
Ada yang begitu marah saat ia melihat Evan sedang bermesraan dengan perempuan lain di dalam rumah sakit. Emosinya melonjak hebat, ia merasa bahwa satu-satunya orang yang pantas bersanding dengan Evan adalah dirinya. Membuat emosinya semakin bergejolak tidak terima.
"Kau sedang apa di sini?" Tiba-tiba salah satu pengawal bernama Ronald menyipitkan mata. Ia merasa curiga saat melihat mantan kekasih Evan berjinjit dan mengintai ke arah kamar tempat di mana Amanda dirawat.
"Kenapa kau mengendap-endap?"
Monika yang sudah dipergoki seperti itu akhirnya segera menjauh. Ia mengucapkan sumpah serapah kepada Ronald sebelum akhirnya ia pergi.
"Kurang ajar!" Monika menendang apa-apa saja yang ada di depannya dengan sangat sebal. Ia menangis tiada henti dan berteriak memaki Amanda dengan sangat keras.
"Lihat! Aku akan balas dendam! Kalau kau tidak bisa menjadi milikku! Perempuan lain pun juga tidak bisa memilikimu!"
Monika segera menuju mobilnya, menggebrak kemudi dengan sangat keras ketika tiba-tiba ada yang mengetuk pintu mobilnya berulang kali. Seorang laki-laki menatap tajam ke arah Monika hingga Monika sedikit ketakutan.
"Mau apa kau?"
"Namaku Boby. Kuperhatikan tadi kau menyumpahi Amanda berulang kali. Jadi aku berpikir kalau kau mencintai laki-laki tadi."
Monika mengernyit.
"Jadi bisa kah kita bekerja sama?"
Monika mendengus ragu. "Apa kau tidak lihat?! Ada pengawal yang menjaga dia dua puluh empat jam penuh."
"Maka dari itu kita harus bekerja sama," ucapnya lagi.
***
Amanda kini tertidur lelap. Ada begitu banyak mimpi yang tadi sempat menganggunya tapi kini semua berubah menjadi hening. Membuat Amanda bisa segera mengistirahatkan seluruh badan dan juga pikirannya.
"Aaaa!" Baru saja Amanda memperoleh tidur nyenyaknya, tiba-tiba terdengar suara jeritan yang amat panjang. Membuat Amanda mau tidak mau terjaga akan suara itu.
Sementara di luar sana, kedua pengawal yang ada di depan pintu juga kaget akan suara itu. Samar-samar terlihat Monika yang berlari ke arah kedua pengawal itu dan semakin histeris di hadapan mereka.
"Tolong, tolong bantu aku. Ada ular di semak-semak dan dompetku jatuh di sana. Bisa kah kalian mengambilkannya?" Monika masih terdengar histeris, sementara Ronald dan Liam saling pandang.
Ronald menaikkan bahunya. "Panggil security saja. Tugas kami bukan untuk mengambil dompetmu yang jatuh."
Sungguh. Ronald tahu siapa perempuan ini. Perempuan absurd yang tiba-tiba datang dengan kehebohan yang absurd pula.
"Jam berapa sekarang? Security sudah pasti sedang patroli ke sudut rumah sakit." Monika masih terus beralasan hingga membuat Liam kasihan juga.
"Ayo lah, aku mohon."
Liam semakin kasihan, sementara Ronald bergeming dan masih tetap saja berdiri di depan pintu kamar perawatan Amanda.
"Tugasku hanya mengawasi majikanku."
Monika semakin frustrasi. Walau bagaimana pun caranya, ia harus bisa membawa kedua pengawal ini pergi dari kamar Amanda.
"Lagi pula kau terlihat absurd sekali."
Tiba-tiba pintu terdengar dibuka. Amanda sudah berdiri di depan pintu dan menatap sekilas kepada Monika. "Kau, bisa bantu dia, kan? Kasihan, dompetnya terjatuh dan Liam, aku juga kasihan dia mencari sendiri di tengah malam seperti ini."
"Eh?" Ronald kaget akan kedatangan majikannya yang tiba-tiba ini.
"Tapi saya hanya diperintahkan untuk menjaga nona."
Mendengar hal itu Amanda tersenyum, tapi melihat senyuman itu Monika seperti ingin muntah.
"Ayo, tidak apa-apa. Lagi pula aku tidak mungkin kabur saat aku diinfus seperti ini kan? Aku janji tidak akan menyusahkan kalian."
"Tapi nona ..."
"Percaya lah padaku."
Sedangkan di sana, Monika kembali ber acting. "Aku mohon, Carikan dompetku. Kau tidak tahu betapa banyak hal penting yang ada di dalam sana."
Awalnya ragu, Ronald merasa bau-bau keanehan ada di sini. Tindakan absurd mantan kekasih Evan, sepertinya ada sesuatu maksud yang tersembunyi.
"Ayo lah, tidak apa-apa."
"Tapi nona."
"Kau tahu aku, aku tidak mungkin kabur dan membiarkan kalian kena marah."
Mendengar ucapan yang seperti janji itu, pada akhirnya Ronald mengalah, ia kemudian bergabung dengan Liam dari arah belakang untuk mencari dompet dari Miss ceroboh ini.
"Terima kasih, ayo aku tunjukkan di mana tempatnya."
Mereka bertiga lalu menghilang dari balik lorong. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sedang mengawasi mereka. Lalu saat keadaan benar-benar sepi, bayangan itu kemudian berjalan ke arah Amanda yang masih berdiri di ambang pintu.
"Amanda, apa kabar? Seharusnya malam itu kau sudah menjadi milikku."
Begitu Amanda menoleh, Amanda kaget luar biasa. Ia ingin langsung menjerit, tapi sayang, Boby kelewat cepat hingga langsung membungkam mulut Amanda rapat-rapat.
***