VIRGIN NOT FOR SALE

VIRGIN NOT FOR SALE
MENYELIDIKI



Dengan cepat Evan sudah menjatuhkan Amanda sampai ke atas tempat tidur, mencengkeram erat kedua tangannya agar tidak bisa menghindar dari dirinya.


"Lepas! Lepaskan aku!"


"Salah siapa kau menggodaku?!" Evan mengernyit, tersenyum mirip seperti iblis kala menatap ke arah Amanda yang tampak ketakutan.


"Dasar laki-laki kurang ajar! Lepaskan aku!" Amanda terus meronta dan hal itu membuat Evan mengernyit.


Kenapa sifatnya berubah seratus delapan puluh derajat dari kemarin?


"Kenapa ...? Kenapa menolakku? Tadi malam kau sangat liar, tapi sekarang ...?"


"Maafkan aku, tadi malam pasti terjadi kesalah pahaman. Aku ... sudah aku katakan aku bisa jelaskan."


Tapi sepertinya Evan tidak mau mendengar lagi perkataan Amanda, melihatnya menggeliat dan terus meronta seperti itu entah kenapa malah membuat Evan penasaran.


"Kenapa kau menggeliat? Kau berencana menggodaku?"


"Lepas!"


"Tubuhmu boleh juga ... biarkan aku mencicipinya sebentar saja."


Baru saja Evan berencana ingin membuka gaun itu, tiba-tiba Amanda berusaha menarik diri, tangganya langsung melayang dan tiba-tiba saja sudah menampar keras pipi Evan.


Plak!


Satu tamparan benar-benar berhasil mendarat di pipi Evan, membuat matanya langsung menyala lebar dan menatap ke arah Amanda dengan tajam.


"Kau! Berani-beraninya kau!"


Amanda langsung menarik diri, ia segera berlari menjauh dari tempat itu dan berusaha keluar. Tapi naas, ia terkunci, ia tidak bisa keluar kecuali Evan yang bisa membukanya.


"Aku ... biarkan aku pergi ..."


Mata Evan masih menyala di sana, ia menjilat tepi bibirnya sendiri bekas hantaman wanita itu. Sungguh. Kali ini emosinya benar-benar memuncak, wanita ini ... kenapa dia sangat menyebalkan?


"Kau begitu liar tadi malam ..."


"Tutup mulutmu! Aku tidak pernah dengan sengaja menggodamu! Aku dijebak!"


Evan tertawa terbahak-bahak. Dia tidak mungkin percaya dengan begitu mudahnya bukan?


"Kau dijebak? Bukan kah terbalik? Aku yang kau jebak, kau tidak perlu untuk membela diri lagi."


Air mata Amanda kembali menetes deras, tanpa sengaja Evan melihat tangannya bergetar dengan sangat hebat, membuatnya sedikit mengernyit kala melihat bahasa tubuh itu.


Perempuan ini ...?


Kenapa dia tampak seperti orang yang ketakutan? Berbanding terbalik dengan apa yang sedang ia pikirkan.


"Aku ... aku mohon. Aku harus pergi."


Baru saja Evan ingin mendekat ke arah perempuan itu, tiba-tiba ponselnya berbunyi dengan sangat nyaring.


"Beryl ...?"


***


Di sebuah ruangan berdinding putih, tempat di mana Beryl menunjukkan sebuah foto-foto tentang Amanda kepada Evan.


"Dijual?"


"Ya, ayah dan ibunya meninggal. Setelah kematian kedua orang tuanya dia diasuh oleh paman dan bibinya yang gila harta."


"Eh ...? Lalu, kenapa dia bisa berakhir di atas panggung seperti itu?"


"Sepertinya dia hanya ingin menyelamatkan diri. Dia hampir diperkosa oleh laki-laki tua yang telah memberinya obat."


Evan menarik napas panjang, ia mengerjapkan mata berulang kali oleh suatu kebetulan yang masih membuatnya syok setengah mati.


"Jadi, dia memang bukan wantia yang aku pikirkan?"


"Ya, dia masih perawan. Dia bukan wanita murah yang pernah kau sebutkan tadi."


"Perawan?" Tiba-tiba Evan tertawa sinis. "Jadi, di masa sekarang masih ada sisa stok gadis yang perawan."


Beryl menggeleng sekaligus mendengus. "Ev, jaga bicaramu. Kau tidak tahu betapa menderitanya dia. Jadi ... kau bisa membebaskan dia Ev. Lagi pula dia sudah mengatakan kalau dia mau mengatakan bahwa dia mau menjelaskan tentang semuanya kepada wartawan."


Tanpa sadar Evan memijat kepalamya sendiri, ia menatap ke arah Beryl dan memikirkan tentang tawaran yang tadi dia ucapkan.


Hal itu mungkin bisa saja terjadi ...


Tapi ...


Tiba-tiba Evan teringat akan wajah gadis cantik itu, perempuan yang putus asa dan perempuan polos yang bahkan merasa jijik ketika Evan menyentuhnya.


Tiba-tiba rasa penasaran mulai menghantui diri Evan saat ini. Mungkin, dia bisa sedikit bermain-main sebelum menjelaskan hal ini kepada semua orang.


"Evan! Hey! Apa yang kau pikirkan?"


"Bisa kah kau cari lebih spesifik lagi? Aku ingin tahu mendetail tentangnya."


Beryl mendengus. "Sudah lah, kenapa aku harus mencari hal tentangnya lagi? Sebaiknya kita harus membebaskan dia. Lagi pula dia tidak urusannya denganmu. Kita harus mengembalikan dia ke keluarganya. Kita tidak perlu tanggung jawab."


Mendengar hal itu Evan mengernyit.


"Lalu, jika aku mengembalikannya? Keluarganya bisa jadi menjualnya lagi kan?"


Entah kenapa Evan mulai kepikiran.


"Sudah aku bilang itu bukan urusan kita."


Tapi sepertinya Evan malah kepikiran tentang hal itu.


"Oh iya, siapa tadi nama perempuan itu?"


"Amanda," jawab Beryl.


***