VIRGIN NOT FOR SALE

VIRGIN NOT FOR SALE
LEMBARAN BARU



Sudah dua hari Amanda dirawat di rumah sakit.


Nyatanya, Evan merawat Amanda dengan sangat baik. Ada Roberto dan juga Mama Melina juga yang setiap hari bahkan sering meluangkan waktu untuk Amanda.


"Jadi, hari ini kau pulang?"


Amanda mengangguk. Sementara Evan masih sibuk berada di luar untuk menebus obat di apotek.


"Iya, Ma."


Untuk yang kesekian kalinya Melina menyium kening Amanda. "Jaga dirimu, semua akan baik-baik saja mulai sekarang. Dan oh ya, jika kau mengalami kesulitan atau Evan membuat masalah, kau bisa menghubungiku kapan pun."


Amanda tersenyum lagi.


"Menurutmu, siapa yang akan membuat masalah?" Mereka berdua kaget ketika Evan sudah masuk ke dalam kamar perawatan dan menenteng sebuah plastik berisikan obat.


"Jelas-jelas kami membicarakanmu," ucap Melina.


Evan melenguh sesaat sebelum akhirnya ia menarik tangan Amanda. "Ayo kita pulang."


"Eh, tapi ..."


"Tidak apa-apa sayang, kita juga sudah berpamitan. Sebentar lagi Ayahmu Roberto akan datang menjemput Mama. Kau pulang dulu saja bersama Evan.


"Tapi Ma,"


"Tidak apa-apa."


Hingga pada akhirnya Evan sudah menarik tangan Amanda untuk segera keluar dari kamar ini.


Sepeninggal Amanda, Melina meremas tangannya. Mereka sudah menghilang di balik tikungan dan ia malah semakin mengkhawatirkan Amanda. Ia masih takut, kalau Evan akan menyakitinya di rumah nanti.


"Sayang, kau sendiri?" Baru saja tadi ia membatin kenapa Roberto belum menjemputnya, kini suaminya sudah berdiri di hadapannya. "Di mana Evan? Dan juga Amanda?"


"Sayang, kau baru datang? Mereka sudah pulang."


"Astaga, betapa kurang ajarnya mereka. Mereka tidak menungguku."


"Kau tahu sendiri Evan bagaimana kan? Dia tadi memaksa Amanda untuk segera ikut pulang."


Roberto melenguh panjang.


"Well, aku sebenarnya masih khawatir dengan Amanda. Bagaimana kalau Evan menyakitinya lagi?"


Tapi Roberto kemudian membelai rambut isterinya itu. "Tenang saja, Evan tidak akan mungkin menyakitinya lagi. Aku tahu anakku tipe orang seperti apa, dan sepertinya Evan sudah mulai menyukai gadis itu."


"Eh?"


"Biarkan mereka menjalani sendiri kehidupan mereka. Kita sudah tidak perlu untuk ikut campur lagi. Apa kau tidak ingat saat kemarin Amanda diculik? Evan benar-benar berubah menjadi gila."


Melina kembali mengingat-ingat lagi.


"Jangan khawatir, sekarang Evan sudah jauh lebih dewasa. Dia akan menjaga wanitanya dengan sebaik mungkin."


Hingga pada akhirnya Melina memeluk Roberto dengan sangat erat.


***


Sepanjang perjalanan, Amanda merasa kikuk, ia curi-curi pandang ke arah Evan yang sedari tadi fokus menyetir dan menoleh ke arah belakang untuk mencari pengawal yang biasanya mengekorinya setiap waktu.


Tapi ada yang aneh di sini.


Sudah dua hari belakang ini, Amanda tidak melihat Ronald dan juga Liam. Membuatnya bertanya-tanya di mana mereka sebenarnya.


"Kenapa? Sedari tadi kau terlihat gelisah."


"Ronald dan Liam. Mereka di mana?"


"Mereka sudah tidak bekerja lagi di tempatku."


"Apa?"


"Jangan salah sangka. Aku tidak memecatnya. Mereka saat ini sedang bekerja bersama Ayahku."


"Eh?"


"Kau tahu? Sebenarnya Ronald adalah mata-mata Ayahku. Sial! Aku sudah kecolongan dan tidak tahu, pantas saja aku merasa aneh dengannya. Sedangkan Liam, mungkin dia satu-satunya pengawal yang pro denganku."


Amanda menggigit ujung bawah bibirnya sendiri.


"Jadi sudah tidak ada pengawal?"


Evan mengangguk. "Ya, Amanda. Apa kau tidak ingat bahwa aku kemarin mengatakan bahwa kita sudah seharusnya membuka lembaran baru lagi? Kita akan benar-benar menjadi sepasang suami isteri yang sesungguhnya? Dan aku akan memberikan kepercayaan penuh padamu."


Mendengar hal itu mata Amanda terbelalak kaget.


Membuka lembaran baru?!


Suami isteri?


Tiba-tiba Amanda langsung meringsut sendiri. Ia memeluk tubuhnya sendiri mulai merasa takut. Tapi melihat itu Evan malah tertawa.


"Tenang lah. Aku akan menunggumu sampai kau siap. Aku janji akan menghindari alkohol seumur hidupku agar aku tidak bisa menyakitimu lagi."


Mendengar hal itu tiba-tiba hati Amanda sedikit tersentuh. Sepertinya Evan memang sungguh-sungguh dengan ucapannya.


"Evan, terima kasih ..."


"Amanda ...?" Tiba-tiba Evan memanggil namanya.


"Ya."


"Mulai sekarang, belajar lah juga untuk mencintaiku."


Mendengar hal itu kepala Amanda mendongak.


"Aku serius dengan ucapanku."


***