VIRGIN NOT FOR SALE

VIRGIN NOT FOR SALE
TIDAK INGIN PISAH



Pagi selanjutnya, Amanda sudah dua kali lebih tegar dibandingkan dengan kondisinya kemarin. Walau wajahnya masih pucat, ia selalu teringat akan posisinya di sini.


Ditatanya seluruh ruangan apartemen ini. Mulai mengambil sapu dan mengepel seluruh lantai. Amanda juga sedikit terisak saat ia membersihkan tetesan darah yang semakin kering itu dengan lap yang ia pakai. Ia tahu darah apa itu tapi secepat kilat ia menggeleng, sebentar lagi Evan pasti akan segera menyanggupi permintaan perceraiannya karena bukan kah hal ini yang diinginkan oleh Tuannya itu?


Setelah semuanya selesai, Amanda kemudian berkutat ke dapur dan mulai memasakkan makanan untuk Evan. Menata rapi makanan itu ke atas meja dan seperti biasa menyediakan teh hangat untuk Evan.


Amanda tidak tahu bahwa sedari tadi ada yang mengamatinya dari kejauhan. Lewat pintu yang sedikit terbuka Evan diam-diam mengamati Amanda dengan semakin dalam.


Perempuan ini selalu tahu di mana posisinya walau pun dia sudah disakiti ...


Evan menelan salivanya berat ketika pada akhirnya ia membuka pintu. Ia melihat ke arah Amanda dan Amanda mendongak ke arah Evan.


Evan kemudian keluar, ia melihat ke seluruh makanan yang sudah terhidang saat ini dan juga menatap ke seluruh ruangan yang sudah bersih seperti sedia kala.


"Terima kasih ..."


Amanda hanya diam saja, baru ketika dia akan pergi tiba-tiba tangannya segera ditahan oleh Evan.


"Tunggu, Amanda. Kau juga harus makan ..."


Tapi Amanda menggeleng. "Maaf, saya tidak lapar."


Tatapan mata sendu Amanda semakin mengusik hati Evan saat ini. Kebohongan besar kalau dia tidak lapar, Evan jelas-jelas tahu kalau sejak kemarin dia belum makan.


"Duduk, dan makan bersamaku. Kau ... sudah menyiapkannya."


Lagi-lagi Amanda menggeleng. "Saya biasanya di belakang. Bukan kah anda sendiri yang mengatakan bahwa anda tidak sudi makan dengan pembantu?"


Evan menghela napas berat.


"Kutarik lagi ucapanku. Duduk lah, aku mohon."


Awalnya ragu, tapi Evan malah mendorong tubuh Amanda agar mau duduk di sampingnya.


Situasi semakin canggung, Amanda meremas tangannya sendiri tanpa lagi berbicara apa pun dan Evan yang terus menatap ke arah Amanda.


"Amanda, aku minta maaf ..."


"Jadi kapan kita bisa bercerai, Tuan?"


Belum selesai Evan melanjutkan kata-katanya, Amanda sudah menanyakan hal itu kepada Evan. Tatapan matanya penuh harap saat menatap ke arah Evan. Seolah-olah tatapan itu mengatakan bahwa Amanda memang berharap kalau ia benar-benar ingin segera bercerai dengan Evan.


Tetapi entah kenapa tatapan itu menyakiti Evan. Dulu, dia memang berharap kalau dia ingin segera bercerai, tapi seiring berjalannya waktu ... kenapa ia malah berat untuk melepaskan perempuan ini ...?


Evan melihat ke sekeliling ruangan. Evan merasa ... dia sudah mulai terbiasa. Kebiasaan Amanda yang selalu ada di rumah, menyambut kedatangannya, dan memenuhi semua kebutuhannya, lambat laun membuat Evan terbiasa akan perlakuan itu.


Evan tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika semua itu tiba-tiba menghilang. Jujur, Evan merasa tidak rela.


Amanda mendongak.


"Sepertinya, aku tidak bisa menceraikanmu."


Mata Amanda terbelalak kaget. Sedangkan Evan, tidak tahu kenapa tiba-tiba ia bisa berbicara seperti itu.


Evan hanya merasa, apa yang sudah menjadi miliknya tidak akan pernah bisa ia melepasnya. Dan ini lah satu fakta, bahwa Evan mengkhianati apa yang pernah ia ucapkan dulu.


Evan pikir dia akan mudah merelakan perempuan ini pergi, tapi kenapa seiring berjalannya waktu Evan tidak mau kehilangan orang ini ...?


***


"T-Tuan ...?!" Amanda mulai menangis, air matanya keluar dengan sangat deras ketika Evan mengatakan hal itu.


"Anda ... apa anda gila?! Saya ... saya masih mempunyai masa depan, kenapa anda tiba-tiba mengurung saya seumur hidup di sini?"


Tapi Evan tetap menggeleng.


"Walau bagaimana pun, aku sudah melakukannya. Aku hanya ingin bertanggung jawab."


"Saya tidak membutuhkan pertanggung jawaban apa pun. Saya ... hanya ingin bebas dari anda ..."


"Aku juga tidak tahu kenapa semakin kau ingin berpisah, semakin tidak ingin aku melepaskanmu."


"Tuan, apa anda gila ...?"


"Mungkin ..."


Amanda terperangah kaget, tiba-tiba ia langsung mundur ke belakang ketika ia mulai mengkhawatirkan akan satu hal.


"Apa mungkin anda menahan saya di sini karena anda ingin bebas melakukan hal sekeji itu kepada saya sesuka hati anda?!" Tanpa sadar Amanda memekik keras.


"Amanda, pikiranmu terlalu jauh!"


Tapi Amanda menggeleng. Amanda sudah sangat tahu bagaimana liciknya otak laki-laki ini.


"Saya mohon, saya hanya ingin bercerai dengan anda."


"Tapi aku tidak akan pernah melakukannya. Almarhumah Ibuku pernah berpesan bahwa aku tidak boleh melepaskan tanggung jawab."


Amanda semakin menangis.


"Tuan ... Anda sudah benar-benar gila!"


***