VIRGIN NOT FOR SALE

VIRGIN NOT FOR SALE
CANDU



Amanda masih memandang pintu yang baru saja dilewati Evan dengan tatapan kosong. Mungkin pria itu sedang gila ... ucapannya ngawur dan semakin membuat Amanda frustrasi karenanya.


Belum selesai Amanda berpikir, tiba-tiba terdengar pintu yang dibuka. Mama Melina muncul dengan wajah panik dan segera menghamburkan diri ke sisi Amanda.


"Astaga, sayang. Kau sakit? Kenapa kau bisa sakit? Kenapa tiba-tiba kau di sini? Ya ampun, di mana yang sakit, sayang ...?" Melina langsung memeluk Amanda secara tiba-tiba, mengelus lembut kepalanya dengan penuh kasih.


"Mama ..."


"Katakan padaku, apa Evan tidak mengurusmu dengan baik?"


"Eh?"


"Jangan bicara macam-macam." Evan yang baru keluar tiba-tiba datang kembali dan masuk ke dalam kamar.


"Tapi kau membiarkan menantuku sakit."


Roberto yang datang paling akhir langsung menjitak kepala Evan. "Dasar anak kurang ajar, bagaimana bisa kau membiarkan isterimu sakit?"


"Hey! Kenapa Ayah ikut-ikutan?!"


Melina pun ikut bersama Ayahnya menjitak kelala Evan hingga Evan kesakitan. "Astaga, kalian berdua ini ...!"


Melihat keriuhan keluarga ini tanpa sadar membuat Amanda sedikit tersenyum. Kehangatan tiba-tiba menjalar di seluruh isi hatinya melihat interaksi mereka. Satu hal yang paling menyentuh Amanda adalah, perlakuan Mama Melina dan Ayah Roberto. Amanda hanya merasa bahwa, dia memang diperlakukan dengan baik dan penuh kasih sayang, sama seperti apa yang pernah dilakukan oleh Mamanya dulu.


"Sayang, katakan secara jujur. Apa yang sudah dilakukan oleh Evan?" Roberto kini datang ke arah Amanda dan menatap Amanda dengan sungguh-sungguh.


Sementara di sana, Evan berdiri kaku sambil menatap ke arah Roberto. Ia mungkin ketakutan jika Amanda sampai membuka mulutnya. Tapi, tiba-tiba Amanda mendongak dan tersenyum ke arah Roberto.


"Tidak, Ayah. Suamiku memperlakukan saya dengan baik." Dan ucapan itu langsung membuat Evan lega luar biasa sekaligus juga kaget ketika mendengar Amanda secara tidak langsung membelanya.


Tidak ingin membuang waktu, Evan kemudian berdiri ke arah Amanda dan langsung memeluk tubuhnya. "Lihat kan? Kalian dengar sendiri kan? Aku telah memperlakukan isteriku dengan baik."


Tapi Melina masih tidak percaya.


"Apa benar sayang?"


Amanda mengangguk cepat.


"Ya, Evan sangat baik."


Melina dan Roberto bertatapan. Sementara Evan hanya bisa menatap ke arah Amanda dengan sendu. Padahal kemarin dia sudah memperkosanya, tapi dia masih bisa membelanya di depan orang tuanya.


***


"Terima kasih," ucap Evan pada Amanda.


"Untuk?"


"Kau tidak memberi tahu mereka atas apa yang terjadi."


"Aku tidak mungkin melakukannya. Mereka pasti kecewa jika mendengar bahwa kau melecehkan perempuan."


Evan kini menatap dalam-dalam ke arah Amanda. "Itu satu-satunya alasanmu?"


"Ya, lalu apa lagi? Aku tidak mau orang sebaik mereka sedih atas sikapmu."


***


Evan tetap di sini, ia memandang tidur lelap Amanda dengan begitu dalam. Entah kenapa ia begitu betah menatap Amanda lama-lama hingga tanpa sadar Evan menyentuh pipi itu dan mengusapnya lembut.


"Kau tahu, aku tidak bercanda dengan ucapanku tadi. Mari kita belajar saling mencintai," bisik Evan di tengah keheningan malam.


Saat Evan kembali menyentuh pipinya, Amanda mulai bergerak. Sedikit membuat Evan terhenyak ketika ia baru menyadari bahwa Amanda ternyata sangat seksi jika dia menggeliat seperti ini.


Samar-samar ingatan akan malam itu tiba-tiba teringat lagi. Jantung Evan bergemuruh hebat saat ini. Evan juga tidak tahu kenapa ia bisa sampai seperti ini hanya karena memandang dan menyentuh pipinya.


"T-Tuan ..." Amanda mengerjap-erjap, setengah sadar ia menatap ke arah Evan.


"Jangan panggil aku Tuan. Mulai sekarang, jika kau hanya bersamaku, panggil aku dengan sebutan Evan saja."


"Eh ...?"


"Kalau tidak, panggil sayang atau suamiku."


Amanda yang masih setengah sadar mengernyit. Bisikan ini, apa Amanda sedang bermimpi ...?


"Kenapa? Aku memang suamimu dan kau memang istriku."


Amanda hanya bisa menyipitkan mata, samar-samar ia hanya memandang ke arah Evan dengan sangat tidak jelas. Sedangkan saat ini, Evan tanpa sadar menelan salivanya berat ketika mata mereka bertemu. Merasakan wajah Amanda yang sedekat ini, Evan tidak tahu kenapa ia mulai merasa jantungnya berdebar dengan sangat hebat seperti ingin melompat keluar.


Evan memandang lekat-lekat wajah itu. Astaga, kenapa ia baru sadar kalau Amanda secantik ini? Rambutnya, hidungnya, bibir ranum itu, seakan-akan terpatri dan diciptakan dengan begitu sempurna.


Tanpa sadar, Evan mendekatkan diri, ia mulai menyondongkan wajahnya semakin dekat hingga dengan sengaja Evan menempelkan bibir miliknya. Mencecap rasanya dengan penuh damba dan menghirupnya dalam-dalam.


Amanda kaget akan perlakuan itu, tapi saat ia ingin menarik diri Evan menahan kepalanya. Sedangkan Amanda, entah kenapa ia ikut terbuai dengan perlakuan lembut Evan, setengah sadar ia ikut menikmati setiap sentuhan itu, membuat mereka semakin beradu kecupan satu sama lain.


"Amanda, aku rasa ... aku mulai menyukaimu."


Evan menyentuh setiap detail wajahnya, dan Amanda kembali memejamkan mata saat Evan kembali menyiuminya tiada henti. Lalu dengan gerakan tiba-tiba, Evan naik ke atas ranjang dan menindih Amanda lagi.


"Astaga, kenapa kau seperti candu? Aku ... tidak bisa berhenti."


"Evan,"


"Ya, sayang. Panggil namaku."


Evan menahan napas, ia tidak boleh menyakiti perempuan ini sama seperti apa yang ia lakukan kemarin, untuk itu ia harus menahan diri. Cepat-cepat Evan segera berdiri dan menjaga jarak terhadap Amanda.


Astaga. Apa yang baru saja aku lakukan?!


Tiba-tiba ponsel Beryl berdering. Nama Beryl muncul ke atas layar hingga membuat dahi Evan mengerut.


"Bisa kah kau ke kantor? Kau sudah terlalu lama tidak masuk dan aku benar-benar butuh tanda tanganmu segera."


Setelah ponsel itu ditutup, Evan melenguh kemudian.


***


06:39