VIRGIN NOT FOR SALE

VIRGIN NOT FOR SALE
BERYL



"Tenang saja, kau sudah aman bersamaku." Evan menepuk-nepuk bahu Amanda berulang kali. Ikut mengikatkan diri ke dalam pelukan Amanda agar ia kembali tenang.


"Ada aku di sini, tenang lah ... aku sudah menangkap siapa saja orang yang sudah membuatmu celaka."


Amanda masih kelihatan syok, ketika ia menarik diri tubuhnya masih begitu bergetar hebat. Hingga sampai pada suatu ketika ada seseorang yang ditarik masuk ke dalam kamar perawatan Amanda. Beryl muncul dari arah pintu dan mendorong tubuh Monika jatuh ke atas lantai.


Evan menghela napas, ia tahu kenapa Beryl dan Ronald membawa Monika ke sini. Karena satu-satunya orang yang bekerja sama dengan Boby adalah Monika. Monika dengan sengaja mengalihkan perhatian para pengawal agar Boby bisa menyulik Amanda seperti tadi.


"Lepaskan aku!"


Beryl sebenarnya merasa kasihan ketika Ronald langsung mengikat tangan Monika, tapi ketika mengingat perlakuan Monika yang sudah di luar batas, Beryl membiarkan saja saat Ronald kini menyuruh Monika untuk duduk di kursi dengan tangan yang terikat.


"Aku tidak salah! Aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan!"


Ha ha ha. Tiba-tiba Evan tertawa. "Apa kau bisa membodohiku? Walau pun kau mematikan seluruh cctv aku masih mempunyai bukti kalau kau adalah pelaku di balik semuanya."


Evan kemudian berjalan ke arah Monika.


"Monika apa kau tahu tindakanmu sudah di luar batas? Maafkan aku, karena sepertinya aku sudah cukup sabar untuk menghadapimu. Aku ... harus melaporkanmu kepada polisi, dan anggap saja ini sebagai efek jera untukmu."


"A-apa?!"


"Kau akan lihat karirmu sebagai dokter hancur. Tidak akan ada lagi pasien yang mau mengunjungi klinikmu lagi. Dan semua orang yang akan mengenalmu, pasti akan menjauh pergi ketika kau sudah berani berurusan denganku. Mereka semua juga pasti akan ketakutan kalau aku juga ikut menghancurkan bisnis mereka."


Mata Amanda terbelalak hebat. "K-kau? Kenapa kau setega ini? Oke, baik lah. Aku juga akan memberi tahu pada wartawan kalau kau menikah dengan perempuan itu hanya sebuah kepura-puraan."


Ha ha ha. Evan tertawa lagi.


"Silahkan bilang saja, aku tidak akan takut dengan ancamanmu karena mulai sekarang, aku dan Amanda sudah berjanji akan memulai kehidupan kita yang baru sebagai sepasang suami isteri. Dan hanya tinggal masalah waktu, ketika aku dan Amanda bisa membuktikan bahwa ucapanmu adalah salah."


"A-apa?! Kau?!"


"Aku sudah belajar mencintai orang lain selain dirimu, asal kau tahu. Dan ini adalah sebuah pembuktian bahwa apa yang pernah kau ucapkan padaku merupakan sebuah kesalahan."


Tiba-tiba Ronald memberikan sebuah diska lepas kepada Evan. "Dan ini, menurutmu aku tidak punya bukti? Oh, ya ini adalah rekaman saat kau berada di parkiran bersama dengan Boby sedang merencanakan sesuatu. Untung saja, sang pemilik mobil yang terparkir tidak jauh dari mobilku berbaik hati dan memberikan ini padaku."


Monika terhenyak kaget.


"I-itu?"


"Evan, kenapa kau seperti ini padaku?"


"Aku tidak akan pernah mengusikmu sebelum kau mengusikku terlebih dahulu."


"..." Monika hanya bisa menangis. Jujur, ia sudah mulai ketakutan. Monika tahu, bahwa dia tidak akan pernah bisa melawan seorang Evan yang mempunyai segalanya ini.


***


Monika merasa lemas, ketika ia keluar dari ruang milik Amanda tadi, ia benar-benar ketakutan. Seluruh ancaman Evan benar-benar membuat nyalinya ciut. Ia tidak tahu bagaimana jadinya nanti jika ia dibawa ke kantor polisi dan seluruh karirnya lenyap seketika.


Ia kemudian ambruk, ia merasa lemas di sekujur tubuhnya hingga ia tidak mampu menyangga seluruh beban tubuhnya. Ia tidak tahu kalau itu semua tindakan kriminal, kemarin malam ia hanya ingin Amanda pergi menjauh dan ia bisa kembali bersama dengan Evan.


Monika kembali menangis, tapi tiba-tiba saja ada seseorang yang langsung mengulurkan tangan untuk Monika dari arah depan.


"Beryl?"


"Aku janji Evan tidak akan pernah melakukan itu semua asalkan kau juga harus berjanji untuk tidak lagi menganggu Evan."


Tangisan Monika kembali pecah, Beryl menahan napas.


"Minum lah,"


Beryl memberikan satu botol air mineral ke arah Monika agar dia merasa sedikit tenang.


"Aku jatuh cinta pada Evan, apa aku salah untuk membuatnya jatuh cinta padaku lagi?"


"Tindakanmu yang keliru. Kau sudah melakukan hal di luar batas."


"Aku sudah dibutakan oleh Evan, aku hanya ingin dia kembali."


Monika menangis lagi dan Beryl hanya bisa menyedekapkan tangannya.


Tapi, lambat lain Beryl malah merasa kasihan ... Monika pasti sangat frustrasi karena kali ini, dia sudah benar-benar kehilangan Evan, dan dia juga pasti sangat ketakutan dengan semua ancaman Evan.


Hingga pada akhirnya Beryl menunduk, ia memeluk tubuh Monika untuk menenangkan.


***