
Wajah Monika tampak sembab, ia sudah lupa berapa banyak tisu yang ia gunakan untuk mengelap ingusnya saat ia bertemu dengan Evan. Monika sudah tampak putus asa, saat ini ia terus menerus memohon Evan agar ia bisa kembali padanya, meski pun Evan sudah berulang kali menolaknya.
"Bisa kah kita seperti dulu, Evan? Bisa kah kita bersama lagi?"
"Sudah lah, Monika. Sudah tidak ada hal yang kita bicarakan."
"Kenapa Evan? Apa kurangnya aku? Aku sudah jauh lebih baik sekarang. Dan aku janji aku tidak akan mengulangi kesalahanku dulu."
Tiba-tiba Evan berdecih. "Aku sudah tidak mempunyai minat denganmu, mohon mengerti lah."
"Aku tahu aku salah. Waktu itu aku mabuk, dan aku tidak sadar bisa tidur dengan laki-laki lain."
Ha ha ha. Evan tertawa dengan terbahak-bahak. "Tapi kenapa sampai tidur berulang kali? Tidak mungkin kan setiap hari kau mabuk?"
"Evan aku mohon, aku tahu aku salah."
"Sudah lah, Monika. Jangan selalu mencari alasan."
Monika menangis histeris. Bahkan suara kencang degup musik di bar ini tidak bisa mengalahkan suara tangisnya.
"Kalau tidak ada yang ingin dibicarakan, aku permisi."
"Evan, aku mohon." Lagi-lagi Monika memegang lengan Evan dan menahannya agar Evan tidak pergi. "Apa kau memang sudah melupakan saat-saat kita bersama? Apa kau melupakan cinta kita?"
"..."
"Apa kau tidak ingat ketika kau mengatakan cintamu padaku di lapangan sekolah? Apa kau lupa ketika kita selalu menikmati waktu bersama? Aku selalu menemanimu di saat-saat kau benar-benar menyukai fotografi, bahkan aku berani bertaruh di seluruh memori laptop milikmu ada begitu banyak fotoku." Kali ini, suara Monika begitu terdengar putus asa. Ia kembali menangis berharap kalau Evan mau kembali mengenang saat-saat mereka dulu.
"Kau selalu ada disaat aku butuh, Evan. Apa kau ingat bahkan hampir setiap hari kita bersama tanpa mengenal waktu. Waktu itu aku hanya ingin mencoba-coba. Saat itu kau tengah sibuk dan lupa waktu, aku mencari pelampiasan ..."
Evan memijat pelipisnya, melenguh panjang dan menatap ke arah Monika yang masih sesenggukan. "Monika, sudah lah ..."
"Bisa kah kau cerai saja dari perempuan itu dan menikah denganku? Sungguh, Evan. Aku sangat mencintaimu. Kau tidak tahu betapa hancurnya aku saat kau menghilang? Pikirkan tentang kita, pikirkan tentang kenangan kita dulu. Apa kau benar-benar sudah melupakanku?"
"..."
"Tidak, kan? Aku yakin di hati kecilmu kau masih menyukai aku. Iya kan? Kau bahkan tidak bisa menjawab pertanyaan dariku. Aku yakin kau masih mencintaiku."
Monika tiba-tiba langsung berdiri dan memeluk Evan dengan sangat erat. Ia kembali menangis sejadi-jadinya dan berharap ia bisa lebih lama seperti ini.
"Evan aku cinta kamu."
"Lepaskan aku, Monika. Apa kau lupa aku sudah mempunyai isteri?" Dengan usaha yang sangat keras, Evan melepas pelukan itu. Hingga membuat Monika tidak sengaja terjatuh ke atas lantai dan beberapa orang langsung menatap ke arah Monika.
"Evan ..." Monika menganga lebar karena masih tidak percaya Evan melakukannya.
Monika tidak terima. Jujur, ini adalah tindakan Evan yang menurutnya kasar yang pernah Evan lakukan seumur hidupnya. Membuat Monika sedikit emosi dan segera berdiri berhadapan dengan Evan dengan mata yang menyala.
"Kau ...?! Kenapa kau tega padaku?! Apa mungkin ... ini karena perempuan itu? Perempuan asing yang tiba-tiba datang ke kehidupanmu?!" Monika terengah-engah. Ia sungguh emosi, ia benar-benar emosi.
"Jangan bicara seperti itu."
"Aku bersumpah, aku yakin seratus persen kalau sebenarnya kau tidak menikahinya karena ingin. Aku yakin, kalau ada sesuatu hal yang tidak aku mengerti kenapa kau menikahinya. Aku sudah jauh mengenalmu secara bertahun-tahun! Bahkan hanya dengan tatapanmu aku tahu kalau kau sebenarnya tidak pernah mencintainya! Iya kan? Benar kan?"
"Dan satu hal lagi, aku yakin seratus persen kalau kau bahkan tidak pernah menyentuhnya. Kau tidak mampu untuk tidur dengan perempuan lain karena kau masih mencintaiku kan?"
"Monika tutup mulutmu!"
"Tidak, sebelum kau jujur padaku kalau kau masih mencintaiku!" Teriak Monika hingga sedikit membuat keributan di sana-sini.
"DIAM!" Tanpa sadar Evan berteriak keras. Ia langsung menghempaskan Monika untuk menjauh dari dirinya dan menghempaskannya jatuh ke atas sofa.
"Maaf, Monika. Aku harus melakukan ini karena kau benar-benar kelewatan!"
"E-Evan ...!"
"Aku pergi! Kau pulang lah! Sudah tidak ada tempat bagimu di hidupku!"
"Evan! Evan! Evan!"
Terlambat. Evan sudah pergi.
***
Amanda melongok ke arah pintu dan beberapa kali terlihat menggigiti jemarinya. Waktu sudah hampir dini hari tetapi kenapa Evan belum pulang juga?
Evan belum pernah seperti ini sebelumnya. Membuat Amanda benar-benar khawatir dan hanya memandang ke arah meja yang berisi banyak makanan dengan putus asa.
Amanda berinisiatif untuk menelefon Evan, tapi sudah panggilan ke dua puluh, Evan tidak juga mengangkatnya.
Amanda mulai khawatir. Entah sudah berapa kali dia bolak balik dan terus berjalan ke arah pintu berharap kalau suaminya itu akan segera datang.
"Evan, kau di mana?" Desisnya lirih pada udara.
***
06:36