
Evan menatap nanar pada pintu kamar perawatan ayahnya saat ia membawanya sampai ke sini. Kata dokter, ayahnya mengalami serangan jantung ringan, membuat Evan merasa bersalah karena telah berdebat panjang seperti itu.
"Ayahmu sudah terlalu ingin melihatmu menikah ..." adalah ucapan dari Ibu tirinya tapi hanya dibalas dengan dengusan napas dari Evan.
"Ayahmu hanya ingin menggendong seorang cucu. Garis keturunan dari keluarga ini. Kau tahu ...? Hanya kau satu-satunya keturunannya."
Evan diam tanpa kata. Tapi dengan menikahi wanita asing atau menikah dengan mantan kekasihnya, bukan solusi yang baik bukan ...?
"Ketika kau memperkenalkan seorang perempuan, kau harus tahu betapa bahagianya dia."
Lalu, terdengar pintu terbuka, seorang dokter mengangguk satu kali ketika mereka pada akhirnya mengizinkan Evan untuk masuk ke dalam kamar perawatan.
Tapi, bukan orang sakit yang Evan lihat pertama kali. Evan pikir, dia akan melihat ayahnya terbaring lemah tidak berdaya di atas tempat tidur. Tapi yang ia lihat, malah ayahnya sudah berdiri dengan menyedekapkan tangannya sambil melotot tajam ke arah Evan.
"Roberto ...?" Istrinya bahkan khawatir melihat suaminya seperti itu.
"Dasar anak kurang ajar! Bukan kah sekarang pada akhirnya kau menyesal berdebat denganku? Karenamu, aku hampir meninggal ..."
"Bisa kah ayah tidur saja dan beristirahat? Ayah tahu kan kalau tadi ayah ..."
"Tidak sebelum kau menuruti apa permintaanku tadi."
"Tolong jangan seperti anak kecil ..."
"Oh, jadi kau ingin kita berdebat lagi?"
Astaga ...! Evan sudah hampir gila sekarang! Bagaimana bisa ia bisa sebegitu frustrasi seperti sekarang jika terus berhadapan dengan ayah.
"Kau memang ingin ayah tidak ada ..."
"Cukup. Cukup. Ayah selalu mengatakan hal tidak-tidak."
"Kau memang tidak pernah mencintai ayahmu ini kan?"
"Oke oke. Cukup! Baik lah! Aku akan menurutimu!" Hingga pada akhirnya Evan kalah. Ia sudah nyaris tidak bisa berkutik lebih jauh lagi.
"Jadi ...?"
"Aku akan menikahi perempuan. Tapi beri aku waktu selama satu tahun untuk mencari perempuan yang tepat!"
"Apa? Itu penghinaan! Lagi pula kau sudah membawa wanita!"
"Ya, tapi wanita itu ..."
Tiba-tiba Evan menghentikan kalimatnya, ia ingin menceritakan sepenuhnya kepada ayahnya, tapi melihat kondisi ayahnya yang seperti itu sepertinya Evan harus berhenti. Bisa-bisa ayah akan mengalami serangan jantung mendadak lagi.
"Beri aku waktu untuk meyakinkan diri. Lagi pula aku tidak boleh sembarangan memilih wanita untuk aku nikahi."
"Oke, aku beri waktu satu hari."
"Apa?! Satu hari apanya? Aku minta satu tahun!"
"Jangan alasan!"
"Oke, oke. Enam bulan."
"Masih terlalu lama. Aku beri waktu tiga hari."
"Tidak! Tiga bulan!"
"Tapi ayah!"
"Tidak ada tapi ...!"
Tiba-tiba ibu tirinya malah ikut-ikutan. Ia mengetok sendok sebanyak tiga kali yang ia gunakan seperti mengetok palu pada persidangan.
"Sah! Kau harus mencari wanita selama satu Minggu Evan!"
"Astaga ...! Kalian membuatku gila!"
***
Amanda hanya bisa memandang makanan di atas meja tanpa menyentuhnya sama sekali padahal ia sudah benar-benar lapar. Sejak kemarin malam, ia juga tidak makan sesuap apa pun. Bukan karena apa, ia hanya merasa takut jika makanan yang ada di sampingnya ini dibubuhi oleh sesuatu obat, yang mampu membuatnya seperti kemarin.
Amanda menelan salivanya pasrah. Ada secangkir minuman di sana, tapi ... ia sudah sangat trauma. Apa lagi laki-laki yang kemarin datang, juga laki-laki yang sama bejatnya dengan laki-laki tua yang membelinya.
Amanda hanya meringkuk dan melihat ke arah jendela. Dari atas hotel yang entah di lantai berapa ini ia dapat melihat suasana senja yang menyejukkan, tapi sayang suasana itu berbanding terbalik dengan hatinya saat ini.
Air matanya menetes lagi.
Andai saja ayah ibunya masih ada ... mungkin hidupnya tidak akan pernah sesulit ini.
Lalu perlahan, ia tertidur ... masih terlihat bekas air matanya yang basah di kedua pipinya.
Malam sudah agak larut ketika Evan mengunjungi gadis itu ke dalam kamar. Ia melihat para penjaga ternyata ia masih dengan setia tidak membiarkan gadis itu pergi dari tempat ini.
Bukan karena ada niat buruk, tapi ...Evan harus menjaganya karena setelah dia keluar, pasti akan banyak orang yang mengenalinya. Evan tidak mau jika melihat gadis itu bersuara dan berkata yang tidak-tidak dan bisa saja memengaruhi tentang reputasinya.
Saat Evan masuk, ia melihat gadis itu sudah terlelap. Bukan berada di atas ranjang, melainkan di sebuah kursi dan mungkin seluruh tulangnya sakit jika ia tidur di kursi yang tegak seperti itu.
Perlahan, Evan mendekat, dahinya langsung mengerut ketika ia melihat sisa-sisa air mata di kedua sisi pipinya. Entah karena dorongan apa ... tiba-tiba Evan menyeka air mata itu. Mengelusnya lembut sebelum akhirnya menarik diri.
Perempuan ini pasti syok ...
Dia baru saja di jual ...
Evan mulai merasa kasihan, tapi secepat kilat ia menahan diri. Lagi pula dia adalah wanita yang sudah mengacaukan semuanya bukan?
Tapi baru saja Evan akan pergi, tiba-tiba terdengar tangisan lagi. Perempuan yang bernama Amanda itu terlihag gelisah di dalam tidurnya dan terus mengigau mengucapkan sebuah nama.
"Mama ... Papa ..." Adalah kata yang berhasil Evan dengar, tapi setelah itu Evan tidak bisa mendengar karena hanya terdengar seperti sebuah gumaman.
Evan mendekat lagi, sepertinya perempuan ini benar-benar sedang bermimpi.
Tapi ... ia terisak ...
Ia menangis sesenggukan dan terus meracau tidak jelas, membuat Evan kembali mendekat ke arahnya dan menatap nanar pada gadis kecil yang terisak-isak seperti itu.
"Kau ... kenapa ...?"
Tapi tangisan perempuan itu semakin kecang, membuat Evan semakin tidak tahu harus bagaimana. Evan kemudian menyentuh bahunya, menarik bahu itu dan membawanya sampai ke dadanya.
"Tenang ... tenang ... kau harus tenang ..."
Evan menepuk-nepuk bahunya seperti seorang bayi. Menenangkannya dan terus menepuk-nepuk bahunya sampai dia terlelap kembali.
***