VIRGIN NOT FOR SALE

VIRGIN NOT FOR SALE
SEHARUSNYA TIDAK SEPERTI INI!!!



Brengsek!


Monika melemparkan tas yang ia pakai setelah ia pulang dari konferensi pers itu dan langsung membanting seluruh apa-apa saja yang ada di dalam ruangan. Sungguh. Ia marah. Ia benar-benar tidak terima ketika semua rencana yang ia susun gagal total.


Tidak! Ini pasti ada yang salah!


Bukan kah Evan tadi seharusnya mengklarifikasi bahwa perempuan itu sebenarnya bukan tunangannya? Dan seharusnya Monika langsung naik ke atas panggung dan memberikan statement bahwa kekasih yang sesungguhnya adalah dirinya.


Tapi ... kenapa Evan malah mengatakan bahwa perempuan itu adalah tunangannya?


"Aaaaaa!!!" Monika berteriak dengan sangat keras. Sungguh. Ia benar-benar merasa dipermainkan.


***


Sial!


Kurang ajar!


Evan melepas dasinya dengan kasar setelah ia menyelesaikan sebuah acara yang benar-benar sudah mengacaukan hidupnya.


Seharusnya tidak seperti ini!


Seharusnya bukan seperti ini!


Rencana Monika yang di luar nalar itu telah merusak segala upaya yang sudah ia susun secara terperinci.


Beryl yang melihat itu semua hanya angkat tangan, ia hanya mengernyit satu kali ketika ia melihat ke arah Evan yang marah-marah seperti itu dan memilih pergi. Sepertinya Beryl memang harus pergi, karena Evan pasti membutuhkan waktu untuk tenang.


Sedangkan Amanda hanya berdiri kaku di belakang Evan dan melihat Evan sudah memecahkan sebuah gelas kaca yang ada di atas meja, sedikit membuat Amanda takut dan langsung mundur ke arah belakang.


"Aku ... aku ucapkan terima kasih karena kau telah menyelamatkan ada dari Paman dan Bibi."


Pyar!


Begitu Amanda mengatakan hal itu Evan langsung memecahkan lagi vas bunga yang ada dia sudut meja.


"Kau ... sebaiknya kau diam!"


Evan yang sudah sangat marah kemudian setengah berlari menghampiri Amanda dan langsung mencengkeram erat kedua bahunya.


"Ini semua gara-gara kau asal kau tahu?! Dan apa yang kau bilang tadi?! Aku tidak pernah berniat untuk menolongmu! Lihat saja nanti, aku akan membuatmu menderita! Membuatmu hidup seperti di neraka saat bersamaku!"


Evan langsung melemparkan Amanda dengan sangat kasar. Ia masih memandang bengis Amnada yang jatuh ke atas lantai.


Semua ini karena perempuan ini! Dan Evan benar-benar ingin melemparkannya sekarang juga.


Sungguh. Evan sudah sangat emosi. Dan sebelum ia bertindak lebih jauh lagi, lebih baik sekarang ia pergi. Ia keluar dari tempat di mana Amanda yang masih terjatuh dan langsung menggebrak pintu itu.


Brak!


Amanda hanya bisa terkaget melihat semua perlakuan Evan.


***


Beryl malah menikmati putung rokoknya sambil menahan tawa melihat Evan yang sudah tampak seperti orang frustrasi. Evan ternyata jatuh ke dalam jebakan dan permainan yang benar-benar tidak bisa ia hindari.


"Tidak ada yang lucu!" Bentak Evan dan Beryl hanya mengangkat kedua tangannya.


"Ups, sory."


Evan semakin kesal. Ia mengacak-acak rambutnya berulang kali.


"Tutup mulutmu! Dua perempuan itu sama saja."


"Tapi pada akhirnya kau memilih perempuan itu kan? Oh ya, siapa namanya ...? Amanda?!" Beryl menekankan kata itu di akhir kalimat.


Evan melenguh panjang.


"Maaf, Evan. Max yang menghubungiku sendiri dan membocorkan rencana jahat yang telah disusun oleh Monika. Kau sendiri tahu, bagaimana otak liciknya."


"Dan pada akhirnya aku menyerah dan menciptakan kebohongan lainnya dan mengatakan bahwa perempuan itu calon isteriku. Sial!"


"Sudah aku bilang, mungkin ... Amanda jauh lebih baik dari Monika. Entah kenapa feelingku bagus mengenai perempuan itu. Aku selalu tahu, Monika akan selalu menjadi benalu bagi kehidupanmu, mungkin ini cara terbaik untuk membuat Monika jauh darimu."


"Kau tahu kalau aku masih sangat mebenci Monika, Beryl."


"Ya ... itu yang membuatmu memberikan keputusan ekstrem bukan?"


Evan menghela napas panjang.


"Tapi menurutku itu cara yang paling tepat. Paling tidak kau bisa gunakan Amanda untuk menjauhi Monika."


Mata Evan melirik ke arah Beryl dan ia tersenyum penuh arti. "Percaya padaku."


Baru saja pembicaraan itu berakhir, nada ponsel berdering nyaring. Dan Evan juga pasti sudah tahu kalau yang menghubunginya adalah Roberto.


"Evan ...?!"


"Hm."


"Berita itu? Televisi itu? Konferensi pers itu?"


"Hm."


"Apa memang benar?" Terdengar suara yang menggelegar dan antusias. Di dalam telefon pun, Roberto tidak bisa menutupi rasa senangnya dan gembiranya ketika ia mendengar kabar bahwa Evan benar-benar akan menikah.


"Astaga. Jadi memang benar?"


"Hm."


"Ya Tuhan ...! Kau benar-benar membuatku bahagia!"


"Hm."


"Evan! Kenapa jawabanmu seperti itu?"


"Hm."


Di seberang sana, Roberto geram dan menjitak jidatnya sendiri.


"Terserah. Yang penting kau akan menikah. Besok, ajak kekasihmu datang kemari. Aku akan menyuruh Mamamu untuk menyiapkan makan malam untuk kita berempat."


"Tidak perlu."


"Kau bercanda! Kita tetap harus merayakannya. Pokoknya Ayah tidak mau tahu, kau harus datang ke sini!"


"Tapi ..."


Sambungan terputus. Sedangkan Beryl di sana hanya tertawa kembali dan bertepuk tangan dengan sangat meriah.


"Kurang ajar kau Beryl!"