia menggigiti ujung bawah bibirnya sendiri ketika ia melihat dari arah pintu sana beberapa pengawal itu berlari ke arah dirinya.


"Tidak, jangan. Ya Tuhan dia pasti akan menangkapu."


Amanda kebingungan, ia menoleh ke kanan dan ke kiri berusaha untuk mencari cara. Tapi ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Hingga pada akhirnya ia menyadari bahwa saat ini ia berada di sebuah tempat di mana ada banyak wartawan yang ada di tempat ini.


Amanda tidak mau membuang kesempatan ini, satu-satunya hal yang harus ia lakukan adalah membuat keributan di antara banyaknya orang yang ada di tempat ini agar para pengawal itu bisa segera pergi dari sini.


Amanda hanya ingin menarik perhatian agar ia bisa tertolong dan membebaskan diri. Dan juga ... agar Amanda bisa lepas dari laki-laki tua bangka itu.


"Hei, kau ...? Mau apa kau ...?"


Dan yang Amanda lihat pertama kali adalah laki-laki bertubuh tegap yang menyentuh bahunya dari belakang. Tangan Amanda bergetar, ia melirik ke arah orang yang kini ada di sampingnya.


"Maafkan aku ... tapi sekali ini saja tolong bantu aku ..." desisnya lirih dan hanya Amanda dan laki-laki yang memeluk bahunya itu yang mendengar.


Evan mengernyit.


Apa yang perempuan ini maksud?


Amanda melihat ke arah para wartawan yang ada di depannya, juga kepada banyak orang yang ada di seluruh sudut tempat ini. Sungguh. Amanda berpacu dengan waktu, ia melirik ke arah orang yang berdiri di tempat ini juga banyak pengawal yang kini sedang berlari ke arah dirinya dan berusaha ingin menangkapnya.


Tidak! Ia harus melakukan sesuatu sekarang juga!


"Hei kau ... apa yang kau ...?"


Sebelum Evan melanjutkan kata-katanya lebih lanjut lagi, Amanda langsung menarik tangan Evan, mencoba menarik tubuhnya dan langsung memeluknya erat-erat.


Dan hal itu berhasil membuat semua orang terpana. Mereka membuka mulutnya lebar-lebar termasuk Beryl, Roberto, istrinya bahkan seluruh orang yang ada di tempat ini.


***