VIRGIN NOT FOR SALE

VIRGIN NOT FOR SALE
WILLY



Senyum Amanda merekah lebar saat dirinya kini berhasil keluar dari apartemen. Ternyata para pengawal yang selama ini sangat baik kepadanya, ia diizinkan untuk pergi ke taman bermain, pergi membeli ice cream yang ada di taman sambil meluangkan waktu sebaik mungkin berkeliling area kota ini.


Amanda memandang uang yang tiba-tiba diberikan secara cuma-cuma oleh Ronald. Sungguh, selama seharian ini Amanda mengandalkan uang dari Ronald karena sepersen pun ia tidak mempunyai uang sama sekali.


"K-kau ...? Kenapa kau baik sekali?"


Ronald terkekeh. "Ambil saja, nona. Saya hanya tidak tega melihat anda keluar tanpa uang seper pun."


"Tapi seharusnya aku yang membayar kalian, tapi kau malah memberiku uang."


"Saya tahu anda seperti ingin mati di dalam apartemen. Saya kasihan melihat anda. Dan saya tahu ... orang seperti suami anda, tidak pernah mempunyai tanggung jawab sedikit pun."


Perkataan Ronald berhasil membuat Liam terhenyak.


Astaga ...! Apa dia lupa kalau dia sedang melecehkan bosnya sendiri?


Amanda melenguh panjang. "Aku benar-benar merepotkan, ya ..."


Ronald menggeleng. "Tidak, nona."


"Berikan aku nomormu, aku janji jika suatu saat aku akan mengembalikan uang yang aku pinjam."


"Tidak perlu nona ..."


Amanda pun harus memaksa Ronald untuk memberikan nomor telefonnya.


Amanda kemudian tersenyum saat menperoleh nomor Ronald. Sekarang, ia merasa bebas lepas, tempat lainnya yang sangat ingin ia tuju adalah ke makam orang tuanya. Sungguh, Amanda sangat ingin ke sana, karena selama dia hidup dengan Paman dan Bibinya, dia sama sekali tidak diizinkan sama sekali pergi ke luar rumah.


Untung saja, Ronald segera menyetujuinya. Ia membawa Amanda pergi ke makam dan memberikan banyak waktu untuk Amanda. Membuat Amanda benar-benar merasa harus berterima kasih kepada Ronald.


"Hey, apa kau tidak ingin dipecat?" Liam berbisik saat mereka pada akhirnya sampai di pemakaman dan menatap Amanda dari kejauhan ketika sedang berada di makam Ayah dan Ibunya.


"Aku tidak perduli ..." jawab Ronald dengan ketus.


"Jangan seperti itu, kau tidak tahu betapa mengerikannya Tuan Evan."


"Sudah kubilang aku tidak perduli ..."


"Hey, kenapa gaya bicaramu tidak seperti pegawai dan bosnya." Liam mulai mengerut merasa curiga. "Jangan-jangan kau mata-mata ..."


Ronald hanya menaikan sedikit alisnya.


Ha ha ha. Tiba-tiba Liam tertawa. "Aku berlebihan ya ... sorry ..."


Ronald melenguh.


Ya, tapi memang benar kan, kalau dirinya adalah mata-mata.


"Kita harus cepat membawa nona Amanda pulang, karena kalau tidak bukan kau saja, aku yang akan kena pecat dan aku tidak ingin menanggung resiko," ucap Liam sambil melangkah ke arah area pemakaman.


***


Amanda baru saja menaruh bunga di atas pusara milik orang tuanya. Terlihat matanya masih sembab karena hari ini dia sudah cerita panjang lebar mengenai kehidupannya kepada mereka.


"Ayah, Ibu ... aku rindu ..."


"Nona Amanda." Tiba-tiba Liam datang, ia tampak gelisah saat menghampiri Amanda. "Maaf, Nona ... sepertinya anda harus segera pulang."


"Oh, astaga ... maaf aku hampir lupa waktu."


"Ya, Nona. Lebih baik anda pulang sebelum Tuan Evan pulang. Karena kalau tidak ..."


"Emm, ya. Aku mengerti."


Baru saja Amanda berdiri dan berjalan kaki lewat sepuluh langkah, seseorang laki-laki dengan tubuh tinggi menjulang menyerukan nama Amanda hingga membuat Amanda menoleh.


"Amanda ..."


Amanda mengerut, tatapannya menatap kepada sosok itu.


"Eh?"


"Ini aku Willy. Apa kau tidak ingat?"


"Willy?" Amanda mencoba menatap lagi ke arahnya dari atas sampai bawah dengan seksama.


"Teman SMP mu dulu, apa kau tidak ingat ...?"


Dan ketika sosok itu mengatakan hal itu, Amanda langsung membungkam mulutnya sendiri.


"Willy? Ya ampun, astaga. Kau Willy teman sekelas ku dulu?"


Willy mengangguk-angguk dengan cepat.


***


"Aku tidak menyangka aku bertemu denganmu di sini," ucap Willy sambil mencecap kopinya.


"Emm, ya. Aku pun juga."


Dan pada akhirnya mereka berakhir di sini. Setelah pertemuan tidak terduga itu, Willy mengajak Amanda untuk berbincang sebentar karena mereka sudah bertahun-tahun tidak berjumpa.


"Ya ampun, Amanda. Kau harus tahu betapa khawatirnya aku dan teman-temanmu karena kau menghilang."


Amanda hanya tersenyum kecut. "Ceritanya panjang, Wil. Dan aku belum bisa menceritakan ini sekarang."


"Ya, aku tahu. Aku hanya ingin tahu bagaimana kabarmu? Kau tahu, kalau aku sebenarnya benar-benar rindu padamu. Dan astaga, aku hampir tidak mengenalimu tadi. Kau berubah sangat cantik."


Amanda terkekeh, ternyata sikap Willy dari dulu sama saja. Dia memang terkenal jika disuruh menggoda wanita.


"Aku tadi juga hampir tidak mengenalmu."


Ha ha ha. Willy tertawa. "Karena aku juga berubah menjadi tampan, kan?"


"Huh." Amanda kurang setuju dengan perkataan itu. Membuat mereka saling melepas canda dan tawa lagi, mengenang saat mereka menggunakan seragam dan juga saat-saat dulu ketika Willy pernah menyatakan cintanya pada Amanda.


"Astaga, kau dari dulu ternyata sama saja. Masih playboy."


Willy mengernyit. "Selagi masih ada kesempatan tidak apa-apa kan?"


Amanda melenguh tapi kemudian tawa mereka pecah lagi saat Willy tidak berhenti bercanda.


Sementara itu, Liam dan Ronald mengawasi Amanda dari kejauhan. Liam yang was-was tapi Ronald yang tampak santai.


"Kau tahu, kita bisa dibunuh."


Ronald mengangkat bahunya.


Tiba-tiba ponsel Ronald berdering dan nama Evan muncul di atas layar.


"Lihat, orang yang ingin membunuhmu menghubungiku."


"Astaga!"


Cekrek!


"Mau apa kau?!"


"Mengirim foto ini kepadanya."


"Apa kau gila?!"


"Aku hanya penasaran bagaimana reaksinya."


Ronald terkekeh dan Liam sudah merasakan bau pembunuh di sekitarnya.


***