
"Sial! Kenapa wanita ini tidak menjawab telefonku! Sia-sia aku membelikannya ponsel!"
Beryl yang seharian tadi menatap ke arah Evan mengernyitkan dahi. Selama delapan jam ia melihat Evan tidak fokus dalam bekerja. Evan selalu menatap ke arah ponselnya dan kini malah uring-uringan tidak jelas.
"Hey, kau kenapa?"
"Amanda mengabaikan pesanku! Ha ha ha. Apa dia gila? Kenapa sekarang dia malah mematikan ponselnya?"
Beryl mengernyit.
"Loh, kenapa kau tidak menghubungi pengawalmu saja kalau begitu? Bukan kah dia selalu dua puluh empat jam bersamanya?"
"Oh, iya. Aku lupa."
Beryl menjitak kepalanya sendiri. "Astaga! Sekarang siapa yang gila?! Jangan bilang kau sedang tergila-gila dengannya!"
Tapi sepertinya Evan tidak menghiraukan perkataan Beryl. Ia kemudian sibuk menelefon salah satu pengawalnya dan menanyakan keberadaan Amanda.
"Amanda, dia di mana?"
"Dia sedang bersama teman lelakinya, Tuan."
"APA?!'
Sedetik kemudian, Ronald mengiriminya foto Amanda bersama dengan seorang laki-laki.
Tanpa berpikir panjang, Evan segera berlari dari tempat ini. Tidak menghiraukan Beryl, secepat kilat Evan segera menuju mobilnya dan segera menginjak gasnya untuk segera pergi menemui Amanda beserta laki-laki bajingan itu.
***
Amanda melambaikan tangan ke arah Willy yang kini melengang pergi meninggalkannya.
"Sampai jumpa lagi, Amanda."
"Sampai jumpa, Wil."
Willy melenguh. "Astaga, kalau saja kau masih single, aku pasti sudah mengajakmu menikah."
Ha ha ha. Amanda tertawa lagi. "Jangan bercanda lagi, perutku sudah sakit."
"Salam untuk suamimu."
"Emm, ya." Amanda menjawab itu dengan berat. Andai Willy tahu kalau dia dan suaminya memang tidak pernah dekat. Dan semua pemberitaan yang ada di televisi adalah palsu.
Amanda melambaikan tangannya selepas kepergian Willy ketika ia menjauh meninggalkan Amanda dengan mobil sport miliknya, sementara itu Evan datang dengan tergesa-gesa dan tanpa sengaja melihat ke arah Amanda sedang melambaikan tangannya kepada laki-laki lain.
"Amanda?!"
"Evan ...?" Mata Amanda membulat sempurna saat melihat kehadiran Evan di sini. "Ke-kenapa kau ada di sini?"
"Sejak kapan kau belajar slingkuh dariku!"
Evan terlihat marah besar. Ia menatap ke arah mobil sport yang sudah meninggalkan Amanda dengan muka yang merah padam.
"Eh?" Mata Amanda melebar untuk yang kedua kalinya.
"Ikut aku!"
"Ikut!"
***
Evan memaksa Amanda untuk masuk ke dalam mobil bersama dengan dirinya. Sementara itu, para pengawal langsung mengikuti mereka dari arah belakang.
Setibanya di apartemen, Evan hampir mendorong tubuh Amanda karena cengkeraman tangannya begitu kuat. Membuat Amanda terhempas ke arah depan dengan sangat kasar.
"Siapa yang menyuruhmu untuk keluar?! Siapa yang menyuruhmu untuk pergi bersama dengan laki-laki lain?!"
"Ini tidak seperti yang kau lihat, tadi ..."
"Kau sulit dihubungi?! Ponselmu mati! Apa kau sengaja?!"
"Ponselku ... aku lupa mengisi daya ..."
"Jangan pura-pura polos lagi! Aku sudah hafal perempuan rendahan seperti dirimu! Yang selalu menggoda laki-laki lain jika diberi kesempatan! Apa kau lupa perjanjian kita?! Apa kau lupa kalau kau hanya pel*cur rendahan sebelum aku memungutmu?! Apa begini caramu membalas budi?!"
Deg.
Mendengar hal itu jantung Amanda seperti diremas begitu saja.
"Maaf, Tuan Evan. Ini tidak seperti yang anda lihat." Buru-buru Ronald datang membela Amanda. Ia segera pasang badan kepada Amanda yang sudah hampir menangis dibuatnya.
Terlambat!
Amanda memang sudah menangis. Dan sepertinya Amanda memang sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, ucapan Evan terasa sangat menyakitkan.
"Saya yang bertanggung jawab atas nona Amanda. Saya yang menawari nona keluar karena kasihan melihat nona terkurung di sini."
"Eh?"
"Dan soal laki-laki tadi, dia hanya teman lama nona Amanda. Secara kebetulan mereka bertemu di pemakaman dan mampir untuk berbincang sebentar. Saya saksinya kalau mereka memang tidak ada hubungan yang spesial."
Evan menelan salivanya berat. Sebuah kenyataan yang entah kenapa langsung menyakiti hatinya. Sial! Evan sudah terlanjur berkata kasar kepada Amanda.
Perasaan menyesal menyeruak, saat ia mengingat Amanda menangis seperti itu, entah kenapa Evan langsung merasa menyesal.
"Tolong perhatikan sedikit isteri anda. Anda hanya memberikan ponsel tapi anda lupa menafkahi isteri anda. Saya merasa iba ketika nona Amanda keluar, dia sama sekali tidak mempunyai uang padahal dia sangat ingin sekali membeli ice cream."
Mata Evan membelalak sempurna.
"Dan walau bagaimana pun, dia tetap seorang perempuan. Hatinya pasti merasa sakit saat Anda mengatakan bahwa dia adalah pel*cur rendahan."
Kali ini Evan seperti tertampar begitu saja oleh pegawainya sendiri.
Ronald,
Evan mengernyit.
Sepertinya ada sesuatu yang berbeda akan sosoknya. Sebenarnya siapa dia sesungguhnya ...?
***