VIRGIN NOT FOR SALE

VIRGIN NOT FOR SALE
RENCANA JAHAT



"Dasar perempuan gila!"


Evan langsung mendorong tubuh Monika sampai terjungkal dan mempermalukan Monika. Evan langsung menghadap ke belakang, ia tidak sudi mengotori matanya dengan tatapan menjijikkan seperti itu.


"Kau ...! Perempuan gila! Bisa-bisanya kau melakukan ini di hadapanku! Pergi kau dari sini!"


"Evan aku tahu kau menginginkannya ..."


"PERGI!" Teriakan menggema ke seluruh sudut ruangan. Teriakannya sangat keras dan baru pertama kali Evan berteriak sampai seperti itu.


Monika merasa dipermalukan. Mukanya merah padam kala melihat Evan begitu jijik menatap ke arah dirinya. Tangannya mengepal erat, dia benar-benar tidak terima. Perlakuan Evan tidak bisa ia tolerir sama sekali.


Sungguh. Monika akan balas dendam dengan apa yang dilakukan oleh Evan.


***


Sementara di tempat lain, ada begitu banyak orang yang terlalu cemas. Sungguh, ketika mereka melihat berita di televisi mereka kaget luar biasa.


Bagaimana mungkin keponkannya adalah seorang tunangan dari pebisinis handal keluarga dari Roberto?


Paman dan Bibinya terus mondar mandir ke seluruh penjuru ruangan, sementara Stefa dan Stefi juga selama beberapa hari ini tidak bisa tidur memikirkan kenapa sepupunya itu mempunyai kekasih seperti Evan?


"Ma ...? Ini kesalahan kan? Beberapa hari ini aku tidak bisa tidur memikirkan ini semua."


"Ya, Ma," ucap Stefa menimpali. "Amanda mana mungkin menjadi kekasih dari Evan? Kita tahu bahwa selama ini Amanda selalu berada di dalam rumah."


Paman dan Bibinya terus memutar otak. Kepalanya sangat penting luar biasa kerika mendengar seluruh berita yang mengatakan bahwa Amanda ternyata tunangan dari pebisnis andal itu.


Tidak. Ini semua tidak mungkin. Benar apa kata Stefa dan Stefi bahwa kemungkinan besar ini adalah kesalahan. Lagi pula orang yang membelinya waktu itu juga marah-marah kenapa Amanda tidak bisa dijinakkan dan malah kabur dari tempat seharusnya ia berada.


"Tunggu, ini pasti ada kesalahan."


"Aku sudah bilang berapa kali sih?" Stefi terus merengek dan mengatakan bahwa mereka harus cepat menemukan cara.


Tapi sesaat setelah itu, mereka menatap ke arah televisi. Mendengarkan sebuah berita acara bahwa kemungkinan besok, sosok pebisnis bernama Evan itu akan segera melaksanakan konferensi pers.


"Ma? Mama lihat kan?"


"Iya, Ma. Lebih baik Mama besok ke sana untuk memastikan."


***


Monika menangis hiteris. Ia melangkah keluar dari apartemen Evan sambil terus menyeka air matanya yang tidak mau berhenti. Padahal, dia sudah dengan suka rela mengatakan bahwa ia akan menyerahkan seluruh hidupnya untuk Evan, tapi nyatanya Evan sama sekali tidak perduli.


Monika hampir gila saat ia pulang dan masuk ke dalam kamarnya. Ia langsung jatuh dan terngkurap ke atas ranjang dan terus menerus mengutuk kenapa Evan bisa sampai melakukan hal ini kepada dirinya.


Dulu, mereka bahkan saling mencintai ...


Namun sekarang ...?


Bahkan, Monika juga tidak tahu kenapa dia bisa menjadi seperti wanita murahan seperti sekarang. Ia sadar, bahwa mungkin ia yang terlalu mencintai Evan dan masih mengharapkan Evan bisa merubah pribadinya seperti ini.


Monika udah terlanjur berjanji akan melakukan apa pun untuk menarik Evan ke dalam pelukannya. Apa pun itu ...!


Ia kemudian menyalakan ponselnya, mencari berita, artikel atau apa pun itu mengenai Evan. Dan yang muncul adalah sebuah pemberitahuan bahwa besok, pagi-pagi sekali Evan akan melangsungkan konferensi pers di hotel yang sama dan mengundang para wartawan.


Lalu tiba-tiba matanya membelalak sempurna. Ia seperti mendapatkan ide untuk membuat Evan kembali jatuh terperangkap ke dalam pelukannya lagi.


Sesaat setelah itu, ia kemudian menghubungi Max, mengatakan bahwa besok sebelum matahari terbit Monika akan mengunjunginya. Mengatakan bahwa ia harus tampil secantik mungkin untuk mengikat Evan kembali pada dirinya.


Monika tersenyum.


"Kalau perempuan asing itu mampu menjebak Evan, kenapa aku tidak bisa? Aku ... akan melakukan hal yang sama. Aku akan berada di depan wartawan dan mengatakan bahwa aku adalah calon isteri yang sesungguhnya."


Tiba-tiba terdengar tawa kecil. Monika tersenyum bangga akan apa yang baru saja ia rencanakan.


"Aku janji akan membuatmu kembali lagi kepadaku, Evan."


Monika lalu menarik laci meja di mana di dalamnya berisi sebuah album foto. Tempat ia menarik kenangan bersama Evan sewaktu mereka duduk di bangku sekolah menengah.


"Aku janji aku akan membawa kita ke masa itu lagi," desis Monika lirih.


Sungguh. Monika sedang mengenang saat-saat indah dulu. Di mana ia dan Evan saling tersenyum penuh cinta bahkan sampai setiap hari. Hingga sampai di suatu titik di mana Monika sangat menyesal saat ia tergoda dengan adik tingkatnya yang jauh lebih tampan darinya. Membuatnya sempat lupa diri dan Evan lah orang yang memergokinya saat Monika berada di kamar waktu itu.


Monika sempat berpikir bahwa dia akan bahagia bersama dengan selingkuhannya, tetapi nyatanya tidak ...! Monika baru sadar bahwa Evan adalah segalanya bagi dirinya.


***