
Cepat pergi dari sini!"
Ha ha ha. Boby tertawa dengan sangat keras. Di sampingnya ada Amanda yang tampak terengah-engah dan berusaha menahan matanya yang sebentar lagi akan terpejam.
"Sebentar lagi kau milikku sayang."
"Jangan sentuh aku!" Amanda masih berusaha menampilk sentuhan itu tapi Boby tetap memaksa.
"Ha ha ha. Kau sudah tidak mungkin bisa mencegahku. Obat itu membuatmu lemas dan tidak berdaya. Sebentar lagi, kau akan menjadi milikku."
"Lepas!"
Tapi kemudian Boby mulai menelan air liurnya. Melihat tubuh Amanda yang berusaha untuk bangun dan malah terlihat seperti menggeliat membuat jiwanya meronta.
Ia kemudian tersenyum, perlahan demi perlahan ia kemudian menyondongkan tubuhnya, mulai mencium bibir itu sebelum akhirnya terdengar langkahan kaki dari arah depan.
"KURANG AJAR KAU BOBY!"
Teriakan Evan menggelegar ke seluruh penjuru. Evan berlari, menjambak rambut si tua bangka itu kemudian memukul keras kepalanya.
"Berani-beraninya kau menyentuh isteriku!" Evan kembali berteriak histeris. Sungguh. Ia tidak terima. Amarahnya meluap diserati emosinya yang tidak dapat dikendalikan.
Bug.
Satu pukulan, kemudian berubah menjadi beberapa pukulan hingga Beryl langsung menarik tangan Evan.
"Cukup, Evan. Cukup. Kalau begini terus dia bisa mati."
Evan masih begitu emosi, ia tidak mau berhenti ketika Beryl langsung menarik lengannya untuk segera mengentikan perbuatannya.
"Kau kurang ajar! Berani-beraninya kau memperlakukan isteriku sampai seperti itu?! Apa kau tidak tahu?! Tanpa sepengetahuanmu aku sudah melakukan segala macam cara untuk menghentikan penerbanganmu?! Kau kira kau mudah untuk melawanku, hah?!" Teriak Evan.
Ia kemudian menjatuhkan tubuh Boby yang sudah babak belur itu tergeletak begitu saja. Secepat kilat ia langsung berlari ke arah Amanda dan segera meraih tubuhnya ke dalam dekapannya.
"Amanda, kau baik-baik saja?"
Amanda terengah-engah, ia mengerjap-erjapkan matanya berulang kali memandang ke arah Evan.
"Evan ...?"
Tangis haru Amanda pecah saat Evan memeluk tubuh Amanda. Evan ingin mengangkat Amanda, tapi Amanda terlalu lemah, ia tidak bisa lagi untuk bangkit.
"Amanda, kau kenapa?"
Amanda menggeleng-geleng keras. "Aku lemas sekali."
Mata Evan terbelalak kaget. Ia sudah benar-benar menduga Amanda sudah dipaksa untuk meminum sesuatu hingga membuatnya seperti ini.
"Kita harus kembali ke rumah sakit."
Buru-buru Evan mengangkat tubuh Amanda, membawanya sampai ke dada hingga tubuh Amanda berayun-ayun. Sampai suatu saat, Amanda sudah tidak kuat lagi, ia akhirnya tertidur menjemput lelapnya yang sudah sangat menyiksa.
***
Ada sebuah genggaman tangan yang tidak bisa terlepas ketika Evan menatap ke wajah Amanda dengan begitu dalam. Evan mengawasi Amanda sampai dua belas jam penuh, ia dengan setia menunggu Amanda hingga tidak tidur semalaman suntuk.
Waktu sudah sangat siang saat Amanda membuka matanya kali ini. Dan yang pertama kali Amanda lihat adalah, sosok Evan dengan kantung mata yang menghitam di bawah matanya.
"Kau sudah sadar ...? Tenang lah, obat yang kau konsumsi kemarin hanya obat tidur. Kau aman sekarang, Boby si tua bangka itu sudah ada di kantor polisi dan akan aku pastikan dia tidak akan mengganggumu lagi."
Begitu Amanda bangun, Amanda mendengar Evan yang terus berbicara dengan panjang lebar. Sejenak, Amanda terharu, apa yang baru saja ia alami beberapa waktu yang lalu adalah sebuah mimpi buruk bagi dirinya. Dan ketika ia melihat ke arah Evan, perasaan lega membuncah, ia benar-benar tidak tahu bagaimana jadinya nanti jika ia pergi ke luar negeri yang Amanda saja tidak pernah mengunjunginya.
"Amanda kau menangis ...?"
Amanda bangkit, ia malah terisak-isak menatap ke arah Evan.
"Kenapa? Ada apa? Kau sudah aman di sini."
Tiba-tiba saja Amanda langsung meraih tubuh Evan, Amanda memeluknya erat-erat seperti tidak ingin dilepaskan.
"Terima kasih, terima kasih, terima kasih." Begitu ucap Amanda berulang kali saat ia terus memeluk tubuh suaminya itu. Tangisannya lepas, ia terisak-isak ketika Amanda masih saja teringat akan kejadian waktu yang lalu.
Dan kini ...
Evan membalas pelukan itu, erat, dan sangat lama. Menepuk-nepuk punggung Amanda untuk terus berusaha menenangkannya.