
"Anda mau apa Tuan ...?" Amanda meringsut mundur ke belakang ketika Evan mulai maju ke arah dirinya.
"Apa kau lupa ...? Apa kau lupa bahwa kau tetap harus melayaniku. Astaga ... aku belum pernah mencicipi gadis perawan."
Evan menarik tangan Amanda lagi dan mendorongnya sampai jatuh ke atas ranjang, membuat Amanda semakin gelagapan.
"Tuan, bisa kah kita bicara dulu? Saya ... ingin meminta kelonggaran dan kompensasi."
Buru-buru Evan menggeleng. "Tidak. Tugas seorang isteri tetap harus melayani suami kan?"
"T-tapi Tuan."
Tangan Amanda bergetar hebat, wajahnya yang tadi pucat semakin pasi. Raut wajahnya sudah benar-benar panik ditambah dengan air matanya yang ingin segera keluar.
Tapi, Evan hanya tertawa dalam hati.
Gadis ini seperti tikus dalam tempurung. Entah lah, ia juga tidak tahu kenapa mengerjai gadis ini bisa semenarik ini.
"Buka bajumu."
"T-tuan, saya mohon ..." Amanda menangis terisak-isak, dan sepertinya Evan masih tidak perduli.
Evan terus saja maju dan kini mencengkeram erat bahu Amanda. Tersenyum menyeringai seperti setan hingga membuat Amanda semakin ketakutan.
Ha ha ha.
Tiba-tiba Evan tertawa dengan sangat keras lagi.
"Mandi lah. Sepertinya aku sudah cukup mengerjaimu."
Amanda terhenyak kaget.
"Ha ha ha. Jadi seperti ini rasanya memperkosa gadis yang masih perawan." Evan menarik diri dan kini berdiri santai di samping ranjang.
"Mandi lah, aku tahu kau pasti lelah."
"T-tuan ..."
"Hapus air matamu. Kau tahu, tadi aku hanya ingin meledekmu saja. Kau ingat kan? Aku tidak akan pernah menyentuh seorang perempuan tanpa persetujuan secara suka rela."
"..."
"Hapus air matamu. Kau jelek seperti itu."
Buru-buru Amanda menghapus air mata itu. Ya Tuhan ... ternyata Evan memang tidak pernah berniat untuk melecehkannya.
Amanda menatap lagi ke arah Evan sambil berusaha untuk bangkit. Amanda mulai berkaca-kaca, ternyata memang benar ... bahwa laki-laki yang ada di hadapannya sebenarnya memang orang yang baik.
"Kalau begitu, saya ke kamar saya."
"Tidak. Kau tetap harus di sini. Mulai sekarang kita berbagi ranjang."
"Eh?"
"Aku hanya penasaran bagaimana mempunyai isteri. Lagi pula, tidak ada yang tahu kan kalau tiba-tiba aku berubah pikiran dan ingin menidurimu."
"A-apa?"
"Ha ha ha. Kau kena lagi." Evan langsung ambruk ke atas ranjang. Membenamkan tubuhnya dan mengistirahatkan seluruh tulang-tulangnya yang terasa sangat remuk.
"Cepat mandi, dan tugas pertamamu sebagai isteri adalah memijatku!"
"Emm, b-baik Tuan."
Sebelum Amanda keluar dan meraih knop pintu, Amanda menoleh ke arah Evan sebentar. Entah kenapa, perasaan lega kini membuncah di hati Amanda yang paling dalam.
Hari ini, Amanda menemukan orang baik lainnya setelah Roberto dan Melina. Ternyata ... dibalik sifat kasar dan semena-mena Evan, ia masih mempunyai sisi baik. Sebuah hal yang langsung membuat Amanda tersenyum ketika menatap wajah Evan yang masih terpejam itu.
Terima kasih Tuan ...
Ucap Amanda di dalam hati. Senyuman itu merekah dan tiba-tiba membuat jantungnya berdetak kembali dengan begitu cepat.
"Kenapa kau tidak mandi juga? Kenapa kau menatapku? Apa kau kecewa karena aku tidak jadi menyentuhmu?"
***
Nyatanya, air yang mengalir dari ujung kepala hingga seluruh tubuhnya memang benar-benar menenangkan Amanda. Tanpa sadar, sudah lebih dari satu jam Amanda berada di sini, bermain dengan air karena mungkin ini adalah terapi terbaik setelah beberapa hari belakangan ini ia dibuat syok oleh semua keadaan ini.
"Hei?! Kau mandi atau sedang mati?!"
Teriakan dari Evan tiba-tiba menyadarkan Amanda. Ia menggigit ujung bawah bibirnya sendiri kemudian buru-buru segera bersiap segera keluar dari kamar ini secepatnya.
Lima menit berselang, dan kali ini Amanda sudah keluar dari kamar mandi. Tidak sengaja menatap ke arah Evan yang tiba-tiba sudah tertidur pulas dengan keadaan tengkurap.
Amanda mengerut.
Padahal baru lima menit yang lalu ia mendengar teriakannya, tapi sekarang dia sudah terlelap.
Amanda melenguh. Tapi, baru saja ia berbalik, Amanda tidak sengaja menatap ke arah wajah Evan yang tengah terlelap di sana.
Laki-laki ini ... tidak sebajingan yang ia pikirkan.
Tiba-tiba saja ada perasaan hangat seketika. Perasaan tenang dan nyaman hingga tanpa sadar Amanda berjalan ke arahnya.
Ternyata memang benar kalau dia sebaik ini ...
Amanda menggigit ujung bawah bibirnya sendiri, menarik napas dalam-dalam lalu kembali tersenyum sambil terus menatapinya.
Laki-laki ini bisa saja bertindak kurang ajar semau dia, tapi nyatanya Evan tidak pernah melakukannya. Di balik perlakuan Evan yang sering mengerjainya, nyatanya Evan selalu menghargainya.
"Terima kasih," desis Amanda lirih.
Tanpa sadar, Amanda mulai betah memandangi wajah Evan yang sedang terlelap. Hingga tiba-tiba terdengar suara hingga membuat Amanda terlonjak begitu saja.
"Mulai jatuh cinta padaku, Amanda?!"
Mata Amanda langsung melebar seketika. Ia syok, buru-buru Amanda melangkah ke belakang dengan tergesa.
Sial! Ia tertipu kalau Evan sudah tidur sampai kedua kali.
"Anda ...? Anda belum tidur?"
"Bagaimana aku bisa tidur kalau kau terus memandangiku seperti itu?"
"Eh? Aku ... maaf."
Evan melenguh lalu kemudian bangkit.
"K-kalau begitu, aku pergi dulu."
Baru saja Amanda melangkah, Evan menarik tangannya.
"Kau lupa ingin memijitku?"
"Ah, ya. Maaf."
Evan melenguh. Jelas-jelas Evan tahu kalau Amanda sudah salah tingkah.
Amanda menarik diri, ia pun juga tidak berani menatap wajah Evan.
"Oh iya, dan satu hal lagi."
Amanda baru mau menoleh.
"Jangan jatuh cinta padaku, Amanda. Jangan pernah jatuh cinta padaku karena aku tidak mau kau sakit hati."
"Eh?"
Evan mengernyit. "Kau bukan tipeku, jadi tolong jangan bawa perasaan apa pun di dunia pernikahan pura-pura ini."
Amanda tersentak. Ia seperti disadarkan begitu saja. Hingga buru-buru Amanda menggeleng.
"Ya, tentu saja."
Evan mengangguk. Sepertinya perempuan ini memang harus mengerti di mana seharusnya posisinya.