
Di dalam mobil, Amanda menatap ke arah pot bunga yang saat ini berada di genggamannya. Perlahan tapi pasti, senyuman Amanda mulai mengembang bersamaan dengan hatinya yang kembali menghangat saat mengingat akan sosok Melina di hatinya.
"Kau gila? Sedari tadi kau senyum-senyum sendiri?" Protes Evan.
"Ah, maaf. Aku tidak tahu kalau ini mengganggumu."
Evan mendengus. "Terserah kau saja. Tapi kenapa kau membawa pot itu? Itu akan membuat rumahku kotor."
"Tapi ..."
"Buang saja."
"Ja-jangan aku mohon."
"Amanda! Kau mulai protes! Apa kau tidak tahu kalau kau hampir menjadi pel*cur jika aku tidak menyelamatkan hidupmu?!"
"Maaf, tapi ini pemberian Mamamu, dan ... dia adalah orang pertama yang benar-benar memperlakukan aku dengan baik. Aku jadi teringat almarhumah Mama ... aku hampir lupa bagaimana senyuman Mama sampai suatu saat Mamamu hadir dan tiba-tiba menyayangiku seperti anaknya sendiri." Tiba-tiba Amanda menunduk sedih, ia kembali teringat akan kedua orang tuanya.
Tak disangka-sangka, Evan sedikit terenyuh akan ucapan itu. Ia menatap Amanda yang benar-benar sedih dan masih menatap ke arah pot itu.
"Aku harus bilang apa kalau aku membuangnya?"
"Ingat! Jika kau merawat tanaman itu kau harus benar-benar membersihkannya!"
Pernyataan Evan yang tiba-tiba itu tiba-tiba langsung membuat mata Amanda berbinar-binar.
"Em, ya. Aku janji."
***
Keeseokan paginya, di kantor Roberto sedang bersama dengan seorang pria berjas hitam berkaca mata. Pria itu langsung memberikan sejumlah berkas yang ada di tangannya kepada Roberto.
Orang kaya seperti Roberto tidak pernah mengalami kesulitan jika ia berurusan untuk mencari seseorang informan. Buktinya laki-laki yang ada di hadapannya salah satunya. Dia berhasil memberikan informasi sedetail mungkin mengenai Amanda dan hubungannya dengan Evan.
Suatu fakta yang berhasil membuat Roberto menganga adalah Amanda nyatanya anak dari rekan bisnisnya yang sudah lama meninggal. Kemudian dia diasuh oleh Paman dan Bibinya yang tega memperlakukan dia sebagai pembantu bahkan menjualnya.
"Jadi ..."
"Ya, tuan. Hubungan mereka seperti terjebak oleh situasi yang sangat rumit."
"Astaga ..."
"Jadi bagaimana Tuan? Apa anda ingin membatalkan pernikahan mereka? Mereka tidak pernah saling mencintai."
Roberto memijat pelipisnya sendiri. Kalau isterinya tahu, dia pasti akan sangat kaget jika dia mendengarnya.
"Jadi anak teman lamaku masih hidup? Astaga, aku pikir dia sudah tidak ada karena selama ini dia tidak pernah muncul ..."
Roberto semakin kehilangan pikirannya. Bisa-bisanya saudaranya mampu melakukan hal keji semacam itu.
"Jadi, bagaimana Tuan ...? Apa anda ingin membatalkan pernikahan itu? Tuan tahu, kalau itu pasti akan menyulitkan nona Amanda. Saya tahu persis kalau anda berteman baik dengan almarhum orang tua Amanda di masa lampau ... dan anda juga harus merasa kasihan oleh putera anda karena di juga merasa dijebak oleh pernikahan ini ..."
"..."
"Maaf bukan maksud saya mencampuri ..."
"Ya, aku tahu."
Butuh waktu lama Roberto berpikir, dan butuh waktu lama pria berjas itu berdiri dan menanti jawaban dari Roberto.
"Biarkan mereka menikah." Tiba-tiba Roberto mengatakan akan hal itu.
"Tapi tuan ..."
"Katamu, Amanda butuh perlindungan karena jika dia pulang dia pasti akan dijual lagi. Dan Evan pasti juga kepalang malu karena dia sudah mengumumkan sendiri berita pernikahannya di depan media."
"Tapi Tuan ... apa anda lupa kalau dia melakukan itu karena tidak ingin Monika, mantan pacarnya itu ..."
"Justru itu yang aku tidak suka. Aku pikir Monika orang yang baik, tapi ternyata ..."
"Emm, tapi Tuan."
"Percaya padaku. Jika pada akhirnya Evan memilih Amanda dibanding Monika. Aku yakin puteraku itu memandang Amanda mempunyai satu poin lebih dibandingkan Monika."
"Apa anda yakin ...?"
"Hanya masalah waktu untuk mereka bisa jatuh cinta ..."
"Eh?"
"Aku tahu anakku dengan dengan sangat baik. Percaya lah."
"Baik Tuan."
"Kalau begitu kau bisa terus berpura-pura menjadi pengawal rumah Evan. Teruskan pekerjaanmu. Jangan katakan kau adalah mata-mataku. Di mata Evan kau hanya lah seorang pengawal yang ia tugaskan untuk menjaga apartemen dan juga Amanda bukan?"
"Ya Tuan."
"Kalau begitu tetap menjadi seperti itu."
"Baik, Tuan."
***