
Evan memegang kemudinya dengan mata yang merah padam. Dia sudah diambang kesadarannya ketika ia memarkirkan mobilnya di sebuah tepi jalan tepat di bawah jembatan.
Evan sudah mabuk, digenggamannya terdapat botol minuman keras yang sudah hampir semuanya ia tenggak. Ia bahkan kini meminumnya lagi hingga tanpa sisa.
Ucapan Monika terngiang-ngiang di kepalanya. Ingatan-ingatan masa lalu kini mulai bermunculan lagi hingga membuat kepalanya pusing. Jujur, Evan memang belum melupakan sepenuhnya, benar apa yang dikatakan oleh Monika kalau isi laptopnya bahkan memang masih menyimpan banyak foto-fotonya.
Bohong rasanya jika ketika mempunyai hubungan sampai bertahun-tahun tiba-tiba langsung melupakannya begitu saja. Kenangan masa lalu yang pernah ia lalui bersama Monika jelas masih membekas sampai sekarang.
Sampai suatu saat pengkhianatan itu datang ... Membuat Evan tidak akan pernah bisa untuk memaafkannya. Tindakan Monika yang di luar batas telah secara langsung menghancurkan hubungan ini. Dan jika disuruh untuk kembali, Evan mungkin tidak akan pernah bisa.
Evan langsung menutup laptop yang ia buka dengan paksa. Menutup foto-foto saat bersamanya untuk menghalangi akses untuk kembali mengingat lagi. Karena Evan harus membuktikan kepada Monika kalau ia bisa move on dan melupakan semuanya.
Evan tertawa lagi, ia kembali membuka botol dan menenggaknya lagi. Saat ia kembali bertekad, kenapa terasa sangat berat ...? Apa memang benar bahwa nama Monika masih membekas, hingga sampai sekarang ia masih belum bisa membuka hati kembali?
***
Evan berjalan sempoyongan ketika ia naik menuju lift, kepalanya pusing dan berkunang-kunang hingga ia harus terjatuh beberapa kali.
"Tuan?!" Liam terkaget saat pintu lift terbuka ia mendapati Tuannya dalam kondisi mabuk seperti ini. Pun dengan Ronald tapi Ronald hanya menaikkan bahunya tanpa mau menolong seperti apa yang Liam katakan.
"Tuan, hati-hati. Anda mabuk."
Tapi Evan malah mendorong Liam untuk segera pergi menjauh. "Pergi kau! Pergi dari sini! Jangan menghalangi jalanku!" Evan setengah sadar mendorong tubuh Liam agar menjauh darinya.
"Tapi Tuan."
Evan tidak mau mendengar lagi. Ia kini terus berjalan walau sempoyongan dan mencari pintu.
Begitu pintu dibuka, Evan hampir terjatuh. Untung saja Amanda masih berdiri di depan pintu dan langsung menolong Evan.
"T-tuan?" Seru Amanda.
Evan langsung menutup pintu apartemen dengan sangat keras menggunakan kakinya. Ia tiba-tiba benci melihat tatapan Ronald yang sedari tadi terus menatapnya dengan begitu sinis.
"Sial! Kenapa pegawai rendahan seperti dirinya tadi menatapku seperti itu?!" Protes Evan.
"Tuan, anda kenapa?" Buru-buru Amanda ingin menolong Evan. Ia berusaha mengangkatnya dan segera membawanya ke sofa ruang tamu walau tertatih.
"Kau juga! Jangan perdulikan aku!" Sungguh. Evan sudah meracau tidak jelas. Membuat Amanda mengerutkan kening karena merasa bahwa baru beberapa jam yang lalu Amanda merasa bahwa Evan dalam keadaan baik-baik saja. Tapi kenapa sekarang seperti ini?
Bau alkohol menyengat kuat, membuat Amanda kelimpungan saat ia tahu bahwa Evan mabuk seperti ini. Sungguh. Amanda tidak tahu bagaimana caranya menghadapi orang mabuk.
"Tuan, kenapa Anda mabuk? Bukan kah mabuk itu perbuatan dosa?"
Ha ha ha. Evan malah tertawa terbahak-bahak. "Jangan sok mengguruiku!"
"Maaf, tapi saya hanya khawatir dengan anda." Amanda meringsut mundur ke belakang karena mulai takut akan sorot mata Evan yang tidak biasa.
"Khawatir? Ha ha ha. Jangan sok-sokan bersikap sebagai isteri yang sesungguhnya! Apa kau tidak sadar kau hanya isteri pura-pura yang bisa saja kuhempaskan sesuka hati?!"
Deg.
Jantung Amanda serasa diremas mendengar kalimat itu. Amanda menghela napas sebentar sebelum kemudian ia membantu Evan lagi.
"Mari, saya bantu anda pergi ke kamar. Sepertinya anda butuh istirahat."
Amanda kaget, bahkan tangannya bergetar ketika baru pertama kali ia mendapati Evan berubah dengan begitu kasar.
Sebenarnya kenapa dengan Evan? Dia berubah seratus delapan puluh derajat ketika dia pergi.
"Jangan mencoba untuk merayuku! Apa aku pikir aku tidak tahu bagaimana otak bulusmu itu bekerja?!"
"M-merayu?" Kerutan di dahi Amanda semakin ketara.
"Kau licik seperti Monika! Semua perempuan sama saja! Kau pura-pura polos! Pura-pura baik! Tapi tiba-tiba nanti kau menikamku dari belakang."
Dahi Amanda kian mengerut.
Sebenarnya apa yang ingin ia katakan?! Kenapa dia tiba-tiba membahas mantan pacarnya?!
"Maaf, tetapi sepertinya anda salah sangka."
Ha ha ha. Evan tertawa dengan terbahak-bahak. "Benar kan? Iya kan? Katakan padaku! Sebenarnya apa yang kau rencanakan dari pernikahan ini?! Oh, atau jangan-jangan kau sudah tahu aku kaya dan ingin memanfaatkan ku seperti Monika."
"Berhenti! Saya tidak tahu apa yang anda bicarakan!"
"Aku jadi ingat saat Ronald memintaku untuk memberimu uang beberapa waktu yang lalu. Pasti kau kan biang keladinya? Dengar! Kalau niatanmu menikah denganku untuk menjadi ratu dan mendapatkan kekayaan dariku kau salah besar! Aku tidak akan mengeluarkan sepeser uang pun untuk mantan pel*cur seperti dirimu!"
Plak!
Emosi Amanda tiba-tiba naik begitu saja ketika Evan mengatakan kata-kata tidak pantas seperti itu. Sungguh. Amanda benar-benar marah! Bagaimana bisa Evan lagi-lagi menuduhnya sebagai pel*cur?!
Amanda kira tamparan itu akan membuat Evan berhenti. Tapi ternyata tidak, emosi Evan ikut tersulut hingga tiba-tiba ia berdiri. Matanya merah padam kemudian ia berlari ke arah Amanda.
"A-apa yang kau lakukan?!"
"Berani-beraninya kau menamparku?! Kau perempuan pertama yang berani menamparku?! Lihat! Aku akan buktikan kepadamu kalau kau hanya pel*cur sialan yang tidak mempunyai harga diri!"
Mata Amanda terbelalak kaget saat tiba-tiba Evan sudah mencengkeram erat tangannya. Menarik tubuh Amanda hingga jatuh ke arah sofa panjang dan mulai menindihnya!
"Akan kuperlihatkan siapa sesungguhnya dirimu dan di mana tempatmu! Bukan kah kau bersedia menerima tawaran menikah denganku dan secara suka rela bisa untuk kutiduri?! Katamu kau masih perawan! Aku ingin lihat, apakah kau benar-benar masih perawan atau hanya kebohongan semata!"
"Lepas!"
Cengkeraman Evan begitu kuat. Dengan kasar ia mencoba untuk membuka baju Amanda hingga kini tubuh Amanda mulai terekspos setengahnya.
"Jangan! Lepaskan aku!" Amanda meronta. Jelas-jelas ini sebuah percobaan pemerkosaan! Amanda menangis, ia ingin berteriak histeris tapi tiba-tiba mulutnya dibungkam dengan mulut Evan yang kasar menyiuminya.
"Anggap saja ini bayaran untukku! Oh, apa kau lupa kau isteriku? Kau wajib menuruti semua perintahku bukan? Ha ha ha."
Dan seperti ini lah semuanya berlanjut. Amanda tanpa daya menuruti Evan dengan pemyiksaan yang bertubi-tubi. Membuat Amanda menangis histeris tapi Evan dengan kasar terus membungkam mulutnya.
Amanda kesakitan, Evan tidak tahu bagaimana rasanya tersayat dan selutuh sakit bercampur menjadi satu di pusat inti darinya.
Ini pemerkosaan! Jelas-jelas pemerkosaan! Dan Amanda tidak akan pernah melupakan ini di sisa hidupnya.
***
09:52