VIRGIN NOT FOR SALE

VIRGIN NOT FOR SALE
KECUPAN



Dahi Evan mengerut saat melihat sebuah kotakan yang ada di atas meja. Niatnya ingin mencari minum, tapi kotakan ini menganggu penglihatan Evan.


Seingatnya tadi, ini adalah hadiah pemberian dari Mamanya saat tadi Evan memergoki Amanda. Membuat Evan sedikit penasaran lalu segera membuka kotakan itu.


"Astaga ... apa-apaan ini?!"


"Uhuk. Uhuk. Uhuk." Tanpa Evan sadari, Amanda yang baru saja mengambil minyak melihat Evan yang sedang menenteng sebuah lingerie hingga membuat Amanda tercekat.


"Jangan salah sangka! Aku membuka kotakan yang tadi kau bawa." Pekik Evan.


"Hadiah dari Mama?"


Evan mengangkat bahunya, tiba-tiba mukanya merah padam saat melihat lingerie ini dan menatap ke arah tubuh Amanda. Membuat Amanda segera mundur ke arah belakang karena takut Evan akan mengerjainya lagi.


"Karena sudah dibelikan, cepat pakai."


"Apa?!"


"Aku ingin melihatnya!"


"Tadi anda bilang kalau anda membebaskan saya ... dan anda juga bilang kalau saya dilarang jatuh cinta pada Anda!"


"Ya, tapi aku tidak suka melihat barang yang mubadzir! Cepat pakai dan aku ingin kau memijatku menggunakan ini."


"Tapi ..."


"Pakai atau aku berubah pikiran dan malah menelanjangimu untuk aku tiduri!"


"Tidak, jangan!"


"Ha ha ha." Tawa kemenangan terdengar keras dari mulut Evan.


***


Evan menelan salivanya dengan sangat berat saat ia berhasil membuat Amanda memakai lingerie pemberian Mamanya itu dan berjalan naik ke atas ranjang.


"Apa kau benar-benar tidak sabar ingin disentuh?!"


"Tutup mulut anda, Pak. Anda sendiri yang memaksa saya."


Ha ha ha. Evan lagi-lagi tertawa. "Kau sudah pandai menghardikku dengan suara keras rupanya."


Amanda segera meraih selimut lalu memakainya, tapi secepat kilat dilepas oleh Evan dan Evan malah menyangga tangannya dan menatap Amanda.


"Hei, aku menyuruhmu untuk memijatku! Bukan tidur seperti itu."


Amanda menarik napas. "Tapi dengan baju seperti ini ..."


"Kau seksi juga ..."


Amanda melenguh. Ia benar-benar membutuhkan sesuatu untuk menutupi seluruh tubuhnya.


"Jadi begini rasanya melihat anak perawan yang sedang salah tingkah."


Amanda terpaksa memijat Evan, sementara Evan masih sibuk memandangi isterinya itu dengan tawa kemenangan sekeras-kerasnya.


Sungguh. Mengerjai gadis ini seperti sudah menjadi candu bagi dirinya.


Lihat saja ... Evan akan terus mengerjai Amanda hingga Amanda benar-benar menyesal karena telah membuat Evan sampai sejauh ini.


***


Lalu, semua berjalan sampai semestinya. Kini, Amanda sudah tertidur. Mungkin, Amanda sudah kelelahan karena memijat Evan sampai lama sekali.


Evan pikir, gadis itu tidak akan pernah bisa tertidur, tapi nyatanya hanya butuh satu menit dia meringkuk membelakanginya, Evan sudah dapat mendengar deru napasnya yang teratur dan bola matanya yang sudah menutup rapat-rapat.


"Hey ...! Dasar kurang ajar! Aku belum puas mengerjaimu!"


Tapi terlambat.


Amanda sudah sangat terlelap di sana dan Evan malah menjadi sebal sendiri. Tanpa sadar, Evan kemudian bangkit, berjalan ke sisi sebelah ranjang milik Amanda dan berniat untuk membangunkannya lagi.


Sungguh. Dia sedang lapar. Padahal tadi Evan berencana memaksa Amanda untuk membuatkan dia makanan setelah memijatnya dan mengerjainya lagi untuk memasak menggunakan lingerie.


"Hai, bangu ...!"


Evan baru saja ingin mengatakan untuk bangun, tapi tiba-tiba raut wajah Amanda yang tampak sangat kelelahan itu malah membuatnya tidak tega.


Ditatapnya lekat-lekat raut wajah itu, wajah ranum itu sangat kelelahan mungkin karena acara resepsi tadi. Tidurnya sangat lelap, beberapa kali ia tampak gelisah karena mungkin ia tidak kuat dengan dinginnya AC apalagi ia mengenakan lingerie seperti ini.


Perlahan, Evan kemudian menyelimutinya. Tapi hal itu malah membuat wajahnya semakin mendekat dengan Amanda.


Tanpa sadar jantungnya berdetak dengan lebih cepat, perlahan tapi pasti tiba-tiba Evan merasakan dorongan untuk menyium gadis yang sedang tidak berdaya ini.


Dan akhirnya bibirnya mengecup lembut bibir Amanda. Satu kecupan singkat tapi entah kenapa langsung membakar habis seluruh raganya.


Astaga! Apa yang aku lakukan?!


Buru-buru Evan segera menarik diri, menjauh dari tubuh Amanda yang menghipnotisnya dan segera beranjak pergi sebelum dia benar-benar kehilangan akal sehatnya.


***


Berulang kali Monika memandang ke arah dinding kamarnya. Waktu sudah hampir tengah malam dan pasti Evan sudah selesai melakukan resepsi.


"Ya Tuhan, apa yang Evan lakukan saat ini?!"


"Dengan perempuan itu?!"


Monika hampir gila dan mondar-mandir di dalam ruangan. Memikirkan Evan bersama dengan perempuan lain di dalam ruangan sudah benar-benar membakar habis raganya.


Berulang kali ia menelefon Evan. Tapi, berulang kali juga Evan mengabaikannya. Membuat Monika semakin tidak waras dan menjerit keras.


"Tidak bisa dibiarkan!!! Evan milikku! Selamanya milikku!"