VIRGIN NOT FOR SALE

VIRGIN NOT FOR SALE
PENCARIAN



Dengan gerakan cepat Boby langsung memukul kepala Amanda hingga Amanda merasakan pening yang luar biasa. Lalu pukulan kedua berhasil membuat Amanda pingsan hingga Boby tersenyum lebar.


Boby mungkin adalah si tua bangka yang tidak tahu diri. Dengan sangat kasar ia dengan berani melepas jarum infus di tangan kiri Amanda dan membopong Amanda untuk segera keluar dari sini.


"Kau akan menjadi milikku, Amanda."


Lalu, Boby berjalan pergi sambil menggendong Amanda yang tidak berdaya tidak sadarkan diri.


***


Hanya lima menit berselang, Boby melancarkan aksinya dengan sangat gesit. Sementara itu, kedua pengawal setelah selesai mencarikan dompet Monika, sesegera mungkin langsung berdiri di depan pintu untuk kembali menjalankan tugasnya.


Mereka belum sadar dengan apa yang baru saja terjadi. Yang mereka tahu, pintu kamar perawatan masih tertutup sempurna dan mereka kira Amanda sedang beristirahat di dalam sana.


Sampai suatu ketika satu orang perawat datang, ia membawakan infus pengganti untuk Amanda. Betapa terkejutnya perawat itu saat ia tidak menemukan pasien di dalam ruangan.


"Pak, di mana pasien yang ada di dalam? Astaga! Infusnya terlepas!"


Begitu teriak perawat itu hingga membuat mata kedua pengawal itu terbelalak sempurna.


***


Mata Amanda mengerjap-erjap, awalnya kabur tapi lama kelamaan Amanda bisa melihat dengan jelas keadaan sekitar tempat ini.


"D-di mana ini?" Desisnya pelan. Ia berusaha bangkit, tapi ia baru sadar bahwa kedua tangannya diikat dengan sempurna.


"Ya Tuhan, apa ini?"


"Halo manis." Belum selesai Amanda berpikir tiba-tiba terdengar sebuah suara. Sosok Boby yang dulu pernah jampir memperkosanya muncul dari balik pintu dan tampak meneteskan liur melihat tubuh Amanda.


"K-kau?"


"Ya, aku ... apa kabar? Kenapa kau mengkhianatiku padahal aku sudah membayarmu secara mahal? Dan apa-apaan kau? Kenapa kau malah menikah dengan bosku di perusahaan?! Sial!"


"Pergi kau dari sini!"


"Tidak mau manis ... aku tidak mau ... Aku terlalu terobsesi padamu sampai-sampai aku rela jika suatu saat aku dipecat oleh bosmu itu. Kau tidak tahu, di umurku yang sudah tua ini, aku juga sudah menyiapkan tabungan untuk hari tuaku."


Boby terkekeh, dan hendak mengelus lembut pipi Amanda tapi Amanda segera menolaknya.


"Dan di hari tuaku yang aku butuhkan hanya teman hidup, sayang. Di hari tuaku aku hanya membutuhkan kenikmatan dari tubuhmu. Hanya itu yang aku inginkan di sisa hidupku!"


"Bicara apa kau?! Apa kau gila?!"


"Ya mungkin aku sudah gila. Lebih tepatnya tergila-gila! Hari ini adalah hari pemberangkatan kita ke Spanyol. Aku akan membawamu ke sana dan aku akan memaksamu untuk selalu ada di sisa hidupku di sana."


"A-apa?!"


"Dan aku harap, kau yang harus memenuhi setiap hasratku. Aku tidak sabar kita hanya tinggal berdua saja."


"Tidak! Aku tidak mau! Lepas! Lepaskan aku!"


***


Evan melajukan mobilnya dengan sangat cepat, ia menerobos apa saja yang ada di depannya karena ia baru mendapatkan kabar kalau Amanda menghilang, ia sama sekali tidak dapat ditemukan.


Evan menggebrak pintu mobil dan secepat kilat ia langsung berlari ke arah kamar perawatan Amanda. Dan benar saja, situasinya sudah sangat kacau. Di sana, sudah ada Roberto beserta Mama angkatnya. Yang juga sama syoknya dengan Evan.


"Kenapa kau lama sekali?! Apa kau tidak tahu isterimu menghilang?!" Dan yang pertama kali ia dengar adalah omelan dari Melina. Ia juga tampak menangis dan membungkam mulutnya sendiri.


Semua orang langsung mengambil perannya masing-masing. Tidak menunggu waktu lama, mereka mengumpulkan segala macam cara dan mencari keberadaan Amanda.


"Amanda kabur?" Celetuk Evan dan tiba-tiba kakinya merasa lemas seketika. Ia ingat bahwa, Amanda memang mempunyai niatan untuk kabur darinya.


"Kalian?! Kenapa kalian tidak bisa menjaga isteriku dengan baik?!" Belum apa-apa Evan sudah menyemprot kedua pengawalnya. "Dasar tidak becus!"


Tapi Ronald memberikan perlawanan. Ia menampik pukulan Evan dan malah mendorong tubuh Evan ke atas tanah.


"Kau! Berani-beraninya kau?!"


"Sadar lah, nona Amanda tidak kabur! Dia diculik!" Tiba-tiba Roberto bersuara dari arah belakang. "Ronald sedang mengusahakan segala cara untuk menemukan isterimu."


Mendengar Ayahnya menyerukan nama Ronald mata Evan melebar. "Sejak kapan Ayah tahu namanya?!"


"Dasar bodoh! Apa kau tidak tahu kalau selama ini dia adalah pegawaiku yang kujadikan mata-mata?!"


Mata Evan terbelalak kaget. Astaga, pantas saja kalau selama ini ia merasa ada yang aneh dengan pegawai satu ini.


Tapi tidak! Bukan itu yang penting sekarang! Tapi saat ini Evan harus fokus mencari Amanda. Ia harus sebisa mungkin mencari isterinya dalam keadaan baik-baik saja.


"Cari semua cctv! Cari isteriku sampai dapat!"


Tapi Ronald segera memberikan hasil yang tadi ia dapatkan. "Tidak ada cctv satu pun yang dapat membantu kita."


"A-apa?!"


Ronald melenguh lalu menjelaskan semuanya kepada Evan. Karena entah kenapa secara kebetulan, semua cctv di tanggal dan hari menghilangnya Amanda tidak dapat ditemukan. Semua rusak secara mendadak, seolah-olah ini disengaja dan benar-benar membuat mereka tidak habis pikir.


"Ini lah alasan kenapa kami semua berpikir bahwa sebenarnya nona Amanda diculik dan saya yakin ada salah satu atau beberapa oknum orang dalam yang ada di rumah sakit yang membantu penculikan ini."


"A-apa?!"


"Ya, lagi pula setahu saya, nona Amanda bukan orang yang egois. Ketika dia berjanji kepada kami para pengawalnya untuk tidak kabur, nona Amanda pasti melakukannya. Nona Amanda masih memikirkan nasib kami para pengawalnya jika dia kabur, kami lah yang akan kena sangsi dan hukuman dari anda."


Setetes air mata kembali keluar dari mata milik Melina. Satu hal yang ia tahu, Amanda juga orang yang sangat baik. Melina tidak dapat membayangkan jika dia sampai kehilangan menantu sebaik Amanda.


"Tolong, tolong temukan anak perempuanku, Amanda, sayang." Melina mengiba kepada suaminya.


Dan ketika Melina seperti itu, Roberto selalu tidak bisa untuk menolaknya. Ia kemudian menatap tajam ke arah Evan.


"Evan! Lakukan segala macam cara! Gunakan Ronald orang kepercayaanku! Gunakan semua bawahanku! Gunakan semua pengawal yang Ayah punya untuk mencari isterimu!" Dan ini lah rentetan kalimat perintah yang dikeluarkan oleh Ayahnya kepada Evan.


"Tidak perlu Ayah perintah, aku juga sudah pasti akan mencari isteriku! Karena aku tidak pernah mengizinkan siapa pun untuk memisahkan aku dari isteriku!"


Evan kemudian berlari. Secepat kilat ia memberi perintah kepada Beryl, kepada Ronald dan kepada siapa pun untuk segera mencari keberadaan Amanda.


"Amanda tolong bertahan sebentar lagi ... aku pasti akan membawamu pulang."


***