
Amanda memeluk dirinya sendiri ketika memikirkan apa yang akan terjadi nanti. Sungguh. Saat membayangkan dirinya keluar dari tempat ini dan muncul di berita secara live, paman dan bibinya pasti akan segera muncul dan membawanya pergi.
Tangan Amanda bahkan bergetar hebat, ia memandang ke arah pintu yang tadi dilewati oleh Evan dengan tatapan putus asa. Laki-laki itu ... apa benar-benar tidak bisa membantunya?
Ya Tuhan ... apa yang harus aku lakukan ...?!
Amanda mondar-mandir di dalam kamar. Ia ingin kabur, tapi ketika masih ada penjaga yang terus mengawal Amanda, membuatnya semakin tidak bisa berkutik.
Aku harus kabur!
Harus!
***
Sementara di sebuah rumah yang tinggi menjulang, Monika tersenyum dengan sangat lebar ketika ia telah selesai menyelesaikan misinya.
"Kalau begitu saya permisi, Om ..."
"Oh ya. Baik lah. Apa perlu Om dan Tante memberikan pengawalan khusus dan menyuruh sopir untukmu pulang."
Tiba-tiba Monika menggeleng. "Ah, tidak perlu, Om. Saya bisa pulang sendiri."
Roberto tersenyum lalu menatap kepergian Monika dan ikut tersenyum. Sedangkan isterinya hanya bisa mendengus menatap ke arah Monika.
Sepertinya hanya isterinya yang tidak suka dengan kehadiran Monika. Bahkan ketika Monika keluar dari ruangan, isterinya itu hanya menatap kepergian Monika dengan sebal.
"Sayang, apa kau yakin akan menikahkan Evan dengan perempuan seperti itu?"
"Bukan kah dia yang mengatakan sendiri kalau dia adalah orang yang ternyata dipilih oleh Evan?"
"Tapi ..."
"Sudah lah, aku hanya ingin menimang cucu. Karena umurku mungkin sudah tidak lama lagi. Lagi pula, sepertinya dia wanita yang baik."
"Kenapa terus bicara seperti itu? Aku tidak mau dengar ..."
Ha ha ha. Roberto terkekeh.
"Lagi pula aku tidak bisa melihat bahwa dirinya orang yang baik."
"Mama ... sudah lah."
***
Baru saja Evan akan bersantai di kamarnya dan hendak akan tidur, tapi suara dari dering ponsel mengagetkannya. Nama Melina muncul di atas layar hingga ia harus menghela napas. Sungguh, ia masih belum menerima dengan kehadiran Ibu tirinya itu.
"Hmm ..."
"Anakku ..."
"Hm ..."
"Apa kau benar-benar menikah dengan Monika?"
"Omong kosong."
"Tadi Monika datang ke sini dan menjemput Ayahmu dari rumah sakit. Mengatakan hal yang tidak-tidak dan mengatakan bahwa kau dan Monika sudah berencana akan melangsungkan pernikahan."
Apa?! Berani-beraninya!
"Apa memang benar kau akan menikah?"
"Astaga ...!" Evan memijat kepalanya sendiri. Sungguh, perempuan itu memang tidak akan pernah berhenti untuk mengejarnya.
"Dia datang ke sini dengan percaya diri. Bahwa dia adalah perempuan yang kau pilih untuk dinikahi. Ingat bahwa Ayahmu hanya memberimu waktu satu Minggu bukan?"
Evan menutup telefonnya dan seketika itu juga emosinya kembali memuncak. Sepertinya ia harus bertemu dengan Monika dan memberinya pelajaran! Dia harus tahu bagaimana caranya ia bersikap dan tahu diri!
Tapi baru ia akan keluar dari ruangan, wajah perempuan itu terpampang nyata di depan pintunya kali ini. Membuat Evan terlonjak kaget dan syok melihat orang yang akan temui datang ke tempat tinggalnya.
"Hai sayang ... apa kau tahu aku akan ke sini?" Tanya Monika dengan senyum merekah di depan pintu.
"Monika kau benar-benar ...!"
"Sayang, apa membawakanmu makanan. Apa kau mau?" Tiba-tiba saja Monika sudah nyelonong masuk ke dalam ruangan dan malah menata itu semua ke meja makan.
Evan langsung buru-buru masuk ke dalam ruangan, dan menarik tangan Monika.
"Kau ...?! Apa yang kau katakan kepada Ayahku?"
"Well? Memangnya kenapa? Bukan kah itu sudah pasti? Aku tahu kau tidak akan mungkin dengan perempuan asing itu. Kata Om, kau juga bilang bahwa kau tidak bisa menikahinya karena dia perempuan asing. Lalu, kau pasti akan menikahi ku kan? Kau akan memilihku."
"Sudah berapa kali aku katakan kalau aku ..."
"Sayang, mau kue yang cokelat atau yang keju?" Monika memotong pembicaraannya dan menatap ke arah Evan. Ia tersenyum manis dan menatap ke arah Evan.
"Kita perlu bicara!"
"Waktumu hanya seminggu. Ayahmu mengatakan padaku. Dan selama itu kau tidak akan pernah mampu untuk mencari wanita lain selain diriku kan? Bukan kah jelas-jelas Ayahmu hanya mempunyai dua opsi. Aku atau perempuan asing itu."
"Tutup mulutmu ...! Aku tidak mungkin memilih satu diantara kalian."
Tapi Monika menggeleng. "Sudah lah, sayang. Kita memang sepatutnya bersama. Aku janji akan jadi isteri yang baik. Lalu ... aku janji akan melahirkan anak-anakmu. Bukan kah hanya cucu yang sangat diharapkan oleh Ayahmu?"
Evan mendengus putus asa. Sungguh. Ia tidak tahu bagaimana ia harus bicara dengan Monika lagi. Ia sudah teramat pusing berbicara dengan wanita keras kepala seperti dia!
"Dan mengenai perempuan itu ... aku mendesak Beryl untuk mengatakan siapa perempuan itu tapi sepertinya kalian sepakat untuk tutup mulut. Tapi yang aku tahu ... dia adalah perempuan licik. Dia pasti datang menjebakmu bukan? Untuk itu kau tidak mau menikah dengannya bukan? Ah, dasar perempuan licik! Mungkin aku satu-satunya perempuan yang sadar. Dan mungkin, dia hanya menginginkan uangmu."
"Jangan sok tahu."
Monika hanya memutar kedua bola matanya. Sungguh. Malam ini juga dia harus bisa menaklukkan laki-laki yang ada di hadapannya ini malam ini juga.
Tiba-tiba Monika langsung tersenyum. Ia meletakkan pisau ke atas meja lalu mulai melangkah maju ke arah Evan.
"Apa yang ingin kau lakukan?"
"Aku ... menginginkanmu malam ini Evan. Ayo kita buat anak demi Ayahmu yang sangat menginginkan cucu."
Mata Evan melebar ketika ia syok setengah mati. Monika tiba-tiba langsung melepas kaos yang sedang ia pakai. Membuatnya terpampang jelas di hadapan Evan dan kini langsung meraih tubuh Evan dan menariknya sampai ke atas tempat tidur.
***