VIRGIN NOT FOR SALE

VIRGIN NOT FOR SALE
NAFKAH BATIN!



Matanya masih melotot tajam bahkan Amanda hampir terjatuh ketika mendengar semua ucapan Evan.


"Ya, karena itu semua memang kewajiban seorang isteri bukan?"


Jantung Amanda semakin berdegup dengan sangat kencang. Ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Evan. "K-kau?! Aku pikir pernikahan ini bukan pernikahan yang sebenarnya."


Ha ha ha. Tiba-tiba Evan tertawa, ia kemudian menatap ke arah Amanda daru bawah sampai atas, menatap ke arah tubuh itu sekaligus penasaran akan sesuatu hal.


"Aku belum pernah mencicipi gadis perawan sepertimu."


Tangan Amanda mulai gemetar, apa lagi ketika Evan kini kembali berdiri dan mulai berjalan ke arah dirinya.


"Sudah aku bilang jangan macam-macam denganku. Jika kau mengira aku adalah orang yang baik, kau salah besar! Aku bisa jauh lebih berbahaya dari laki-laki yang kemarin membelimu, asal kau tahu. Dan aku harap ..." tiba-tiba Evan menatap lagi ke arah Amanda sambil tersenyum penuh arti.


"Aku harap kau mampu melayaniku setiap malam."


Deg!


Jantung Amanda kembali berhenti untuk berdetak.


Laki-laki ini ...?!


Ya Tuhan, aku ralat ucapanku ketika tadi aku mengatakan bahwa laki-laki ini adalah laki-laki yang baik.


Evan tidak jauh berbeda dengan lelaki yang selama ini ia kenal.


"Bagaimana Amanda? Aku pikir ... kita bisa mencicilnya malam ini." Goda Evan ketika ia meraih anak-anak rambut Amanda dan menyelipkannya ke telinga. Membisikkan lagi sebuah kalimat sensual lainnya hingga Amanda langsung meringsut mundur ke belakang.


"Bagaimana sayang ...? Tubuh seksimu membuatku bergairah."


"T-tidak! Jangan!"


Ha ha ha. Evan kembali tertawa dengan terbahak-bahak.


"Aku tidak main-main dengan ucapanku. Sepertinya aku mempunyai harga yang pantas dan sepadan karena kau sudah menjebakku. Dan tubuhmu ...! Satu-satunya kesepakatan kita."


Amanda menggeleng-geleng keras, sedangkan Evan kembali tertawa dan segera masuk ke dalam kamar setelah ia selesai menggoda Amanda.


***


Amanda langsung berlari cepat ke arah kamar kemudian mengunci pintu itu rapat-rapat. Sungguh. Ia telah keliru mengenal Evan. Ia pikir, dia adalah laki-laki yang baik dan berbeda dengan kebanyakan pria mesum lainnya, tapi ternyata ia salah ...! Evan orang yang sama.


Astaga! Apa yang harus aku lakukan?!


Ucapan Evan masih terngiang-ngiang di telinganya.


Apa?!


Malam pertama?


Astaga! Dia menginginkan keperawananku! Membuat Amanda semakin ketakutan karena setelah nanti ia menjadi isterinya, Evan pasti akan memaksa dirinya untuk melayaninya.


Gawat!


Amanda sudah hampir frustrasi memikirkannya.


Apa sebaiknya aku kabur saja? Pikir Amanda ketika ia memutar otak untuk memikirkan opsi lain. Amanda pikir, dia bisa kabur saja ... karena hanya dengan kabur ia bisa menghindari pernikahan dan juga pergi menjauh dari Paman dan Bibinya.


***


Amanda mulai mengendap-endap, ia sengaja bangun sebelum waktu shubuh dan segera berjalan keluar dari kamar untuk berencana kabur dari apartemen ini.


Amanda menoleh ke kiri dan ke kanan, lampu gelap gulita, menandakan bahwa sepertinya Evan masih tidur di dalam kamarnya dan itu berarti memuluskan rencana Amanda untuk segera pergi dari sini.


Tapi baru saja Amanda meraih knop pintu, tiba-tiba lampu menyala dengan sangat terang. Evan memencet sakelar yang ada di dinding dan tampak mengernyit memandang ke arah Amanda.


"Kau berencana kabur?"


"Eh?" Buru-buru Amanda menggeleng. "Ah, tidak. Tidak bukan seperti itu."


Ha ha ha. Evan malah tertawa. "Kalau begitu kenapa kau mengendap-endap?" Evan mengernyit, ia menatap ke arah Amanda sambil mencicipi teh buatannya.


"Kau tidak akan pernah bisa kabur? Kau pikir di luar tidak ada pengawal? Ha ha ha. Coba saja keluar karena dua pengawal yang tadi mengantarmu ke sini masih setia berdiri di depan pintu.


"A-apa?!" Mulut Amanda menganga dengan sangat lebar.


"Sudah aku katakan jangan macam-macam! Kau pikir aku bodoh ...?" Pekikan suara Evan menggelegar hingga membuat Amanda menahan napas. Ia langsung meringsut mundur ke belakang tapi tatapan bengis milik Evan tidak berhenti untuk mengikutinya.


Tiba-tiba Evan melemparkan beberapa baju ke arah Amanda. "Cuci bajuku! Bereskan dapur! Buatkan makanan untukku! Dan semir sepatuku!"


Amanda gelagapan dengan perintah Evan. Ia melirik ke arah jam yang ada di dinding ruangan dan menghela napas.


"Kenapa? Apa pembantu rendahan sepertimu merasa keberatan? Bukan kah kau harus berterima kasih karena telah menampungmu?"


Dan kata-kata pedas itu ternyata sangat menyakitkan.


"Emm, ya baik."


"Bagus. Salah sendiri kau bangun terlalu pagi." Evan mengangkat sudut bibirnya, ia menatap ke arah Amanda seperti tatapan mencemooh.


Ya Tuhan ...! Jenis tatapan apa itu? Apa dia baru saja menyindirku?


***


"AMANDA!" Tiba-tiba teriakan keras membahana seluruh penjuru ruangan, membuat Amanda yang ada di ruang tamu saat membersihkan kolong meja terperanjat kaget.


Buru-buru Amanda berlari, pergi tergopoh-gopoh ke arah kamar mandi dan betapa kagetnya ia saat melihat air menggenang ke seluruh penjuru.


"Ah, maaf tuan ... saya lupa mematikan keran."


Evan mengeram. Ia memijat pelipisnya yang terasa ingin meledak.


"Kau ...!"


"Maaf, Tuan."


"Aku tidak mau tahu! Bersihkan sekarang juga!"


Amanda segera menurut, ia lalu segera beranjak membersihkan semua genangan itu.


"AMANDA!" Tiba-tiba terdengar teriakan lagi.


"A-ada apa Tuan?"


"Mana makananku! CEPAT BERIKAN!"


Amanda melotot tajam. "Sudah saya siapkan, Tuan. Tapi maaf, nasinya belum matang."


"Dasar pembantu tidak becus!"


Lima menit kemudian.


"AMANDA!"


Belum selesai Amanda membersihkan genangan air dan mengambilkan nasi, tiba-tiba terdengar teriakan lagi.


"Kenapa bajuku belum kau seterika?"


Amanda sangat kelelahan, ia berlari lagi ke arah kamar dan megerutkan kening. "Maaf, Tuan. Tapi saya tidak sempat ..."


"Aku tidak mau tahu! Bereskan sekarang juga, sebentar lagi aku akan berangkat bekerja."


"T-tapi Tuan, tangan saya hanya dua, dan ..."


"Kau mau protes?! Kau tidak ingat apa yang aku katakan semalam?"


"Ah, ya maaf Tuan. Aku akan mengerjakannya segera."


Evan mengernyit. Ia mengangkat setengah bibinya karena dia berhasil mengerjai perempuan ini. Karena walau bagaimana pun, perempuan ini memang pantas diperlakukan seperti ini.


Evan kemudian berjalan ke arah meja. Di sini ia seperti menanti, menjadi mandor dan menyedekapkan tangannya melihat Amanda yang montang-manting ke sini dan ke mari membersihkan seluruh ruangan.


"Mana makananku! Aku lapar! Aku tahu nasinya sudah matang."


Amanda yang baru menyeterika langsung berlari secepat kilat, mengambil makanan lalu menyerahkan kepada Evan.


"I-ini Tuan. Saya memanfaatkan bahan yang ada di kulkas."


"Terserah kau saja."


Amanda kemudian berbalik, tapi sebelum ia berbalik tiba-tiba terdengar lagi teriakan Evan.


"AMANDA! Mana minumanku?!"


Amanda mulai berkaca-kaca, ia benar-benar sangat kelelahan. Ternyata memang benar ... Evan bukan malaikat yang kemarin ia pikirkan.


"Baik Tuan ..."


Evan tertawa di dalam hati, ia sudah berjanji bahwa dia akan memperlakukan wanita ini seperti di neraka saat bersamanya.


Salah sendiri telah menjebaknya!


"Ini Tuan, minumannya."


"Duduk."


"Eh?"


"Aku bilang duduk."


Terpaksa Amanda meraih kursi dan duduk di samping Evan.


"Hari ini aku akan mengajakmu ke rumah orang tuaku. Dan ini ...!" Tiba-tiba Evan menyerahkan draft yang harus Amanda baca.


"Baca lah, jangan buat masalah. Ingat kan kau harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kau lakukan?!"


Amanda termangu. Ia mendongak menatap ke arah Evan kemudian tanpa sadar membuka lembar demi lembar kertas di hadapannya.


"Ya, Amanda. Berpura-pura lah."


Amanda menggigit bawah bibirnya sendiri, dan sedikit membuat Evan terusik. Tanpa sadar Evan menelan salivanya pasrah serta menarik napas.


"Ingat, setelah kita menikah, aku tetap wajib menuntutmu nafkah batinku."


Mata Amanda melebar.


"Anggap saja ini imbalan karena aku sudah menolongmu."


Tangis Amanda bahkan hampir pecah saat ini juga, tangannya langsung gemetar menahan kengerian yang ada.


***


Dukung aku juga di sini ya... makasih :)