
Ha ha ha. Boby tampak menyukai ketika ia memukul Amanda dengan membabi buta. Membuat perempuan itu jatuh tidak berdaya dan terengah-engah putus asa.
"Ayo kita lanjutkan permainan ini, sayang ..." ucap Boby dan kini ia membuka celananya.
"Lepaskan aku!"
"Kalian para penjaga yang ada di luar! Kalian bisa pergi saat ini juga! Aku akan bermain dengan sangat berisik! Perempuan ini dan aku akan bercinta dengan sangat hebat! Dan aku tidak mau suara erangan kita kalian dengar!"
"Baik tuan ..." adalah suara dari balik pintu hingga mereka terdengar segera pergi.
"Ha ha ha. Lagi pula sebentar lagi obat itu bekerja ... ayo lah sayang ... nikmati saja permainan kita." Kalimat-kalimat sensual yang menakutkan itu membuat Amanda sangat ketakutan. Amanda benar-benar panik. Matanya mulai sayu hingga ia frustrasi karena tidak tahu lagi harus berbuat apa.
"Kau membuatku tidak sabar ..." Boby menjambak rambut Amanda, membawanya dan melemparkannya sampai ke atas ranjang hingga Amanda merintih kesakitan.
Sungguh. Amanda tidak rela, ia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri jika kehormatanmya direnggut paksa oleh laki-laki tua bangka seperti ini.
"Lepaskan aku!"
Sepertinya Boby sudah tidak sabar, ia memaksa Amanda untuk membuka gaunnya tapi Amanda masih menolak. Amanda meronta sekuat tenaga tapi pertahanan Boby cukup kuat.
"Aku akan mengikatmu!"
Amanda semakin ketakutan, tapi tiba-tiba Amanda seperti mendapatkan celah ketika Boby membuka seluruh celananya, mengekspos bagian dalamnya dan seketika itu juga Amanda langsung menendangnya kuat-kuat.
"Aw!"
Berhasil! Amanda berhasil melepas cengkeraman tangan Boby hingga Amanda langsung meloncat turun dari atas ranjang.
"Dasar wanita sialan! Cepat ke sini kau! Wanita tidak tahu diuntung! Aku sudah membelimu!"
Amanda tidak menggubris sama sekali ocehan dari Boby. Dengan sisa-sisa kekuatan yang ada, Amanda segera berlari, segera pergi dari kamar hotel ini dan menutup pintunya dengan paksa.
Amanda menoleh ke kanan dan ke kiri, untung saja penjaga tadi sudah pergi dari sini ketika si tua bangka itu tidak sengaja memerintahkan kepada mereka. Membuat Amanda bisa leluasa untuk pergi dan segera keluar dari gedung ini.
Dasar bodoh!
Amanda seperti dikejar waktu, tubuhnya mulai panas dingin, keringatnya mulai bercucuran dan tubuhnya tiba-tiba panas. Sial! Amanda lupa kalau dia sudah mengonsumsi obat itu.
Amanda melupakan semuanya, yang ia pikirkan hanya satu. Ia harus segera pergi ke luar dari hotel ini.
"Wanita kurang ajar! Cepat kejar perempuan itu!" Boby berada di depan pintu sambil memegangi selangkangannya yang tampak kesakitan. Tapi sayang, kalau para penjaga ternyata memang sudah pergi. Ia lupa kalau tadi ia memerintahkan kepada mereka untuk segera pergi agar tidak ada orang yang menganggu waktunya bersama dengan gadis itu.
Boby segera mengeluarkan ponselnya, menghubungi para pengawal untuk membawa perempuan itu kembali ke kamar hotel sekarang juga!
"Sialan! Di mana kalian?! Perempuanku kabur! Bawa dia sekarang juga!"
***
Di sebuah ballroom hotel, semua orang tampak terpana dengan sesuatu yang mereka lihat saat ini. Mereka semua syok, tidak terkecuali dengan Roberto yang hampir pingsan dan langsung ditangkap oleh isterinya.
Evan berada di sebuah tempat hiburan malam, pakaian Evan berganti-ganti, dan itu menandakan bahwa Evan memang sering berada di sana setiap waktu. Dan hal yang lebih mencengangkan adalah ketika Evan selalu berada di sana dengan seorang perempuan, yang bahkan berbeda pula.
Bahkan ada tampilan lainnya, sisi buruk Evan yang sering mengebut di jalan, ugal-ugalan dan tidak jarang Evan melanggar peraturan. Juga saat Evan tampak sangar dan memukuli beberapa pengunjung kafe hingga situasi semakin runyam.
"Bisa kah anda jelaskan apa ini ...?" Para wartawan semakin suka jika Evan merasa semakin tersudut.
Beryl di sana segera bertindak, ia ingin menyita semua rekaman itu tapi tindakan Beryl segera ditahan oleh beberapa orang yang kontra dengan Evan, yang tidak setuju Evan meneruskan perusahaan.
Sial!
"Bagaimana kami bisa mempercayakan perusahaan kepada anda tuan Evan kalau anda ..."
Dan semuanya semakin kecewa dengan seluruh hal negatif yang ditampilkan di atas layar.
"Anda mengatakan akan bertanggung jawab penuh atas perusahaan tapi kelakuan anda di belakang sungguh sangat tidak bertanggung jawab ..."
Evan semakin mati kutu. Dan Roberto mengepalkan kedua tangannya. Ia bisa saja membela anak satu-satunya itu, tapi sesuatu hal yang tidak terduga ini bisa saja menjadi sebuah ujian bagi Evan agar ia bisa tahu bagaimana cara anaknya menyelesaikan segala macam masalah.
"Bagaimana kami bisa mempercayai anda kalau begini ...?"
Situasi semakin riuh, sementara tangannya ikut mengepal karena ia benci dengan kegaduhan ini.
"Eh?" Mata Evan mendelik sempurna. Kenapa sekarang arahnya seperti ini ...?
"Ya, tuan. Tolong beri kami penjelasan sekarang juga."
Evan berdehem sebentar. Ia melihat ke segala arah yang sudah mulai ribut dan situasinya semakin tidak terkendali.
Evan semakin mati kutu. Seluruh isi dari file itu memang benar adanya. Ia bahkan tidak bisa memberi pembelaan karena apa yang mereka ucapkan benar adanya. Dirinya memang sering membawa perempuan-perempuan itu untuk menemaninya, sering berbuat onar di mana pun ia berada bahkan kadang lupa bahwa ada nama belakang yang ia tanggung.
Mata Evan mengerjap-erjap, ia sama sekali tidak bisa memberikan pembelaan apa pun, sedangkan Beryl semakin gemas melihat Evan yang tidak bisa segera bertindak.
Dengan tergesa-gesa Beryl naik ke atas panggung.
"Jangan salah artikan dengan apa yang kalian lihat. Para perempuan itu yang datang menggoda tuan Evan, bukan tuan Evan yang datang mengencani mereka."
"Eh?" Evan bahkan juga ikut kaget melihat Beryl yang tiba-tiba berdiri di sampingnya.
"Saya saksinya. Dan mengenai keributan ketika tuan Evan memukul seseorang di kafe, semata-mata karena tuan Evan ingin membela para perempuan karena sudah dilecehkan melalui verbal oleh kata-kata dari laki-laki itu."
"Eh?"
Mata Evan membulat sempurna.
Sejak kapan aku melakukan hal seperti itu?
"Tuan Evan sangat menghormati dan menjunjung tinggi perempuan, asal kalian tahu ..."
What?!
Mata Evan mendelik sempurna.
Sejak kapan aku ...?
Sial! Sahabatku pembohong besar!
"Dan soal tuan Evan kebut-kebutan menaiki mobil ... mohon maaf, itu ketika tuan Evan mendengar bahwa ibu tuan Evan sakit. Sudah saya katakan kepada anda bapak-bapak dan nyonya-nyonya sekalian, kalau tuan Evan, tidak bisa membiarkan nyonya besar sendirian ... karena dia begitu mencintainya ..."
Sialan! Sejak kapan aku mengakui kalau dia ibuku!
"Bukan kah begitu tuan Evan?"
"He ...?"
Mata Evan mengerjap-erjap, ia menoleh ke segala arah dan tiba-tiba bertemu dengan mata Roberto.
"Emm, ya ya ... kurang lebihnya seperti itu ..."
Sebagian yang lainnya kagum sebagian lainnya tampak masih tidak percaya, ia mengernyit, menahan napas dalam.
"Kalau anda begitu menjunjung tinggi perempuan, kenapa anda belum menikah?"
Beryl memutar kedua bola mata. Selalu seperti ini ...! Para reporter pasti akan selalu mengejar Evan kalau tidak segera dihentikan.
"Ya, kenapa anda belum menikah tuan Evan? Atau memang benar ... bahwa anda masih ingin bersenang-senang dengan perempuan sama seperti apa yang kita lihat saat ini ...?"
"Sudah saya katakan kalau tuan Evan tidak mungkin melakukan hal memalukan seperti itu?"
Berhenti lah Beryl! Gumamnya dalam hati. Mau sampai kapan kau bercanda dengan kebodohan gilamu itu?!
"Tuan Evan, sudah mempunyai kekasih yang sangat amat sangat ia cintai asal kalian tahu."
What?!
Bukan hanya beberapa orang yang kaget, tapi Evan juga. Seingat Evan, ia tidak pernah mempunyai kekasih sama sekali!
Beryl! Apa yang kau katakan?!
Dan tiba-tiba pintu terbuka dengan sangat lebar, terlihat perempuan tengah berlari menyusuri karpet berwarna merah.
***