
Tidak terasa, sudah satu bulan Amanda dan juga Evan menikah. Satu bulan itu, Amanda memang melakukan kewajiban seorang isteri dengan sebaik mungkin. Dia selalu mencuci, memasak, membersihkan rumah, bahkan Amanda selalu memastikan apa pun kebutuhan Evan di dalam rumah selalu ia penuhi. Amanda sudah hafal kapan jadwal Evan minum teh dan juga minum kopi tanpa harus disuruh.
Sedangkan Evan, ia mulai terbiasa dengan semua perlakuan Amanda. Dia sudah jarang mengerjainya, Evan malah menikmati setiap perlakuan Amanda karena sejak Amanda tinggal di sini, ia tidak perlu repot-repot untuk membersihkan rumah karena dari dulu dia memang tidak mempunyai pembantu, karena dia selalu risih tinggal bersama orang lain.
Tetapi berbeda dengan Amanda, entah karena hal apa Evan mulai menyukai Amanda untuk tinggal di sini.
"Ini kopi anda, Tuan."
"Ya, terima kasih."
Amanda lagi-lagi menyelesaikan tugasnya saat ia menaruh kopi di ruang kerja Evan di waktu pukul sepuluh malam.
"Amanda?"
"Ya, Tuan."
"Kau bisa ke sini sebentar?" Tiba-tiba Evan menyuruh Amanda untuk duduk dan Evan segera meletakkan laptop ke atas meja agar Amanda bisa ikut memerhatikan sebuah layar yang tadi ingin ia tunjukkan kepada Evan.
"Menurutmu mana yang lebih baik? Ini atau ini?" Evan menunjukkan sebuah gambar ke arah Amanda. Sebuah foto seekor ular dengan sudut yang berbeda.
"Ini hewan yang sama Tuan."
Evan menjitak kepalanya sendiri. "Hey, apa kau tidak tahu seni? Aku memotretnya dengan sudut pandang yang berbeda."
Amanda mengernyit. Bukan kah gambar ini sama saja?
"Cepat pilih salah satu."
"Saya pilih ini, Tuan," ucap Amanda ketika ia memilih gambar ular dengan gaya pemotretan dari atas.
Dan tiba-tiba Evan bertepuk tangan dengan sangat keras. "Wah, seleramu bagus juga. Aku juga sebenarnya memilih yang ini."
"Emm, memangnya ini apa, Tuan?"
Evan melenguh. "Gambar-gambar hasil potretanku."
Mendengar hal itu mata Amanda melebar. "Benar kah?"
Evan mengangguk. Sedangkan Amanda masih menggeleng tidak percaya. "Tapi ini bagus sekali ..."
"Hey, kau meremehkanku. Aku ini mantan fotografer."
Lagi-lagi mata Amanda melebar. "Benar kah? Hebat sekali."
"Ya tapi itu dulu. Sejak aku dipaksa untuk meneruskan pekerjaan Ayahku, semua hanya tinggal kenangan."
Amanda menelan salivanya berat. Ia mendengar lenguhan napas Evan yang terasa sangat berat ketika menceritakan ini semua kepada Amanda. Sedangkan Evan, dia juga tidak tahu kenapa dia malah curhat kepada Amanda.
"Sorry ..."
"Emm, Tuan. Kalau itu hobi anda, kenapa anda langsung putus asa?"
"Semua itu rumit, Amanda. Kau tidak tahu betapa sibuknya aku kan?"
Amanda menatap Evan dalam-dalam. "Kau itu bos, Tuan. Bukan kah bos bisa memerintah apa pun itu kepada karyawan? Menurut saya anda itu terlalu pekerja keras. Tidak di kantor, tidak di rumah anda selalu mengerjakan pekerjaan anda sendiri. Bukan kah anda bisa membaginya dengan rekan atau bawahan anda agar anda tidak menjadi orang yang paling sibuk sehingga anda bisa menyalurkan hobi anda?"
Evan mengernyit. "Kalau anda bisa melakukan dua-duanya kenapa tidak? Anda bisa meneruskan perusahaan Ayah anda sekaligus anda juga bisa menjadi fotografer?"
Tiba-tiba Amanda menatap Evan lekat-lekat. Membuat Evan sedikit berpikir ulang dengan ide yang baru saja diberikan oleh Amanda.
"Ini di mana? Boleh kah aku ikut ke hutan?" Ucap Amanda sambil menunjuk foto yang ada di laptop.
"Eh?"
"Kebetulan lusa hari Minggu kan?"
Evan menarik napas panjang. "Kau ini?"
"Bagaimana?"
"Baik lah."
Amanda tersenyum mendengarnya.
"Sebenarnya ini bukan di hutan, ini di pulau dan ..." Evan teringat bahwa pulau ini sedang dihuni oleh seseorang untuk menculik kekasihnya.
"Sial. Anderson ada di sana ..."
"Eh?"
"Ada apa Tuan?"
"Eh? Anda bicara apa Tuan?"
"Oh, tidak tidak. Aku hanya teringat akan seseorang. Sebenarnya aku memotretnya di pulau pribadiku. Dan pulau itu saat ini sedang dihuni seseorang."
Dahi Amanda mengerut. Dan entah kenapa Evan malah tidak tega melihat mukanya yang tampak kecewa.
"Kau kecewa?"
"Ah, tidak. Hanya saja sepertinya tempat itu bagus, aku ingin mengunjunginya sesekali waktu."
Dahi Evan ikut mengerut.
Kenapa Evan malah semakin tidak tega?!
"Kalau begitu kita bisa ke sana, temanku sedang membawa kekasihnya, siapa tahu dia bisa menjadi temanmu."
"Benar kah?"
Evan mengangguk.
"Ya, dan namanya Melia."
"Melia?" tanya Amanda lagi. "Kenapa dari namanya saja dia sudah cantik. Aku jadi minder ..."
"Hey! Kenapa minder?! Menurutku kau yang paling cantik."
"Eh?"
Mata Evan melebar ketika menyadari apa yang ia ucapkan.
Sial!!! Dia keceplosan.
"Maksudku, semua wanita cantik. Kau saja yang kurang bersyukur. Sudah diberi anggota tubuh lengkap masih saja menggerutu."
Amanda keheranan dengan ucapan Evan.
"Siapa yang kurang bersyukur ..."
"Keluar lah. Aku sedang sibuk. Jangan ganggu aku lagi."
Amanda mengepal tangannya kuat-kuat. Kalau saja hidupnya sedang tidak bergantung padanya, mungkin Amanda sudah memukul kepalanya keras-keras.
"Dasar laki-laki aneh ..."
"Hey!!! Apa yang kau katakan?! Aku masih mendengar semuanya."
Brak.
Pintu ditutup paksa.
***
Sepeninggal Amanda dari ruangannya, otak Evan mulai sedikit terbuka. Ya, memang benar apa kata Amanda kalau dirinya memang terlalu sibuk. Evan terlalu tertekan dengan pekerjaan ini dan malah mengerjakan apa-apa sendiri.
Berbeda dengan kebanyakan orang jika tertekan ia tidak akan pernah mau melakukan tugas, tapi Evan berbeda, ia malah mengerjakan semuanya sendiri karena jujur, ia masih menyayangi Ayahnya dan masih ingin memberikan yang terbaik untuk dirinya walau hatinya menolak pekerjaan ini.
Kalau kau bisa melakukannya dua sekaligus, kenapa tidak?
Lagi-lagi kata-kata Amanda meluncur deras di pikirannya hingga kemudian ia tersenyum. Mungkin mulai besok, Evan akan mulai merubah jadwal kerjanya dan mulai mempercayakan orang lain untuk membantu pekerjaannya.
Evan berdiri, ia kemudian mengambil kotakan yang ada di sudut ruangan yang berisikan kamera untuk dirinya.
"Terima kasih, Amanda," desisnya lirih.
Tiba-tiba ponselnya berdering nyaring. Nama Monika muncul di atas layar hingga membuat Evan tercekat. Evan pikir, dia sudah benar-benar bebas dengan perempuan ini, tapi kenapa Monika masih menghubunginya?
"Evan, Evan aku mohon datang lah ke sini! Tolong cepat datang ke sini! Aku mohon! Atau aku akan bunuh diri!" Begitu ia mengangkat telefon itu, Monika sudah mengatakan sumpah serapah hingga membuat Evan terbelalak kaget.
"Monika apa-apaan ini?!"
"Aku mohon Evan. Atau aku akan benar-benar mati!"
"Kau gila!!!"
"Aku memang sudah gila sejak kau memilih perempuan lain dibandingkan aku!"
***
09.12 aku selesai edit cerita ini ..