
Evan merenggangkan otot-ototnya ketika ia berada di dalam kantor. Di kantor pun, semua karyawannya gempar, mereka saling berbisik satu sama lain saat melihat Evan dan Evan tahu kalau ini pasti karena berita yang menggemparkan itu. Berita tentang Evan yang akan menikah sebentar lagi benar-benar membuat dirinya sakit kepala.
Apa lagi tekanan dari Ayahnya yang mengharuskan dirinya untuk menikah benar-benar membuat Evan kalang kabut. Sungguh, ia tidak tahu harus melakukan apa sekarang.
"Evan, akhirnya kau datang juga. Bagaimana kabar Ayahmu? Kudengar beliau ada di rumah sakit."
Evan mendengus, itu berarti semuanya memang masih belum baik-baik saja. Dan sepertinya Beryl harus mencari topik lain agar Evan tidak lagi bermuka masam seperti itu karena kepikiran tentang Ayahnya.
"Mengenai perempuan itu ...? Apakah kau sudah mencari cara agar kau bisa bebas dengannya?"
Evan malah semakin melenguh, ia malah membanting berkas ke atas meja dan kini duduk sambil memijit kepalanya sendiri.
"Bisa kah kau tidak membahas hal-hal di luar kantor selama jam kerja? Aku sudah terlalu muak."
"Ups." Beryl langsung ber acting untuk membungkam mulutnya sendiri. "Sory sory ..."
"Tapi mengenai perempuan itu sepertinya aku sudah menemukan cara."
"Apa kau akan jujur saja pada wartawan atas apa yang terjadi malam itu?"
"Tidak mungkin, Beryl. Apa kau ingat Ayahku kemarin? Dia bahkan sudah memperkenalkan perempuan itu adalah calon isteriku. Nama baik Ayahku juga dipertaruhkan kalau dia sendiri sampai salah paham ... dan kau tahu kan sedikit saja gerak gerik dari Ayahku, pasti akan dengan cepat memengaruhi saham."
Beryl manggut-manggut. "Lalu? Apa rencanamu?"
"Kalau dia suka dengan drama, lebih baik aku juga mengimbanginya kan?"
Beryl mengerutkan kening tanda tidak mengerti.
"Besok, adakan konferensi pers."
"Eh?"
Tiba-tiba terdengar suara keributan dari luar ruangan, suaranya terlihat familiar hingga Beryl dan Evan saling pandang. Beryl yang tersenyum penuh arti sedangkan Evan yang langsung mendengus malas.
"Lepas! Lepaskan aku! Lepas! Aku akan menemui Evan!"
Beryl memandang ke arah pintu kaca yang kini terbuka dengan sangat lebar. Monika berusaha melepaskan diri dari security perempuan yang memegang erat tangannya.
"Astaga, mantan pacarmu bisa begitu semangat bertemu denganmu."
"Tutup mulutmu, Beryl."
Ha ha ha. Beryl tertawa kemudian mengangkat kedua tangannya. "Kalau begitu selamat bersenang-senang. Aku akan pergi dulu," ucap Beryl kemudian segera pergi dari sini setelah ia melihat Monika berdiri di ambang pintu.
"Maaf, tuan Evan. Dia menerobos masuk."
Beryl tertawa tapi kemudian berlalu, menarik security perempuan itu untuk segera keluar dari ruangan. Sepertinya mereka memang benar-benar butuh waktu berdua saja.
Dan setelah Monika merasa bahwa di dalam ruangan hanya ada dirinya dan juga Evan, ia langsung marah-marah menatap ke arah Evan.
"Ya ya ya. Memangnya ada apa? Memangnya kenapa?"
"Kau bahkan kemarin ... saat Beryl menelefonku untuk datang ke hotel kau juga mendiamkanku?"
Evan memutar kedua bola matanya. "Lalu apa yang musti aku katakan?"
"Evan, kau benar-benar tega ... bisa kah kita seperti dulu lagi? Aku ... terlalu jatuh cinta padamu."
"Bulshit!"
"Aku minta maaf atas kejadian dulu, aku baru sadar kalau aku tidak bisa kehilanganmu."
"Monika, kupingku panas ... bisa kah kau pergi saja?"
"Evan, aku tahu kau hanya punya waktu satu minggu. Ah, ralat. Kau hanya punya waktu enam hari karena jatah satu harimu sudah lewat. Kau dipaksa Ayahmu untuk segera menikah bukan? Dan kau hanya diberikan pilihan antara aku dan perempuan asing itu?"
Mata Evan melebar ketika mendengar itu dari mulut Monika. "Kau ...? Dari mana kau tahu?"
"Aku mengunjungi Ayahmu di rumah sakit dan Ayahmu mengatakan hal itu padaku."
"Astaga ...! Kau benar-benar penjilat!"
"Kau memilihku kan? Kau tidak mungkin menikah dengan perempuan lain selain aku kan? Aku tahu kalau selama ini kau hanya bermain-main dengan perempuan karena kau masih tidak bisa melupakan aku. Aku tahu itu, Evan ..."
"Jangan terlalu percaya diri."
"Evan, aku bisa menjadi isteri yang baik. Aku janji akan selalu bersamamu dan mendukungmu."
Astaga ...! Sungguh! Mendengar semua ucapannya benar-benar membuat Evan sakit kepala. Ia bahkan sudah tidak tahu lagi menanggapi Monika yang selama ini terus menganggu hidupnya.
Setelah Evan pernah merasa dikhianati oleh Monika dan tidak memberikannya celah untuk kembali bersama, Monika malah terus menerus menganggu hidupnya. Ia kadang nekat, kadang bertindak di luar nalar demi mendapatkannya.
Dia dengan beraninya mengaku setelah bersama dengan laki-laki selingkuhannya dia merasa tidak bahagia. Dan tidak tahu malunya ingin kembali kepada Evan.
"Monika bisa kah kau pergi? Selama ini aku tidak pernah membuka mulut tentang kelakuanmu di masa lalu bahkan dengan keluargaku sendiri karena aku masih menjaga nama baikmu. Tapi ... jika kau melakukan hal nekat lagi, aku tidak akan segan-segan menghukummu!" Gigi Evan gemertak. Ia menatap tajam ke arah Monika dengan tatapan yang menyala.
"Evan ..."
"Security!" Evan berteriak memanggil para security. Secepat kilat, dua orang bertubuh tegap akhirnya datang ke dalam ruangannya.
"Usir perempuan ini sekarang juga!"
"Evan! Kau ...? Kau tidak benar-benar kan? Evan! Aku tahu kau masih cinta padaku!"
Terlambat. Evan sudah tidak mau lagi mendengar apa yang diucapkan oleh Monika.
***